Ad Placeholder Image

Ciri Ciri Bayi Terkena DBD yang Harus Bunda Waspadai

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Mei 2026

Kenali Ciri Ciri Bayi Terkena DBD dan Gejala Awalnya

Ciri Ciri Bayi Terkena DBD yang Harus Bunda WaspadaiCiri Ciri Bayi Terkena DBD yang Harus Bunda Waspadai

Mengenali Ciri Ciri Bayi Terkena DBD dan Penanganannya

Demam Berdarah Dengue atau DBD merupakan penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus Dengue melalui perantara nyamuk Aedes aegypti. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus, terutama jika terjadi pada bayi yang sistem kekebalan tubuhnya masih dalam tahap perkembangan. Mengenali ciri ciri bayi terkena dbd secara dini dapat membantu mencegah komplikasi serius yang membahayakan nyawa.

Secara umum, gejala DBD pada bayi sering kali menyerupai infeksi virus lain seperti flu atau demam biasa. Namun, terdapat pola demam yang khas serta beberapa tanda fisik yang menunjukkan adanya kebocoran plasma atau penurunan kadar trombosit dalam darah. Respon yang cepat dari orang tua sangat menentukan proses pemulihan bayi yang terinfeksi.

Penyakit ini memiliki siklus yang dikenal dengan siklus pelana kuda, di mana suhu tubuh akan naik, lalu turun secara drastis sebelum akhirnya naik kembali. Masa transisi saat suhu tubuh menurun justru merupakan titik kritis yang harus diwaspadai karena risiko syok dapat terjadi pada fase tersebut.

Ciri Ciri Bayi Terkena DBD pada Fase Demam

Gejala awal atau fase demam biasanya berlangsung selama dua hingga tujuh hari pertama setelah masa inkubasi virus. Suhu tubuh bayi akan meningkat secara mendadak dan tetap tinggi meskipun telah diberikan kompres atau perawatan standar lainnya. Berikut adalah beberapa indikasi awal yang perlu diperhatikan:

  • Demam tinggi mendadak dengan suhu mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius yang berlangsung terus-menerus.
  • Bayi menunjukkan perubahan perilaku seperti menjadi sangat rewel, menangis tanpa sebab yang jelas, atau justru tampak sangat lemas dan mengantuk sepanjang hari.
  • Terjadi penurunan nafsu makan yang drastis, di mana bayi enggan menyusu baik ASI maupun susu formula.
  • Munculnya gangguan pencernaan berupa mual dan muntah yang sering, terkadang disertai dengan tanda nyeri pada bagian perut.
  • Timbulnya ruam merah pada kulit atau bintik-bintik merah (petechiae) yang tidak hilang atau memudar saat kulit ditekan.

Pada beberapa kasus, bayi juga dapat mengalami nyeri otot atau sendi yang sering kali ditunjukkan dengan gerakan tubuh yang tampak tidak nyaman saat digendong. Bintik merah yang muncul biasanya merupakan hasil dari pendarahan kecil di bawah permukaan kulit akibat penurunan jumlah trombosit.

Waspadai Fase Kritis Saat Demam Menurun

Banyak pengasuh yang menganggap bahwa penurunan suhu tubuh adalah tanda kesembuhan, namun pada kasus DBD, hal ini bisa menjadi awal dari fase kritis. Fase ini biasanya terjadi antara hari ketiga hingga ketujuh sejak gejala pertama muncul. Bayi perlu dipantau secara ketat ketika suhu tubuhnya turun ke angka normal atau di bawah 37,5 derajat Celsius.

Jika demam turun tetapi kondisi bayi justru tampak memburuk, seperti semakin lemas, tangan dan kaki terasa dingin, atau muntah terus-menerus, ini adalah tanda bahaya. Pendarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah juga dapat terjadi pada tahap ini. Kondisi ini menandakan adanya gangguan pada pembuluh darah yang membutuhkan penanganan medis darurat di rumah sakit.

Keterlambatan dalam mendeteksi fase kritis dapat memicu Dengue Shock Syndrome (DSS). Gejala syok meliputi denyut nadi yang cepat namun lemah, kegagalan fungsi organ, hingga penurunan kesadaran. Oleh karena itu, konsultasi dengan tenaga medis melalui platform kesehatan seperti Halodoc sangat disarankan jika terdapat gejala yang meragukan.

Penyebab dan Mekanisme Penularan Virus Dengue

Penyebab utama dari DBD adalah virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Nyamuk ini biasanya aktif menggigit pada pagi hari sekitar pukul delapan hingga sepuluh pagi, serta sore hari menjelang matahari terbenam. Lingkungan yang memiliki banyak genangan air bersih menjadi tempat ideal bagi nyamuk ini untuk berkembang biak.

Bayi memiliki risiko yang lebih tinggi karena kulit mereka yang masih tipis dan pergerakan yang terbatas, sehingga menjadi sasaran empuk bagi nyamuk. Virus yang masuk ke dalam aliran darah akan bereplikasi dan menyerang sistem peredaran darah serta menurunkan jumlah trombosit yang berfungsi dalam proses pembekuan darah.

Faktor lingkungan rumah yang kurang terjaga kebersihannya, seperti tumpukan pakaian kotor atau bak mandi yang jarang dikuras, meningkatkan populasi nyamuk pembawa virus. Memahami mekanisme penularan ini sangat penting untuk melakukan langkah pencegahan yang efektif di area tempat tinggal.

Langkah Pengobatan dan Penggunaan Praxion Suspensi 60 ml

Hingga saat ini, belum ada obat spesifik untuk mematikan virus Dengue secara langsung. Pengobatan yang diberikan bersifat suportif, bertujuan untuk meredakan gejala dan menjaga kecukupan cairan tubuh. Menjaga hidrasi sangat penting agar bayi tidak jatuh ke dalam kondisi dehidrasi berat akibat demam dan muntah.

Untuk membantu menurunkan suhu tubuh bayi yang tinggi pada fase awal, penggunaan obat penurun panas atau antipiretik dapat dilakukan. Salah satu produk yang umum digunakan adalah Praxion Suspensi 60 ml. Produk ini mengandung paracetamol yang bekerja efektif dalam menurunkan demam serta meredakan rasa nyeri yang mungkin dirasakan oleh bayi.

Penggunaan Praxion Suspensi 60 ml harus memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pemberian dosis harus disesuaikan dengan berat badan dan usia bayi sesuai dengan instruksi yang tertera pada kemasan atau anjuran dokter.
  • Obat ini tersedia dalam bentuk suspensi yang memudahkan pemberian kepada bayi yang belum bisa menelan tablet.
  • Gunakan pipet atau sendok takar yang tersedia di dalam kemasan untuk memastikan presisi dosis.
  • Segera hubungi dokter jika setelah pemberian Praxion Suspensi 60 ml demam tidak kunjung turun atau bayi menunjukkan reaksi alergi.

Penting untuk diingat bahwa pemberian obat penurun panas hanya bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan mencegah kejang demam. Pemantauan terhadap asupan cairan seperti ASI atau susu formula tetap menjadi prioritas utama selama masa perawatan di rumah.

Pencegahan Penularan DBD di Lingkungan Rumah

Pencegahan adalah langkah terbaik untuk melindungi bayi dari ancaman virus Dengue. Metode yang paling efektif adalah dengan memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti melalui program 3M Plus. Langkah-langkah tersebut meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tangki air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.

Selain itu, perlindungan secara fisik dapat dilakukan dengan memasang kelambu pada tempat tidur bayi atau menggunakan kawat nyamuk pada ventilasi rumah. Penggunaan pakaian yang menutupi lengan dan tungkai bayi juga sangat dianjurkan, terutama saat bayi berada di luar ruangan atau di area yang rawan nyamuk.

Penggunaan losion anti nyamuk khusus bayi yang aman bagi kulit sensitif dapat menjadi pilihan tambahan. Pastikan juga lingkungan sekitar rumah tidak memiliki tumpukan barang atau pakaian yang menggantung, karena area yang gelap dan lembap sering dijadikan tempat bersembunyi oleh nyamuk dewasa.

Kesimpulan dan Rekomendasi Medis Praktis

Memahami ciri ciri bayi terkena dbd merupakan kunci utama dalam memberikan pertolongan pertama yang tepat. Jika bayi mengalami demam tinggi mendadak yang disertai dengan perubahan perilaku dan munculnya bintik merah, segera lakukan observasi ketat dan berikan cairan yang cukup. Penggunaan Praxion Suspensi 60 ml dapat membantu meredakan demam tinggi pada fase awal infeksi.

Langkah medis praktis yang direkomendasikan adalah segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis anak melalui aplikasi Halodoc jika gejala menetap lebih dari dua hari. Pemeriksaan darah di laboratorium mungkin diperlukan untuk memastikan kadar trombosit dan hematokrit bayi. Jangan menunggu hingga kondisi memburuk atau masuk ke fase kritis untuk mencari bantuan medis profesional.