Ad Placeholder Image

Catcalling Apa? Kenali Arti, Dampak & Hukumnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   25 Februari 2026

Catcalling: Definisi, Contoh, & Hukumnya di Indonesia

Catcalling Apa? Kenali Arti, Dampak & HukumnyaCatcalling Apa? Kenali Arti, Dampak & Hukumnya

Catcalling Apa Itu? Memahami Pelecehan Nonfisik dan Dampaknya

Catcalling adalah salah satu bentuk pelecehan seksual nonfisik yang sering terjadi di ruang publik. Tindakan ini mencakup siulan, panggilan, komentar bernada seksual, atau godaan merendahkan yang ditujukan kepada seseorang tanpa persetujuan. Umumnya, korban catcalling adalah perempuan, meskipun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada siapa saja.

Catcalling bukanlah pujian atau candaan, melainkan tindakan yang menimbulkan ketidaknyamanan, rasa tidak aman, dan bahkan ketakutan bagi korbannya. Persepsi yang menganggap remeh catcalling perlu diluruskan, mengingat dampak serius yang dapat ditimbulkannya.

Definisi Catcalling Secara Lebih Luas

Catcalling secara spesifik merujuk pada segala bentuk gangguan verbal atau isyarat nonverbal yang bersifat seksual atau merendahkan di tempat umum. Gangguan ini sering kali terjadi secara spontan dan ditujukan kepada orang asing yang melintas. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian dengan cara yang tidak pantas dan intimidatif.

Pelecehan ini sering kali dianggap sepele oleh pelaku atau masyarakat, namun bagi korban, pengalaman catcalling dapat sangat mengganggu. Perasaan objek, terancam, dan tidak berdaya kerap muncul setelah mengalami kejadian tersebut.

Bentuk-Bentuk Tindakan Catcalling

Catcalling dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, baik verbal maupun nonverbal. Mengenali bentuk-bentuk ini penting untuk meningkatkan kesadaran terhadap tindakan pelecehan yang sering dianggap normal.

  • Tindakan Verbal: Ini termasuk bersiul, membuat suara ciuman, atau memanggil dengan kata-kata seperti “hai cantik”, “seksi”, atau komentar vulgar tentang bentuk tubuh. Ungkapan-ungkapan tersebut, meskipun terlihat biasa, mengandung nuansa objektifikasi dan merendahkan.
  • Tindakan Nonverbal: Melibatkan isyarat tangan yang tidak senonoh, mengikuti korban dari belakang, atau melotot secara agresif dan mengintimidasi. Tatapan tajam yang berkelanjutan atau gerakan tubuh yang mengancam juga termasuk dalam kategori ini.

Tindakan-tindakan ini sering terjadi di jalanan, pusat perbelanjaan, transportasi umum, atau tempat publik lainnya. Kehadiran publik tidak lantas membuat tindakan ini kurang serius, justru sebaliknya, menambah rasa tidak berdaya pada korban.

Dampak Psikologis Catcalling bagi Korban

Dampak catcalling jauh melampaui rasa tidak nyaman sesaat. Korban dapat mengalami berbagai gangguan mental dan emosional yang serius.

  • Rasa Takut dan Cemas: Korban mungkin akan merasa takut untuk kembali ke ruang publik atau cemas akan kemungkinan terjadinya catcalling lagi. Lingkungan yang seharusnya aman menjadi terasa mengancam.
  • Penurunan Kepercayaan Diri: Komentar-komentar yang objektifikasi dapat merusak citra diri dan membuat korban merasa harga dirinya rendah. Mereka mungkin mulai menyalahkan diri sendiri atau merasa malu.
  • Trauma: Dalam kasus yang lebih parah, catcalling dapat menyebabkan trauma psikologis. Trauma ini bisa bermanifestasi sebagai gangguan tidur, mimpi buruk, atau bahkan serangan panik saat berada di tempat umum.
  • Hipervigilansi: Korban mungkin menjadi sangat waspada terhadap lingkungan sekitar, selalu curiga terhadap orang-orang di dekatnya. Hal ini dapat mengganggu kualitas hidup dan interaksi sosial.

Dampak-dampak ini menunjukkan bahwa catcalling bukanlah masalah sepele dan memerlukan perhatian serius dari semua pihak.

Aspek Hukum Catcalling di Indonesia

Di Indonesia, tindakan catcalling dapat dijerat hukum, meskipun sering kali penanganannya masih menjadi tantangan. Beberapa regulasi yang relevan dapat digunakan untuk menindak pelaku.

Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) menjadi payung hukum yang lebih komprehensif untuk berbagai bentuk kekerasan seksual, termasuk pelecehan nonfisik seperti catcalling. Pasal 5 UU TPKS misalnya, secara eksplisit menyatakan bahwa setiap orang yang melakukan pelecehan nonfisik dapat dikenakan pidana.

Selain itu, Pasal 315 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai penghinaan ringan juga dapat diterapkan. Pasal ini mengancam pelaku penghinaan ringan dengan pidana penjara atau denda. Memahami landasan hukum ini penting untuk mendorong korban berani melaporkan dan menuntut haknya.

Bagaimana Cara Menghadapi Catcalling?

Menghadapi catcalling memerlukan keberanian dan strategi. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh individu yang menjadi korban atau saksi.

  • Mengabaikan: Terkadang, mengabaikan pelaku adalah cara terbaik untuk tidak memberikan reaksi yang mereka inginkan. Tetap berjalan, hindari kontak mata, dan fokus pada tujuan.
  • Menegur: Jika merasa aman dan mampu, menegur pelaku dengan tegas dapat menjadi pilihan. Ucapkan “Saya tidak suka itu” atau “Hentikan” dengan suara jelas dan percaya diri.
  • Mencari Bantuan: Jika merasa terancam, segera cari tempat yang aman, dekati petugas keamanan, atau hubungi teman/keluarga. Berteriak “pelecehan!” juga dapat menarik perhatian orang sekitar.
  • Melaporkan: Dokumentasikan kejadian jika memungkinkan (tanpa membahayakan diri) dan laporkan kepada pihak berwenang. Catat waktu, tempat, deskripsi pelaku, dan bentuk tindakan catcalling.
  • Self-Care: Setelah mengalami catcalling, penting untuk melakukan self-care untuk mengatasi dampak emosional. Berbicara dengan orang terpercaya atau mencari dukungan profesional bisa sangat membantu.

Penting untuk diingat bahwa respons terhadap catcalling bersifat personal dan harus disesuaikan dengan situasi keamanan individu. Keselamatan diri adalah prioritas utama.

Kesimpulan dan Rekomendasi Halodoc

Catcalling adalah bentuk pelecehan seksual nonfisik yang berdampak serius pada kesehatan mental korban. Memahami “catcalling apa” dan berbagai bentuknya adalah langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan bebas dari pelecehan. Kesadaran masyarakat dan penegakan hukum yang tegas sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Jika mengalami catcalling dan merasa dampaknya memengaruhi kondisi psikologis, seperti munculnya rasa takut, cemas berlebihan, atau trauma, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Psikolog atau psikiater dapat memberikan dukungan dan penanganan yang tepat untuk memulihkan kesehatan mental.
Melalui aplikasi Halodoc, dapat berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater profesional secara praktis dan aman. Layanan konsultasi di Halodoc tersedia untuk membantu mengatasi dampak psikologis akibat catcalling, serta memberikan strategi penanganan yang efektif.