• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fakta Baru, Virus Corona Mampu Bertahan di Udara

Fakta Baru, Virus Corona Mampu Bertahan di Udara

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Virus corona (korona) penyebab pandemi COVID-19 masih menyimpan banyak misteri. Virus ini benar-benar baru. Tidak banyak hal yang kita ketahui tentangnya. Namun, perlahan-lahan rahasia virus nakal ini mulai terbongkar. 

Seperti yang telah diketahui, virus corona menular lewat droplets (percikan cairan dari hidung atau mulut) ketika mengidapnya bersin, batuk atau berbicara. Di samping itu, virus ini bisa menular lewat benda-benda yang terkontaminasi. Bagaimana perkembangannya saat ini? 

Baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, virus corona mampu bertahan selama beberapa waktu di udara. Lantas, apakah virus corona terbaru, SARS-CoV-2 telah bermutasi sehingga mampu menulari seseorang lewat udara? 

Baca juga: WHO: Gejala Ringan Corona Bisa Dirawat di Rumah

Dari Teori Liar, Kini Muncul Fakta Baru

Beberapa bulan lalu, Wakil Kepala Biro Urusan Sipil Shanghai, Tiongkok mengatakan, virus corona bisa menyebar lewat udara (airborne disesase). Kala itu, klaim kontroversial ini tentu menimbulkan kepanikan. Menurut ahli dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, tidak ada bukti ilmiah yang mendasari argumen tersebut.

Bantahan juga datang dari pakar virus di Australian Infectious Diseases Research Centre. Sang pakar berkata, pernyataan tersebut hanya klaim liar tanpa bukti pendukung. 

Laporan yang dibuat WHO dalam Report of the WHO-China Joint Mission  on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) juga berkata senada. Di sana jelas dikatakan, penyebaran melalui udara belum dilaporkan untuk COVID-19. Penyebaran melalui udara tidak diyakini sebagai pendorong utama transmisi berdasarkan bukti yang tersedia.

Lalu, bagaimana perkembangannya saat ini? Berikut ulasan selengkapnya!

Baca juga: Cek Risiko Tertular Virus Corona secara Online di sini

Berkaitan dengan Aerosol

Virus corona yang menempel selama beberapa jam atau hari pada permukaan benda memang bukan rahasia lagi. Virus ini bisa menempel pada plastik hingga baja. Namun, bagaimana dengan kemampuan bertahan di udara? 

WHO akhirnya angkat bicara. Melalui Kepala Unit Penyakit dan Zoonosis WHO, Maria Van Kerkhove, WHO menjelaskan fakta terbaru mengenai virus korona Wuhan.

"Jika dilakukan prosedur yang menghasilkan aerosol (sistem tersebarnya partikel halus zat padat atau cairan dalam gas atau udara) seperti di fasilitas perawatan medis, ada kemungkinan aerosolize partikel, yang berarti mereka bisa lebih lama ada di udara," kata Kerkhove dalam CNBC International, Minggu (22/03).

Kerkhove menambahkan, petugas kesehatan kini perlu mengambil tindakan pencegahan tambahan, ketika berhadapan dengan pasien positif COVID-19. Contohnya, menggunakan masker N95 yang mampu menyaring sekitar 95 persen dari semua partikel cair atau udara. 

Hal yang perlu dicatat, virus corona memang bisa bergerak di udara, tetapi semua ini bergantung dengan berbagai faktor. Misalnya, suhu dan kelembapan lingkungan. Nah, meski bisa bertahan di udara, benarkah virus corona juga bisa menular melalui udara? 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Sebatas Teori

Ada studi menarik yang bisa kita simak. Studi dari The New England Journal of Medicine bertajuk: Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. Apa kata para pakar dalam studi tersebut? 

Di sana disebutkan, virus corona bisa hidup hingga tiga jam di udara, mirip dengan saudara kandungnya, yaitu SARS-CoV-1 (penyebab SARS). Lalu, dapatkah virus ini menular lewat udara? 

"Kami sama sekali tidak mengatakan bahwa ada transmisi (penularan) virus secara aerosol, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa virus tetap bertahan untuk jangka waktu yang lama dalam kondisi tersebut, sehingga secara teori dimungkinkan," jelas pemimpin studi Neeltje van Doremalen di National Institute of Allergy Infectious Diseases.

Kabar baiknya, virus corona yang hidup di udara tidak cukup kuat untuk menular ke orang-orang yang secara fisik tidak dekat, dengan mereka yang terinfeksi COVID-19. Namun, prosedur yang digunakan para petugas kesehatan cenderung menghasilkan aerosol. Nah, hal ini yang mungkin akan menimbulkan masalah. 

Baca juga: Cara Hadapi Ancaman Virus Corona di Rumah

Petugas kesehatan mungkin saja mengumpulkan tetesan pada alat pelindung mereka saat menangani pasien COVID-19. Setelah usai memeriksa, dan melepas alat pelindung (APD) diri, mereka dapat menyebarkan kembali tetesan tersebut ke udara, dan mungkin terkena virus saat itu.

Dengan kata lain, penularan virus corona melalui udara dinilai “masuk akal” atau sebatas teori. Masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hal tersebut. Sejauh ini, WHO juga menyebut kalau virus corona tidak menular di udara. Namun, pakar di sana terus menekankan pentingnya tenaga medis untuk melakukan pencegahan tambahan. 

Nah, andaikan dirimu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter.

Kamu bisa bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi
CNBC. Diakses pada 2020. WHO considers ‘airborne precautions’ for medical staff after study shows coronavirus can survive in air.
Newsweek. Diakses pada 2020. Coronavirus Could Be Airborne, Chinese Official Claims.
The New York Times. Diakses pada 2020. How Long Will Coronavirus Live on Surfaces or in the Air Around You?
USA Today. Diakses pada 2020. Coronavirus can live in the air for hours and on surfaces for days, study finds.
The New England Journal of Medicine. Diakses pada 2020. Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1.
WHO. Diakses pada 2020. Report of the WHO-China Joint Mission  on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).