Ad Placeholder Image

Darah yang keluar setelah melahirkan disebut nifas, cek fase

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Kenali Darah Yang Keluar Setelah Melahirkan Disebut Nifas

Darah yang keluar setelah melahirkan disebut nifas, cek faseDarah yang keluar setelah melahirkan disebut nifas, cek fase

DAFTAR ISI


Melahirkan adalah salah satu momen paling berharga sekaligus menantang dalam kehidupan seorang wanita. Setelah bayi lahir, perjuangan ibu belum sepenuhnya selesai. Tubuh akan memasuki fase pemulihan yang dikenal sebagai masa nifas (puerperium). Pada masa ini, tubuh ibu, khususnya organ reproduksi, mulai berangsur-angsur kembali ke kondisi semula seperti sebelum hamil. Salah satu tanda utama dari proses pemulihan ini adalah keluarnya darah dari vagina yang secara medis dikenal dengan istilah lokia.

Memahami apa itu lokia, bagaimana fasenya, dan kapan kondisi ini dianggap normal sangatlah penting bagi setiap ibu baru. Darah nifas ini sering kali membuat ibu merasa tidak nyaman, cemas, atau khawatir, terutama bagi mereka yang baru pertama kali melahirkan. Tidak jarang, ketidaktahuan mengenai volume dan warna darah yang normal berujung pada kepanikan yang sebenarnya bisa dihindari, atau sebaliknya, ketidaksadaran terhadap tanda bahaya yang sebenarnya membutuhkan penanganan medis segera.

Darah nifas bukanlah sekadar darah biasa, melainkan campuran dari darah, jaringan rahim yang meluruh, serta lendir. Proses ini adalah cara alami tubuh untuk membersihkan rahim setelah kehamilan. Perlu kamu ingat bahwa masa nifas membutuhkan perawatan ekstra, baik dari segi kebersihan maupun asupan nutrisi. Kebersihan yang buruk dapat memicu infeksi, sementara asupan nutrisi yang kurang dapat memperlambat proses penyembuhan jaringan serta membuat ibu rentan terkena anemia pascamelahirkan.

Nah, mau tahu apa saja tahapan pengeluaran lokia dan bagaimana cara tepat merawat kebersihan area kewanitaan selama masa nifas agar terhindar dari komplikasi? Berikut ulasan lengkap yang telah dirangkum khusus untukmu!

Apa Itu Lokia dan Mengapa Bisa Terjadi?

Lokia adalah cairan keputihan bercampur darah yang keluar dari vagina setelah seorang wanita melahirkan. Cairan ini sebenarnya mirip dengan darah menstruasi, namun biasanya jumlahnya lebih banyak dan berlangsung lebih lama. Keluarnya cairan ini merupakan bagian dari proses fisiologis yang sangat normal dan krusial dalam masa pemulihan pascapersalinan.

Selama kehamilan, rahim dilapisi oleh jaringan tebal yang disebut desidua. Jaringan ini berfungsi untuk mendukung pertumbuhan plasenta (ari-ari) dan janin. Setelah bayi dan plasenta dilahirkan, rahim harus kembali ke ukuran dan kondisi asalnya (sebuah proses yang disebut involusi uteri). Tempat di mana plasenta sebelumnya menempel pada dinding rahim akan meninggalkan luka terbuka. Proses penyembuhan luka inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan.

Kandungan utama dari lokia meliputi darah dari luka perlekatan plasenta, sisa-sisa jaringan desidua yang meluruh, lendir serviks, leukosit (sel darah putih yang membantu mencegah infeksi), dan bakteri alami vagina. Bau darah nifas yang normal umumnya mirip dengan bau darah menstruasi. Jika darah nifas mengeluarkan bau yang sangat busuk atau menyengat, ini bisa menjadi indikasi adanya infeksi bakteri di dalam rahim (endometritis).

Baik ibu yang melahirkan secara normal (pervaginam) maupun melalui operasi caesar (C-section) akan mengalami proses ini. Namun, ibu yang melahirkan secara caesar biasanya akan mengeluarkan lokia dalam jumlah yang sedikit lebih sedikit karena sebagian jaringan telah dibersihkan oleh dokter bedah selama prosedur operasi berlangsung. Meski begitu, proses pemulihan rahim dan pengeluaran cairan ini tetap memakan waktu berminggu-minggu.

Fase-Fase Lokia yang Wajib Diketahui

Pengeluaran darah nifas tidak terjadi secara konstan dengan warna dan jumlah yang sama setiap harinya. Cairan ini akan mengalami perubahan warna, konsistensi, dan volume seiring dengan berjalannya waktu dan proses penyembuhan rahim. Secara medis, lokia dibagi menjadi tiga fase utama yang perlu kamu pantau secara berkala:

1. Lokia Rubra (Hari ke-1 hingga Hari ke-4)

Ini adalah fase pertama yang terjadi segera setelah melahirkan. Sesuai dengan namanya (“rubra” berarti merah), cairan yang keluar pada fase ini berwarna merah terang atau merah tua. Cairan ini sebagian besar terdiri dari darah, sedikit selaput janin, sisa verniks kaseosa (lapisan putih pada kulit bayi), lanugo (rambut halus bayi), dan mekonium.

Pada hari pertama dan kedua, alirannya akan terasa sangat deras, mirip dengan hari-hari pertama menstruasi yang berat. Kamu mungkin akan merasakan kram perut bagian bawah yang cukup intens. Kram ini (afterpains) adalah tanda bahwa rahim sedang berkontraksi kuat untuk mengecilkan ukurannya dan menutup pembuluh darah yang terbuka guna mencegah perdarahan berlebih. Terkadang, kamu juga akan melihat gumpalan darah. Gumpalan darah berukuran kecil (sebesar buah anggur atau koin) masih dianggap normal. Namun, jika gumpalan darahnya sebesar bola golf atau lebih besar, kamu harus segera memeriksakannya ke tenaga medis.

2. Lokia Serosa (Hari ke-5 hingga Hari ke-10 atau ke-14)

Memasuki minggu kedua, warna darah nifas akan mulai memudar dan berubah menjadi merah muda kecokelatan. Fase ini dinamakan serosa. Aliran darah sudah tidak sederas pada fase rubra. Komposisi darahnya mulai berkurang, dan cairan ini lebih banyak mengandung sel darah putih, cairan luka (eksudat), serta lendir serviks.

Pada fase ini, kamu mungkin akan menyadari bahwa kram rahim sudah jauh berkurang atau hilang sama sekali. Cairan ini perlahan akan menjadi lebih kental namun dengan jumlah yang semakin sedikit. Perlu dicatat bahwa durasi fase serosa bisa berbeda-beda pada setiap wanita, ada yang hanya beberapa hari, ada pula yang berlangsung hingga akhir minggu kedua.

3. Lokia Alba (Mulai Minggu ke-3 hingga Minggu ke-6)

Fase terakhir adalah lokia alba (“alba” berarti putih). Pada tahap ini, perdarahan segar sudah benar-benar berhenti. Cairan yang keluar berwarna putih kekuningan atau putih pudar. Volumenya sangat sedikit, terkadang hanya berupa bercak pada pakaian dalam. Kandungannya didominasi oleh sel darah putih (leukosit), sel-sel epitel yang terlepas, lemak, lendir serviks, dan bakteri.

Fase alba menandakan bahwa luka pada tempat perlekatan plasenta sudah hampir sembuh sempurna dan ukuran rahim sudah hampir kembali ke ukuran sebelum hamil. Meski alirannya sangat sedikit, kamu tetap disarankan untuk menjaga area intim agar tetap kering dan bersih guna menghindari kelembapan yang bisa memicu jamur atau bakteri.

Tips Mencegah Infeksi Selama Masa Nifas
  1. Selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah mengganti pembalut.
  2. Ganti pembalut secara rutin setiap 3–4 jam sekali, atau lebih sering jika darah mengalir deras, untuk mencegah penumpukan bakteri.
  3. Selalu bersihkan area intim dari arah depan (vagina) ke belakang (anus) setiap kali buang air kecil atau buang air besar untuk mencegah bakteri feses masuk ke jalan lahir.
  4. Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang menyerap keringat dan tidak terlalu ketat.

Tanda Bahaya pada Masa Nifas yang Perlu Diwaspadai

Walaupun pengeluaran lokia adalah proses alami, komplikasi tetap bisa terjadi. Salah satu risiko terbesar pada masa nifas adalah perdarahan postpartum (postpartum hemorrhage) dan infeksi puerperalis. Sangat penting bagi ibu dan pasangan untuk mengenali tanda-tanda yang tidak normal agar bisa segera mendapatkan penanganan. Jangan ragu untuk segera mencari bantuan medis atau melakukan konsultasi dokter spesialis kandungan jika kamu mengalami satu atau lebih gejala berikut ini:

1. Perdarahan Sangat Deras

Jika kamu harus mengganti pembalut nifas (maternity pad) yang penuh setiap satu jam sekali selama dua jam berturut-turut, ini adalah tanda bahaya. Apalagi jika darah kembali berwarna merah terang setelah sebelumnya sudah berada di fase serosa atau alba. Ini bisa menandakan adanya robekan jalan lahir yang tidak terjahit dengan baik, atonia uteri (rahim gagal berkontraksi), atau adanya sisa plasenta yang tertinggal di dalam rahim.

2. Gumpalan Darah Berukuran Besar

Keluarnya gumpalan darah secara terus-menerus, terutama jika ukurannya melebihi bola golf atau buah plum, harus segera dievaluasi oleh dokter. Gumpalan besar dapat menghalangi rahim untuk berkontraksi dengan baik, yang pada akhirnya memicu perdarahan lebih lanjut.

3. Bau Lokia yang Busuk

Darah nifas yang sehat baunya seperti darah menstruasi biasa. Jika cairan yang keluar berbau sangat menyengat, amis busuk, atau seperti daging busuk, ini adalah tanda pasti dari infeksi rahim (endometritis) atau infeksi pada serviks/vagina. Kondisi ini harus segera ditangani dengan antibiotik dari dokter.

4. Demam dan Nyeri Perut Tak Tertahankan

Merasa meriang setelah melahirkan mungkin umum terjadi (sering disebut demam susu ketika ASI mulai berproduksi penuh). Namun, jika kamu mengalami demam tinggi lebih dari 38 derajat Celcius yang disertai menggigil dan nyeri perut bagian bawah yang luar biasa parah (bukan sekadar kram rahim biasa), ini menunjukkan penyebaran infeksi. Segera periksakan diri karena infeksi nifas bisa berakibat fatal jika dibiarkan menjadi sepsis.

Cara Tepat Merawat Diri Selama Masa Nifas

Masa nifas bukan hanya soal pulihnya rahim, tapi juga pemulihan energi, stabilitas hormon, dan produksi ASI. Tubuh membutuhkan waktu ekstra untuk kembali berfungsi optimal. Berikut adalah beberapa langkah perawatan diri yang wajib diterapkan selama masa nifas:

1. Gunakan Pembalut Khusus, Bukan Tampon

Selama masih mengeluarkan lokia, sangat dilarang untuk menggunakan tampon atau menstrual cup. Memasukkan benda apa pun ke dalam vagina selama masa nifas (termasuk berhubungan seksual) dilarang setidaknya selama 4-6 minggu pascapersalinan. Menggunakan tampon dapat membawa bakteri masuk ke dalam rahim yang sedang dalam masa penyembuhan dan memicu infeksi yang sangat berbahaya. Selalu gunakan pembalut khusus bersalin atau maternity pad karena ukurannya lebih panjang, lebih tebal, dan memiliki daya serap tinggi.

2. Penuhi Kebutuhan Cairan dan Nutrisi

Perdarahan dan proses menyusui akan menguras banyak energi dan cairan tubuh. Pastikan kamu minum air putih setidaknya 8–10 gelas sehari. Dehidrasi dapat menyebabkan sembelit, yang akan membuat proses buang air besar terasa sangat menyakitkan, terutama jika kamu memiliki jahitan perineum (episiotomi). Konsumsi makanan tinggi serat, protein hewani, serta makanan yang kaya zat besi untuk menggantikan darah yang hilang. Jika perlu, kamu bisa mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen atau produk kesehatan seperti vitamin zat besi, vitamin C, dan kalsium setelah berkonsultasi dengan dokter untuk mempercepat proses penyembuhan jaringan.

3. Berikan Waktu untuk Istirahat Ekstra

Hindari melakukan aktivitas fisik yang berat atau mengangkat beban (selain mengangkat bayi kamu) selama beberapa minggu pertama. Terlalu banyak beraktivitas bisa membuat darah nifas kembali merah terang dan alirannya menjadi lebih deras. Tidurlah saat bayimu tidur. Mintalah bantuan pasangan atau keluarga untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan membantu merawat si Kecil.

4. Latihan Kegel Secara Bertahap

Setelah dokter menyatakan aman, mulailah melakukan senam Kegel secara rutin. Latihan ini sangat membantu untuk mengencangkan kembali otot-otot dasar panggul yang meregang dan melemah selama kehamilan serta persalinan. Otot panggul yang kuat akan membantu mencegah masalah inkontinensia urine (mengompol saat batuk atau tertawa) di kemudian hari dan melancarkan sirkulasi darah ke area perineum sehingga jahitan lebih cepat kering.

Studi Terkait Pemulihan Pascamalahirkan

World Health Organization (WHO) menerbitkan panduan komprehensif terkait perawatan ibu dan bayi baru lahir di masa postnatal yang menjelaskan bahwa perawatan pascamelahirkan merupakan fase kritis yang sering diabaikan. WHO merekomendasikan pemantauan ketat terhadap perdarahan vagina, suhu tubuh, dan tekanan darah ibu selama 24 jam pertama, dilanjutkan dengan kunjungan postnatal rutin di minggu pertama, minggu ketiga, dan minggu keenam.

Studi ini menekankan bahwa edukasi tentang karakteristik lokia normal dan tanda bahaya perdarahan sekunder postpartum sangat efektif menurunkan angka morbiditas ibu melahirkan. Perdarahan setelah 24 jam persalinan yang disebabkan oleh sisa jaringan rahim atau infeksi sering kali bisa dicegah jika ibu memiliki kesadaran akan perubahan warna dan volume darah nifasnya sendiri.

Menjalani masa nifas memang membutuhkan kesabaran dan dukungan penuh dari lingkungan sekitar. Perhatikan setiap perubahan pada tubuhmu dan jangan abaikan sinyal ketidaknyamanan yang muncul. Ingatlah bahwa fase pengeluaran lokia akan berakhir, dan tubuhmu akan berangsur-angsur kembali kuat.

Jika kamu merasa volume darah kembali deras, berbau tidak sedap, atau muncul keluhan penyerta lainnya, jangan menunda untuk mencari pertolongan medis. Kamu bisa membeli suplemen pemulihan, vitamin, dan pembalut nifas dengan praktis melalui layanan apotek online. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami dengan aman dan nyaman tanpa harus keluar rumah.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Postpartum care: What to expect after a vaginal delivery.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Lochia (Postpartum Vaginal Discharge).
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. WHO recommendations on maternal and newborn care for a positive postnatal experience.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA): Perawatan Masa Nifas.

FAQ

1. Berapa lama lokia akan keluar setelah melahirkan?

Secara umum, lokia akan keluar selama 4 hingga 6 minggu setelah persalinan. Namun, setiap wanita memiliki proses pemulihan yang berbeda-beda. Beberapa wanita mungkin hanya mengalaminya selama 3 minggu, sementara yang lain bisa mencapai maksimal 8 minggu, terutama jika aliran di minggu-minggu akhir hanya berupa bercak putih kekuningan (alba).

2. Apakah melahirkan secara caesar tetap akan mengeluarkan darah nifas?

Ya, ibu yang melahirkan secara operasi caesar (C-section) tetap akan mengeluarkan darah nifas. Rahim tetap perlu melakukan pembersihan desidua dan penyembuhan jaringan plasenta. Perbedaannya hanyalah volumenya mungkin akan terasa sedikit lebih sedikit di minggu-minggu awal dibandingkan persalinan normal, karena sebagian rahim telah dibersihkan oleh dokter secara manual saat operasi bedah.

3. Mengapa aliran lokia tiba-tiba menjadi deras lagi saat saya menyusui?

Kondisi ini sangat normal. Saat bayi mengisap puting, tubuh ibu melepaskan hormon oksitosin secara alami. Hormon oksitosin ini tidak hanya berfungsi memicu keluarnya ASI (let-down reflex), tetapi juga merangsang otot rahim untuk berkontraksi. Kontraksi ini sangat baik untuk mengembalikan rahim ke ukuran semula, yang efek sampingnya adalah memeras darah di dalam rahim keluar lebih banyak saat itu juga.

4. Apakah boleh berhubungan intim saat masih keluar darah nifas?

Sangat tidak disarankan. Dokter kandungan secara tegas melarang hubungan intim penetratif, penggunaan tampon, atau douche selama masa nifas berlangsung (minimal 4–6 minggu). Melakukannya dapat meningkatkan risiko infeksi yang mematikan pada rahim dan bisa merusak jahitan pada jalan lahir yang belum sepenuhnya pulih.