• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Flu Vs COVID-19, Mana yang Lebih Berbahaya?

Flu Vs COVID-19, Mana yang Lebih Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Virus corona (korona) Wuhan yang menjadi ancaman global masih belum menemui babak akhir. Sampai saat ini tercatat lebih dari 90.000 orang terinfeksi SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Ribuan orang harus kehilangan nyawa akibat virus misterius ini.

Dibalik ancaman virus korona jenis terbaru ini, ada satu hal yang menarik untuk dibahas. Benarkah COVID-19 sangat berbahaya? Bukankah influenza atau flu membunuh lebih banyak orang? Kira-kira bagaimana mengukur ancaman baru ini terhadap musuh yang lebih akrab seperti influenza?

Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini. 

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

COVID-19 dan Flu, Gejalanya Lebih Parah Mana?

Sebelum membicarakan lebih jauh mengenai bahaya yang ditimbulkan, kita perlu mengetahui gejala dari kedua penyakit ini. Sebenarnya gejala COVID-19 dan influenza atau flu sebelas dua belas, alias hampir serupa. Namun, mana yang lebih parah?

Ketika menyerang seseorang, virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bisa menimbulkan beragam gejala. Virus corona terbaru ini bisa menyebabkan penyakit pernapasan dari ringan, parah, bahkan kematian. Gejala COVID-19 biasanya timbul antara 2 hingga 14 hari setelah pengidapnya terinfeksi. 

Nah, berikut beberapa gejalanya menurut US National Library of Medicine National Institutes of Health - MedlinePlus dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam Report of the WHO-China Joint Mission  on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). 

  • Demam (87,9 persen).

  • batuk kering (67,7 persen).

  • kelelahan (38,1 persen).

  • produksi dahak (33,4 persen).

  •  sesak napas (18,6 persen).

  • sakit tenggorokan ( 13,9 persen).

  • Sakit kepala (13,6 persen).

  • Mialgia atau arthralgia (14,8 persen). 

  • Menggigil (11,4 persen).

  • Mual atau muntah (5,0 persen).

  • Hidung tersumbat (4,8 persen).

  • Diare (3,7 persen).

Awas, infeksinya virus corona jenis terbaru ini dapat berubah menjadi bronkitis dan pneumonia di kedua paru-paru yang menyebabkan gejala, seperti:

  • Demam yang mungkin cukup tinggi bila pasien mengidap pneumonia.

  • Batuk dengan lendir.

  • Sesak napas.

  • Nyeri dada atau sesak saat bernapas dan batuk.

  • Infeksi bisa semakin parah bila menyerang kelompok individu tertentu. Contohnya, orang dengan penyakit jantung atau paru-paru, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, bayi, dan lansia. 

Lalu, bagaimana dengan gejala flu atau influenza? 

Gejala flu bisa berkembang dengan cepat. Pengidapnya bisa mulai merasa sakit sekitar 1 hingga 7 hari setelah terserang virusnya. Akan tetapi, sebagian besar gejalanya muncul dalam 2 sampai 3 hari. Ingat, flu bisa menyebar dengan mudah. Lalu, bagaimana dengan gejalanya? Gejala pertamanya berupa demam 39 derajat Celsius dan 41 derajat Celsius. Menurut para pakar, demam pada orang dewasa lebih rendah daripada anak-anak.

Selain demam, berikut beberapa gejala flu menurut pakar di National Institutes of Health - MedlinePlus.

  • Pegal-pegal.

  • Panas dingin.

  • Pusing.

  • Wajah memerah.

  • Sakit kepala.

  • Kekurangan energi.

  • Mual dan muntah.

Baca juga: Cegah COVID-19, Orang Sehat Tidak Perlu Pakai Masker?

Demam dan nyeri mulai hilang pada hari ke 2 hingga 4. Namun, bisa datang gejala baru seperti:

  • Batuk kering.

  • Peningkatan gejala yang memengaruhi pernapasan.

  • Hidung beringus (bening dan berair).

  • Bersin.

  • Sakit tenggorokan.

Sebagian besar gejalanya hilang dalam 4 sampai 7 hari. Namun, yang perlu dicatat, batuk dan perasaan lelah dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Bahkan dalam beberapa kasus, demam pun bisa datang kembali. Selain itu, untuk sebagian orang flu juga bisa membuat selera makan berkurang. Hal yang perlu digarisbawahi, flu dapat memperburuk asma, masalah pernapasan, dan penyakit kronis lainnya.

Nah, sudah tahu perbedaan gejala COVID-19 dan flu, kan? Kalau masih sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit.

Gejalanya sudah, bagaimana dengan tingkat kefatalannya? Benarkah COVID-19 lebih mematikan ketimbang flu? 

Lebih dari Jumlah Korban Perang Dunia I

Sejauh ini tampaknya virus corona lebih mematikan daripada flu. Rata-rata seasonal influenza (flu musiman) membunuh sekitar 0,1 orang yang terinfeksi. Flu musiman (penyakit flu yang memuncak pada waktu tertentu) ini bisa terjadi pada waktu yang berbeda-beda di tiap negara.

Di daerah atau negara beriklim dingin atau sedang, epidemi flu musiman terjadi selama musim dingin. Bagaimana dengan iklim tropis seperti indonesia? Nah, penyakit influenza bisa terjadi sepanjang tahun. Hal inilah yang menyebabkan wabah lebih tidak teratur.

Penyakit flu sendiri disebabkan oleh beberapa virus. Salah satunya virus influenza A dengan tipe H1N1. Mau tahu berapa banyaknya orang yang tewas karena H1N1? 

Baca juga: Virus Corona Masuk ke Indonesia, 2 Orang Positif di Depok!

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, pandemi influenza pada 1918 (flu H1N1) merupakan pandemi paling parah dalam sejarah abad 20. Total korbannya diperkirakan mencapai 50 juta di seluruh dunia. Sangat banyak, bukan? Angka ini lebih banyak ketimbang korban tewas Perang Dunia I (1914–1918) sebanyak 20 juta orang.

Hal yang perlu dicatat, banyaknya jumlah korban H1N1 disebabkan karena berbagai hal. Mulai dari minimnya ketersedian obat dan belum ditemukannya vaksin. 

Bagaimana dengan tingkat keparahan virus corona penyebab COVID-19? Data terbaru real time dari Johns Hopkins CSSE mengatakan, sekitar 93,160 terinfeksi COVID-19. Sementara itu, sebanyak 3,198 orang tewas akibat virus corona terbaru ini. Artinya, angka kematiannya berkisar 3,4 persen. WHO mengatakan angka ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, yaitu sekitar 2 persen. 

Bagaimana dengan flu musiman yang parah? Menurut WHO flu musiman umumnya membunuh jauh lebih sedikit, angkanya kurang dari 1 persen. Apa sebabnya? 

Menurut WHO, COVID-19 sulit diprediksi, tak seperti influenza. Saat ini informasi mengenai flu musiman telah diketahui banyak. Mulai dari penularannya hingga perawatannya. Namun, lain ceritanya dengan COVID-19, sampai saat ini virus ini masih menjadi misteri. 

Flu Tak Kalah Mengerikan

Menurut WHO tiap tahunnya flu musiman diperkirakan menyebabkan 3 hingga 5 juta kasus penyakit parah. Dari angka tersebut sekitar 290.000 sampai 650.000 pengidapnya meninggal akibat masalah pernapasan. Cukup banyak, bukan?

Hal yang perlu digarisbawahi, influenza rentan menyerang dan menimbulkan komplikasi yang serius bagi sebagian orang. Mulai dari serangan asma gangguan jantung, pneumonia, bronkitis, ensefalitis (infeksi virus pada otak), meningitis (radang selaput otak), hingga kematian. 

Mereka yang rentan terhadap serangan influenza, yaitu balita, lansia, ibu hamil atau baru melahirkan, pengidap penyakit kronis, hingga mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter lewat fitur Chat dan Voice/Video Call atau buat janji dengan dengan dokter di rumah sakit rujukan COVID-19 yang terdekat dengan tempat tinggalmu melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
WHO. Diakses pada 2020. Report of the WHO-China Joint Mission  on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) 
US National Library of Medicine National Institutes of Health - Medlineplus. Diakses pada 2020. Coronavirus Infections.
US National Library of Medicine National Institutes of Health - Medlineplus. Diakses pada 2020. Flu.
CDC. Diakses pada 2020. 1918 Pandemic (H1N1 virus).
The GISAID  Global Initiative on Sharing All Influenza Data. Diakses pada Januari 2020. 2019-nCoV Global Cases (by Johns Hopkins CSSE).
CNBC. Diakses pada 2020. WHO says coronavirus death rate is 3.4% globally, higher than previously thought.

Nytimes.com. Diakses pada 2020. How Does the Coronavirus Compare With the Flu?