Ad Placeholder Image

Cat Calling: Pengertian, Contoh, dan Bahayanya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   25 Februari 2026

Catcalling Itu Apa Sih? Ini Penjelasannya!

Cat Calling: Pengertian, Contoh, dan Bahayanya!Cat Calling: Pengertian, Contoh, dan Bahayanya!

Catcalling Itu Apa? Kenali Bentuk Pelecehan, Dampak, dan Hukumnya

Catcalling adalah salah satu bentuk pelecehan seksual verbal atau non-verbal yang umum terjadi di ruang publik. Tindakan ini seringkali dianggap sepele, bahkan disalahartikan sebagai pujian, padahal merupakan perilaku yang melanggar privasi dan kenyamanan seseorang. Pemahaman yang akurat mengenai catcalling sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan menghargai setiap individu.

Apa Itu Catcalling?

Catcalling merupakan tindakan pelecehan yang disampaikan melalui siulan, panggilan, komentar bernada seksual, atau suara-suara tertentu. Perilaku ini biasanya ditujukan kepada seseorang yang tidak dikenal, dengan tujuan menggoda atau merendahkan. Catcalling bukanlah pujian, melainkan bentuk pelecehan yang dapat membuat korban merasa tidak aman, tidak dihargai, terancam, dan risih.

Bentuk-bentuk Catcalling yang Perlu Diketahui

Tindakan catcalling bisa bervariasi, baik secara verbal maupun non-verbal. Memahami bentuk-bentuk ini dapat membantu mengenali dan mencegahnya. Berikut adalah beberapa contoh tindakan catcalling yang sering terjadi:

  • Bersiul ke arah orang yang sedang lewat tanpa alasan yang jelas.
  • Komentar bernada seksual mengenai bagian tubuh seseorang, seperti “Pahanya bagus”, atau “Cantiknya”.
  • Membuat suara kecupan atau suara “ciuman” yang ditujukan kepada orang lain.
  • Panggilan yang merendahkan seperti “Hai cantik”, “Sayang”, atau sebutan lain yang tidak pantas.
  • Pertanyaan yang agresif atau ajakan yang tidak diinginkan, misalnya “Mau ke mana, sendirian saja?” dengan nada menggoda.

Perilaku ini, terlepas dari niatnya, dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa terancam bagi korban.

Mengapa Catcalling Berbahaya dan Apa Dampaknya?

Catcalling bukan sekadar lelucon atau candaan, melainkan perilaku serius yang membawa dampak negatif. Bahaya catcalling mencakup beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan:

  • Termasuk Pelecehan Seksual: Tindakan ini merupakan pelanggaran terhadap martabat seseorang. Catcalling seringkali menjadi gejala ketidaksetaraan gender, di mana pelaku merasa berhak mengobjekkan orang lain.
  • Dampak Psikologis yang Signifikan: Korban catcalling dapat merasakan berbagai dampak psikologis negatif. Mereka mungkin merasa terintimidasi, tidak nyaman, malu, khawatir, dan cemas. Dalam beberapa kasus, pengalaman berulang dapat menyebabkan trauma atau gangguan kecemasan saat berada di ruang publik.
  • Pelanggaran Terhadap Hak untuk Merasa Aman: Setiap individu berhak merasa aman dan nyaman di ruang publik tanpa takut akan pelecehan. Catcalling merampas hak ini, menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi semua orang.

Normalisasi catcalling sebagai bentuk candaan harus segera dihentikan.

Bagaimana Hukum Mengatur Catcalling di Indonesia?

Catcalling adalah tindakan yang dapat dijerat hukum di Indonesia. Meskipun istilah “catcalling” tidak secara spesifik disebutkan, tindakan ini dapat masuk dalam kategori pelecehan atau perbuatan tidak menyenangkan. Beberapa regulasi yang relevan meliputi:

  • Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi: Meskipun fokusnya pada konten pornografi, komentar atau tindakan verbal yang bersifat seksual eksplisit dapat dikategorikan sebagai pelecehan yang berhubungan dengan pornografi.
  • Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP): Pasal-pasal terkait kesusilaan di muka umum, seperti Pasal 281 KUHP tentang tindakan melanggar kesusilaan, dapat diterapkan. Selain itu, Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan juga relevan, terutama jika korban merasa terintimidasi atau terancam.
  • Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS): UU ini menyediakan kerangka hukum yang lebih komprehensif untuk berbagai bentuk kekerasan seksual, termasuk pelecehan nonfisik yang dapat mencakup catcalling. Pelaku dapat terancam pidana penjara dan/atau denda.

Penting untuk memahami bahwa ada konsekuensi hukum bagi pelaku catcalling. Hal ini menegaskan bahwa catcalling bukan masalah sepele, melainkan tindak pidana yang serius.

Pencegahan dan Langkah Mengatasi Catcalling

Menghentikan catcalling memerlukan upaya kolektif dari masyarakat dan individu. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan penanganan meliputi:

  • Edukasi dan Kesadaran: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang definisi, dampak, dan konsekuensi hukum catcalling. Kampanye kesadaran publik dapat membantu mengubah stigma dan norma sosial yang salah.
  • Membangun Lingkungan yang Aman: Mendorong tempat umum, seperti transportasi, jalan raya, dan fasilitas publik, untuk lebih proaktif dalam mencegah dan menanggapi catcalling.
  • Melaporkan Tindakan Catcalling: Jika menjadi korban atau menyaksikan catcalling, penting untuk berani melaporkan kepada pihak berwenang atau platform yang tersedia. Dukungan dari lingkungan sekitar juga krusial bagi korban.
  • Meningkatkan Keberanian Korban: Memberikan dukungan psikologis dan informasi hukum kepada korban agar mereka merasa berdaya dan tidak takut untuk berbicara atau bertindak.

Setiap orang memiliki hak untuk merasa aman dan nyaman di ruang publik, bebas dari segala bentuk pelecehan.

**Kesimpulan**
Catcalling adalah bentuk pelecehan seksual verbal atau non-verbal yang memiliki dampak serius pada korban dan melanggar hukum. Ini bukan pujian, melainkan tindakan yang dapat menimbulkan rasa tidak aman, tidak dihargai, dan terancam. Edukasi masyarakat dan penegakan hukum yang tegas merupakan langkah penting untuk menghentikan normalisasi perilaku ini dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua. Jika mengalami dampak psikologis akibat catcalling, konsultasi dengan psikolog atau psikiater melalui aplikasi Halodoc dapat memberikan dukungan dan penanganan yang tepat.