Ad Placeholder Image

Cephalohematoma: Benjolan Kepala Bayi Aman Kah?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   08 Mei 2026

Cephalohematoma: Benjolan Kepala Bayi, Tak Perlu Panik

Cephalohematoma: Benjolan Kepala Bayi Aman Kah?Cephalohematoma: Benjolan Kepala Bayi Aman Kah?

Apa itu Cephalohematoma? Mengenali Benjolan di Kepala Bayi Baru Lahir

Cephalohematoma adalah kondisi medis yang mungkin ditemukan pada bayi baru lahir. Kondisi ini merujuk pada penumpukan darah di bawah periosteum, yaitu selaput tipis yang menutupi tulang tengkorak bayi. Penumpukan darah ini umumnya terjadi akibat trauma fisik ringan selama proses persalinan.

Kondisi cephalohematoma biasanya teraba sebagai benjolan lunak pada kepala bayi. Benjolan ini bisa membesar secara bertahap dalam beberapa jam atau hari setelah bayi lahir. Penting untuk diketahui bahwa cephalohematoma memiliki batas yang jelas, yaitu tidak melewati garis tengah atau batas satu tulang tengkorak.

Definisi Cephalohematoma

Cephalohematoma (sering juga disebut sefalohematoma) adalah ekstravasasi darah yang terlokalisasi antara tulang tengkorak dan periosteum. Periosteum adalah lapisan membran vaskular yang melapisi permukaan luar sebagian besar tulang, termasuk tulang tengkorak.

Kondisi ini berbeda dengan kaput suksedaneum, yang merupakan pembengkakan jaringan lunak di atas periosteum dan dapat melintasi garis sutura (sambungan antar tulang tengkorak). Cephalohematoma tidak melintasi garis sutura, yang merupakan ciri khas utamanya.

Benjolan ini umumnya memerlukan waktu beberapa minggu hingga bulan untuk sepenuhnya menghilang seiring dengan resorpsi (penyerapan kembali) darah secara alami oleh tubuh bayi.

Gejala Cephalohematoma

Gejala utama cephalohematoma adalah munculnya benjolan pada kepala bayi. Benjolan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Teraba lunak saat disentuh.
  • Biasanya baru terlihat jelas beberapa jam atau hari setelah kelahiran.
  • Dapat membesar secara bertahap dalam 2-3 hari pertama setelah lahir.
  • Terbatas pada satu tulang tengkorak, tidak melewati garis sutura.
  • Bayi umumnya tidak menunjukkan tanda nyeri atau ketidaknyamanan yang signifikan akibat benjolan ini.

Pada sebagian kecil kasus, cephalohematoma yang besar dapat menyebabkan komplikasi seperti penyakit kuning atau anemia akibat pemecahan sel darah merah dalam jumlah banyak.

Penyebab Cephalohematoma

Penyebab utama cephalohematoma adalah trauma yang terjadi pada kepala bayi selama proses persalinan. Tekanan atau gesekan yang kuat dapat menyebabkan pembuluh darah kecil di bawah periosteum pecah, sehingga darah menumpuk.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya cephalohematoma meliputi:

  • Persalinan dengan bantuan alat: Penggunaan vakum ekstraktor atau forceps saat persalinan dapat memberikan tekanan berlebih pada kepala bayi.
  • Persalinan yang lama atau sulit: Proses persalinan yang berkepanjangan atau memerlukan banyak upaya dapat meningkatkan risiko trauma.
  • Ukuran bayi yang besar (makrosomia): Bayi dengan ukuran kepala yang lebih besar mungkin mengalami tekanan lebih saat melewati jalan lahir.
  • Posisi bayi sungsang: Kelahiran sungsang (kaki atau bokong bayi lahir duluan) dapat meningkatkan risiko trauma kepala.
  • Primipara: Ibu yang melahirkan untuk pertama kali mungkin memiliki risiko lebih tinggi karena jalan lahir yang belum elastis sempurna.

Diagnosis Cephalohematoma

Diagnosis cephalohematoma biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter atau bidan setelah bayi lahir. Dokter akan meraba benjolan di kepala bayi untuk menentukan karakteristiknya, seperti konsistensi, ukuran, dan apakah melewati garis sutura.

Pada sebagian besar kasus, pemeriksaan fisik sudah cukup untuk mendiagnosis cephalohematoma. Namun, dalam situasi tertentu, pemeriksaan penunjang mungkin diperlukan, seperti:

  • USG (ultrasonografi) kepala: Untuk membedakan cephalohematoma dari kondisi lain seperti fraktur tengkorak atau abses.
  • Rontgen kepala: Dapat dilakukan jika ada kecurigaan fraktur tulang tengkorak yang mendasari.

Pemeriksaan ini membantu memastikan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan kondisi lain yang lebih serius.

Penanganan Cephalohematoma

Umumnya, cephalohematoma tidak memerlukan pengobatan khusus dan akan sembuh dengan sendirinya. Tubuh bayi secara alami akan menyerap kembali darah yang terkumpul seiring waktu.

Proses penyembuhan bisa memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan. Orang tua hanya perlu memantau benjolan tersebut dan memperhatikan jika ada perubahan.

Intervensi medis hanya dilakukan dalam kasus yang sangat jarang terjadi, misalnya:

  • Aspirasi darah: Jika cephalohematoma sangat besar dan tidak mengecil, dokter mungkin mempertimbangkan untuk menyedot darahnya, meskipun ini jarang dilakukan karena risiko infeksi.
  • Transfusi darah: Dalam kasus cephalohematoma yang sangat besar dan menyebabkan anemia berat, transfusi darah mungkin diperlukan.
  • Penanganan komplikasi: Jika terjadi komplikasi seperti penyakit kuning yang signifikan, bayi akan menerima fototerapi atau penanganan lain sesuai kebutuhan.

Orang tua dianjurkan untuk tidak memijat atau memberikan tekanan pada benjolan karena dapat memperburuk kondisi atau menyebabkan infeksi.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun cephalohematoma umumnya jinak dan dapat sembuh sendiri, pemantauan medis tetap diperlukan. Orang tua harus segera membawa bayi ke dokter jika merasakan atau melihat tanda-tanda berikut:

  • Benjolan bertambah besar secara signifikan dan cepat.
  • Benjolan terasa keras atau menunjukkan tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, atau hangat saat disentuh.
  • Bayi mengalami demam.
  • Bayi menunjukkan tanda-tanda kuning yang parah (ikterus).
  • Bayi tampak lesu, rewel, atau menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa.

Pemeriksaan oleh dokter dapat membantu memastikan bahwa tidak ada komplikasi yang terjadi dan memberikan ketenangan pikiran bagi orang tua.

Mengetahui cephalohematoma adalah kondisi yang umumnya tidak berbahaya dapat mengurangi kekhawatiran orang tua. Namun, penting untuk tetap melakukan pemantauan dan konsultasi dengan dokter anak untuk memastikan kesehatan dan perkembangan bayi. Jika memiliki kekhawatiran terkait kondisi bayi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc.