Ad Placeholder Image

Ciri-Ciri Penyakit Raja Singa pada Pria, Jangan Sampai Terlambat!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Mei 2026

Yuk, Kenali Ciri-ciri Penyakit Raja Singa pada Pria

Ciri-Ciri Penyakit Raja Singa pada Pria, Jangan Sampai Terlambat!Ciri-Ciri Penyakit Raja Singa pada Pria, Jangan Sampai Terlambat!

Mengenali Ciri-Ciri Penyakit Raja Singa pada Pria Berdasarkan Tahapnya

Penyakit raja singa atau sifilis merupakan infeksi menular seksual (IMS) serius yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penting untuk mengenali ciri-ciri penyakit raja singa pada pria sejak dini, sebab kondisi ini dapat berkembang melalui beberapa tahap dengan gejala yang bervariasi. Tanpa pengobatan yang tepat, sifilis dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang yang parah, bahkan mengancam jiwa. Artikel ini akan membahas secara detail tanda-tanda sifilis pada pria dari tahap primer hingga tersier.

Apa Itu Penyakit Raja Singa (Sifilis)?

Sifilis adalah infeksi bakteri yang menyebar melalui kontak seksual dengan seseorang yang terinfeksi. Penyakit ini dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh, termasuk alat kelamin, kulit, mulut, anus, serta organ vital lainnya. Bakteri penyebab sifilis dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka atau abrasi kecil pada kulit atau selaput lendir.

Gejala Ciri-Ciri Penyakit Raja Singa pada Pria

Ciri-ciri sifilis pada pria bervariasi tergantung pada stadium penyakitnya. Penyakit ini umumnya terbagi menjadi tiga tahap utama: primer, sekunder, dan tersier.

Sifilis Primer

Tahap primer biasanya muncul sekitar 10 hingga 90 hari (rata-rata 21 hari) setelah terpapar bakteri. Gejala utama pada tahap ini adalah munculnya luka yang disebut chancre. Chancre memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Luka tunggal atau kadang multiple.
  • Biasanya tidak nyeri, keras, dan berbentuk bulat atau oval.
  • Muncul di area tempat bakteri masuk, seperti penis, skrotum, anus, rektum, bibir, atau mulut.
  • Luka ini mungkin teraba seperti benjolan kecil yang kemudian pecah membentuk borok.
  • Meskipun tidak diobati, chancre dapat sembuh sendiri dalam 3-6 minggu. Namun, bakteri tetap ada di dalam tubuh dan infeksi akan berkembang ke tahap berikutnya.

Sifilis Sekunder

Sekitar beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah chancre muncul dan sembuh, sifilis dapat berkembang ke tahap sekunder. Pada tahap ini, bakteri telah menyebar ke seluruh tubuh, menyebabkan gejala yang lebih luas:

  • Ruam Kulit: Ruam merah kecokelatan sering muncul di telapak tangan dan telapak kaki, namun juga dapat menyebar ke seluruh tubuh. Ruam ini umumnya tidak gatal.
  • Luka di Mulut atau Alat Kelamin: Lesi seperti kutil yang lembap, disebut condyloma lata, dapat muncul di selangkangan atau di bawah lengan.
  • Rambut Rontok: Kerontokan rambut yang tidak biasa atau berbentuk bercak (alopecia areata) dapat terjadi.
  • Gejala Mirip Flu: Demam ringan, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan kelelahan.
  • Pembengkakan Kelenjar Getah Bening: Kelenjar getah bening di leher, ketiak, dan selangkangan mungkin membengkak.
  • Sakit kepala dan penurunan berat badan yang tidak disengaja.

Seperti chancre primer, gejala sifilis sekunder juga dapat menghilang tanpa pengobatan. Namun, infeksi masih aktif dan dapat masuk ke tahap laten atau tersier.

Sifilis Laten

Tahap laten adalah periode di mana tidak ada gejala sifilis yang terlihat. Tahap ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. Selama fase laten, bakteri masih ada di dalam tubuh, dan infeksi masih bisa menular, terutama pada tahap awal laten.

Sifilis Tersier

Jika tidak diobati, sekitar 15-30% individu dengan sifilis laten akan mengalami sifilis tersier, yang merupakan tahap paling merusak. Tahap ini dapat terjadi 10-30 tahun setelah infeksi awal dan dapat menyerang organ vital, menyebabkan kerusakan serius. Gejala sifilis tersier meliputi:

  • Neurosifilis: Kerusakan pada otak dan sistem saraf, menyebabkan mati rasa, kelumpuhan, kebutaan, gangguan koordinasi, demensia, stroke, atau masalah pendengaran.
  • Sifilis Kardiovaskular: Kerusakan pada jantung dan pembuluh darah besar, berpotensi menyebabkan aneurisma aorta atau masalah katup jantung.
  • Gumma: Benjolan lunak atau lesi yang dapat berkembang di kulit, tulang, atau organ internal.
  • Masalah memori dan kesulitan berjalan.

Sifilis tersier dapat berakibat fatal jika tidak ditangani.

Penularan Sifilis

Sifilis paling sering menular melalui kontak langsung dengan luka chancre selama aktivitas seksual (vaginal, anal, atau oral). Penyakit ini juga dapat ditularkan dari ibu hamil yang terinfeksi kepada bayinya (sifilis kongenital), yang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius pada bayi.

Diagnosis Penyakit Raja Singa

Diagnosis sifilis pada pria umumnya dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan tes darah. Dokter mungkin akan mengambil sampel cairan dari chancre untuk diperiksa di bawah mikroskop. Tes darah, seperti VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) atau RPR (Rapid Plasma Reagin) untuk skrining, dan TPPA (Treponema Pallidum Particle Agglutination Assay) atau TPHA (Treponema Pallidum Hemagglutination Assay) untuk konfirmasi, dapat mendeteksi keberadaan antibodi terhadap bakteri penyebab sifilis.

Pengobatan Sifilis

Sifilis dapat diobati dan disembuhkan dengan antibiotik, terutama penisilin. Dosis dan durasi pengobatan akan tergantung pada stadium penyakit:

  • Sifilis Primer dan Sekunder: Biasanya diobati dengan satu suntikan penisilin G benzathine.
  • Sifilis Laten Lanjut atau Tersier: Membutuhkan beberapa dosis suntikan penisilin.

Penting untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan yang diresepkan oleh dokter. Pasangan seksual pasien juga perlu diperiksa dan diobati jika terinfeksi.

Pencegahan Penyakit Raja Singa

Pencegahan sifilis melibatkan praktik seks aman dan pemeriksaan rutin:

  • Gunakan Kondom: Penggunaan kondom lateks secara konsisten dan benar dapat mengurangi risiko penularan, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko karena luka dapat muncul di area yang tidak terlindungi kondom.
  • Setia pada Satu Pasangan: Memiliki satu pasangan seksual yang telah teruji negatif sifilis dan setia dapat meminimalkan risiko.
  • Hindari Berbagi Jarum Suntik: Meskipun jarang, sifilis juga dapat ditularkan melalui darah.
  • Skrining Rutin: Melakukan pemeriksaan kesehatan dan skrining IMS secara teratur, terutama bagi individu yang aktif secara seksual atau memiliki banyak pasangan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika ada kecurigaan terinfeksi sifilis, seperti munculnya luka chancre tanpa nyeri di alat kelamin, ruam kulit yang tidak biasa, atau gejala mirip flu setelah kontak seksual yang berisiko, sangat penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dan pengobatan dini merupakan kunci untuk mencegah perkembangan penyakit ke tahap yang lebih parah dan menghindari komplikasi serius.

Untuk diagnosis dan penanganan yang tepat, seseorang dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin melalui aplikasi Halodoc. Mendapatkan informasi dan perawatan medis dari sumber tepercaya membantu menjaga kesehatan secara optimal.