Ad Placeholder Image

Fakta tentang Golongan Darah dan Rhesus yang Perlu Diketahui

3 menit
Ditinjau oleh  dr. Fadhli Rizal Makarim   22 Juni 2026

"Ada empat golongan darah utama (A, B, AB, dan O) yang masing-masing bisa bersifat RhD positif atau negatif, sehingga total ada delapan jenis golongan darah. Faktor Rhesus (Rh) sendiri merupakan protein di permukaan sel darah merah yang penting dalam kehamilan dan transfusi darah."

Fakta tentang Golongan Darah dan Rhesus yang Perlu DiketahuiFakta tentang Golongan Darah dan Rhesus yang Perlu Diketahui

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu memperhatikan tanda positif (+) atau negatif (-) di belakang tipe golongan darahmu, seperti A+ atau O-? Tanda tersebut merujuk pada faktor Rhesus. Memahami faktor rh adalah langkah krusial dalam dunia medis, terutama jika kamu merencanakan kehamilan atau membutuhkan transfusi darah. Faktor rhesus seringkali terlupakan, padahal dampaknya bisa sangat signifikan terhadap keselamatan kesehatan seseorang.

Faktor rhesus bukan sekadar pelengkap label golongan darah ABO. Ini adalah sistem antigen yang kompleks yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Di Indonesia, mayoritas penduduk memiliki rhesus positif, namun pemilik rhesus negatif tetap ada dan memerlukan perhatian khusus karena kelangkaannya. Ketidaktahuan mengenai status rhesus dapat memicu reaksi imun yang berbahaya jika terjadi pencampuran darah yang tidak cocok.

Penting bagi setiap individu untuk mengetahui status rhesus mereka sejak dini. Jika kamu belum mengetahui golongan darah atau rhesusmu, segera lakukan pemeriksaan di laboratorium. Jika kamu mengalami keluhan kesehatan terkait kehamilan atau kondisi darah, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan arahan medis yang tepat.

Nah, mau tahu apa saja informasi mendalam mengenai faktor rhesus ini? Berikut ulasannya!

Apa itu Rhesus (Rh)?

Faktor Rhesus, atau sering disingkat Rh, adalah jenis protein (antigen) yang ditemukan di permukaan sel darah merah. Nama “Rhesus” sendiri diambil dari monyet Rhesus, spesies di mana protein ini pertama kali diidentifikasi oleh Karl Landsteiner dan Alexander Wiener pada tahun 1940. Meskipun sistem golongan darah ABO (A, B, AB, dan O) lebih dikenal masyarakat luas, sistem Rh merupakan sistem golongan darah paling penting kedua dalam praktik klinis.

Secara genetik, seseorang mewarisi faktor Rh dari orang tua mereka. Antigen utama dalam sistem ini adalah antigen D. Keberadaan antigen D inilah yang menentukan apakah seseorang diklasifikasikan sebagai rhesus positif atau negatif. Mengapa hal ini penting? Karena tubuh manusia memiliki sistem imun yang akan menyerang protein asing yang tidak dikenali. Jika seseorang dengan rhesus negatif terpapar darah rhesus positif, tubuhnya akan memproduksi antibodi untuk melawan antigen D tersebut.

Perbedaan Rh Positif dan Rh Negatif

Perbedaan mendasar antara rhesus positif dan negatif terletak pada ada atau tidaknya antigen D pada sel darah merah. Berikut adalah penjelasannya secara lebih mendalam:

1. Rhesus Positif (Rh+)

Seseorang dikatakan memiliki Rh positif jika sel darah merahnya mengandung antigen D. Ini adalah kondisi yang paling umum ditemukan secara global. Sekitar 85% hingga 99% populasi di berbagai belahan dunia memiliki Rh positif. Orang dengan Rh+ dapat menerima darah dari pemilik Rh+ maupun Rh- tanpa risiko reaksi antibodi rhesus.

2. Rhesus Negatif (Rh-)

Seseorang dikategorikan Rh negatif jika sel darah merahnya tidak memiliki antigen D. Kondisi ini tergolong langka di Asia, termasuk Indonesia, di mana prevalensinya kurang dari 1%. Karena tidak memiliki antigen D, sistem imun pemilik Rh- akan menganggap antigen D sebagai benda asing. Oleh karena itu, pemilik Rh- hanya boleh menerima transfusi darah dari sesama pemilik Rh-.

Siapa yang Berisiko Memiliki Masalah Rhesus?
  1. Ibu hamil dengan rhesus negatif yang mengandung bayi rhesus positif.
  2. Penerima transfusi darah rhesus negatif yang secara tidak sengaja menerima darah rhesus positif.
  3. Individu yang memerlukan transfusi darah darurat namun stok darah rhesus negatif sedang kosong.

Pentingnya Rhesus dalam Kehamilan

Masalah medis yang paling sering dikaitkan dengan faktor rhesus adalah inkompatibilitas rhesus selama kehamilan. Kondisi ini terjadi ketika seorang ibu memiliki rhesus negatif (Rh-), sementara bayi yang dikandungnya memiliki rhesus positif (Rh+). Rhesus bayi ditentukan oleh genetik ayah; jika ayah memiliki Rh+, ada kemungkinan besar bayi juga akan memiliki Rh+.

Selama kehamilan atau proses persalinan, darah bayi bisa masuk ke aliran darah ibu. Jika ini terjadi, sistem imun ibu yang Rh- akan mengenali antigen D pada darah bayi sebagai ancaman. Akibatnya, tubuh ibu mulai memproduksi antibodi anti-D. Proses ini disebut sebagai sensitisasi. Pada kehamilan pertama, biasanya tidak terjadi masalah serius karena tubuh ibu belum memiliki cukup waktu untuk memproduksi banyak antibodi. Namun, bahaya mengintai pada kehamilan kedua dan seterusnya.

Bagaimana Inkompatibilitas Rhesus Terjadi?

Inkompatibilitas rhesus adalah proses imunologi yang sistematis. Berikut adalah tahapan bagaimana kondisi ini dapat mengancam janin:

1. Sensitisasi Awal

Sensitisasi dapat terjadi saat persalinan, keguguran, kehamilan ektopik, atau prosedur medis seperti amniosentesis. Begitu darah bayi Rh+ masuk ke sistem sirkulasi ibu Rh-, antibodi pun terbentuk.

2. Serangan pada Kehamilan Berikutnya

Jika pada kehamilan berikutnya bayi kembali memiliki Rh+, antibodi anti-D yang sudah ada dalam tubuh ibu dapat melewati plasenta dan menyerang sel darah merah bayi. Antibodi ini akan menghancurkan sel darah merah janin lebih cepat daripada kemampuan bayi untuk memproduksinya kembali.

3. Dampak pada Janin (Erythroblastosis Fetalis)

Penghancuran sel darah merah ini menyebabkan anemia hemolitik pada janin. Dalam kasus yang parah, janin dapat mengalami penyakit kuning (jaundice), pembengkakan organ (hidrops fetalis), kerusakan otak, hingga kematian di dalam kandungan.

Penanganan Medis untuk Ibu dengan Rh Negatif

Meskipun terdengar menakutkan, inkompatibilitas rhesus kini dapat dicegah dan dikelola dengan baik berkat kemajuan teknologi medis. Kuncinya adalah deteksi dini melalui tes golongan darah lengkap saat pemeriksaan kehamilan pertama (antenatal care).

Penanganan standar untuk ibu Rh- adalah pemberian suntikan Rh Immune Globulin (RhoGAM). RhoGAM bekerja dengan cara “menangkap” antigen D yang masuk ke darah ibu sebelum sistem imun ibu sempat membentuk antibodi permanen. Biasanya, suntikan ini diberikan pada usia kehamilan 28 minggu dan kembali diberikan dalam waktu 72 jam setelah persalinan jika bayi terbukti memiliki Rh+.

Selain penanganan medis, menjaga kondisi fisik dengan nutrisi yang tepat juga penting selama masa kehamilan. Kamu bisa mendapatkan berbagai vitamin pendukung kehamilan atau beli obat online di Halodoc untuk memenuhi kebutuhan suplemen harianmu dengan praktis.

Studi Mengenai Faktor Rhesus

Journal of Blood Medicine menerbitkan studi di tahun 2018 yang menjelaskan bahwa manajemen inkompatibilitas rhesus telah menurunkan angka kematian perinatal secara drastis di negara-negara berkembang berkat protokol skrining yang ketat.

Studi tersebut menekankan bahwa pemberian imunoglobulin anti-D secara profilaksis merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam kedokteran preventif. Relevansi temuan ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai status rhesus harus dilakukan secara masif, mengingat masih banyak calon orang tua yang tidak menyadari status rhesus mereka hingga komplikasi terjadi.

Jika kamu memiliki riwayat keluarga dengan rhesus negatif atau pernah mengalami keguguran tanpa penyebab yang jelas, segera bicarakan dengan dokter spesialis kandungan. Penanganan dini dapat menyelamatkan nyawa bayi di masa depan.

FAQ

1. Apakah Rh adalah sesuatu yang bisa berubah seumur hidup?

Tidak, faktor Rhesus ditentukan secara genetik dan bersifat permanen sejak lahir hingga meninggal dunia. Faktor ini tidak dipengaruhi oleh diet, gaya hidup, atau penyakit tertentu.

2. Apa yang harus dilakukan jika saya memiliki Rhesus negatif?

Sangat disarankan untuk selalu membawa kartu golongan darah di dompet. Selain itu, bergabunglah dengan komunitas pemilik Rhesus negatif (seperti Rhesus Negatif Indonesia) karena bantuan donor darah sesama rhesus negatif sangat dibutuhkan saat darurat.

3. Apakah pria rhesus negatif memiliki risiko kesehatan?

Secara medis, faktor rhesus negatif pada pria tidak menimbulkan masalah kesehatan langsung bagi dirinya sendiri. Risiko utama hanya terjadi pada wanita dalam konteks kehamilan atau pada siapapun yang memerlukan transfusi darah.

4. Bisakah bayi lahir dengan rhesus berbeda dari kedua orang tuanya?

Secara teori, jika kedua orang tua memiliki genotipe Rh positif heterozigot (membawa gen negatif yang tersembunyi), ada peluang 25% anak mereka lahir dengan Rhesus negatif. Pemeriksaan lab adalah satu-satunya cara memastikannya.


## Punya Keluhan Kesehatan atau Bingung dengan Status Rhesusmu? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan atau bingung mengenai prosedur cek rhesus? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant)](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Rh factor test.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Rh Incompatibility.
American Pregnancy Association. Diakses pada 2026. Rh Factor and Pregnancy.
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Mengenal Golongan Darah Rhesus Negatif.