Kenali DID: Penyakit Kepribadian Ganda Akibat Trauma

DID Adalah Penyakit Gangguan Identitas Disosiatif: Kenali Gejala, Penyebab, dan Penanganannya
Gangguan Identitas Disosiatif (DID), atau yang dikenal luas dengan sebutan DID adalah penyakit kejiwaan kompleks yang ditandai dengan adanya dua atau lebih kepribadian atau identitas yang berbeda. Kondisi kesehatan mental serius ini seringkali menyebabkan seseorang mengalami perubahan perilaku dan pikiran yang signifikan, disertai dengan episode hilang ingatan (amnesia) yang mencolok. DID umumnya merupakan respons terhadap trauma parah yang dialami di masa lalu, terutama pada masa kanak-kanak, seperti kekerasan fisik atau seksual. Diagnosis dan penanganan profesional sangat penting, dan biasanya melibatkan psikoterapi jangka panjang.
Gejala Utama Gangguan Identitas Disosiatif
Gejala DID dapat bervariasi pada setiap individu, tetapi ada beberapa ciri utama yang menjadi penanda kondisi ini. Pemahaman terhadap gejala ini krusial untuk mengidentifikasi dan mencari bantuan yang tepat.
- Kehadiran Alter Ego: Seseorang dengan DID memiliki dua atau lebih identitas atau “alter ego” yang berbeda. Setiap identitas ini memiliki pola berpikir, merasa, dan berperilaku yang unik, bahkan bisa memiliki nama, usia, jenis kelamin, dan karakteristik fisik yang berbeda. Identitas-identitas ini dapat mengambil alih kendali perilaku secara bergantian.
- Amnesia Disosiatif: Ini adalah salah satu gejala paling khas, ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi penting, peristiwa sehari-hari, atau trauma masa lalu yang seharusnya tidak terlupakan. Amnesia ini bukan disebabkan oleh kelupaan biasa atau kondisi medis lain.
- Depersonalisasi dan Derealisasi: Depersonalisasi adalah perasaan terlepas dari diri sendiri atau merasa menjadi pengamat dari luar tubuh sendiri. Sementara itu, derealisasi adalah perasaan bahwa dunia di sekitar tampak tidak nyata, kabur, atau asing.
- Perubahan Mood dan Emosi yang Drastis: Penderita DID sering mengalami perubahan suasana hati yang cepat dan ekstrem, seperti dari sangat bahagia menjadi sangat sedih atau marah dalam waktu singkat.
- Gejala Lain yang Menyertai: DID dapat disertai dengan gejala kesehatan mental lain seperti depresi, kecemasan, gangguan panik, gangguan makan, penyalahgunaan zat, halusinasi, dan pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Penyebab DID Adalah Trauma Masa Kecil
Penyebab utama Gangguan Identitas Disosiatif hampir selalu terkait dengan trauma parah yang berulang selama masa kanak-kanak, sebelum usia 6-9 tahun. Pada usia tersebut, kepribadian anak masih dalam tahap pembentukan, sehingga trauma ekstrem dapat mengganggu proses integrasi identitas. Ketika anak menghadapi situasi yang tidak dapat ditoleransi atau melarikan diri, pikiran bawah sadar mereka dapat menciptakan mekanisme pertahanan berupa disosiasi. Disosiasi ini memungkinkan anak untuk “melarikan diri” secara mental dari rasa sakit dan kengerian dengan menciptakan identitas lain yang mengalami trauma tersebut, sementara identitas inti terlindungi. Trauma tersebut meliputi: kekerasan fisik, pelecehan seksual, penelantaran berat, atau pengalaman lain yang mengancam jiwa.
Diagnosis Gangguan Identitas Disosiatif
Mendiagnosis DID memerlukan evaluasi komprehensif oleh profesional kesehatan mental, seperti psikiater atau psikolog. Proses diagnosis melibatkan wawancara mendalam, pemeriksaan riwayat medis dan psikologis pasien, serta penggunaan kriteria diagnostik dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Karena gejalanya sering tumpang tindih dengan kondisi lain, seperti gangguan bipolar atau skizofrenia, diagnosis DID bisa memakan waktu dan memerlukan kehati-hatian.
Pengobatan DID Adalah Psikoterapi
Penanganan Gangguan Identitas Disosiatif berpusat pada psikoterapi jangka panjang, seringkali didukung oleh medikasi untuk mengatasi gejala penyerta. Tujuan utama pengobatan adalah membantu integrasi identitas-identitas yang terpisah, mengatasi trauma yang mendasari, dan mengembangkan keterampilan koping yang lebih sehat.
- Psikoterapi: Ini adalah pilar utama pengobatan DID. Terapi yang umum digunakan meliputi terapi perilaku kognitif (CBT), terapi perilaku dialektika (DBT), dan desensitisasi dan pemrosesan ulang gerakan mata (EMDR). Psikoterapi membantu pasien memahami dan memproses trauma, mengintegrasikan bagian-bagian identitas yang terpisah, serta meningkatkan fungsi sehari-hari.
- Terapi Berbasis Trauma: Terapi ini fokus pada penanganan trauma masa lalu dengan aman, membantu pasien mengenali dan memproses memori trauma tanpa merasa kewalahan.
- Obat-obatan: Tidak ada obat khusus untuk mengobati DID secara langsung. Namun, obat-obatan seperti antidepresan, antikecemasan, atau antipsikotik dapat diresepkan untuk mengelola gejala penyerta seperti depresi, kecemasan, atau gangguan tidur yang sering dialami oleh penderita DID.
Komplikasi dan Prognosis DID
Tanpa penanganan yang tepat, Gangguan Identitas Disosiatif dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan fungsi sosial dan pekerjaan yang parah, peningkatan risiko cedera diri, dan pikiran untuk bunuh diri. Namun, dengan diagnosis dini dan psikoterapi jangka panjang yang konsisten, banyak individu dengan DID dapat mencapai peningkatan signifikan dalam kualitas hidup, mengurangi frekuensi gejala disosiatif, dan bahkan mencapai integrasi parsial atau penuh dari identitas mereka.
Jika seseorang atau kerabat terdekat dicurigai mengalami DID adalah penyakit yang memerlukan perhatian medis segera. Mengabaikan gejala dapat memperburuk kondisi dan menghambat proses pemulihan. Penting untuk mencari bantuan profesional sedini mungkin.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Gangguan Identitas Disosiatif atau untuk mendapatkan bantuan ahli, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater melalui aplikasi Halodoc. Profesional di Halodoc siap memberikan panduan, diagnosis, dan rencana perawatan yang tepat sesuai kebutuhan.



