Ad Placeholder Image

Ciri Sisa Plasenta: Kenali Tanda-Tandanya Yuk!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   04 Mei 2026

Waspada Ciri Sisa Plasenta! Jangan Anggap Remeh Ya

Ciri Sisa Plasenta: Kenali Tanda-Tandanya Yuk!Ciri Sisa Plasenta: Kenali Tanda-Tandanya Yuk!

Ringkasan Ciri Sisa Plasenta

Retensi plasenta atau sisa plasenta adalah kondisi serius setelah melahirkan di mana sebagian atau seluruh jaringan plasenta tertinggal di dalam rahim. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk perdarahan hebat, infeksi, hingga syok. Mengenali ciri-ciri masih ada sisa plasenta sangat penting agar penanganan medis dapat segera dilakukan untuk mencegah risiko lebih lanjut.

Definisi Retensi Plasenta

Retensi plasenta mengacu pada kondisi ketika plasenta tidak keluar sepenuhnya dari rahim dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Normalnya, plasenta akan luruh dengan sendirinya beberapa saat setelah persalinan. Namun, pada beberapa kasus, sebagian atau seluruh jaringan organ ini dapat tetap menempel di dinding rahim.

Kondisi ini dapat menghambat kontraksi rahim yang seharusnya membantu menutup pembuluh darah setelah plasenta lepas. Akibatnya, perdarahan berlebihan dapat terjadi. Selain itu, jaringan plasenta yang tertinggal menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak, memicu infeksi yang membahayakan kesehatan ibu.

Ciri Masih Ada Sisa Plasenta yang Perlu Diwaspadai

Mengenali ciri-ciri sisa plasenta sangat krusial bagi ibu yang baru melahirkan. Gejala-gejala ini muncul karena jaringan plasenta yang tertinggal dapat memicu infeksi dan menghambat rahim untuk berkontraksi dengan baik. Apabila ibu mengalami salah satu atau kombinasi gejala berikut setelah melahirkan, sangat penting untuk segera mencari pertolongan medis.

  • Perdarahan Abnormal Perdarahan pasca-melahirkan yang tidak berhenti, kembali deras setelah sempat mereda, atau sangat banyak melebihi normal. Kondisi ini terkadang disertai gumpalan darah besar yang keluar dari vagina. Perdarahan ini terjadi karena rahim tidak dapat berkontraksi optimal untuk menutup pembuluh darah setelah plasenta terpisah.
  • Nyeri atau Kram Perut Bawah yang Tidak Mereda Rasa nyeri atau kram di perut bagian bawah yang terasa terus-menerus atau semakin parah. Nyeri ini dapat berbeda dengan kram normal pasca-melahirkan (kontraksi rahim kembali ke ukuran semula) dan sering kali terasa lebih intens atau tidak berkurang seiring waktu.
  • Demam dan Menggigil Peningkatan suhu tubuh yang disertai menggigil adalah tanda umum infeksi. Jika sisa plasenta menyebabkan infeksi pada rahim (endometritis), tubuh akan merespons dengan demam sebagai upaya melawan bakteri.
  • Keluar Cairan atau Jaringan Berbau Tidak Sedap dari Vagina Adanya infeksi pada rahim akibat sisa plasenta dapat menyebabkan keluarnya cairan lokia (darah nifas) yang memiliki bau menyengat atau tidak sedap. Terkadang, fragmen jaringan plasenta juga bisa keluar bersamaan dengan cairan tersebut.
  • Nyeri Panggul atau Perut yang Intens Selain kram, ibu mungkin merasakan nyeri tajam atau tekanan yang tidak biasa di area panggul. Rasa sakit ini bisa menjalar dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Kelemahan dan Pusing Berlebihan Kehilangan darah yang signifikan akibat perdarahan abnormal dapat menyebabkan ibu merasa sangat lemah, pusing, bahkan hingga pingsan. Ini adalah tanda anemia akut yang memerlukan penanganan segera.

Penyebab Retensi Plasenta

Retensi plasenta dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yang secara umum dikelompokkan menjadi tiga jenis utama:

  • Plasenta Acreta Ini adalah kondisi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim, bahkan menembus lapisan otot rahim. Hal ini membuat plasenta sulit untuk lepas secara alami.
  • Plasenta Terperangkap (Trapped Placenta) Plasenta sudah lepas dari dinding rahim, tetapi terperangkap di dalam rahim karena leher rahim menutup terlalu cepat sebelum plasenta sempat keluar. Kontraksi rahim yang tidak efektif juga dapat menyebabkan kondisi ini.
  • Atonia Uteri Kondisi ini terjadi ketika otot-otot rahim tidak berkontraksi dengan kuat setelah melahirkan. Kontraksi yang lemah menyebabkan plasenta tidak dapat terlepas sepenuhnya dan pembuluh darah di dinding rahim tidak menutup, mengakibatkan perdarahan.
  • Kelainan Bentuk Rahim Struktur rahim yang tidak normal, seperti rahim bikornuata atau fibroid, dapat menghambat pelepasan plasenta secara sempurna.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Jika seorang ibu mengalami salah satu dari ciri-ciri masih ada sisa plasenta setelah melahirkan, sangat penting untuk segera mencari bantuan medis. Penanganan yang cepat dapat mencegah komplikasi serius seperti perdarahan hebat, syok, infeksi berat (sepsis), atau bahkan kematian.

Jangan menunda pemeriksaan meskipun gejalanya tampak ringan. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, ultrasonografi, dan mungkin tes darah untuk memastikan diagnosis dan menentukan tindakan yang tepat.

Diagnosis Sisa Plasenta

Diagnosis retensi plasenta umumnya dilakukan oleh dokter berdasarkan riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dokter akan menilai jumlah perdarahan, kondisi rahim, dan mencari tanda-tanda infeksi.

Ultrasonografi (USG) panggul adalah metode diagnostik utama untuk mengidentifikasi keberadaan sisa jaringan plasenta di dalam rahim. Melalui USG, dokter dapat melihat apakah ada fragmen plasenta yang tertinggal dan menilai ukuran serta lokasinya.

Pengobatan Sisa Plasenta

Penanganan sisa plasenta tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya. Beberapa metode pengobatan meliputi:

  • Pengangkatan Manual Dokter mungkin akan mencoba mengeluarkan sisa plasenta secara manual melalui vagina dengan tangan. Prosedur ini biasanya dilakukan dengan anestesi dan membutuhkan kehati-hatian.
  • Kuretase Jika sisa plasenta tidak dapat dikeluarkan secara manual atau berisiko tinggi infeksi, prosedur kuretase dapat dilakukan. Kuretase melibatkan pengerokan dinding rahim untuk mengeluarkan jaringan yang tertinggal.
  • Obat-obatan Untuk membantu rahim berkontraksi dan mengeluarkan sisa plasenta, dokter dapat memberikan obat-obatan seperti oksitosin. Antibiotik juga akan diberikan jika ada tanda-tanda infeksi.
  • Histerektomi Dalam kasus yang sangat parah, terutama jika terjadi plasenta akreta yang tidak dapat dilepaskan, histerektomi (pengangkatan rahim) mungkin diperlukan sebagai tindakan penyelamatan jiwa.

Pencegahan Sisa Plasenta

Meskipun tidak semua kasus retensi plasenta dapat dicegah, beberapa langkah dapat membantu mengurangi risikonya. Penanganan aktif kala tiga persalinan, seperti pemberian oksitosin setelah bayi lahir dan tarikan tali pusat terkendali, dapat membantu memastikan plasenta keluar secara lengkap.

Selain itu, pemeriksaan kehamilan yang teratur dan konsultasi dengan dokter mengenai faktor risiko dapat membantu deteksi dini dan perencanaan persalinan yang lebih aman. Pemantauan ketat pasca-melahirkan juga sangat penting.

Kesimpulan dan Rekomendasi Medis Halodoc

Ciri masih ada sisa plasenta setelah melahirkan merupakan kondisi medis serius yang memerlukan perhatian segera. Perdarahan abnormal, nyeri perut yang tidak reda, demam, dan cairan berbau tidak sedap adalah tanda peringatan yang tidak boleh diabaikan. Penanganan yang cepat dan tepat adalah kunci untuk mencegah komplikasi yang membahayakan jiwa ibu.

Jika mengalami salah satu gejala tersebut, segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Melalui aplikasi Halodoc, ibu dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan dari mana saja dan kapan saja untuk mendapatkan diagnosis awal serta rekomendasi tindakan selanjutnya. Jangan tunda penanganan demi kesehatan dan keselamatan pasca-melahirkan.