
Catat, Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Keputihan saat Hamil
Keputihan saat hamil bisa disebabkan oleh perubahan hormon hingga pertumbuhan bakteri.

DAFTAR ISI
- Mengenal Kondisi Keputihan Saat Hamil
- Perbedaan Keputihan Normal dan Abnormal
- Penyebab Keputihan Abnormal pada Ibu Hamil
- Cara Menjaga Kebersihan Area Kewanitaan
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Masa kehamilan adalah salah satu momen paling menakjubkan sekaligus menantang bagi seorang wanita. Selama sembilan bulan, tubuh ibu akan mengalami berbagai perubahan drastis, baik secara fisik maupun hormonal, guna mendukung pertumbuhan janin di dalam kandungan. Mulai dari perubahan bentuk tubuh, fluktuasi suasana hati (mood swings), hingga munculnya gejala-gejala fisik yang mungkin belum pernah dialami sebelumnya. Salah satu kondisi fisik yang sering kali membuat calon ibu merasa cemas dan khawatir adalah peningkatan cairan dari area kewanitaan.
Mengingat area kewanitaan sangat dekat kaitannya dengan kesehatan reproduksi dan jalan lahir bayi, tidak heran jika banyak calon ibu, terutama mereka yang baru pertama kali hamil, merasa ragu dan sering mencari tahu apakah orang hamil bisa keputihan. Kekhawatiran ini sangat wajar, karena keputihan di luar masa kehamilan pun terkadang bisa menjadi indikasi adanya infeksi atau masalah kesehatan tertentu. Di sisi lain, menjaga kebersihan dan kesehatan area intim selama kehamilan adalah hal mutlak untuk mencegah risiko komplikasi kehamilan atau penularan infeksi pada janin.
Penting untuk kamu pahami bahwa tubuh memiliki mekanisme alaminya sendiri dalam melindungi janin. Cairan vagina atau keputihan sebenarnya merupakan salah satu cara tubuh untuk menjaga kebersihan saluran reproduksi dan melindunginya dari infeksi. Namun, ada batas-batas tertentu yang membedakan mana cairan yang bersifat fisiologis (normal) dan mana cairan yang bersifat patologis (akibat infeksi atau penyakit). Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk bisa mengidentifikasi karakteristik dari keputihan yang dialaminya agar tidak panik dan tahu kapan harus mencari pertolongan medis.
Lantas, bagaimana sebenarnya fakta medis mengenai hal ini? Mari kita bahas secara tuntas dan mendalam mengenai seluk-beluk keputihan selama kehamilan, mulai dari penyebab, cara membedakan kondisi normal dan abnormal, hingga langkah-langkah pencegahan yang aman untuk ibu dan janin.
Mengenal Kondisi Keputihan Saat Hamil
Secara medis, jawaban pasti atas pertanyaan apakah orang hamil bisa keputihan adalah ya, sangat bisa dan bahkan ini merupakan kondisi yang sangat umum terjadi. Keputihan yang normal selama masa kehamilan dikenal dengan istilah medis *leukorrhea* atau leukorea. Kondisi ini sebenarnya mirip dengan keputihan yang mungkin kamu alami di antara siklus menstruasi biasa, namun biasanya jumlahnya akan jauh lebih banyak dan lebih sering terjadi selama kehamilan.
Mengapa produksi cairan vagina meningkat drastis saat hamil? Jawabannya terletak pada lonjakan hormon kehamilan, terutama hormon estrogen, serta peningkatan aliran darah secara signifikan ke area panggul dan serviks (leher rahim). Peningkatan aliran darah ini merangsang selaput lendir di area kewanitaan untuk memproduksi lebih banyak cairan. Cairan ini terdiri dari sekresi serviks dan vagina, sel-sel tua yang luruh dari dinding vagina, serta flora bakteri normal (bakteri baik) yang hidup di dalam vagina.
Fungsi utama dari leukorea ini tidak main-main. Keputihan yang berlebih saat hamil merupakan mekanisme pertahanan alami tubuh untuk menjaga agar saluran lahir tetap bersih, lembap, dan melindunginya dari infeksi kuman atau bakteri jahat yang berpotensi naik dari vagina menuju rahim. Selain itu, cairan ini juga membantu membentuk sumbat lendir (mucus plug) di leher rahim, yang akan menyumbat jalan masuk ke rahim dan melindungi janin dari ancaman lingkungan luar hingga saat persalinan tiba.
Faktor Pemicu Peningkatan Keputihan Saat Hamil
- Peningkatan Hormon Estrogen: Merangsang kelenjar di serviks untuk memproduksi lebih banyak lendir.
- Peningkatan Aliran Darah: Area panggul mendapatkan suplai darah yang jauh lebih banyak, meningkatkan sekresi cairan.
- Perubahan pH Vagina: Tingkat keasaman vagina berubah akibat tingginya hormon, memicu penumpukan glikogen.
Perbedaan Keputihan Normal dan Abnormal
Meskipun keputihan adalah hal yang wajar selama kehamilan, kamu tidak boleh abai terhadap perubahannya. Mengenali perbedaan antara keputihan yang normal (leukorea) dan keputihan yang mengindikasikan infeksi adalah kunci untuk menjaga kesehatan kehamilanmu. Berikut adalah rincian perbedaannya:
1. Karakteristik Keputihan Normal (Leukorea)
Keputihan yang tergolong aman dan normal bagi ibu hamil memiliki ciri-ciri spesifik yang harus kamu kenali. Biasanya, cairan ini berwarna bening hingga putih susu. Konsistensinya bisa encer, atau sedikit kental dan lengket seperti putih telur mentah. Yang paling penting, leukorea tidak menimbulkan bau yang menyengat atau busuk; baunya biasanya netral atau hanya berbau asam ringan khas vagina (karena adanya bakteri baik *Lactobacillus* yang memproduksi asam laktat). Selain itu, keputihan normal sama sekali tidak disertai dengan keluhan fisik lain seperti rasa gatal, panas, atau nyeri pada area vagina dan panggul.
2. Karakteristik Keputihan Abnormal (Patologis)
Di sisi lain, keputihan yang tidak normal merupakan tanda bahaya bahwa mungkin ada infeksi yang sedang berkembang di area kewanitaan. Ciri-ciri utama keputihan abnormal meliputi perubahan warna yang drastis, misalnya menjadi kuning pekat, hijau, abu-abu, atau kemerahan (bercampur darah). Konsistensinya pun bisa berubah menjadi berbusa, atau sangat menggumpal menyerupai keju cottage (tahu hancur). Keputihan ini sering kali memancarkan bau yang sangat tidak sedap, amis, atau menyengat. Selain cairan yang tidak wajar, keputihan abnormal hampir selalu disertai dengan gejala mengganggu seperti rasa gatal yang hebat di area bibir kemaluan (vulva), sensasi terbakar saat buang air kecil, kemerahan, bengkak, hingga nyeri saat berhubungan seksual.
Penyebab Keputihan Abnormal pada Ibu Hamil
Jika kamu mendapati keputihan dengan ciri-ciri abnormal, penting untuk mengetahui apa saja kemungkinan penyebab medisnya. Ibu hamil lebih rentan mengalami infeksi vagina karena sistem kekebalan tubuh yang sedikit menurun dan perubahan pH vagina. Beberapa penyebab utama keputihan abnormal meliputi:
1. Kandidiasis Vaginosis (Infeksi Jamur)
Ini adalah penyebab paling sering dari keputihan gatal saat hamil. Kehamilan menyebabkan kadar glikogen (gula) dalam sekresi vagina meningkat, yang menjadi “makanan” sempurna bagi jamur *Candida albicans*. Infeksi jamur ini akan menghasilkan keputihan yang kental, putih bergumpal mirip keju cottage, tanpa bau yang menyengat, namun menimbulkan rasa gatal, kemerahan, dan panas yang sangat parah di area vulva.
2. Vaginosis Bakterialis (BV)
Vaginosis bakterialis terjadi ketika keseimbangan bakteri alami di dalam vagina terganggu, di mana jumlah bakteri jahat tumbuh melebihi jumlah bakteri baik (*Lactobacillus*). Ciri khas dari BV adalah keputihan berwarna putih keabu-abuan, encer, dan memiliki bau amis yang sangat kuat, terutama setelah berhubungan seksual. Kondisi ini harus segera ditangani karena BV selama kehamilan dapat meningkatkan risiko persalinan prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR).
3. Trikomoniasis dan Infeksi Menular Seksual (IMS)
Trikomoniasis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit *Trichomonas vaginalis*. Infeksi ini ditandai dengan keputihan berwarna kuning kehijauan, berbusa, dan berbau busuk. Selain Trikomoniasis, infeksi seperti Klamidia atau Gonore juga bisa menyebabkan keputihan bernanah dan nyeri panggul. Penyakit menular seksual pada ibu hamil sangat berbahaya karena bisa ditularkan ke janin selama proses persalinan pervaginam, yang dapat memicu komplikasi pada mata atau paru-paru bayi.
Cara Menjaga Kebersihan Area Kewanitaan
Pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk menghindari risiko infeksi penyebab keputihan abnormal, ibu hamil harus ekstra disiplin dalam menjaga kebersihan (higiene) area kewanitaannya. Berikut adalah panduan aman yang bisa kamu terapkan sehari-hari:
1. Gunakan Pakaian Dalam Berbahan Katun
Pastikan kamu selalu memakai celana dalam yang terbuat dari bahan katun 100%. Katun adalah bahan yang menyerap keringat dengan baik dan memungkinkan sirkulasi udara di area selangkangan tetap optimal. Hindari celana dalam berbahan sintetis seperti nilon atau polyester yang memerangkap panas dan kelembapan, karena jamur dan bakteri sangat menyukai area yang lembap dan hangat.
2. Rutin Mengganti Pakaian Dalam dan Pantyliner
Mengingat volume keputihan bertambah saat hamil, kamu mungkin akan merasa cepat lembap. Gantilah celana dalam 2 hingga 3 kali sehari atau setiap kali kamu merasa sudah basah. Jika kamu lebih suka menggunakan pantyliner untuk alasan kenyamanan, pilihlah pantyliner yang *unscented* (tanpa pewangi) dan gantilah setiap 3-4 jam sekali. Jangan biarkan pantyliner yang lembap menempel terlalu lama karena bisa menjadi sarang berkembang biaknya bakteri.
3. Cara Membersihkan Vagina yang Benar
Saat mandi atau setelah buang air kecil maupun buang air besar, bersihkan area kewanitaan menggunakan air bersih saja atau dengan sabun yang sangat lembut tanpa kandungan parfum (hipoalergenik). Arah membasuh sangat penting: selalu basuh dari arah depan (vagina) ke belakang (anus), bukan sebaliknya. Membasuh dari belakang ke depan dapat memindahkan bakteri dari anus (seperti *E. coli*) ke vagina atau saluran kemih.
4. Hindari Produk Kewanitaan Berparfum dan Douching
Selama hamil, area kewanitaan menjadi jauh lebih sensitif. Jauhi penggunaan sabun kewanitaan berbahan kimia keras, tisu basah berparfum, bedak tabur di area intim, atau *bubble bath*. Selain itu, sangat dilarang untuk melakukan *douching* (menyemprotkan air atau cairan pembersih ke dalam liang vagina). *Douching* dapat merusak keseimbangan flora normal vagina, mengubah pH, dan justru mendorong masuknya udara atau bakteri ke dalam rahim, yang berisiko memicu ketuban pecah dini atau infeksi kandungan.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun leukorea normal tidak perlu dikhawatirkan, ada kondisi-kondisi tertentu di mana kamu tidak boleh menunda untuk berkonsultasi dengan dokter. Segera hubungi dokter spesialis kandungan (Obgyn) apabila kamu mengalami salah satu atau beberapa tanda bahaya berikut ini:
- Keputihan berubah warna menjadi kuning, hijau, abu-abu pekat, atau menyerupai gumpalan keju.
- Tercium bau amis atau busuk yang tajam dari area kewanitaan.
- Muncul rasa gatal yang tak tertahankan, perih, kemerahan, atau bengkak pada bibir vagina.
- Timbul rasa sakit atau terbakar setiap kali kamu buang air kecil (indikasi infeksi saluran kemih).
- Keputihan bercampur dengan darah atau bercak cokelat (flek) di luar tanda-tanda persalinan.
- Cairan yang keluar sangat encer, tidak berbau, dan mengalir terus-menerus tanpa bisa ditahan (ini bisa jadi adalah air ketuban yang merembes atau pecah).
Jangan pernah mencoba mengobati infeksi vagina sendiri selama kehamilan. Beberapa obat antijamur atau antibiotik yang dijual bebas mungkin tidak aman bagi perkembangan janin, terutama di trimester pertama. Pengobatan infeksi vagina pada ibu hamil harus selalu di bawah pengawasan dan resep dari dokter spesialis kandungan.
Studi Terkait Infeksi Vagina Saat Hamil
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan sebuah literatur klinis yang menjelaskan bahwa prevalensi Vaginosis Bakterialis (BV) dan infeksi jamur (*Candidiasis*) memang meningkat secara signifikan selama kehamilan. Studi tersebut menemukan bahwa perubahan flora mikroba vagina selama kehamilan dipengaruhi berat oleh kadar estrogen, yang pada gilirannya menekan imun lokal di dinding vagina.
Selain itu, studi tersebut menegaskan relevansi antara infeksi vagina yang tidak diobati dengan komplikasi kehamilan. Disebutkan bahwa ibu hamil yang menderita Vaginosis Bakterialis dan tidak mendapatkan terapi antibiotik yang tepat memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami persalinan prematur dan ketuban pecah dini (KPD). Hal ini menekankan betapa pentingnya bagi ibu hamil untuk proaktif memeriksakan setiap keluhan keputihan yang bersifat abnormal ke dokter, guna mencegah komplikasi pada janin.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apakah orang hamil bisa keputihan di awal trimester pertama?
Ya, sangat bisa. Justru keputihan ringan berupa cairan putih susu atau bening (leukorea) merupakan salah satu tanda awal kehamilan akibat lonjakan estrogen dan peningkatan aliran darah ke area panggul.
2. Apakah keputihan berwarna kuning saat hamil berbahaya?
Keputihan yang berwarna kuning pekat atau kehijauan bukanlah hal yang normal. Ini biasanya menjadi pertanda kuat adanya infeksi bakteri atau parasit seperti trikomoniasis, dan memerlukan penanganan medis segera dari dokter kandungan.
3. Bagaimana membedakan keputihan biasa dengan air ketuban yang merembes?
Keputihan normal (leukorea) biasanya sedikit kental, berwarna putih susu, dan jumlahnya wajar. Sebaliknya, air ketuban berwujud sangat encer seperti air, tidak berwarna (bening), sering kali berbau sedikit manis atau pesing samar, dan mengalir deras tanpa bisa dikendalikan oleh otot panggul.
4. Apakah aman menggunakan sabun sirih untuk mengatasi keputihan saat hamil?
Secara medis, penggunaan sabun sirih atau pembersih kewanitaan beraroma kuat tidak disarankan selama kehamilan. Sabun antiseptik dapat merusak keseimbangan pH alami dan mematikan bakteri baik pelindung vagina, yang justru meningkatkan risiko datangnya infeksi berbahaya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.


