Ad Placeholder Image

CTM Aman untuk Ibu Menyusui? Wajib Tahu Ini Lho!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Cek! CTM Aman untuk Ibu Menyusui? Baca Dulu Moms!

CTM Aman untuk Ibu Menyusui? Wajib Tahu Ini Lho!CTM Aman untuk Ibu Menyusui? Wajib Tahu Ini Lho!

DAFTAR ISI


Masa menyusui adalah salah satu fase paling penting sekaligus penuh tantangan bagi seorang ibu. Pada masa ini, ibu tidak hanya harus memperhatikan asupan nutrisi untuk menjaga kualitas Air Susu Ibu (ASI), tetapi juga harus sangat berhati-hati dalam mengonsumsi obat-obatan. Pasalnya, hampir sebagian besar zat yang masuk ke dalam tubuh ibu dapat terserap ke dalam aliran darah dan akhirnya masuk ke dalam ASI yang diminum oleh si kecil.

Salah satu kondisi kesehatan yang sering dialami oleh ibu menyusui adalah reaksi alergi. Alergi dapat dipicu oleh berbagai hal, mulai dari debu, cuaca dingin, bulu hewan peliharaan, serbuk sari, hingga makanan tertentu. Gejala yang ditimbulkan biasanya berupa bersin-bersin, hidung tersumbat, mata berair, tenggorokan gatal, hingga munculnya biduran atau ruam merah pada kulit. Kondisi ini tentu sangat mengganggu kenyamanan ibu, terutama ketika harus begadang merawat dan menyusui bayi sepanjang malam.

Untuk mengatasi gejala alergi tersebut, obat antihistamin sering kali menjadi pilihan pertama. Salah satu jenis antihistamin yang paling populer dan mudah ditemukan di Indonesia adalah Chlorpheniramine Maleate atau yang lebih dikenal dengan sebutan CTM. Obat ini sangat efektif untuk meredakan berbagai reaksi alergi. Namun, banyak ibu yang masih ragu dan bertanya-tanya, apakah ctm boleh untuk ibu menyusui? Pertanyaan ini sangat wajar, mengingat keamanan bayi adalah prioritas utama setiap ibu.

Secara medis, penggunaan CTM pada ibu menyusui umumnya masih diperbolehkan, namun dengan berbagai catatan dan kehati-hatian ekstra. CTM adalah antihistamin generasi pertama yang dapat terserap ke dalam ASI meski dalam jumlah kecil. Efek samping utamanya adalah rasa kantuk yang kuat, yang tidak hanya dirasakan oleh ibu, tetapi juga berpotensi memengaruhi bayi. Oleh karena itu, penggunaannya tidak boleh sembarangan dan disarankan untuk dilakukan di bawah pengawasan medis.

Nah, mau tahu apa saja pilihan obat alergi yang mengandung CTM serta bagaimana aturan pakai yang aman untuk ibu menyusui? Berikut ulasannya!

Rekomendasi Obat Alergi dengan Kandungan CTM

Jika kamu mengalami reaksi alergi yang cukup mengganggu dan membutuhkan penanganan segera, ada beberapa obat di pasaran yang mengandung bahan aktif Chlorpheniramine Maleate (CTM). Obat-obatan ini bekerja dengan cara menghambat pelepasan histamin, yaitu zat kimia alami dalam tubuh yang memicu timbulnya gejala alergi. Berikut adalah beberapa rekomendasi produk yang bisa kamu pertimbangkan:

1. Chlorpheniramine Maleate (CTM) 4 mg 10 Tablet

Chlorpheniramine Maleate 4 mg dalam bentuk generik ini merupakan antihistamin turunan alkilamin yang bekerja secara kompetitif memblokir reseptor histamin H1. Kandungan aktif ini sangat efektif menekan respons imun tubuh yang berlebihan terhadap alergen penyebab gatal, bersin, dan ruam kulit.

Manfaat utama dari obat ini adalah meredakan gejala rhinitis alergi, urtikaria (biduran), gatal-gatal pada hidung dan tenggorokan, serta alergi kulit lainnya. Karena sifatnya yang menembus sawar darah otak (blood-brain barrier), obat ini memiliki efek sedatif atau menyebabkan kantuk yang cukup kuat.

Dosis dan aturan pakai:

  • Dosis dewasa: 1 tablet (4 mg) dikonsumsi 3 hingga 4 kali sehari. Maksimal penggunaan adalah 24 mg per hari.
  • Bagi ibu menyusui: Sangat disarankan untuk membatasi penggunaan hanya pada dosis tunggal atau sesuai anjuran dokter agar efek kantuk pada bayi dapat diminimalisasi.

Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.

Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Chlorpheniramine Maleate (CTM) 4 mg 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc

2. Pehachlor 4 mg 10 Tablet

Pehachlor merupakan salah satu sediaan obat bermerek yang mengandung Chlorpheniramine Maleate 4 mg. Cara kerjanya identik dengan CTM generik, yaitu mengikat reseptor H1 secara reversibel sehingga histamin tidak dapat memicu peradangan, pembengkakan pembuluh darah, dan produksi lendir berlebih di saluran pernapasan.

Obat ini bermanfaat untuk meredakan hidung meler, bersin-bersin akibat cuaca dingin atau debu, gatal pada mata, serta meredakan reaksi alergi akibat gigitan serangga. Obat ini paling efektif jika dikonsumsi segera setelah gejala alergi muncul.

Dosis dan aturan pakai:

  • Dosis dewasa: 1 tablet (4 mg) setiap 4-6 jam sekali.
  • Anak-anak (di atas 6 tahun): Setengah tablet (2 mg) setiap 4-6 jam sekali.

Peringatan penting untuk ibu menyusui: Hindari penggunaan Pehachlor dalam jangka panjang karena kandungan antihistamin generasi pertama ini diketahui memiliki efek antikolinergik yang berisiko menurunkan produksi ASI secara signifikan jika dikonsumsi terus-menerus.

Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.

Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Pehachlor 4 mg 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc

Tips Aman Minum Antihistamin Saat Menyusui
  1. Minum obat tepat setelah selesai menyusui bayi atau tepat sebelum jadwal tidur terpanjang bayi di malam hari, untuk memberikan waktu agar kadar obat dalam darah dan ASI menurun sebelum sesi menyusui berikutnya.
  2. Selalu awasi respons bayi. Jika bayi tampak lebih rewel, lebih sering mengantuk, sulit dibangunkan, atau mengalami kesulitan menyusu, segera hentikan penggunaan obat.
  3. Gunakan dosis efektif yang paling rendah dan hanya dalam jangka waktu singkat (penggunaan tunggal jika memungkinkan).

3. Orphen 4 mg 10 Kaplet

Orphen adalah produk obat dalam sediaan kaplet yang juga mengandalkan Chlorpheniramine Maleate 4 mg sebagai zat aktif utamanya. Orphen bekerja di sistem saraf pusat dan jaringan tepi untuk mencegah histamin menimbulkan reaksi peradangan pada jaringan kulit maupun saluran pernapasan.

Manfaat Orphen sangat luas dalam mengatasi kondisi alergi seperti rhinitis vasomotor, konjungtivitis alergi, angioedema, urtikaria transfusi, serta reaksi alergi obat ringan lainnya. Selain mengatasi gatal, efek sedasinya kerap dimanfaatkan untuk membantu penderita alergi agar bisa tidur lebih nyenyak di malam hari tanpa terganggu rasa gatal.

Dosis dan aturan pakai:

  • Dosis dewasa: 1 kaplet dikonsumsi setiap 4-6 jam sekali, tidak lebih dari 6 kaplet dalam sehari.
  • Untuk penggunaan pada ibu menyusui, selalu ikuti anjuran dokter karena metabolisme obat dapat bervariasi pada setiap individu.

Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.

Harga mulai dari: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Orphen 4 mg 10 Kaplet di Toko Kesehatan Halodoc

Penggunaan CTM Saat Menyusui dan Efek Sampingnya

1. Pengaruh terhadap Produksi ASI

Salah satu hal yang paling dikhawatirkan dari konsumsi antihistamin generasi pertama seperti CTM pada ibu menyusui adalah risiko penurunan suplai ASI. Hal ini terjadi karena CTM memiliki efek samping antikolinergik. Efek antikolinergik ini dapat menghambat kerja asetilkolin di dalam tubuh, yang secara tidak langsung dapat menurunkan kadar sekresi prolaktin basal (hormon utama yang bertugas memproduksi ASI). Jika ibu menyusui—terutama pada minggu-minggu pertama pascapersalinan saat produksi ASI belum stabil—mengonsumsi obat ini secara rutin, ada kemungkinan pasokan ASI akan berkurang secara drastis.

2. Efek Sedasi pada Bayi

Meskipun jumlah Chlorpheniramine yang masuk ke dalam ASI tergolong kecil, sistem metabolisme bayi (terutama bayi baru lahir atau prematur) belum berkembang sempurna. Ginjal dan organ hati bayi belum mampu memproses serta mengeluarkan zat obat secepat orang dewasa. Akibatnya, obat dapat terakumulasi di dalam tubuh bayi dan menyebabkan efek samping berupa sedasi (bayi tidur lebih lama dari biasanya dan sulit dibangunkan untuk menyusu), kelesuan, hingga penurunan nafsu makan (menolak menyusu). Pada sebagian kecil kasus, bayi justru dapat mengalami reaksi paradoks berupa iritabilitas atau menjadi sangat rewel.

3. Alternatif Pengobatan yang Lebih Aman

Mengingat efek samping CTM yang cukup mengkhawatirkan jika digunakan secara tidak tepat, dokter biasanya lebih merekomendasikan antihistamin generasi kedua bagi ibu menyusui. Obat-obatan seperti Loratadine atau Cetirizine dianggap jauh lebih aman. Antihistamin generasi kedua ini memiliki molekul yang lebih besar dan kurang larut dalam lemak, sehingga sangat sedikit yang menembus masuk ke dalam ASI. Selain itu, antihistamin generasi kedua tidak menyebabkan kantuk yang parah dan memiliki risiko yang jauh lebih minim terhadap penurunan produksi ASI.

Studi Mengenai Keamanan Antihistamin pada Ibu Menyusui

Drugs and Lactation Database (LactMed) menerbitkan pedoman klinis berkelanjutan yang menjelaskan bahwa penggunaan antihistamin generasi pertama seperti Chlorpheniramine sesekali dalam dosis kecil tidak akan menimbulkan masalah besar pada bayi yang disusui yang sudah lebih besar (di atas usia 2 bulan). Namun, disarankan untuk tidak digunakan berulang kali atau dalam dosis tinggi.

Studi ini lebih lanjut menggarisbawahi bahwa penggunaan rutin sebaiknya dihindari karena risiko sedasi pada bayi, serta potensi penurunan sekresi prolaktin yang berdampak buruk pada suplai ASI ibu. Jika memang diperlukan, tenaga kesehatan profesional selalu menganjurkan peralihan terapi ke antihistamin non-sedatif generasi kedua yang telah terbukti tidak memengaruhi kemampuan neurologis bayi maupun volume ASI.

Kesehatan ibu yang optimal adalah kunci dari kelancaran proses menyusui. Jangan biarkan alergi mengganggu waktu berkualitas kamu bersama si kecil, namun jangan pula gegabah dalam memilih pengobatan. Selalu perhatikan respons tubuhmu dan si kecil setelah menggunakan pengobatan jenis apa pun.

Kamu bisa mendapatkan obat-obatan di atas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Produk dijamin asli dan akan langsung diantar ke depan pintu rumahmu.

Selain itu, jika gejala alergi tidak kunjung mereda, menetap lebih dari beberapa hari, atau jika kamu mencurigai adanya reaksi penurunan jumlah ASI secara signifikan, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
LactMed (Drugs and Lactation Database). Diakses pada 2024. Chlorpheniramine.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Breastfeeding and medications: What’s safe?
American Academy of Pediatrics (AAP). Diakses pada 2024. The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Breastfeeding guidelines and medication safety.

FAQ

1. Apakah ctm boleh untuk ibu menyusui secara rutin setiap hari?

Tidak disarankan. Penggunaan CTM secara rutin atau jangka panjang pada ibu menyusui dapat menyebabkan terakumulasinya obat dalam tubuh bayi, memicu efek sedasi yang membahayakan, serta berpotensi besar menurunkan pasokan ASI ibu.

2. Kapan waktu terbaik minum CTM bagi ibu menyusui?

Jika terpaksa harus meminumnya, waktu terbaik adalah segera setelah bayi selesai menyusu, atau tepat sebelum jadwal tidur terpanjang bayi di malam hari. Hal ini bertujuan agar kadar obat di dalam tubuh ibu dan ASI sudah menurun drastis ketika waktu menyusui berikutnya tiba.

3. Apakah minum CTM bisa membuat bayi ikut mengantuk?

Ya, CTM (Chlorpheniramine Maleate) adalah antihistamin yang menimbulkan efek sedatif. Sebagian kecil obat ini dapat masuk ke dalam ASI, yang bisa menyebabkan bayi tertidur lebih lama, terlihat lesu, dan enggan menyusu.

4. Apa alternatif obat alergi yang lebih aman selain CTM untuk busui?

Dokter biasanya akan merekomendasikan antihistamin generasi kedua, seperti Loratadine atau Cetirizine. Kedua jenis obat ini dianggap lebih aman karena sangat sedikit yang terserap ke dalam ASI, tidak terlalu menyebabkan kantuk, dan tidak mengganggu produksi ASI.