Ad Placeholder Image

Fungsi Tubuh Simpan Energi Cadangan: Glikogen dan Lemak

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Fungsi Simpan Energi Tubuh: Glikogen dan Lemak

Fungsi Tubuh Simpan Energi Cadangan: Glikogen dan LemakFungsi Tubuh Simpan Energi Cadangan: Glikogen dan Lemak

DAFTAR ISI


Setiap gerakan yang kamu lakukan, mulai dari berkedip hingga berlari maraton, membutuhkan energi. Tubuh manusia adalah mesin biologis yang sangat efisien dalam mengelola bahan bakar. Energi ini tidak hanya datang langsung dari makanan yang baru saja kamu makan, tetapi juga diambil dari cadangan energi dalam tubuh yang telah disimpan sebelumnya. Memahami bagaimana tubuh menyimpan dan menggunakan energi ini sangat penting untuk menjaga kesehatan metabolisme dan berat badan yang ideal.

Cadangan energi dalam tubuh berfungsi sebagai jaring pengaman saat kamu tidak mendapatkan asupan makanan, seperti saat tidur atau berpuasa. Tanpa mekanisme penyimpanan ini, kita harus makan terus-menerus tanpa henti untuk bertahan hidup. Proses penyimpanan ini melibatkan berbagai organ, hormon, dan jalur biokimia yang kompleks, yang memastikan bahwa setiap sel mendapatkan aliran bahan bakar yang stabil untuk menjalankan fungsinya.

Namun, gaya hidup modern yang cenderung sedenter (kurang gerak) dan asupan kalori berlebih sering kali membuat sistem penyimpanan energi ini bekerja terlalu keras, yang berujung pada penumpukan lemak berlebih. Penting untuk mengetahui kapan tubuh menggunakan glikogen dan kapan mulai membakar lemak. Jika kamu merasa sering lemas atau ingin mengoptimalkan performa olahraga, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan vitamin atau suplemen pendukung metabolisme energi yang sesuai kebutuhanmu.

Nah, mau tahu apa saja mekanisme dan fungsi cadangan energi dalam tubuh? Berikut ulasannya!

Bagaimana Tubuh Menyimpan Energi?

Tubuh manusia mendapatkan energi utama dari makronutrien: karbohidrat, lemak, dan protein. Setelah makanan dicerna dan diserap di usus halus, nutrisi tersebut diangkut melalui aliran darah ke seluruh sel tubuh. Molekul energi dasar yang digunakan oleh sel disebut ATP (Adenosine Triphosphate). Namun, karena ATP tidak dapat disimpan dalam jumlah besar, tubuh mengubah kelebihan nutrisi menjadi bentuk penyimpanan yang lebih stabil.

Karbohidrat diubah menjadi glukosa. Jika kadar glukosa dalam darah sudah mencukupi, kelebihannya akan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot. Jika cadangan glikogen sudah penuh, kelebihan karbohidrat tersebut akan diubah menjadi asam lemak melalui proses yang disebut lipogenesis de novo dan disimpan di jaringan lemak (adiposa). Lemak dari makanan juga disimpan langsung di jaringan adiposa setelah dipecah menjadi trigliserida.

Glikogen: Cadangan Energi Jangka Pendek

Glikogen adalah bentuk simpanan karbohidrat yang paling utama pada hewan dan manusia. Kamu bisa membayangkan glikogen sebagai “rekening koran” dalam sistem keuangan energi tubuh; ia mudah diakses dan siap digunakan kapan saja dibutuhkan dalam waktu singkat.

1. Glikogen Hati

Hati menyimpan sekitar 75-100 gram glikogen. Fungsi utamanya adalah menjaga kadar gula darah tetap stabil, terutama untuk memberi makan otak. Otak adalah organ yang sangat bergantung pada glukosa dan tidak dapat menyimpan energinya sendiri. Saat kadar gula darah turun, hati akan memecah glikogen menjadi glukosa (glikogenolisis) dan melepaskannya ke aliran darah.

2. Glikogen Otot

Otot rangka menyimpan jumlah glikogen yang lebih besar, sekitar 300-400 gram (tergantung massa otot seseorang). Namun, berbeda dengan hati, glikogen di otot hanya digunakan oleh otot itu sendiri selama aktivitas fisik. Glikogen otot tidak dapat dilepaskan kembali ke darah untuk meningkatkan kadar gula darah secara keseluruhan.

Tips Mengoptimalkan Cadangan Glikogen
  1. Lakukan carb-loading yang tepat sebelum olahraga intensitas tinggi atau kompetisi.
  2. Konsumsi karbohidrat dan protein segera setelah berolahraga untuk mempercepat pemulihan glikogen.
  3. Hindari diet rendah karbohidrat yang ekstrem jika kamu memiliki aktivitas fisik yang sangat tinggi.

Lemak: Tabungan Energi Masa Depan

Lemak atau jaringan adiposa adalah cadangan energi dalam tubuh yang paling efisien dan berkapasitas besar. Jika glikogen adalah rekening koran, maka lemak adalah “deposito jangka panjang”. Lemak mengandung sekitar 9 kalori per gram, jauh lebih padat dibandingkan karbohidrat atau protein yang hanya mengandung 4 kalori per gram.

Tubuh menyimpan lemak dalam sel-sel yang disebut adiposit. Cadangan ini hampir tidak terbatas jumlahnya. Bahkan pada orang dengan berat badan normal, cadangan lemak bisa menyediakan energi untuk bertahan hidup selama berminggu-minggu tanpa makanan, selama asupan air tetap terjaga. Lemak digunakan secara dominan saat tubuh sedang beristirahat atau melakukan aktivitas intensitas rendah hingga sedang, seperti berjalan santai.

Selain sebagai cadangan energi, lemak juga berfungsi sebagai isolator suhu tubuh, pelindung organ vital (lemak visceral), dan berperan dalam produksi hormon seperti leptin yang mengatur rasa lapar.

Protein sebagai Sumber Energi Darurat

Secara teknis, tubuh tidak memiliki tempat penyimpanan khusus untuk protein seperti halnya glikogen atau lemak. Protein dalam tubuh adalah komponen struktural (seperti otot) atau fungsional (seperti enzim dan hormon). Namun, dalam kondisi kelaparan yang ekstrem atau aktivitas fisik yang sangat lama tanpa asupan nutrisi, tubuh akan memecah protein otot menjadi asam amino.

Asam amino ini kemudian dibawa ke hati untuk diubah menjadi glukosa melalui proses gluconeogenesis. Ini adalah mekanisme pertahanan terakhir karena memecah otot untuk energi dapat melemahkan sistem imun dan mengganggu metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Proses Metabolisme dan Konversi Energi

Bagaimana tubuh menentukan kapan harus menggunakan glikogen atau lemak? Jawabannya terletak pada hormon, terutama insulin dan glukagon. Saat kamu makan, insulin naik dan memberi sinyal pada sel untuk menyimpan energi. Saat kamu berpuasa atau berolahraga, kadar insulin turun dan glukagon naik, memicu tubuh untuk mengambil energi dari cadangan.

Kemampuan tubuh untuk beralih antara membakar karbohidrat dan membakar lemak disebut dengan fleksibilitas metabolik. Orang yang sehat secara metabolik dapat dengan mudah menggunakan lemak sebagai bahan bakar saat karbohidrat tidak tersedia. Sebaliknya, resistensi insulin dapat menghambat proses pembakaran lemak, yang sering kali membuat seseorang merasa cepat lelah meskipun memiliki cadangan lemak yang banyak.

Jika kamu mengalami keluhan seperti lemas berkepanjangan, pusing, atau penurunan berat badan yang drastis secara tiba-tiba, ada baiknya melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk memastikan fungsi metabolisme tubuhmu berjalan normal.

Studi Mengenai Metabolisme Energi

Journal of Applied Physiology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa ketersediaan glikogen otot secara langsung mempengaruhi performa atletik dan sinyal pemulihan otot pasca-latihan. Studi ini menekankan pentingnya manajemen asupan karbohidrat untuk menjaga cadangan energi dalam tubuh agar tidak mengalami kelelahan otot yang dini.

Penelitian lain menunjukkan bahwa latihan beban secara rutin dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan glikogen dalam otot dan meningkatkan sensitivitas insulin. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas fisik bukan hanya membakar kalori, tetapi juga memperbaiki cara tubuh mengelola tabungan energinya.

Kesimpulannya, menjaga keseimbangan antara asupan nutrisi dan penggunaan energi adalah kunci kesehatan jangka panjang. Tubuh yang efisien dalam menyimpan dan menggunakan energi akan memiliki daya tahan yang lebih baik dan terhindar dari risiko penyakit metabolik.

FAQ

1. Berapa lama cadangan energi glikogen bisa bertahan dalam tubuh?

Cadangan glikogen hati biasanya habis dalam waktu 12-24 jam jika seseorang tidak makan sama sekali. Sementara itu, glikogen otot dapat terkuras habis dalam waktu 60-90 menit saat melakukan aktivitas fisik intensitas tinggi secara terus-menerus.

2. Apakah mungkin membakar lemak tanpa menghabiskan glikogen terlebih dahulu?

Tubuh selalu menggunakan campuran lemak dan karbohidrat secara bersamaan. Namun, pada intensitas olahraga yang rendah, proporsi lemak yang dibakar lebih tinggi. Seiring meningkatnya intensitas, tubuh akan lebih banyak bergantung pada glikogen.

3. Mengapa orang yang sedang diet sering merasa lemas?

Rasa lemas biasanya terjadi karena cadangan glikogen yang rendah akibat asupan karbohidrat yang sangat terbatas. Selain itu, tubuh mungkin belum sepenuhnya beradaptasi untuk menggunakan lemak secara efisien sebagai sumber energi utama (masa adaptasi keto).

4. Bagian tubuh mana yang menyimpan lemak paling banyak?

Secara umum, lemak disimpan di jaringan subkutan (di bawah kulit) dan jaringan visceral (di sekitar organ dalam perut). Lokasi penumpukan lemak sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, jenis kelamin, dan profil hormon individu.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan seperti sering lemas atau merasa metabolisme terganggu, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Metabolism and weight loss: How you burn calories.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Glycogen: What It Is, Function & Structure.
Healthline. Diakses pada 2026. How the Body Uses Energy.
NCBI – StatPearls. Diakses pada 2026. Physiology, Adenosine Triphosphate.