Cairan vagina yang berubah warna menjadi kuning kehijauan umumnya disertai gejala lain seperti bau tidak sedap, rasa gatal, panas, atau nyeri saat buang air kecil.

DAFTAR ISI
- Penyebab Utama Keputihan Berwarna Kuning Kehijauan
- Gejala Penyerta yang Perlu Diwaspadai
- Komplikasi Jika Tidak Segera Ditangani
- Langkah Pengobatan dan Pencegahan
- Kapan Harus Segera ke Dokter?
- Studi Mengenai Infeksi Trikomoniasis
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Keputihan sebenarnya adalah cara alami tubuh wanita untuk menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim. Cairan yang diproduksi oleh kelenjar di dalam vagina dan leher rahim (serviks) ini berfungsi untuk membawa sel-sel mati dan bakteri keluar dari tubuh. Dalam kondisi normal, cairan keputihan biasanya berwarna bening atau putih susu, tidak berbau menyengat, dan memiliki tekstur yang bisa berubah-ubah dari encer hingga kental dan elastis, tergantung pada siklus menstruasi kamu.
Namun, perubahan warna, bau, atau tekstur cairan vagina bisa menjadi sinyal bahwa ada yang tidak beres dengan ekosistem di area kewanitaanmu. Salah satu perubahan yang paling mencolok dan sering kali membuat panik adalah kenapa keputihan berwarna kuning kehijauan. Jika kamu mendapati warna cairan vagina menyerupai warna tersebut, ini bukanlah variasi yang normal. Keputihan berwarna kuning atau hijau hampir selalu merupakan tanda adanya infeksi, yang sebagian besar disebabkan oleh penyakit menular seksual (PMS) atau gangguan bakteriologis lainnya.
Penting untuk dipahami bahwa mengabaikan kondisi ini dapat membawa dampak jangka panjang bagi kesehatan reproduksimu. Banyak wanita merasa malu atau ragu untuk memeriksakan diri ketika mengalami keputihan abnormal, padahal infeksi di area organ intim sangat umum terjadi dan dapat diobati dengan penanganan medis yang tepat. Mengetahui dengan pasti penyebab yang mendasari keluhan ini adalah langkah krusial sebelum infeksi menyebar dan memicu peradangan yang lebih serius di area panggul.
Lantas, sebenarnya apa saja kondisi medis yang menjadi pemicu kenapa keputihan berwarna kuning kehijauan? Mari kita bahas secara mendalam mengenai penyebab, gejala penyerta, hingga langkah penanganan medis yang tepat untuk mengatasi masalah kewanitaan ini secara tuntas!
Penyebab Utama Keputihan Berwarna Kuning Kehijauan
Keputihan yang berubah warna menjadi kuning kehijauan umumnya terjadi akibat adanya respons sistem kekebalan tubuh terhadap agen infeksi, seperti bakteri atau parasit. Warna hijau atau kuning pekat tersebut sebenarnya berasal dari sel darah putih (leukosit) yang mati setelah bertempur melawan patogen yang menyerang jaringan mukosa vagina. Berikut adalah beberapa penyebab utama yang paling sering didiagnosis oleh tenaga medis medis:
1. Trikomoniasis (Trichomoniasis)
Trikomoniasis adalah penyebab paling umum dari keputihan berwarna kuning kehijauan. Ini adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh parasit bersel satu yang disebut Trichomonas vaginalis. Parasit ini ditularkan melalui hubungan seksual tanpa alat pengaman (kondom) dengan seseorang yang sudah terinfeksi. Ciri khas keputihan akibat trikomoniasis adalah teksturnya yang berbusa (frothy), jumlahnya sangat banyak, dan disertai dengan bau amis atau bau busuk yang sangat tajam.
2. Gonore (Kencing Nanah)
Gonore adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Infeksi ini menyerang selaput lendir pada saluran reproduksi, termasuk leher rahim (serviks), rahim, dan saluran tuba (tuba fallopi). Selain pada organ intim, bakteri ini juga dapat menginfeksi uretra (saluran kemih), mulut, tenggorokan, dan rektum. Pada wanita, gonore sering kali memicu produksi cairan vagina yang kental berwarna kekuningan atau kehijauan, yang sebenarnya adalah nanah (purulen) akibat peradangan hebat.
3. Chlamydia (Klamidia)
Sering kali terjadi bersamaan dengan gonore, klamidia adalah IMS bakteriologis yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Meskipun banyak penderita klamidia tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) pada tahap awal, beberapa wanita akan mengalami perubahan cairan keputihan menjadi lebih keruh, berwarna kekuningan, dan disertai rasa tidak nyaman di area panggul. Jika tidak diobati, bakteri ini perlahan akan merusak organ reproduksi internal.
4. Bacterial Vaginosis (BV) Terkait Infeksi Sekunder
Bacterial Vaginosis sebenarnya disebabkan oleh ketidakseimbangan flora normal vagina, di mana jumlah bakteri baik (Lactobacillus) menurun drastis dan digantikan oleh bakteri jahat seperti Gardnerella vaginalis. Pada umumnya, BV menghasilkan keputihan berwarna abu-abu atau putih encer. Namun, jika peradangan dibiarkan atau terjadi infeksi bakteri campuran (koinfeksi), cairan tersebut bisa teroksidasi atau bercampur dengan sel radang sehingga tampak sedikit kekuningan atau kehijauan yang disertai bau amis menyengat, terutama setelah berhubungan seksual.
Gejala Penyerta yang Perlu Diwaspadai
Selain perubahan warna keputihan yang sangat mencolok, infeksi yang mendasarinya biasanya tidak datang sendirian. Tubuh akan memberikan serangkaian sinyal peringatan lainnya. Sangat penting bagi kamu untuk memperhatikan berbagai gejala penyerta di bawah ini untuk memudahkan dokter dalam menegakkan diagnosis:
1. Bau Vagina yang Sangat Menyengat
Keputihan kuning kehijauan akibat trikomoniasis atau vaginosis bakterialis umumnya memproduksi gas amina oleh bakteri anaerob. Hal ini menghasilkan bau amis (seperti bau ikan busuk) yang sangat kuat, yang bahkan bisa tercium menembus pakaian dalam dan menjadi semakin parah setelah berolahraga, menstruasi, atau setelah penetrasi seksual.
2. Gatal dan Iritasi Hebat pada Vulva (Vulvar Pruritus)
Reaksi peradangan yang ditimbulkan oleh parasit atau bakteri akan membuat jaringan di sekitar vulva dan bibir vagina menjadi merah, bengkak, meradang, dan sangat gatal. Sensasi gatal ini sering kali memicu penderitanya untuk menggaruk, yang berisiko menciptakan luka lecet (ekskoriasi) dan memperburuk infeksi masuk ke jaringan yang lebih dalam.
3. Nyeri Saat Buang Air Kecil (Disuria)
Karena uretra (saluran kencing) letaknya sangat berdekatan dengan vagina, infeksi bakteri penyebab gonore atau klamidia kerap kali menjalar. Akibatnya, kamu akan merasakan sensasi terbakar, panas, atau perih yang tajam setiap kali buang air kecil.
4. Nyeri Saat Berhubungan Seksual (Dispareunia)
Gesekan selama hubungan seksual pada jaringan vagina dan leher rahim yang sedang meradang hebat akan menimbulkan rasa sakit yang signifikan. Terkadang, peradangan pada leher rahim (servisitis) akibat infeksi klamidia atau gonore juga dapat menyebabkan perdarahan ringan (flek) setelah berhubungan intim.
Langkah Pencegahan Harian Infeksi Vagina
- Hindari Douching: Jangan pernah menyemprotkan air, sabun sirih, atau cairan pembersih apa pun ke bagian dalam vagina. Ini akan membunuh bakteri baik dan mengubah keseimbangan pH.
- Gunakan Celana Dalam Katun: Bahan katun menyerap keringat dan menjaga area intim tetap kering. Hindari celana dalam berbahan nilon atau sintetis yang menjebak kelembapan.
- Praktikkan Seks Aman: Selalu gunakan kondom lateks dari awal hingga akhir aktivitas seksual untuk memblokir pertukaran cairan tubuh yang mengandung parasit dan bakteri.
- Cara Membasuh yang Benar: Selalu basuh organ intim dari arah depan (vagina) ke belakang (anus) setelah buang air, bukan sebaliknya, untuk mencegah perpindahan bakteri tinja ke dalam vagina.
Komplikasi Jika Tidak Segera Ditangani
Infeksi menular seksual dan infeksi vagina kronis bukanlah sesuatu yang bisa sembuh dengan sendirinya hanya dengan memperbaiki kebersihan. Jika keputihan berwarna kuning kehijauan ini dibiarkan tanpa intervensi medis yang tepat, patogen dapat terus bergerak naik dari vagina menuju serviks, kemudian masuk ke dalam rahim, tuba fallopi, hingga ke indung telur (ovarium).
Kondisi pergerakan bakteri ke atas ini dikenal sebagai Pelvic Inflammatory Disease (PID) atau Penyakit Radang Panggul. PID adalah komplikasi yang sangat serius karena jaringan parut yang terbentuk akibat peradangan kronis dapat memblokir tuba fallopi. Hal ini meningkatkan risiko kehamilan ektopik (janin berkembang di luar rahim) hingga menyebabkan infertilitas (kemandulan) permanen pada wanita.
Khusus bagi wanita yang sedang hamil, infeksi trikomoniasis atau BV yang tidak tertangani dapat merangsang peradangan pada selaput ketuban dan dinding rahim. Ini dapat memicu komplikasi fatal seperti pecah ketuban dini (KPD), kelahiran prematur, hingga risiko bayi lahir dengan berat badan yang sangat rendah.
Langkah Pengobatan dan Pencegahan
Karena keputihan yang kuning dan kehijauan ini merupakan indikasi kuat infeksi patologis, pengobatannya mutlak membutuhkan obat-obatan antimikroba (seperti antibiotik, antiprotozoa, atau antijamur) yang wajib diresepkan oleh dokter setelah melalui diagnosis pasti lewat pemeriksaan swab vagina atau urinalisis.
Misalnya, untuk kasus trikomoniasis, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik oral golongan nitroimidazole seperti Metronidazole atau Tinidazole. Sementara untuk gonore atau klamidia, diperlukan terapi antibiotik spektrum luas yang lebih spesifik. Hal yang paling penting dari proses penyembuhan ini adalah metode pengobatan pasangan (partner treatment). Jika kamu diobati namun pasangan seksualmu tidak, kamu akan terus menerus kembali terinfeksi (efek ping-pong).
Setelah mendapatkan diagnosis dan resep yang tepat dari dokter, pastikan untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang diberikan walaupun gejala sudah mereda di hari kedua atau ketiga. Jika dokter sudah meresepkan pengobatan atau merekomendasikan produk kesehatan pendukung lainnya, kamu bisa langsung memesan produk yang terjamin keasliannya. Cukup manfaatkan fasilitas tebus resep dan beli obat secara praktis melalui layanan apotek terpercaya agar penyembuhanmu berjalan lancar dan optimal.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Jangan pernah mencoba mendiagnosis sendiri atau menggunakan sembarang obat keputihan tanpa resep, seperti memasukkan ramuan herbal atau pil ke dalam vagina. Tindakan yang salah justru bisa memperparah iritasi mukosa atau membuat bakteri penyebab infeksi menjadi resisten (kebal) terhadap pengobatan di masa depan.
Segera buat janji medis jika keputihan kuning kehijauan sudah berlangsung lebih dari beberapa hari dan disertai demam, menggigil, nyeri panggul yang tajam, atau keluarnya darah di luar masa menstruasi. Melalui pemeriksaan pelvik dan tes usap, dokter akan memeriksa cairan di bawah mikroskop atau mengirimnya ke laboratorium budaya untuk mengetahui secara pasti kapan harus ke dokter dan patogen mana yang sedang menyerang tubuhmu.
Studi Mengenai Keputihan dan Infeksi Menular Seksual
Journal of Clinical Medicine menerbitkan studi komprehensif terkait prevalensi Trikomoniasis pada populasi wanita secara global. Studi tersebut menekankan bahwa Trichomonas vaginalis merupakan salah satu infeksi menular seksual non-viral yang paling sering terjadi di seluruh dunia. Ditemukan fakta bahwa lebih dari 70% wanita yang terinfeksi pada awalnya tidak menyadari gejala asimtomatik, hingga akhirnya mikrobioma vagina mereka runtuh dan mulai memproduksi keputihan purulen berwarna kekuningan atau kehijauan.
Penelitian ini sangat relevan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya skrining rutin (seperti Pap Smear dan pemeriksaan infeksi ginekologi). Menunggu hingga keluarnya cairan abnormal sering kali berarti infeksi sudah berada pada tahap inflamasi akut yang lebih sulit diatasi dan membutuhkan antibiotik dengan dosis yang lebih agresif.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apakah keputihan berwarna kuning kehijauan bisa sembuh sendiri?
Tidak. Keputihan dengan warna kuning atau hijau adalah tanda klinis dari infeksi parasit atau bakteri (seperti Trikomoniasis, Gonore, atau Klamidia). Kondisi medis ini membutuhkan pengobatan spesifik dengan antibiotik atau obat antiprotozoa dari resep dokter dan tidak akan hilang dengan sendirinya.
2. Apakah aman menggunakan sabun pembersih kewanitaan untuk keputihan ini?
Sangat tidak dianjurkan. Penggunaan sabun pembersih berpewangi, antiseptik, atau metode douching akan semakin menghancurkan keseimbangan flora bakteri baik (Lactobacillus) yang tersisa di dalam vagina. Ini justru dapat membuat peradangan semakin memburuk dan menyebarkan infeksi lebih dalam ke rahim.
3. Bolehkah berhubungan intim saat sedang mengalami keputihan abnormal?
Kamu harus menghindari aktivitas seksual, baik secara vaginal, oral, maupun anal, sampai kamu dan pasanganmu selesai menjalani pengobatan medis secara penuh dan dinyatakan sembuh oleh dokter. Melakukan hubungan intim berisiko tinggi menularkan bakteri/parasit bolak-balik antara kamu dan pasangan.
4. Kenapa keputihan kuning kehijauan sering berbau amis menyengat?
Bau tak sedap (amis atau busuk) muncul karena parasit atau bakteri penyebab infeksi menghasilkan produk sampingan metabolisme berupa amina (senyawa kimia berbasis nitrogen) saat mereka memecah protein dan sel di dalam vagina. Semakin banyak bakteri berkembang biak, produksi amina semakin tinggi, membuat bau menjadi sangat kuat.



