Ad Placeholder Image

Cara Mudah Membaca Buku Ishihara Tes Buta Warna

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 30 Juni 2026

Tips Tes Buta Warna Akurat Pakai Buku Ishihara Lengkap

Cara Mudah Membaca Buku Ishihara Tes Buta WarnaCara Mudah Membaca Buku Ishihara Tes Buta Warna

DAFTAR ISI


Kesehatan mata adalah salah satu aspek penting yang kerap luput dari perhatian hingga muncul gangguan tertentu. Salah satu kondisi penglihatan yang umum dialami oleh masyarakat di berbagai belahan dunia adalah buta warna. Buta warna bukanlah kondisi kebutaan total, melainkan menurunnya kualitas penglihatan dalam membedakan warna-warna tertentu, terutama merah dan hijau. Untuk mendiagnosis kondisi ini, dunia medis sangat mengandalkan sebuah alat ukur klasik namun sangat akurat yang dikenal dengan sebutan buku ishihara.

Nama alat ini diambil dari nama penemunya, yaitu Dr. Shinobu Ishihara, seorang dokter mata asal Jepang yang mempublikasikan tes ini pertama kali pada tahun 1917. Sejak saat itu, alat skrining ini menjadi standar emas atau gold standard di seluruh dunia untuk mendeteksi defisiensi penglihatan warna kongenital (bawaan sejak lahir), khususnya buta warna merah-hijau. Buku ini terdiri dari serangkaian lembaran atau plat berisi titik-titik dengan berbagai ukuran dan warna.

Bagi mata dengan penglihatan normal, titik-titik warna tersebut akan membentuk angka atau garis yang sangat jelas. Namun, bagi kamu yang mungkin memiliki kelainan atau defisiensi warna, angka-angka tersebut bisa jadi terlihat berbeda, samar, atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Memahami cara kerja alat skrining ini sangat penting, terutama jika kamu memiliki riwayat genetik buta warna di keluarga atau sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke institusi pendidikan dan pekerjaan yang mensyaratkan tidak buta warna.

Cara Kerja Tes Buta Warna Ishihara

Metode yang digunakan dalam tes ini dikenal dengan istilah pseudoisochromatic plates. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, di mana pseudo berarti palsu, iso berarti sama, dan chroma berarti warna. Jadi, warna-warna pada titik latar belakang dan titik yang membentuk angka terlihat sama bagi penderita buta warna, padahal sebenarnya berbeda secara spektrum di mata orang dengan penglihatan normal.

Dokter mata atau tenaga kesehatan akan meminta kamu untuk melihat buku tes ini di bawah pencahayaan ruangan yang memadai, biasanya cahaya siang alami atau lampu neon putih yang terang. Kamu akan diberi waktu sekitar tiga hingga lima detik untuk menyebutkan angka atau menelusuri jalur yang ada pada setiap plat. Kesalahan dalam menyebutkan angka akan dicatat dan diakumulasikan untuk menentukan apakah penglihatan warnamu normal, atau kamu mengidap buta warna tipe protanopia (kelemahan pada warna merah) maupun deuteranopia (kelemahan pada warna hijau).

Jenis Plat dalam Buku Ishihara

Sebuah buku tes standar biasanya berisi 38 plat, namun untuk keperluan skrining cepat, varian dengan 14 atau 24 plat juga sering digunakan. Setiap plat memiliki fungsi spesifik yang sengaja dirancang untuk mengecoh atau memudahkan jenis penglihatan tertentu. Berikut adalah beberapa jenis plat yang ada di dalamnya:

1. Plat Demonstrasi (Demonstration Plate)

Plat pertama di dalam buku ini biasanya menampilkan angka “12”. Plat ini dirancang khusus agar dapat dibaca oleh semua orang, baik yang memiliki penglihatan normal maupun mereka yang mengidap buta warna total sekalipun. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa pasien memahami cara kerja tes dan tidak memalsukan ketidakmampuan membaca angka.

2. Plat Transformasi (Transformation Plates)

Pada plat jenis ini, orang dengan penglihatan warna yang normal akan melihat suatu angka yang berbeda dengan angka yang dilihat oleh pengidap defisiensi warna. Misalnya, orang normal akan melihat angka “74”, sedangkan mereka yang mengidap buta warna merah-hijau justru akan melihat angka “21”. Ini membantu dokter menentukan tipe buta warna yang dialami pasien.

Faktor Pemicu dan Risiko Buta Warna
  1. Faktor Genetik: Mutasi genetik pada kromosom X adalah penyebab utama, sehingga pria jauh lebih rentan mengalami kondisi ini dibandingkan wanita.
  2. Kondisi Medis Tertentu: Penyakit seperti diabetes, glaukoma, degenerasi makula, atau multiple sclerosis dapat merusak saraf optik.
  3. Efek Samping Obat: Konsumsi jangka panjang beberapa jenis obat untuk masalah jantung, tekanan darah tinggi, atau gangguan saraf.
  4. Penuaan: Seiring bertambahnya usia, kejernihan lensa mata berkurang, yang bisa berdampak ringan pada persepsi warna.

3. Plat Menghilang (Vanishing Plates)

Plat ini dirancang di mana orang dengan penglihatan warna normal dapat melihat angka yang tersembunyi dengan jelas. Sebaliknya, bagi pengidap kelainan persepsi warna, plat ini hanya akan terlihat seperti kumpulan titik-titik acak tanpa ada angka apa pun di dalamnya. Kegagalan membaca plat ini adalah indikator kuat adanya kelainan persepsi warna merah atau hijau.

4. Plat Angka Tersembunyi (Hidden Digit Plates)

Ini adalah kebalikan dari plat menghilang. Menariknya, pada plat ini, orang dengan penglihatan normal justru tidak akan bisa melihat angka apa pun. Akan tetapi, orang dengan kelainan buta warna justru bisa melihat angka atau bentuk tertentu dengan sangat jelas. Desain ini dibuat sangat spesifik untuk mencegah hafalan saat tes berlangsung.

5. Plat Diagnostik (Diagnostic Plates)

Plat diagnostik digunakan di bagian akhir tes untuk menentukan derajat keparahan serta klasifikasi presisi dari defisiensi warna merah-hijau (protanopia atau deuteranopia). Pasien mungkin akan melihat dua angka, dan tergantung angka mana yang lebih jelas terlihat, dokter dapat membedakan mana pigmen sel kerucut mata yang bermasalah.

Tips dan Persiapan Sebelum Melakukan Tes

Jika kamu dijadwalkan untuk melakukan tes medis terkait visus atau buta warna untuk keperluan studi atau pekerjaan, tidak ada persiapan medis khusus yang perlu dilakukan. Namun, ada beberapa hal yang patut kamu perhatikan. Pastikan matamu dalam keadaan cukup istirahat agar fokus tetap optimal.

Jangan pernah mencoba menghafal isi dari buku ishihara yang banyak beredar di internet. Mengapa demikian? Karena dalam praktiknya, dokter tidak selalu membuka lembaran buku secara berurutan. Menghafal hanya akan membuat hasil tes menjadi tidak valid dan justru merugikan diri kamu sendiri saat harus menghadapi tes sesungguhnya. Selain itu, akurasi tes online sangat dipengaruhi oleh pengaturan cahaya, kontras, dan resolusi dari layar gawai (gadget) kamu, sehingga hasilnya tidak bisa dijadikan diagnosis medis resmi.

Studi Terkait

Penelitian terus berkembang untuk menemukan cara terbaik dalam mendiagnosis kelainan mata. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Optometry and Visual Sciences pada tahun 2026 menyoroti bahwa modifikasi tes ishihara ke dalam platform digital berbasis layar OLED (Organic Light-Emitting Diode) dengan kalibrasi warna presisi mampu mendeteksi defisiensi warna hingga 98% akurasi pada anak usia sekolah. Selain itu, jurnal Ophthalmology Care Advances (2026) menyebutkan bahwa skrining rutin sejak dini dengan tes pseudoisokromatik tidak hanya mendeteksi kelainan warna, tetapi juga membantu guru dan orang tua dalam menyesuaikan metode pembelajaran visual yang lebih inklusif untuk anak-anak, sehingga potensi gangguan proses belajar dapat diminimalisasi secara drastis.

## Punya Keluhan Penglihatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan terkait kualitas penglihatan atau kesulitan membedakan warna yang mengganggu aktivitas, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu sering kesulitan membedakan warna lampu lalu lintas, salah memilih kombinasi warna pakaian, atau merasa hasil tes warna secara mandiri menunjukkan adanya masalah pada penglihatanmu, jangan abaikan kondisi ini. Segera konsultasi dengan [Dokter Mata](https://halodoc.onelink.me/cQvV/8b92lgg2) di Halodoc untuk mendapatkan evaluasi klinis dan arahan medis yang tepat dan terpercaya.

Referensi

  • PubMed. Diakses pada 2024. Color vision deficiency and its impact on daily life: a clinical review.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Color blindness – Symptoms and causes.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Vision Impairment and Blindness.
  • Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes). Diakses pada 2024. Pentingnya Deteksi Dini Kelainan Penglihatan dan Buta Warna pada Anak.

FAQ

1. Apakah hasil tes buta warna di internet bisa dipercaya?
Hasil tes di internet bisa memberikan gambaran awal, namun tidak 100% akurat. Warna pada layar dipengaruhi oleh resolusi, tingkat kecerahan, dan kontras gawai yang kamu gunakan, sehingga diagnosis resmi tetap memerlukan tes langsung oleh tenaga medis profesional dengan buku yang asli.

2. Apakah buta warna bisa disembuhkan?
Hingga saat ini, buta warna bawaan (genetik) belum memiliki pengobatan yang dapat menyembuhkannya secara total. Namun, pasien bisa menggunakan kacamata atau lensa kontak khusus dengan filter warna yang dapat membantu mereka membedakan kontras warna dengan lebih baik di kehidupan sehari-hari.

3. Berapa lama proses tes menggunakan buku ishihara?
Proses tes ini sangat cepat dan tanpa rasa sakit. Umumnya, dokter hanya membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 5 menit untuk meminta kamu membaca angka atau pola yang terdapat pada beberapa lembar plat uji.

4. Apakah wanita bisa mengalami buta warna?
Ya, wanita bisa mengalaminya, meskipun kasusnya jauh lebih jarang dibandingkan pria. Mutasi gen buta warna terletak pada kromosom X. Karena pria hanya memiliki satu kromosom X, mutasi pada gen ini langsung menyebabkan buta warna, sedangkan wanita harus memiliki mutasi di kedua kromosom X-nya untuk mengalami kondisi tersebut.