Ad Placeholder Image

Efek Samping Kerokan: Ada Bahaya di Balik Sha?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   24 April 2026

Efek Samping Kerokan: Risiko di Balik Rasa Lega

Efek Samping Kerokan: Ada Bahaya di Balik Sha?Efek Samping Kerokan: Ada Bahaya di Balik Sha?

Mengenal Efek Samping Kerokan yang Perlu Diwaspadai

Kerokan sering menjadi pilihan utama untuk meredakan masuk angin dan pegal linu. Prosedur ini melibatkan gesekan benda tumpul pada kulit hingga menimbulkan garis merah (sha). Meskipun dipercaya dapat melancarkan peredaran darah, praktik kerokan juga memiliki potensi efek samping yang perlu diperhatikan. Pemahaman menyeluruh tentang risiko dan cara aman melakukan kerokan sangat penting untuk menjaga kesehatan kulit dan tubuh.

Apa Itu Kerokan?

Kerokan adalah metode pengobatan tradisional yang populer di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya. Prosedur ini dilakukan dengan menggesekkan benda tumpul, seperti koin atau lempengan giok, pada permukaan kulit. Biasanya, media pelicin seperti minyak kelapa atau balsem digunakan untuk mengurangi gesekan langsung. Tujuannya adalah memicu kemerahan pada kulit, yang dipercaya dapat mengeluarkan “angin” dan meredakan rasa tidak nyaman.

Efek Samping Kerokan Potensial bagi Tubuh

Meskipun sering memberikan sensasi lega, kerokan tidak luput dari berbagai efek samping. Efek-efek ini muncul karena adanya tekanan dan gesekan pada kulit. Penting untuk memahami potensi risikonya agar dapat mengambil keputusan yang tepat.

Iritasi Kulit dan Luka

Gesekan berulang dan tekanan yang berlebihan saat kerokan dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Kulit yang tipis atau sensitif lebih rentan mengalami kemerahan, rasa perih, hingga lecet. Luka terbuka yang timbul menjadi pintu masuk bagi kuman.

Memar dan Pecahnya Pembuluh Darah Kecil

Garis merah yang muncul saat kerokan, yang dikenal sebagai ‘sha’, adalah tanda pecahnya pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit. Meskipun dianggap sebagai indikator keberhasilan, ini sebenarnya adalah bentuk memar ringan. Memar dapat bervariasi dari kemerahan hingga kebiruan dan membutuhkan waktu untuk pulih.

Risiko Infeksi

Penggunaan alat kerokan yang tidak steril meningkatkan risiko infeksi kulit. Bakteri atau virus yang menempel pada alat dapat masuk melalui luka kecil atau pori-pori yang terbuka. Infeksi bisa menyebabkan peradangan, nanah, hingga komplikasi yang lebih serius jika tidak segera ditangani.

Memicu Peradangan Kulit

Reaksi tubuh terhadap kerusakan pembuluh darah kecil dan iritasi adalah peradangan. Kulit bisa menjadi bengkak, merah, dan terasa hangat. Pada beberapa kasus, peradangan yang berlebihan dapat menimbulkan rasa nyeri yang lebih hebat daripada pegal semula.

Kontraindikasi untuk Kondisi Tertentu

Kerokan tidak disarankan untuk beberapa kondisi kesehatan. Individu yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah memiliki risiko tinggi mengalami pendarahan dan memar yang parah. Begitu juga dengan pasien pasca-operasi, karena dapat mengganggu proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko komplikasi.

Cara Aman Melakukan Kerokan

Jika memilih untuk melakukan kerokan, penting untuk melakukannya dengan hati-hati. Keamanan adalah prioritas utama untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan. Beberapa langkah pencegahan dapat diikuti.

  • Gunakan alat kerokan yang bersih dan steril. Pastikan alat dicuci bersih atau didisinfeksi sebelum dan sesudah digunakan.
  • Pilih media pelicin yang aman dan tidak mengiritasi kulit, seperti minyak kelapa atau krim khusus.
  • Lakukan kerokan dengan lembut dan tidak berlebihan. Hindari tekanan yang terlalu kuat atau menggosok berulang pada satu area.
  • Perhatikan reaksi kulit. Hentikan jika muncul rasa sakit yang berlebihan, pendarahan, atau tanda iritasi serius.

Kapan Harus Konsultasi Dokter Setelah Kerokan?

Meskipun kerokan dapat meredakan gejala ringan, ada kalanya keluhan memerlukan penanganan medis profesional. Mengabaikan gejala yang memburuk dapat memperpanjang masa penyembuhan.

  • Jika gejala pegal atau tidak enak badan tidak membaik atau justru memburuk setelah kerokan.
  • Muncul tanda-tanda infeksi seperti demam, nanah, bengkak parah, atau nyeri hebat pada area yang dikerok.
  • Terjadi reaksi alergi terhadap minyak atau balsem yang digunakan.
  • Jika memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti gangguan pembekuan darah atau kondisi kulit sensitif, dan mengalami efek samping.

Kesimpulan

Kerokan adalah praktik tradisional yang dipercaya dapat meredakan pegal linu dan masuk angin. Namun, perlu dipahami bahwa kerokan memiliki potensi efek samping seperti iritasi kulit, memar, hingga risiko infeksi. Penting untuk melakukan kerokan dengan alat bersih dan tidak berlebihan, serta menghindari praktik ini jika sedang mengonsumsi pengencer darah atau baru menjalani operasi. Jika keluhan berlanjut atau muncul gejala yang mengkhawatirkan setelah kerokan, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.