Ad Placeholder Image

Ciri Terkena Sipilis: Kenali dan Cegah Komplikasinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   13 Mei 2026

Apa Saja Ciri Terkena Sipilis Berdasarkan Tahapan

Ciri Terkena Sipilis: Kenali dan Cegah KomplikasinyaCiri Terkena Sipilis: Kenali dan Cegah Komplikasinya

Apa Itu Sifilis?

Sifilis, atau yang dikenal juga sebagai raja singa, adalah infeksi menular seksual (IMS) serius yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat memengaruhi berbagai organ tubuh dan memiliki gejala yang bervariasi sesuai dengan stadiumnya. Penting untuk memahami ciri terkena sifilis sejak dini guna mencegah komplikasi serius.

Infeksi ini umumnya menyebar melalui kontak langsung dengan luka sifilis saat aktivitas seksual. Jika tidak diobati, sifilis dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jantung, otak, saraf, dan organ vital lainnya.

Ciri-Ciri Sifilis Berdasarkan Stadium

Gejala sifilis berkembang secara bertahap dan dapat menyerupai kondisi medis lainnya. Berikut adalah ciri terkena sifilis yang perlu diwaspadai berdasarkan stadiumnya:

1. Sifilis Primer (Tahap Awal)

Stadium primer umumnya muncul sekitar 3 minggu setelah terpapar bakteri, namun bisa juga dalam rentang 10 hingga 90 hari. Ciri utamanya adalah munculnya luka yang disebut chancre.

  • Chancre: Luka kecil, bulat, dan tidak nyeri yang muncul di lokasi bakteri masuk, seperti alat kelamin, anus, rektum, bibir, atau mulut.
  • Luka ini biasanya sembuh dengan sendirinya dalam 3-6 minggu, bahkan tanpa pengobatan. Namun, bakteri tetap ada di dalam tubuh dan infeksi akan berlanjut ke stadium berikutnya jika tidak diobati.

2. Sifilis Sekunder

Stadium sekunder dapat dimulai beberapa minggu setelah luka chancre primer sembuh. Pada tahap ini, bakteri telah menyebar ke seluruh tubuh, menyebabkan berbagai gejala sistemik.

  • Ruam kulit: Ruam berwarna merah atau kemerahan, tidak gatal, sering muncul di telapak tangan dan kaki, namun bisa juga di bagian tubuh lain.
  • Rambut rontok: Kerontokan rambut yang tidak merata (patchy hair loss) di kepala, alis, atau bulu mata.
  • Gejala mirip flu: Demam ringan, sakit tenggorokan, kelelahan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan nyeri otot.
  • Luka datar (condyloma lata): Lesi datar berwarna putih keabu-abuan yang lembap dapat muncul di area hangat dan lembap seperti pangkal paha atau ketiak.
  • Gejala sifilis sekunder juga akan menghilang tanpa pengobatan, tetapi penyakit tetap ada dan dapat berkembang ke tahap laten.

3. Sifilis Laten

Tahap laten adalah periode tanpa gejala yang dapat berlangsung bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. Selama fase ini, bakteri tetap berada di dalam tubuh tetapi tidak menimbulkan ciri terkena sifilis yang terlihat.

Meskipun tidak bergejala, seseorang yang berada di fase laten masih dapat menularkan infeksi pada tahap awal laten (early latent) dalam waktu satu tahun setelah infeksi sekunder. Jika tidak diobati, sifilis laten dapat berkembang menjadi sifilis tersier.

4. Sifilis Tersier (Tahap Lanjut)

Sifilis tersier adalah stadium paling serius dan dapat terjadi 10-30 tahun setelah infeksi awal jika tidak diobati. Pada tahap ini, infeksi dapat menyebabkan kerusakan organ internal yang parah.

  • Kerusakan neurologis: Neuro-sifilis dapat menyebabkan stroke, meningitis, kebutaan, demensia, mati rasa, atau gangguan koordinasi.
  • Kerusakan kardiovaskular: Aneurisma aorta (pembengkakan pada pembuluh darah besar jantung) atau masalah katup jantung.
  • Gumma: Tumor lunak non-kanker yang dapat tumbuh di kulit, tulang, hati, atau organ lain.
  • Masalah mata: Gangguan penglihatan hingga kebutaan.

Penyebab Sifilis

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penularan utama terjadi melalui kontak langsung dengan luka sifilis (chancre) yang terdapat pada kulit atau selaput lendir saat melakukan aktivitas seksual vaginal, anal, atau oral.

Selain itu, sifilis juga dapat ditularkan dari ibu hamil kepada janinnya (sifilis kongenital). Ini dapat menyebabkan cacat lahir serius atau bahkan kematian pada bayi.

Pengobatan Sifilis

Sifilis dapat diobati dan disembuhkan sepenuhnya, terutama jika terdeteksi pada stadium awal. Antibiotik penisilin adalah pilihan pengobatan yang paling efektif.

  • Sifilis primer, sekunder, dan laten awal: Dosis tunggal penisilin G benzathine yang disuntikkan secara intramuskular.
  • Sifilis laten lanjut atau tersier: Dosis penisilin yang lebih tinggi atau serangkaian suntikan selama beberapa minggu.
  • Bagi individu yang alergi penisilin, dokter akan meresepkan antibiotik alternatif seperti doksisiklin atau tetrasiklin.
  • Penting untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan dan melakukan tes lanjutan untuk memastikan infeksi telah benar-benar hilang.

Pencegahan Sifilis

Pencegahan sifilis berpusat pada praktik seks aman dan deteksi dini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  • Seks aman: Menggunakan kondom lateks secara konsisten dan benar setiap kali berhubungan seksual dapat mengurangi risiko penularan.
  • Tes IMS rutin: Melakukan skrining rutin untuk infeksi menular seksual, terutama bagi individu yang aktif secara seksual atau memiliki lebih dari satu pasangan.
  • Edukasi: Memahami risiko dan cara penularan sifilis serta infeksi menular seksual lainnya.
  • Menghindari kontak dengan luka: Hindari menyentuh luka sifilis (chancre) secara langsung.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika seseorang mengalami ciri terkena sifilis, seperti luka yang tidak biasa di area genital, ruam yang tidak gatal, atau gejala mirip flu setelah kontak seksual yang berisiko, sangat penting untuk segera mencari bantuan medis. Diagnosis dan pengobatan dini sifilis sangat krusial untuk mencegah komplikasi serius dan penyebaran infeksi.

Jangan tunda untuk melakukan konsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Dokter profesional di Halodoc dapat memberikan diagnosis akurat, saran pengobatan yang tepat, dan rekomendasi tes lanjutan untuk memastikan kesehatan secara menyeluruh.