Ad Placeholder Image

Foley Catheter: Selang Urine untuk Apa dan Bagaimana?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   06 April 2026

Foley Kateter: Selang Bantu Buang Air Kecil Medis

Foley Catheter: Selang Urine untuk Apa dan Bagaimana?Foley Catheter: Selang Urine untuk Apa dan Bagaimana?

Mengenal Foley Catheter Adalah: Fungsi, Indikasi, dan Perawatannya

Foley catheter adalah sebuah alat medis berbentuk selang tipis dan fleksibel yang memiliki peran krusial dalam dunia kesehatan. Selang ini dirancang khusus untuk dimasukkan ke dalam kandung kemih melalui uretra, sebuah saluran yang menghubungkan kandung kemih ke bagian luar tubuh. Tujuan utama pemasangan foley catheter adalah untuk mengalirkan urine keluar dari tubuh ketika seseorang tidak dapat buang air kecil secara mandiri.

Alat ini umumnya terbuat dari bahan silikon atau lateks yang biocompatible, artinya tidak menimbulkan reaksi merugikan pada tubuh. Kateter foley dilengkapi dengan balon kecil di ujungnya yang akan diisi dengan cairan steril setelah berada di dalam kandung kemih. Balon ini berfungsi sebagai jangkar untuk menahan kateter tetap pada posisinya dan mencegahnya bergeser keluar. Selang ini kemudian dihubungkan ke kantong penampung urine yang akan mengumpulkan urine secara terus-menerus.

Fungsi dan Tujuan Penggunaan Foley Catheter

Pemasangan foley catheter dilakukan untuk berbagai tujuan medis penting, terutama ketika fungsi buang air kecil normal terganggu. Memahami fungsi utama alat ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kepentingannya dalam penanganan pasien.

Berikut adalah beberapa fungsi dan tujuan utama dari foley catheter:

  • Mengalirkan urine saat pasien tidak bisa buang air kecil sendiri. Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti obstruksi saluran kemih (penyumbatan), kerusakan saraf yang mengontrol kandung kemih, atau kelemahan otot kandung kemih.
  • Mengukur produksi urine secara akurat. Pada pasien kritis atau pasca-operasi, pemantauan volume urine sangat penting untuk menilai fungsi ginjal dan status hidrasi tubuh. Foley catheter memungkinkan pengukuran yang presisi.
  • Pasca-operasi. Setelah beberapa jenis operasi, terutama operasi perut, panggul, atau saluran kemih, pasien mungkin tidak dapat buang air kecil untuk sementara waktu. Kateter membantu mengosongkan kandung kemih selama masa pemulihan.
  • Mengatasi inkontinensia urine berat. Pada kasus inkontinensia urine yang parah dan tidak dapat dikelola dengan metode lain, foley catheter dapat menjadi solusi sementara atau jangka panjang untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan pasien.
  • Memastikan kandung kemih kosong selama prosedur medis. Beberapa prosedur diagnostik atau operasi memerlukan kandung kemih yang kosong sepenuhnya untuk visualisasi yang lebih baik atau untuk mencegah komplikasi.
  • Pemberian obat langsung ke kandung kemih. Dalam beberapa kondisi medis, obat-obatan perlu diberikan langsung ke dalam kandung kemih. Foley catheter dapat digunakan sebagai saluran untuk tujuan ini.

Indikasi Pemasangan Foley Catheter

Pemasangan foley catheter bukanlah prosedur yang dilakukan tanpa alasan, melainkan didasarkan pada indikasi medis yang jelas. Keputusan untuk memasang kateter foley selalu melalui pertimbangan oleh tenaga medis profesional.

Berikut adalah beberapa kondisi atau situasi medis yang mengindikasikan perlunya pemasangan foley catheter:

  • Retensi urine. Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara spontan, sering kali disebabkan oleh pembesaran prostat pada pria, penyempitan uretra, atau gangguan saraf.
  • Pembedahan. Pasien yang menjalani operasi panjang, operasi panggul, atau operasi saluran kemih mungkin memerlukan kateter selama atau setelah prosedur.
  • Kondisi medis tertentu. Gangguan neurologis seperti stroke, cedera tulang belakang, atau multiple sclerosis dapat memengaruhi fungsi kandung kemih, sehingga memerlukan bantuan kateter.
  • Pemantauan urine. Pada pasien yang dirawat intensif atau memiliki kondisi kesehatan kritis, pemantauan keluaran urine yang akurat sangat penting untuk menilai status ginjal dan cairan tubuh.
  • Luka tekan (dekubitus) stadium lanjut. Pada pasien dengan luka tekan yang parah dan terus-menerus terpapar urine, kateter dapat membantu menjaga area tetap kering dan bersih, mendukung proses penyembuhan.
  • Perawatan paliatif. Pada pasien dengan penyakit terminal, foley catheter dapat digunakan untuk meningkatkan kenyamanan dan martabat, terutama jika ada kesulitan dalam buang air kecil atau mobilitas terbatas.

Prosedur Pemasangan dan Perawatan Foley Catheter

Pemasangan foley catheter harus selalu dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan teknik steril untuk mencegah infeksi. Proses ini melibatkan pembersihan area genital, pelumasan kateter, dan pemasangan yang hati-hati melalui uretra hingga mencapai kandung kemih. Setelah terpasang dengan benar, balon akan dikembangkan dengan air steril untuk menahan kateter.

Perawatan foley catheter yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi, terutama infeksi saluran kemih (ISK). Beberapa langkah perawatan yang harus diperhatikan adalah:

  • Menjaga kebersihan area sekitar kateter. Lakukan pembersihan area genital di sekitar tempat masuknya kateter setidaknya dua kali sehari dengan sabun dan air, atau sesuai anjuran dokter.
  • Mengosongkan kantong urine secara teratur. Kantong urine harus dikosongkan sebelum penuh (sekitar setengah atau dua pertiga penuh) untuk mencegah urine kembali ke kandung kemih dan mengurangi risiko infeksi.
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh kateter atau kantong urine. Ini adalah langkah penting untuk mencegah penyebaran bakteri.
  • Memastikan selang tidak tertekuk atau tersumbat. Aliran urine harus lancar dari kandung kemih ke kantong penampung. Posisi selang yang tertekuk dapat menyebabkan urine menumpuk di kandung kemih.
  • Menjaga posisi kantong urine lebih rendah dari kandung kemih. Ini penting untuk mencegah urine mengalir kembali ke kandung kemih, yang dapat menyebabkan infeksi.
  • Memastikan hidrasi yang cukup. Minum cairan dalam jumlah yang cukup (jika tidak ada pembatasan cairan) dapat membantu membilas saluran kemih dan mengurangi risiko infeksi.

Potensi Risiko dan Komplikasi Foley Catheter

Meskipun foley catheter adalah alat yang sangat bermanfaat, penggunaannya tidak terlepas dari potensi risiko dan komplikasi. Penting untuk menyadari hal ini agar dapat melakukan penanganan yang cepat jika terjadi masalah.

Beberapa potensi risiko dan komplikasi yang terkait dengan penggunaan foley catheter meliputi:

  • Infeksi Saluran Kemih (ISK). Ini adalah komplikasi paling umum, karena kateter menyediakan jalur bagi bakteri untuk masuk ke kandung kemih.
  • Kerusakan uretra. Trauma pada uretra dapat terjadi saat pemasangan atau pelepasan kateter yang tidak hati-hati, atau jika kateter tersangkut.
  • Spasme kandung kemih. Iritasi dari kateter dapat menyebabkan kontraksi kandung kemih yang nyeri dan keinginan kuat untuk buang air kecil.
  • Batu kandung kemih. Penggunaan kateter jangka panjang dapat meningkatkan risiko pembentukan batu di kandung kemih.
  • Perdarahan. Sedikit perdarahan bisa terjadi saat pemasangan atau jika ada iritasi.
  • Penyumbatan kateter. Kateter bisa tersumbat oleh lendir, gumpalan darah, atau kristal.
  • Reaksi alergi. Meskipun jarang, beberapa orang bisa alergi terhadap bahan kateter (misalnya lateks).

Kapan Harus Menghubungi Dokter Setelah Pemasangan Foley Catheter?

Memantau kondisi setelah pemasangan foley catheter sangat penting. Segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan jika mengalami salah satu gejala berikut:

  • Demam atau menggigil.
  • Nyeri hebat pada perut bagian bawah atau area panggul.
  • Urine keruh, berbau busuk, atau mengandung darah (bukan sedikit bercak merah muda setelah pemasangan).
  • Urine berhenti mengalir ke kantong meskipun pasien sudah minum cukup cairan.
  • Ada kebocoran urine di sekitar kateter.
  • Kateter terlepas dari tempatnya.
  • Pembengkakan atau kemerahan yang signifikan di sekitar area masuknya kateter.

Jika memiliki kekhawatiran terkait foley catheter atau masalah kesehatan lainnya, penting untuk segera berkonsultasi dengan profesional medis. Melalui aplikasi Halodoc, dapat berkonsultasi dengan dokter umum atau spesialis urologi untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Fitur konsultasi online dan janji temu di Halodoc dapat mempermudah akses ke layanan kesehatan yang diperlukan, memastikan perawatan yang akurat dan berbasis bukti ilmiah.