Ad Placeholder Image

FOMO: Pengertian dan Contohnya Biar Nggak Ketinggalan!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Februari 2026

FOMO: Pengertian & Contohnya Biar Gak Ketinggalan!

FOMO: Pengertian dan Contohnya Biar Nggak Ketinggalan!FOMO: Pengertian dan Contohnya Biar Nggak Ketinggalan!

Apa Itu FOMO dan Contohnya: Memahami Fenomena Takut Ketinggalan

Fear of Missing Out (FOMO) adalah fenomena psikologis yang sering dialami banyak orang di era digital saat ini. Perasaan ini merujuk pada kecemasan atau ketakutan seseorang akan kehilangan pengalaman menarik atau informasi penting yang sedang dialami atau diketahui orang lain. Umumnya, FOMO dipicu oleh paparan terhadap aktivitas atau kehidupan orang lain melalui media sosial.

Dampak dari FOMO seringkali mendorong seseorang untuk melakukan tindakan impulsif. Tujuannya adalah agar tetap merasa terhubung, update, dan tidak ketinggalan zaman. Pemahaman tentang apa itu FOMO dan contohnya menjadi krusial untuk menjaga kesehatan mental serta pengambilan keputusan yang rasional.

Mengenal Lebih Dalam Apa Itu FOMO

FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, merupakan bentuk kecemasan sosial yang ditandai oleh keinginan untuk tetap terhubung. Seseorang merasa khawatir bahwa orang lain mungkin mengalami hal-hal yang menyenangkan atau bermanfaat tanpa dirinya. Perasaan ini seringkali intens dan dapat memengaruhi suasana hati serta perilaku sehari-hari.

Aspek utama dari FOMO adalah persepsi bahwa orang lain memiliki pengalaman yang lebih baik atau lebih memuaskan. Kondisi ini diperparah oleh platform media sosial yang secara konstan menampilkan highlight kehidupan orang lain. Akibatnya, timbul perbandingan sosial yang tidak sehat dan perasaan tidak cukup.

Berbagai Contoh FOMO dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena FOMO dapat bermanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan. Berikut adalah beberapa contoh nyata yang sering ditemui:

  • Investasi atau Belanja Impulsif: Seseorang membeli kripto, saham, atau produk investasi tertentu hanya karena mengikuti teman atau melihat tren di media sosial. Keputusan ini sering diambil tanpa pemahaman mendalam mengenai risiko atau tanpa riset yang memadai.
  • Mengikuti Tren Viral: Banyak orang rela mengantre panjang untuk mendapatkan barang viral, seperti boneka koleksi atau makanan hits, agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Motivasi utamanya adalah ingin menjadi bagian dari tren, bukan karena kebutuhan atau keinginan pribadi yang kuat terhadap barang tersebut.
  • Ketergantungan Media Sosial: Perasaan tidak tenang saat tidak mengecek ponsel atau akun media sosial secara terus-menerus. Hal ini dilakukan karena takut melewatkan berita, gosip, atau unggahan terbaru dari teman atau selebriti. Bahkan, muncul rasa sedih atau iri saat melihat liburan atau pencapaian orang lain.
  • Memaksakan Diri dalam Acara Sosial: Meskipun merasa lelah atau memiliki prioritas lain, seseorang memaksakan diri datang ke konser, pesta, atau acara kumpul-kumpul. Alasannya adalah takut kehilangan momen berharga, kesempatan bersosialisasi, atau merasa tidak relevan jika tidak hadir.
  • Pembelian Gadget Terbaru: Membeli ponsel atau gadget keluaran terbaru sesegera mungkin. Ini terjadi meskipun ponsel lama masih berfungsi dengan baik dan tidak ada kebutuhan mendesak untuk upgrade. Tekanan sosial untuk selalu memiliki yang “terbaru” menjadi pemicu utama.

Penyebab dan Pemicu Terjadinya FOMO

Penyebab utama FOMO sangat erat kaitannya dengan revolusi digital dan media sosial. Media sosial menciptakan jendela konstan ke dalam kehidupan orang lain, yang seringkali merupakan versi ideal yang disaring. Ini memicu perbandingan sosial yang intens dan keinginan untuk mencapai standar yang mungkin tidak realistis.

Selain itu, kebutuhan dasar manusia untuk diterima dan merasa menjadi bagian dari kelompok turut berkontribusi. Ketika melihat orang lain terlibat dalam aktivitas yang dianggap menyenangkan, otak dapat memicu respons kecemasan karena merasa terisolasi. Rendahnya rasa harga diri juga bisa menjadi faktor pemicu, di mana seseorang merasa perlu validasi dari luar.

Dampak FOMO Terhadap Kesehatan Mental dan Finansial

FOMO dapat memiliki dampak negatif yang signifikan pada individu. Secara psikologis, FOMO dapat meningkatkan tingkat kecemasan, stres, dan bahkan depresi. Perasaan tidak puas, iri hati, dan rendah diri seringkali muncul akibat perbandingan sosial yang terus-menerus.

Secara finansial, FOMO mendorong perilaku konsumtif yang tidak perlu. Pembelian impulsif dan mengikuti tren tanpa pertimbangan matang dapat mengakibatkan pengeluaran berlebihan dan masalah keuangan. Hal ini berbanding terbalik dengan Joy of Missing Out (JOMO), di mana seseorang merasa tenang dan puas dengan pilihan untuk melewatkan tren atau aktivitas tertentu.

Cara Mengatasi dan Mengelola FOMO

Mengelola FOMO memerlukan kesadaran diri dan perubahan kebiasaan. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Batasi Penggunaan Media Sosial: Kurangi waktu yang dihabiskan di media sosial, atau tetapkan jadwal khusus untuk mengaksesnya. Hal ini membantu mengurangi paparan terhadap konten yang memicu perbandingan sosial.
  • Fokus pada Diri Sendiri: Alihkan perhatian pada tujuan, nilai, dan kebahagiaan pribadi. Rayakan pencapaian kecil dan praktikkan rasa syukur atas apa yang dimiliki, bukan apa yang orang lain miliki.
  • Praktikkan JOMO: Nikmati momen saat tidak mengikuti tren atau melewatkan acara. Sadari bahwa melewatkan sesuatu bukan berarti kehilangan nilai diri, melainkan menciptakan ruang untuk ketenangan dan fokus pada prioritas pribadi.
  • Kenali Pemicu Pribadi: Identifikasi situasi atau konten media sosial spesifik yang paling sering memicu FOMO. Setelah mengidentifikasi, coba hindari atau olah informasi tersebut dengan lebih kritis.
  • Bangun Koneksi Nyata: Fokus pada interaksi langsung dan berkualitas dengan keluarga dan teman. Hubungan yang otentik dapat memberikan kepuasan yang lebih mendalam daripada interaksi virtual.

Kesimpulan: Pentingnya Kesadaran Diri dalam Menghadapi FOMO

Memahami apa itu FOMO dan contohnya sangat penting di era digital ini. Fenomena ini, meskipun tampak sepele, dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan stabilitas finansial. Mengembangkan kesadaran diri, membatasi paparan media sosial, dan mempraktikkan JOMO adalah langkah-langkah efektif untuk mengelola kecemasan ini.

Jika perasaan FOMO menjadi terlalu dominan dan mengganggu kualitas hidup, mencari bantuan profesional adalah pilihan yang bijak. Psikolog atau konselor dapat memberikan strategi koping yang lebih personal dan mendalam. Layanan kesehatan mental di Halodoc dapat menjadi sumber dukungan untuk membantu mengatasi dampak negatif FOMO dan mempromosikan kesejahteraan psikologis.