• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Buat Ibu Baru, Cegah Baby Blues dengan Cara Ini

Buat Ibu Baru, Cegah Baby Blues dengan Cara Ini

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
undefined

Halodoc, Jakarta – Baby blues adalah perasaan sedih yang bisa jadi dialami ibu yang baru melahirkan. Kondisi ini biasanya terjadi pada ibu baru. Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh March of Dimes disebutkan kalau sekitar 4 dari 5 ibu yang baru pertama kali melahirkan mengalami baby blues.

Baby blues dapat terjadi 2 hingga 3 hari setelah melahirkan dan dapat bertahan sampai dua minggu. Kondisi ini biasanya hilang dengan sendirinya tanpa perawatan. Pun begitu, dukungan dari orang terdekat serta memahami baby blues dengan benar dapat membantu ibu mengelola emosinya dengan sehat. Informasi selengkapnya mengenai baby blues dapat dibaca di bawah ini!

Mengganggu Perkembangan Kognitif Anak

Tadi sudah dijelaskan sebelumnya kalau baby blues tidak membutuhkan obat untuk penanganannya. Dukungan moral dan edukasi yang diberikan lingkungan terdekat ibu lebih berpengaruh terhadap proses penyembuhan. Namun, lebih dari 20 persen ibu yang mengalami baby blues memiliki kecenderungan untuk mengalami postpartum depression (PPD) yang secara langsung menimbulkan konsekuensi terhadap perkembangan kognitif anak. 

Baca juga: Rajin Berolahraga Bisa Cegah Depresi, Benarkah?

Penyebab dari baby blues sendiri tidak diketahui. Namun, berbagai macam faktor, seperti perubahan hormonal, faktor sosiokultural, kondisi ekonomi, dan konflik dalam hubungan memiliki andil dalam kejadian ini. 

Karena itu, mereka yang mengalami baby blues harus mampu memastikan bahwa mereka sudah sepenuhnya pulih atau belum. Diagnosis awal dari baby blues akan memudahkan profesional medis untuk dapat mencegah komplikasi kondisi ini yang lebih parah. 

Banyak ibu yang baru melahirkan menutupi stres setelah melahirkan dan tetap diam akibat dari stigma sosial mengenai gangguan ini. Ibu merasa kewalahan dan beranggapan tidak bisa melakukan pekerjaan merawat bayi dengan baik, tetapi menyimpan sendiri perasaan-perasaan tersebut.

Beberapa kondisi yang dianggap sebagai baby blues adalah merasa sedih dan banyak menangis, sering murung atau rewel untuk hal-hal sepele, mengalami kesulitan tidur, tidak selera makan sampai sulit membuat keputusan.

Jika ibu ingin mendiskusikan langkah tepat untuk penanganan baby blues, tanyakan langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk ibu dan pasangan. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor ibu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Jika ibu merasa mengalami baby blues, berikut ini cara yang bisa dilakukan untuk dapat mengurangi gejalanya:

  1. Berbicara dengan orang yang dipercaya tentang bagaimana perasaan ibu.

  2. Mengatur pola makan yang baik dan sesuai. Kelahiran pertama kerap membuat ibu tidak makan dengan teratur, sehingga membuat perubahan mood yang tidak stabil.

  3. Jika memungkinkan, tambah aktivitas di luar ruang agar dapat menghirup udara segar dan pergantian suasana.

  4. Meminta bantuan orang lain untuk melakukan pekerjaan domestik, seperti memasak dan bersih-bersih, atau bantuan apa pun yang memungkinkan ibu untuk fokus pada kegembiraan memiliki bayi baru.

  5. Jangan terburu-buru untuk mampu menguasai semua skill yang dibutuhkan oleh ibu baru. Cobalah untuk fokus beradaptasi terlebih dahulu dengan rutinitas ini.

Perencanaan keluarga yang matang melalui konseling menjadi sangat penting untuk mencegah terjadinya baby blues. Ini termasuk juga membuat jarak kelahiran antar anak termasuk juga masalah finansial.

Baca juga: 3 Hal yang Menjadi Pemicu Munculnya Insecurity

Pasca persalinan merupakan waktu yang berhubungan erat dengan perubahan fisik dan emosi secara intens. Hal ini dapat menyebabkan munculnya kecemasan dan gangguan mood. Butuh dukungan dari pasangan supaya ibu bisa melewati masa-masa adaptasi ini dengan baik, sehingga tidak sampai mengganggu kesehatan fisik dan emosional secara signifikan.

*artikel ini pernah tayang di SKATA