Ad Placeholder Image

Gigi Apa Saja yang Tak Bisa Di Behel? Yuk, Simak!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   05 Maret 2026

Gigi Apa Saja yang Tidak Bisa Di Behel? Ketahui Yuk!

Gigi Apa Saja yang Tak Bisa Di Behel? Yuk, Simak!Gigi Apa Saja yang Tak Bisa Di Behel? Yuk, Simak!

Gigi Apa Saja yang Tidak Bisa Dipasang Behel? Kenali Kondisi Ini

Behel gigi, atau kawat gigi, adalah solusi ortodontik populer untuk meratakan gigi dan memperbaiki gigitan. Prosedur ini dapat meningkatkan fungsi kunyah, estetika senyum, dan kesehatan mulut secara keseluruhan. Namun, tidak semua kondisi gigi dan mulut cocok untuk pemasangan behel. Ada beberapa kriteria kesehatan yang harus dipenuhi sebelum perawatan ortodontik dapat dimulai. Memahami kondisi ini penting untuk memastikan keberhasilan perawatan dan menghindari komplikasi yang tidak diinginkan. Artikel ini akan membahas secara rinci gigi dan kondisi apa saja yang tidak bisa atau tidak dianjurkan untuk dipasang behel.

Apa Itu Behel Gigi dan Tujuannya?

Behel gigi merupakan alat yang digunakan dalam ortodonti untuk memperbaiki posisi gigi dan rahang. Tujuannya adalah merapikan gigi yang berantakan, mengatasi celah antar gigi, memperbaiki gigitan tidak normal (maloklusi), serta menyelaraskan hubungan antara gigi atas dan bawah. Proses perawatan behel melibatkan penekanan bertahap pada gigi sehingga bergerak ke posisi yang diinginkan.

Kondisi Gigi yang Tidak Bisa atau Tidak Dianjurkan Dipasang Behel

Pemasangan behel memerlukan kondisi gigi, gusi, dan tulang rahang yang optimal agar perawatan berjalan lancar dan efektif. Jika ada masalah mendasar, perawatan behel dapat memperburuk kondisi atau bahkan gagal. Berikut adalah beberapa kondisi gigi dan mulut yang tidak dianjurkan untuk dipasang behel.

Gigi Berlubang atau Keropos

Gigi yang berlubang (karies) atau keropos menandakan adanya kerusakan pada struktur gigi. Sebelum behel dipasang, lubang atau kerapuhan ini harus diperbaiki terlebih dahulu. Perbaikan dapat meliputi penambalan, pemasangan mahkota (crown), atau pencabutan jika kerusakan sudah sangat parah. Memasang behel pada gigi yang rusak dapat memperparah kerusakan dan memicu infeksi karena tekanan yang diberikan.

Penyakit Gusi (Gingivitis atau Periodontitis)

Kesehatan gusi sangat krusial dalam perawatan ortodontik. Peradangan gusi (gingivitis) atau infeksi gusi yang lebih parah (periodontitis) dapat membuat struktur penyangga gigi menjadi tidak stabil. Dokter gigi akan selalu menyarankan pasien untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit gusi hingga sehat sebelum memulai perawatan behel. Gusi yang tidak sehat dapat memicu kerusakan tulang penyangga gigi selama proses pergerakan gigi akibat behel.

Gigi Bungsu Tumbuh Tidak Normal / Impaksi

Gigi bungsu, atau gigi geraham ketiga, yang tumbuh miring atau terhalang oleh gigi lain (impaksi) seringkali menimbulkan masalah. Gigi bungsu impaksi tidak dapat dirapikan dengan behel dan justru dapat mengganggu pergerakan gigi lain. Dalam banyak kasus, gigi bungsu impaksi harus dicabut terlebih dahulu sebelum perawatan ortodontik dimulai.

Tulang Rahang Lemah atau Deformitas Rahang

Struktur tulang rahang yang kuat adalah fondasi penting untuk perawatan behel. Jika tulang rahang lemah atau terdapat kelainan bentuk rahang yang signifikan, seperti class III maloklusi yang parah, behel saja mungkin tidak cukup. Kondisi ini seringkali memerlukan intervensi bedah rahang (ortognatik) untuk koreksi yang lebih komprehensif, bukan hanya sekadar pemasangan behel.

Gigi Ankylosed (Melekat Padat ke Tulang)

Gigi yang mengalami ankylosis adalah kondisi di mana akar gigi telah melekat padat langsung ke tulang rahang. Akibatnya, gigi tidak memiliki ligamen periodontal yang elastis, sehingga tidak bisa digerakkan secara ortodontik dengan behel. Penanganan untuk gigi ankylosed biasanya memerlukan prosedur seperti fragmentasi akar atau pencabutan, kemudian diganti dengan implan atau jembatan gigi.

Gigi Palsu dan Implan

Gigi tiruan lepasan, implan gigi, atau mahkota (crown) yang menempel kokoh pada gigi juga tidak dapat digerakkan oleh behel. Hal ini karena gigi-gigi buatan tersebut tidak memiliki akar alami yang dapat merespons tekanan ortodontik. Jika ada gigi palsu atau implan, dokter gigi akan mempertimbangkan rencana perawatan yang berbeda atau mengakomodasi keberadaan gigi tersebut dalam rencana ortodontik.

Pasien dengan Kondisi Medis Tertentu

Beberapa kondisi medis kronis dapat memengaruhi keberhasilan atau keamanan perawatan behel. Misalnya, penderita diabetes yang belum terkontrol, masalah jantung, atau kondisi kronis lainnya memerlukan stabilitas kesehatan terlebih dahulu. Penting bagi pasien untuk memastikan kondisi medis mereka stabil dan mendapat persetujuan dari dokter umum atau spesialis terkait sebelum memulai perawatan ortodontik.

Usia Terlalu Muda

Anak-anak balita umumnya belum boleh dipasangi behel karena akar gigi susu mereka belum matang dan rahang masih dalam tahap perkembangan. Perawatan ortodontik dengan behel biasanya dianjurkan pada usia minimal 9 tahun atau ketika sebagian besar gigi permanen sudah tumbuh dan erupsi sepenuhnya. Pada usia yang lebih muda, mungkin diperlukan perawatan ortodontik preventif atau interseptif lain.

Gigi Ompong Parah atau Hilang Banyak

Jika terdapat kehilangan gigi yang terlalu besar atau tulang rahang sudah mengalami penyusutan signifikan akibat gigi ompong dalam waktu lama, behel saja seringkali tidak cukup. Dalam kondisi ini, perawatan mungkin memerlukan kombinasi dengan implan gigi, jembatan gigi, atau prostetik lainnya untuk mengisi ruang kosong dan mengembalikan fungsi. Behel dapat digunakan untuk menata gigi yang tersisa sebelum atau sesudah prosedur tersebut.

Alternatif Perawatan Saat Behel Tidak Memungkinkan

Ketika behel gigi tidak menjadi pilihan yang tepat, ada beberapa alternatif perawatan yang dapat dipertimbangkan, tergantung pada kondisi dan kebutuhan individu:

  • Clear aligner: Alat ortodontik transparan ini cocok untuk kasus crowding atau spasi gigi yang ringan hingga sedang.
  • Kawat lepasan: Digunakan untuk koreksi masalah ortodontik minor pada anak-anak atau sebagai retensi setelah perawatan behel.
  • Bonding gigi: Prosedur kosmetik untuk memperbaiki bentuk gigi, celah kecil, atau perubahan warna menggunakan resin komposit.
  • Veneer: Lapisan tipis yang ditempelkan pada permukaan depan gigi untuk memperbaiki penampilan, bentuk, atau warna.
  • Mahkota (crown) gigi: Selubung yang menutupi seluruh permukaan gigi untuk mengembalikan bentuk, ukuran, kekuatan, dan penampilan gigi yang rusak.
  • Bedah rahang (ortognatik): Diperlukan dalam kasus deformitas rahang yang parah untuk mengoreksi posisi rahang.

Kesimpulan dan Rekomendasi Medis

Pemasangan behel gigi hanya boleh dilakukan pada gigi asli yang sehat, dengan kondisi gusi yang baik, dan adanya struktur tulang rahang yang kuat. Kondisi seperti gigi berlubang berat, penyakit gusi, gigi impaksi, implan gigi, gigi ankylosed, atau usia terlalu muda adalah beberapa faktor yang mengharuskan penanganan medis terlebih dahulu sebelum behel dapat dipasang.

Jika seseorang sedang mempertimbangkan untuk menjalani perawatan behel, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter gigi spesialis ortodonti. Konsultasi ini akan memberikan diagnosis menyeluruh mengenai kondisi gigi dan mulut, serta rencana perawatan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Melalui aplikasi Halodoc, seseorang dapat dengan mudah menemukan dokter gigi spesialis ortodonti terpercaya dan mendapatkan informasi medis yang akurat untuk membuat keputusan perawatan gigi yang terbaik.