Ad Placeholder Image

F32.2: Depresi Berat, Gejala, dan Penanganan

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

F32.2: Depresi Berat, Gejala, & Penanganan Profesional

F32.2: Depresi Berat, Gejala, dan PenangananF32.2: Depresi Berat, Gejala, dan Penanganan

DAFTAR ISI


Kesehatan mental merupakan aspek yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Salah satu gangguan kesehatan mental yang paling umum terjadi di masyarakat, termasuk di Indonesia, adalah depresi. Dalam dunia medis global, penyakit dan kondisi kesehatan diklasifikasikan menggunakan sistem yang disebut International Classification of Diseases (ICD). Saat ini, versi kesepuluh atau ICD-10 masih luas digunakan oleh para tenaga medis profesional untuk mendiagnosis pasien.

Dalam sistem ini, istilah icd 10 depresi merujuk pada kode F32, yang secara spesifik mendeskripsikan Depressive Episode atau episode depresif. Mengetahui kode diagnosis ini tidak hanya penting untuk keperluan pencatatan medis atau administrasi asuransi kesehatan, tetapi juga untuk menentukan pedoman terapi atau penanganan yang paling tepat, aman, dan efektif sesuai standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Depresi bukanlah sekadar perasaan sedih biasa yang bisa hilang dalam hitungan hari. Kondisi ini merupakan gangguan suasana hati (mood disorder) yang memengaruhi cara penderitanya merasa, berpikir, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak ditangani dengan intervensi medis dan psikologis yang memadai, depresi dapat berujung pada penurunan kualitas hidup yang drastis, hilangnya produktivitas, masalah fisik sekunder, hingga risiko tindakan menyakiti diri sendiri.

Oleh karena depresi memerlukan penanganan khusus berupa terapi wicara (psikoterapi) maupun pemberian obat-obatan antidepresan yang termasuk dalam golongan obat keras (wajib dengan resep dokter), artikel ini tidak akan merekomendasikan produk obat bebas untuk mengatasi depresi. Sebaliknya, mari kita bahas secara mendalam mengenai apa itu ICD-10 depresi, mengenali gejala-gejalanya, serta langkah medis apa yang harus segera kamu ambil.

Memahami Kode ICD 10 Depresi (F32)

ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision) adalah standar diagnostik internasional yang diterbitkan oleh WHO. Dalam Bab V mengenai Gangguan Mental dan Perilaku, depresi dikategorikan dalam blok gangguan suasana hati (afektif).

Kode F32 digunakan untuk episode depresi tunggal (single episode), di mana pasien menderita episode depresi pertama mereka. Sementara itu, jika pasien memiliki riwayat depresi berulang di masa lalu, diagnosisnya akan bergeser ke kode F33, yang merujuk pada Recurrent depressive disorder (gangguan depresif berulang). Pemahaman mengenai klasifikasi ini membantu dokter psikiatri atau psikolog klinis dalam menyusun riwayat kesehatan pasien secara akurat.

Depresi merupakan penyakit yang kompleks. Kondisi ini dipicu oleh interaksi dari berbagai faktor, mulai dari faktor biologis (seperti ketidakseimbangan neurotransmiter serotonin, norepinefrin, dan dopamin di otak), faktor genetik (riwayat keluarga dengan masalah kesehatan mental serupa), hingga faktor lingkungan dan psikososial (seperti stres pekerjaan, trauma masa kecil, masalah finansial, atau kehilangan orang yang dicintai).

Gejala Utama Berdasarkan Standar ICD-10

Untuk dapat mendiagnosis seseorang dengan episode depresif (F32), ICD-10 menetapkan beberapa kriteria gejala. Gejala ini umumnya harus berlangsung setidaknya selama dua minggu secara terus-menerus. Gejala depresi dibagi menjadi gejala utama (core symptoms) dan gejala tambahan.

1. Gejala Utama (Core Symptoms)

Menurut panduan medis, terdapat tiga gejala inti dari depresi, yaitu:

  • Afek depresif (Suasana hati yang murung): Perasaan sedih, hampa, atau putus asa yang mendominasi hampir sepanjang hari dan terjadi hampir setiap hari.
  • Anhedonia (Kehilangan minat dan kegembiraan): Hilangnya rasa tertarik atau kenikmatan pada aktivitas yang sebelumnya dirasa menyenangkan, termasuk hobi dan interaksi sosial.
  • Penurunan energi dan mudah lelah: Merasa sangat kelelahan secara fisik maupun mental, meskipun hanya melakukan aktivitas ringan atau bahkan tidak melakukan aktivitas berat sama sekali.

2. Gejala Tambahan (Additional Symptoms)

Selain tiga gejala inti di atas, diagnosis depresi juga mempertimbangkan kehadiran gejala tambahan, seperti:

  • Penurunan konsentrasi dan perhatian.
  • Penurunan harga diri dan kepercayaan diri.
  • Rasa bersalah yang tidak wajar dan merasa diri tidak berguna (worthlessness).
  • Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.
  • Gagasan atau tindakan menyakiti diri sendiri hingga keinginan bunuh diri.
  • Gangguan tidur (insomnia, atau sebaliknya, hipersomnia/tidur berlebihan).
  • Nafsu makan yang menurun drastis, atau terkadang justru meningkat (emotional eating), yang berdampak pada perubahan berat badan.
Faktor Risiko dan Pemicu Depresi yang Perlu Diwaspadai
  1. Peristiwa kehidupan yang traumatis: Kehilangan orang terdekat, pelecehan fisik atau emosional, perceraian, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
  2. Penyakit kronis: Mengidap penyakit jangka panjang seperti kanker, diabetes, atau penyakit jantung kronis seringkali meningkatkan risiko depresi sekunder.
  3. Penyalahgunaan zat: Konsumsi alkohol berlebihan atau penggunaan obat-obatan terlarang sering kali tumpang tindih dengan gangguan depresif.
  4. Faktor hormonal: Perubahan hormon ekstrem, seperti yang terjadi pada masa kehamilan, pasca melahirkan (postpartum depression), atau menopause.

Klasifikasi Tingkat Keparahan Depresi

Sistem ICD-10 membagi episode depresi (F32) menjadi beberapa sub-kategori berdasarkan tingkat keparahannya. Penentuan tingkat keparahan ini didasarkan pada jumlah, jenis, dan intensitas gejala yang dialami oleh pasien.

1. F32.0 – Episode Depresi Ringan (Mild Depressive Episode)

Pada tahap ini, pasien umumnya mengalami dua dari tiga gejala utama ditambah dengan setidaknya dua gejala tambahan. Meskipun pasien merasa terganggu secara emosional, mereka biasanya masih dapat menjalankan aktivitas harian, pekerjaan, dan fungsi sosial dasar, meskipun dengan usaha atau effort yang lebih keras dari biasanya.

2. F32.1 – Episode Depresi Sedang (Moderate Depressive Episode)

Untuk diagnosis ini, pasien setidaknya memiliki dua gejala utama dan setidaknya tiga atau empat gejala tambahan. Pada tahap sedang, pasien akan merasakan kesulitan yang nyata dalam melanjutkan aktivitas sosial, pekerjaan, maupun urusan rumah tangga sehari-hari.

3. F32.2 – Episode Depresi Berat tanpa Gejala Psikotik

Ini adalah kondisi di mana penderita mengalami ketiga gejala utama depresi, ditambah empat atau lebih gejala tambahan dengan intensitas yang parah. Salah satu ciri khasnya adalah hilangnya harga diri dan munculnya perasaan bersalah yang sangat intens. Ide atau tindakan bunuh diri sangat umum terjadi pada tahap ini. Pasien hampir tidak mungkin bisa menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.

4. F32.3 – Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik

Ini adalah tingkat paling parah dari episode depresi. Selain memenuhi kriteria depresi berat, pasien juga mengalami gejala psikotik seperti halusinasi (mendengar atau melihat hal yang sebenarnya tidak ada) atau waham (keyakinan palsu yang kuat). Waham yang muncul sering kali berupa waham berdosa, kemiskinan, atau bencana yang akan segera datang, yang sangat kongruen (sejalan) dengan suasana hati depresif mereka.

Penanganan Medis dan Psikoterapi

Depresi adalah kondisi medis yang sangat bisa diobati, terutama jika penderita segera mencari bantuan profesional. Jangan pernah mencoba mendiagnosis diri sendiri (self-diagnose) atau mengonsumsi obat-obatan penenang secara sembarangan tanpa resep dokter, karena hal tersebut sangat berbahaya dan dapat memperburuk kondisi otak.

Jika kamu atau orang terdekatmu menunjukkan tanda-tanda depresi yang menetap lebih dari dua minggu, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) guna mendapatkan diagnosis dan rencana perawatan yang akurat. Pendekatan pengobatan depresi umumnya melibatkan salah satu atau kombinasi dari metode berikut:

1. Psikoterapi (Terapi Bicara)

Psikoterapi adalah penanganan lini pertama untuk depresi ringan hingga sedang. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi yang paling sering digunakan. Terapi ini berfokus pada identifikasi pola pikir negatif dan mengubahnya menjadi lebih rasional dan positif. Melalui CBT, pasien diajarkan kemampuan coping mechanism untuk menghadapi stres.

2. Medikamentosa (Obat Antidepresan)

Untuk depresi sedang hingga berat (F32.1 hingga F32.3), psikiater umumnya akan meresepkan obat antidepresan. Obat-obat ini bekerja dengan cara menyeimbangkan kembali bahan kimia di otak (neurotransmiter) yang memengaruhi suasana hati dan emosi. Golongan obat yang paling sering diresepkan adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti Sertraline atau Fluoxetine, serta golongan lain seperti SNRI atau Trisiklik. Perlu ditegaskan kembali bahwa seluruh obat antidepresan adalah obat keras yang hanya bisa didapatkan dan dikonsumsi di bawah pengawasan ketat dari dokter psikiatri.

3. Modifikasi Gaya Hidup (Lifestyle Intervention)

Selain terapi klinis, pasien sangat disarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup. Olahraga aerobik secara rutin terbukti secara ilmiah dapat melepaskan endorfin yang bertindak sebagai antidepresan alami tubuh. Menjaga pola tidur yang teratur (sleep hygiene), mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya akan omega-3 dan vitamin D, serta berlatih teknik relaksasi seperti meditasi mindfulness sangat membantu proses pemulihan.

Studi Mengenai Depresi Mayor dan Pendekatan Terapinya

The Lancet Psychiatry menerbitkan studi komprehensif di tahun 2019 yang menjelaskan bahwa kombinasi antara psikoterapi (CBT) dan pengobatan farmakologis (antidepresan) memberikan tingkat remisi dan pemulihan yang jauh lebih tinggi pada pasien dengan Major Depressive Disorder dibandingkan dengan hanya menggunakan satu modalitas pengobatan saja.

Studi ini menegaskan bahwa intervensi medis sedini mungkin sangat esensial untuk mencegah depresi berkembang dari episode tunggal (F32) menjadi gangguan depresif berulang (F33) di kemudian hari. Dukungan lingkungan dan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sesuai dosis dokter juga dinilai sebagai prediktor utama kesembuhan.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiater) terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. ICD-10 Version:2019, F32 Depressive episode.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Depression (major depressive disorder) – Symptoms and causes.
National Institute of Mental Health (NIMH). Diakses pada 2024. Depression.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Kenali Gejala Depresi dan Cara Mengatasinya.
American Psychiatric Association. Diakses pada 2024. What Is Depression?

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan diagnosis icd 10 depresi?

ICD 10 depresi merujuk pada klasifikasi medis internasional yang diterbitkan oleh WHO, di mana kode F32 secara spesifik digunakan untuk mengkategorikan pasien yang sedang mengalami episode depresif (gangguan suasana hati murung, kehilangan minat, dan mudah lelah yang parah).

2. Apakah depresi dengan kode F32 bisa disembuhkan total?

Ya, depresi adalah gangguan mental yang sangat bisa diobati. Melalui kombinasi terapi bicara (psikoterapi), perubahan gaya hidup, dan obat-obatan dari psikiater jika diperlukan, mayoritas pasien dapat pulih dan kembali menjalani kehidupan yang produktif dan bahagia.

3. Kapan saya harus segera memeriksakan diri ke psikiater?

Kamu harus segera mencari bantuan medis profesional jika merasa sedih, hampa, atau kehilangan minat pada segala hal secara terus-menerus selama lebih dari dua minggu, apalagi jika perasaan tersebut sudah mengganggu aktivitas pekerjaan, pola tidur, atau memunculkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

4. Apa perbedaan antara stres biasa dan depresi klinis?

Stres adalah respons normal tubuh terhadap tekanan hidup dan biasanya akan mereda setelah masalah pemicunya selesai. Sementara itu, depresi klinis (episode depresif) adalah kondisi medis di mana perasaan sedih dan putus asa berlangsung secara persisten selama berminggu-minggu, memengaruhi bahan kimia otak, dan tidak selalu membutuhkan pemicu yang spesifik untuk muncul.