• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fakta tentang Bakat Seni Anak, Gen atau Kebetulan?

Fakta tentang Bakat Seni Anak, Gen atau Kebetulan?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Fakta tentang Bakat Seni Anak, Gen atau Kebetulan?

Halodoc, Jakarta – Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang bisa menggambar, bernyanyi, menulis, dan kemampuan lainnya. Tapi pertanyaannya, apakah kemampuan tersebut genetik atau hanya kebetulan saja? Apalagi, ada beberapa orang yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki bakat tertentu hanya karena ia tidak bisa melakukan sesuatu lebih baik dibandingkan orang lain. 

Pertanyaan tentang apakah kemampuan itu genetik atau kebetulan telah banyak diperdebatkan. Namun, studi yang dilakukan NeuroImage menyebutkan bahwa kemampuan yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh struktur otak. Studi tersebut menemukan bahwa orang yang memiliki kemampuan seni tertentu, misalkan menggambar, memiliki lebih banyak saraf yang berlokasi di area otak yang berhubungan dengan kemampuan motorik dan visual.

Jadi, Apakah Seni itu Genetik atau Kebetulan?

Jawabannya adalah bukan hanya faktor genetik atau kebetulan, melainkan kombinasi antara keduanya. Dengan memiliki bakat karena genetik, seseorang bisa mempelajari sesuatu dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan yang lainnya. Tapi, jika bakat tersebut tidak diasah, maka kemampuan yang dimiliki tidak akan mengalami peningkatan. Bahkan bisa dikalahkan oleh orang yang dianggap tidak berbakat, namun memiliki keinginan kuat dan rajin berlatih untuk bisa. Jadi, seni bukan hanya sekadar genetik atau kebetulan, melainkan bakat yang dipelajari.

Lalu, Bagaimana Cara Mengetahui Apa Bakat Si Kecil?

Sebenarnya, yang bisa diketahui bukanlah bakat Si Kecil, melainkan potensi bakatnya. Nah, untuk mengetahui apa potensi bakat Si Kecil, coba simak tips berikut ini, yuk!

1. Biarkan Si Kecil Bereksplorasi

Untuk menemukan apa potensi bakat Si Kecil, ibu perlu membiarkan mereka melakukan aktivitas apapun yang mereka mau. Hindari memberikan perintah tentang apa yang harus mereka lakukan dan sukai. Jika mereka tertarik dengan aktivitas tertentu, beri kesempatan mereka untuk melakukan aktivitas tersebut. Dan jika mereka bertanya, berikan mereka penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami.

2. Amati Aktivitas Si Kecil

Setelah Si Kecil melakukan aktivitas, ibu bisa bertanya kepada Si Kecil tentang pengalamannya dalam melakukan aktivitas tersebut. Ibu juga bisa mengamati perilaku Si Kecil sebelum, selama, dan setelah beraktivitas. Apakah Si Kecil menikmati aktivitas tersebut atau tidak? Jika Si Kecil tidak terlihat menikmati aktivitasnya, ibu bisa membiarkan Si Kecil melakukan aktivitas lain.

3. Asah Kemampuan Si Kecil

Bila ibu sudah mengetahui aktivitas apa yang Si Kecil sukai, ibu dapat mengasah lebih dalam kemampuannya. Misalkan, jika Si Kecil menunjukkan ketertarikan dengan alat musik seperti piano, ibu bisa membelikan mereka mainan piano atau memasukan mereka ke kelas piano.

Nah, jika ibu memiliki keluhan dengan kesehatan Si Kecil, ibu bisa bicara ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Ibu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat untuk bertanya kapan saja dan dimana saja.

Atau, jika ibu penasaran dengan kadar kolestrol, kadar gula dalam darah, dan lain-lain, ibu bisa cek melalui aplikasi Halodoc. Caranya mudah! Ibu tinggal pilih Lab Service yang terdapat pada aplikasi Halodoc, kemudian tentukan tanggal dan tempat pemeriksaan, lalu petugas lab akan datang menemui ibu pada waktu yang sudah ditentukan. Ibu juga bisa membeli produk kesehatan dan vitamin yang dibutuhkan ibu atau Si Kecil di Halodoc. Ibu hanya tinggal order lewat aplikasi Halodoc, dan pesanan ibu akan diantar dalam satu jam. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.