Ad Placeholder Image

Empty Sella Syndrome: Kenapa Sella Otak Bisa Terlihat Kosong?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   21 April 2026

Empty Sella Syndrome: Ini Bukan Otak Kosong Sungguhan

Empty Sella Syndrome: Kenapa Sella Otak Bisa Terlihat Kosong?Empty Sella Syndrome: Kenapa Sella Otak Bisa Terlihat Kosong?

Empty Sella Syndrome Adalah: Memahami Kondisi Langka Rongga Sella yang Tampak Kosong

Empty Sella Syndrome (ESS) adalah kondisi medis langka yang terjadi ketika kelenjar pituitari (hipofisis), yang terletak di dasar otak, menyusut atau tertekan. Akibatnya, rongga tulang pelindungnya yang disebut sella tursika menjadi terisi oleh cairan serebrospinal (CSF), membuat area tersebut tampak ‘kosong’ pada hasil pemindaian otak seperti MRI atau CT scan. Meskipun namanya ’empty sella’, sebenarnya rongga tersebut tidak benar-benar kosong, melainkan terisi cairan dan kelenjar pituitari menjadi pipih.

Kondisi ini seringkali tidak menimbulkan gejala dan ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan pencitraan otak untuk alasan lain. Namun, pada beberapa kasus, Empty Sella Syndrome dapat memengaruhi fungsi kelenjar pituitari dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan terkait hormon atau neurologis.

Apa Itu Sella Tursika dan Kelenjar Pituitari?

Untuk memahami Empty Sella Syndrome, penting untuk mengenal dua struktur utama yang terlibat:

  • Sella Tursika: Ini adalah struktur tulang kecil berbentuk seperti pelana kuda yang terletak di dasar tengkorak. Fungsi utamanya adalah memberikan perlindungan bagi kelenjar pituitari yang rapuh.
  • Kelenjar Pituitari (Hipofisis): Dikenal juga sebagai ‘kelenjar master’, kelenjar kecil ini berada tepat di bawah otak. Kelenjar pituitari bertanggung jawab memproduksi berbagai hormon penting yang mengatur pertumbuhan, metabolisme, reproduksi, tekanan darah, dan fungsi tubuh vital lainnya.

Ketika sella tursika terisi oleh cairan serebrospinal, kelenjar pituitari yang seharusnya mengisi ruang tersebut menjadi terdesak dan menyusut.

Jenis dan Penyebab Empty Sella Syndrome

Empty Sella Syndrome dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis utama berdasarkan penyebabnya:

  • Empty Sella Primer: Jenis ini terjadi tanpa adanya penyebab yang jelas. Umumnya diyakini disebabkan oleh kelainan pada diafragma sella, yaitu membran yang menutupi sella tursika. Kelainan ini memungkinkan cairan serebrospinal dari ruang di sekitar otak masuk dan mengisi sella tursika. Empty sella primer sering ditemukan pada wanita yang mengalami obesitas dan memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Empty Sella Sekunder: Jenis ini timbul sebagai akibat dari kerusakan pada kelenjar pituitari itu sendiri. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
    • Operasi pengangkatan tumor kelenjar pituitari.
    • Terapi radiasi yang menargetkan area kepala.
    • Cedera kepala berat.
    • Peradangan kelenjar pituitari atau hipofisitis, yaitu kondisi autoimun atau infeksi yang menyebabkan peradangan pada kelenjar pituitari.

Gejala Empty Sella Syndrome yang Mungkin Timbul

Sebagian besar kasus Empty Sella Syndrome tidak menimbulkan gejala spesifik dan tidak memerlukan intervensi medis. Namun, jika kondisi ini memengaruhi fungsi kelenjar pituitari dan produksi hormon, beberapa gejala dapat muncul:

  • Sakit kepala kronis: Nyeri kepala yang persisten atau berulang.
  • Gangguan penglihatan: Bisa berupa penglihatan kabur atau masalah pada lapang pandang, jika sella tursika yang terisi cairan menekan saraf optik.
  • Gangguan menstruasi: Pada wanita, dapat terjadi menstruasi tidak teratur atau bahkan berhenti (amenore).
  • Penurunan libido: Penurunan dorongan seksual pada pria maupun wanita.
  • Kelelahan: Rasa lelah yang berlebihan dan tidak hilang meskipun sudah beristirahat cukup.
  • Galaktorea: Keluarnya cairan seperti ASI dari puting payudara, padahal tidak sedang hamil atau menyusui.
  • Ketidakseimbangan hormon lain: Gejala lain dapat timbul tergantung pada hormon mana yang terganggu, misalnya masalah tiroid atau adrenal.

Penanganan Empty Sella Syndrome

Pendekatan penanganan Empty Sella Syndrome sangat bergantung pada ada atau tidaknya gejala yang muncul dan apakah fungsi kelenjar pituitari terganggu. Berikut adalah beberapa metode penanganan yang umum:

  • Pemantauan Rutin: Jika Empty Sella Syndrome tidak menimbulkan gejala dan tidak memengaruhi fungsi hormon, biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus. Dokter akan merekomendasikan pemantauan rutin untuk memastikan tidak ada perubahan atau perkembangan gejala baru.
  • Terapi Penggantian Hormon: Apabila Empty Sella Syndrome menyebabkan gangguan produksi hormon oleh kelenjar pituitari, terapi penggantian hormon dapat diberikan. Misalnya, jika ada defisiensi hormon tiroid, akan diberikan penggantian hormon tiroid.
  • Penanganan Gejala Spesifik: Gejala seperti sakit kepala kronis atau masalah penglihatan akan ditangani sesuai penyebabnya. Untuk sakit kepala, obat pereda nyeri mungkin diresepkan.
  • Perubahan Gaya Hidup: Pada kasus Empty Sella Primer yang terkait dengan obesitas dan tekanan darah tinggi, perubahan gaya hidup seperti penurunan berat badan dapat membantu mengurangi tekanan intrakranial dan memperbaiki kondisi.
  • Operasi: Intervensi bedah sangat jarang dilakukan untuk Empty Sella Syndrome. Biasanya dipertimbangkan hanya jika ada tekanan yang signifikan pada struktur otak vital atau jika ada gejala serius yang tidak merespons pengobatan lain.

Kapan Harus Konsultasi Dokter?

Meskipun Empty Sella Syndrome seringkali asimptomatik, penting untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala yang dicurigai terkait dengan kondisi ini, terutama sakit kepala kronis, gangguan penglihatan, atau perubahan siklus menstruasi yang tidak biasa. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat dapat membantu mengelola gejala dan mencegah komplikasi. Untuk informasi lebih lanjut atau jika membutuhkan konsultasi medis, bisa memanfaatkan layanan dari Halodoc yang menyediakan akses ke dokter ahli.