Ad Placeholder Image

Dosis Metamizole Injeksi yang Tepat untuk Dewasa dan Anak

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 22 Juni 2026

Dosis Metamizole Injeksi yang Tepat untuk Dewasa dan Anak

Dosis Metamizole Injeksi yang Tepat untuk Dewasa dan AnakDosis Metamizole Injeksi yang Tepat untuk Dewasa dan Anak

DAFTAR ISI


Injeksi metamizole, yang juga dikenal secara luas sebagai dipyrone atau antalgin, merupakan salah satu jenis obat pereda nyeri (analgesik) dan penurun demam (antipiretik) yang sangat kuat. Di Indonesia, penggunaan metamizole dalam bentuk suntikan biasanya dilakukan dalam setting medis profesional, seperti di rumah sakit atau klinik, untuk mengatasi kondisi nyeri yang bersifat akut dan berat. Obat ini termasuk dalam golongan non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) turunan pirazolon, meskipun efektivitas antiinflamasinya relatif lebih rendah dibandingkan analgesiknya.

Pemberian melalui jalur injeksi seringkali dipilih ketika pasien tidak memungkinkan untuk mengonsumsi obat secara oral, atau ketika dibutuhkan efek kerja obat yang lebih cepat (onset of action yang singkat). Kondisi seperti nyeri hebat pasca operasi, nyeri kolik empedu atau ginjal, serta nyeri akibat kanker sering kali menjadi alasan utama penggunaan injeksi metamizole. Kecepatan respon tubuh terhadap bentuk injeksi ini menjadikannya pilihan krusial dalam manajemen nyeri gawat darurat.

Namun, penggunaan injeksi metamizole bukan tanpa risiko. Di balik efektivitasnya yang tinggi, obat ini membawa risiko efek samping serius yang telah menyebabkan pembatasan atau pelarangan penggunaannya di beberapa negara maju. Oleh karena itu, sangat penting bagi tenaga medis dan pasien untuk memahami dosis yang tepat, indikasi yang sesuai, serta tanda-tanda bahaya yang mungkin muncul setelah pemberian obat ini. Artikel ini akan mengupas tuntas segala hal mengenai injeksi metamizole demi keamanan terapi kamu.

Penting untuk diingat bahwa metamizole injeksi adalah obat keras yang hanya boleh diberikan oleh tenaga medis profesional. Jika kamu memerlukan penanganan nyeri segera, kamu bisa melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan medis yang tepat.

Mengenal Injeksi Metamizole

Metamizole natrium adalah zat aktif yang telah digunakan selama puluhan tahun dalam dunia medis. Sebagai seorang apoteker, saya sering mendapati bahwa obat ini menjadi andalan ketika obat pereda nyeri standar seperti paracetamol atau ibuprofen tidak lagi memberikan efek yang adekuat pada nyeri intensitas sedang hingga berat. Bentuk injeksi metamizole biasanya tersedia dalam ampul 2 ml dengan konsentrasi 500 mg/ml, yang berarti satu ampul mengandung 1 gram metamizole.

Berbeda dengan obat minum yang harus melewati proses pencernaan terlebih dahulu, injeksi metamizole masuk langsung ke aliran darah (intravena) atau jaringan otot (intramuskular). Hal ini memungkinkan obat mencapai konsentrasi puncak dalam waktu yang jauh lebih singkat. Namun, pemberian intravena harus dilakukan dengan sangat lambat untuk menghindari penurunan tekanan darah (hipotensi) secara mendadak yang bisa berakibat fatal.

Indikasi Penggunaan Injeksi Metamizole

Tidak semua rasa nyeri bisa atau boleh ditangani dengan injeksi metamizole. Indikasinya sangat spesifik dan biasanya dibatasi pada kondisi berikut:

  • Nyeri Akut yang Hebat: Misalnya nyeri setelah trauma atau pembedahan di mana pasien membutuhkan pemulihan cepat tanpa rasa sakit yang menyiksa.
  • Nyeri Kolik: Nyeri yang datang bergelombang dan sangat hebat, seperti pada kasus batu ginjal (kolik renal) atau batu empedu (kolik biliaris).
  • Nyeri Tumor/Kanker: Sebagai bagian dari manajemen nyeri pada pasien paliatif ketika analgesik lain tidak mencukupi.
  • Demam Tinggi Refrakter: Digunakan sebagai pilihan terakhir untuk menurunkan demam yang sangat tinggi dan tidak merespon obat penurun panas lainnya.

Mekanisme Kerja Metamizole

Mekanisme kerja metamizole sebenarnya cukup kompleks dan belum sepenuhnya dipahami secara tunggal. Secara umum, metamizole bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX) di sistem saraf pusat dan jaringan perifer. Penghambatan ini menghentikan produksi prostaglandin, yaitu zat kimia dalam tubuh yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal nyeri dan mengatur suhu tubuh di hipotalamus.

Selain itu, metamizole diyakini memiliki efek spasmolitik, yaitu kemampuan untuk merelaksasi otot polos. Inilah alasan mengapa metamizole sangat efektif untuk nyeri kolik yang disebabkan oleh kontraksi otot polos di saluran kemih atau saluran empedu. Kombinasi antara efek sentral pada otak dan efek perifer pada otot membuat profil analgesiknya sangat unik.

Pentingnya Keamanan Penggunaan Obat
  1. Pastikan riwayat alergi obat diketahui sebelum penyuntikan.
  2. Hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
  3. Monitor tekanan darah selama dan sesudah pemberian obat.

Dosis Umum Dewasa dan Anak

Penentuan dosis injeksi metamizole harus didasarkan pada berat badan pasien dan intensitas nyeri. Sebagai pedoman umum, berikut adalah dosis yang sering digunakan dalam praktik klinis:

1. Dosis untuk Dewasa

Untuk orang dewasa dan remaja di atas usia 15 tahun (dengan berat badan > 53 kg), dosis tunggal yang biasa diberikan adalah 500 mg hingga 1 gram (1-2 ml). Jika nyeri sangat hebat, dosis dapat ditingkatkan hingga maksimal 2,5 gram dalam satu kali pemberian. Total dosis harian maksimal tidak boleh melebihi 4-5 gram.

2. Dosis untuk Anak-anak

Pemberian pada anak-anak harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan perhitungan dosis yang ketat berdasarkan berat badan. Biasanya dosis yang dianjurkan adalah 8 hingga 16 mg per kilogram berat badan. Metamizole tidak direkomendasikan untuk bayi di bawah usia 3 bulan atau berat badan kurang dari 5 kg kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak dan di bawah pengawasan ketat spesialis anak.

Efek Samping dan Peringatan Penting

Sebagai apoteker, saya harus menekankan bahwa metamizole memiliki risiko agranulositosis. Ini adalah kondisi langka namun sangat berbahaya di mana jumlah sel darah putih (neutrofil) dalam tubuh menurun drastis secara tiba-tiba. Hal ini membuat sistem kekebalan tubuh lumpuh dan pasien rentan terhadap infeksi mematikan.

Gejala agranulositosis meliputi demam tinggi mendadak, sakit tenggorokan, dan luka di mulut atau dubur. Jika gejala ini muncul setelah penggunaan metamizole, segera hubungi dokter. Selain itu, efek samping lain yang mungkin terjadi adalah:

  • Hipotensi (penurunan tekanan darah), terutama jika disuntikkan terlalu cepat.
  • Reaksi alergi atau syok anafilaksis.
  • Kelainan kulit seperti sindrom Stevens-Johnson (jarang).
  • Gangguan fungsi ginjal akut.

Bagi kamu yang sedang menjalani pengobatan rawat jalan dan membutuhkan obat atau suplemen pendukung lainnya, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan kemudahan pengantaran langsung ke rumah.

Interaksi Obat yang Perlu Diwaspadai

Metamizole dapat berinteraksi dengan beberapa obat lain, yang dapat mengubah efektivitas atau meningkatkan risiko efek samping. Informasikan kepada dokter jika kamu sedang mengonsumsi:

  • Siklosporin: Metamizole dapat menurunkan kadar siklosporin dalam darah, yang berisiko bagi pasien transplantasi organ.
  • Metotreksat: Risiko toksisitas darah dari metotreksat dapat meningkat.
  • Aspirin: Metamizole dapat mengurangi efek anti-platelet dari aspirin dosis rendah yang digunakan untuk perlindungan jantung.
  • Obat Antihipertensi: Penggunaan bersamaan dapat memengaruhi kontrol tekanan darah.

Kapan Harus ke Dokter?

Injeksi metamizole hanya diberikan dalam kondisi darurat medis atau pengawasan profesional. Kamu harus segera mencari bantuan medis atau berkonsultasi dengan dokter jika:

  1. Nyeri tidak berkurang meski sudah diberikan dosis yang dianjurkan.
  2. Muncul tanda alergi seperti gatal-gatal, ruam merah, bengkak di wajah, atau sesak napas.
  3. Mengalami pusing hebat atau pingsan setelah penyuntikan (tanda hipotensi).
  4. Muncul gejala infeksi seperti demam dan menggigil setelah beberapa hari pemakaian.

Studi Mengenai Keamanan Metamizole

The Lancet menerbitkan studi yang menyoroti perdebatan panjang mengenai keamanan metamizole terkait risiko agranulositosis. Studi tersebut menjelaskan bahwa meskipun risikonya secara statistik rendah (sekitar 1 banding 1 juta pengguna di beberapa wilayah), variasi genetik pada populasi tertentu dapat meningkatkan kerentanan tersebut.

Temuan ini memperkuat alasan mengapa metamizole tetap menjadi obat resep yang ketat dan tidak boleh digunakan secara sembarangan tanpa indikasi medis yang jelas. Di Indonesia, regulasi BPOM masih mengizinkan penggunaan metamizole dengan pengawasan karena efektivitasnya yang sangat baik dalam manajemen nyeri akut dibandingkan risiko yang ada, asalkan protokol pemberian diikuti dengan benar.

Penting untuk selalu waspada terhadap reaksi tubuh kamu. Jangan pernah mencoba melakukan penyuntikan mandiri tanpa instruksi dan teknik yang benar dari tenaga medis. Jika kamu merasa perlu berkonsultasi mengenai dosis atau kecocokan obat ini dengan kondisi tubuhmu, jangan ragu untuk menghubungi dokter.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Metamizole (Oral Route, Injection Route).
WHO Model Formulary. Diakses pada 2026. Analgesics, Antipyretics, and Non-steroidal Anti-inflammatory Drugs.
NCBI – StatPearls. Diakses pada 2026. Dipyrone: Pharmacology and Clinical Applications.
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Formularium Spesialistik Ilmu Penyakit Dalam: Analgesik.

FAQ

1. Apakah injeksi metamizole bisa dibeli bebas?

Tidak, injeksi metamizole adalah obat golongan keras. Penggunaannya harus berdasarkan resep dokter dan hanya boleh diberikan oleh tenaga medis profesional di fasilitas kesehatan.

2. Berapa lama efek injeksi metamizole bekerja?

Efek pereda nyeri biasanya mulai terasa dalam 30 menit setelah penyuntikan intramuskular, dan bisa lebih cepat lagi jika diberikan secara intravena. Efeknya bertahan sekitar 4 hingga 6 jam.

3. Bolehkah ibu hamil menerima injeksi metamizole?

Metamizole tidak dianjurkan pada trimester pertama dan ketiga kehamilan. Penggunaannya pada trimester kedua hanya jika benar-benar diperlukan dan setelah pertimbangan manfaat-risiko yang ketat oleh dokter.

4. Apa perbedaan metamizole dengan paracetamol?

Metamizole memiliki efek analgesik yang lebih kuat daripada paracetamol dan memiliki sifat spasmolitik (merelaksasi otot), namun memiliki risiko efek samping pada sel darah yang lebih tinggi sehingga penggunaannya lebih diawasi.

Punya Keluhan Nyeri Hebat tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan nyeri yang tak kunjung reda, tapi bingung harus melakukan tindakan apa? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.