Ad Placeholder Image

Golongan Darah ABO dan Rhesus: Kenali Tipe dan Manfaatnya

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

Mengetahui golongan darah dan rhesus penting untuk transfusi darah, kehamilan, dan memahami risiko medis tertentu yang mungkin terkait.

Golongan Darah ABO dan Rhesus: Kenali Tipe dan ManfaatnyaGolongan Darah ABO dan Rhesus: Kenali Tipe dan Manfaatnya

DAFTAR ISI


Sistem rhesus adalah salah satu sistem penggolongan darah yang paling krusial dalam dunia medis, selain sistem ABO. Nama “Rhesus” sendiri diambil dari monyet Rhesus (Macaca mulatta), tempat di mana protein antigen ini pertama kali ditemukan pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner dan Alexander Wiener. Dalam praktiknya, pemahaman mengenai rhesus tidak hanya sebatas label (+) atau (-) di belakang golongan darah A, B, AB, atau O, tetapi menyangkut keselamatan nyawa dalam prosedur transfusi dan kesehatan janin selama masa kehamilan.

Di Indonesia, mayoritas penduduk memiliki rhesus positif. Namun, keberadaan individu dengan rhesus negatif—meskipun langka—memerlukan perhatian khusus karena keterbatasan stok darah di PMI dan risiko medis yang menyertainya. Ketidaktahuan akan status rhesus dapat berakibat fatal, terutama bagi wanita usia subur. Oleh karena itu, pemeriksaan rhesus menjadi standar penting dalam pemeriksaan laboratorium dasar bagi setiap individu.

Penting bagi kamu untuk memahami profil darahmu sendiri untuk mengantisipasi kondisi darurat medis. Jika kamu belum mengetahui status golongan darah atau rhesusmu, segera lakukan pemeriksaan di laboratorium atau konsultasi ke dokter Halodoc untuk mendapatkan arahan pemeriksaan yang tepat.

Nah, mau tahu apa saja informasi mendalam mengenai sistem rhesus dan pengaruhnya terhadap kesehatanmu? Berikut ulasannya!

Apa Itu Sistem Rhesus?

Sistem rhesus didasarkan pada keberadaan atau ketiadaan protein spesifik yang disebut antigen D pada permukaan sel darah merah. Jika sel darah merahmu memiliki antigen D, maka kamu dikategorikan sebagai Rhesus Positif (Rh+). Sebaliknya, jika protein ini tidak ditemukan, kamu adalah Rhesus Negatif (Rh-). Protein ini bersifat herediter atau diturunkan secara genetik dari orang tua kepada anak-anaknya.

Secara struktur biologis, antigen rhesus tertanam dalam membran sel darah merah dan memiliki peran dalam menjaga integritas struktur sel tersebut. Meskipun ada puluhan antigen rhesus lainnya, antigen D adalah yang paling imunogenik, artinya paling kuat memicu respon sistem kekebalan tubuh jika terjadi percampuran darah yang tidak cocok.

Perbedaan Rhesus Positif dan Negatif

Secara fisik dan kesehatan umum, tidak ada perbedaan antara orang dengan rhesus positif dan negatif. Keduanya dapat hidup sehat, beraktivitas normal, dan memiliki harapan hidup yang sama. Perbedaan hanya muncul ketika darah dari kedua tipe ini bertemu, misalnya dalam proses transfusi darah atau kehamilan.

1. Prevalensi Global dan Lokal

Di seluruh dunia, sekitar 85% populasi memiliki rhesus positif. Di Asia, termasuk Indonesia, angka pemilik rhesus negatif sangatlah kecil, yakni kurang dari 1%. Kondisi ini menjadikan pemilik rhesus negatif sebagai kelompok “darah langka” yang seringkali kesulitan mendapatkan donor darah dalam waktu cepat jika terjadi kecelakaan atau tindakan operasi besar.

2. Respon Antibodi

Sistem kekebalan tubuh individu rhesus negatif akan menganggap antigen D sebagai benda asing (invader). Jika orang dengan Rh- terpapar darah Rh+, tubuh mereka akan memproduksi antibodi anti-D. Sekali antibodi ini terbentuk, mereka akan tetap ada di dalam tubuh dan dapat menyerang sel darah merah Rh+ yang masuk di masa depan.

Inkompatibilitas Rhesus pada Kehamilan

Salah satu fokus utama dalam bahasan sistem rhesus adalah kehamilan. Inkompatibilitas rhesus terjadi ketika seorang ibu dengan rhesus negatif mengandung janin dengan rhesus positif (yang diwarisi dari ayahnya). Kondisi ini sebenarnya jarang menimbulkan masalah pada kehamilan pertama, namun menjadi sangat berisiko pada kehamilan kedua dan seterusnya.

Selama proses persalinan atau jika terjadi keguguran pada kehamilan pertama, darah janin yang Rh+ dapat masuk ke aliran darah ibu. Tubuh ibu kemudian membentuk antibodi anti-D sebagai reaksi. Pada kehamilan berikutnya, jika janin kembali memiliki Rh+, antibodi ini dapat menyeberangi plasenta dan menyerang sel darah merah janin, menyebabkan kondisi yang disebut Hemolytic Disease of the Newborn (HDN) atau eritroblastosis fetalis.

Tanda Bahaya Inkompatibilitas Rhesus pada Janin
  1. Anemia berat pada bayi saat lahir atau masih dalam kandungan.
  2. Penyakit kuning (jaundice) yang muncul segera setelah lahir.
  3. Pembengkakan organ hati dan limpa pada janin.
  4. Kondisi fatal yang disebut hidrops fetalis (penumpukan cairan di seluruh tubuh janin).

Untuk mencegah hal ini, dokter biasanya memberikan suntikan Rho(D) immune globulin (sering dikenal dengan merk RhoGAM) pada ibu Rh- di usia kehamilan 28 minggu dan dalam waktu 72 jam setelah persalinan. Suntikan ini mencegah tubuh ibu membentuk antibodi yang bisa membahayakan kehamilan berikutnya.

Pentingnya Rhesus dalam Transfusi Darah

Prinsip utama transfusi darah adalah kecocokan antigen. Orang dengan Rh+ dapat menerima darah dari donor Rh+ maupun Rh- (karena darah Rh- tidak memiliki antigen yang akan diserang). Namun, orang dengan Rh- hanya boleh menerima darah dari donor Rh-.

Jika orang Rh- diberikan darah Rh+ secara tidak sengaja, maka akan terjadi reaksi transfusi hemolitik. Sistem imun penerima akan menghancurkan sel darah merah yang ditransfusikan secara masif, yang dapat memicu gagal ginjal, syok, hingga kematian.

Bagi kamu yang memiliki kondisi kesehatan kronis dan memerlukan suplementasi pendukung, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk memenuhi kebutuhan kesehatan harian dengan lebih praktis dan terjamin keasliannya.

Studi Mengenai Sistem Rhesus

Blood Transfusion Journal menerbitkan studi di tahun 2021 yang menjelaskan bahwa pemantauan ketat terhadap titer antibodi pada ibu hamil dengan rhesus negatif secara signifikan menurunkan angka kematian perinatal akibat inkompatibilitas rhesus.

Studi tersebut menekankan bahwa penggunaan profilaksis anti-D telah mengubah sejarah medis, di mana dahulu HDN adalah penyebab utama kematian bayi, kini angka tersebut dapat ditekan hingga di bawah 1% jika penanganan dilakukan secara tepat sejak dini.

Cara Mengetahui dan Mengelola Status Rhesus

1. Tes Golongan Darah dan Rhesus

Tes ini sangat sederhana, hanya membutuhkan sampel darah kecil. Di laboratorium, darah dicampur dengan serum anti-D. Jika darah menggumpal (aglutinasi), berarti kamu rhesus positif. Jika tidak, kamu rhesus negatif.

2. Bergabung dengan Komunitas

Bagi pemilik rhesus negatif di Indonesia, disarankan bergabung dengan komunitas seperti Rhesus Negatif Indonesia (RNI). Hal ini sangat membantu jika sewaktu-waktu membutuhkan donor darah mendesak, mengingat stok di bank darah rumah sakit seringkali kosong untuk tipe ini.

Memahami sistem rhesus bukan hanya soal pengetahuan medis, melainkan bentuk kewaspadaan terhadap diri sendiri dan keluarga. Jika kamu merasa ragu atau memiliki riwayat keluarga dengan masalah kehamilan terkait rhesus, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan preventif.

Kamu bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc secara mudah dan cepat.

Referensi:
American Red Cross. Diakses pada 2026. Blood Types: What You Need to Know.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Rh Factor Blood Test.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Rh Incompatibility.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Blood Transfusion Safety.

FAQ

1. Apakah rhesus seseorang bisa berubah seiring waktu?

Tidak, rhesus ditentukan oleh genetika dan bersifat permanen sepanjang hidup seseorang. Namun, dalam kasus yang sangat langka seperti transplantasi sumsum tulang, rhesus penerima mungkin bisa mengikuti rhesus donor.

2. Apakah ayah rhesus negatif dan ibu rhesus positif berbahaya bagi janin?

Tidak. Kondisi ini aman karena tubuh ibu (Rh+) sudah mengenal antigen D, sehingga tidak akan membentuk antibodi yang menyerang janin, baik janin tersebut memiliki Rh+ maupun Rh-.

3. Apa yang dimaksud dengan rhesus null?

Rhesus null adalah kondisi di mana seseorang tidak memiliki satu pun dari 61 jenis antigen rhesus. Ini adalah golongan darah paling langka di dunia, sering disebut sebagai “Golden Blood” karena hanya dimiliki oleh sedikit orang di seluruh dunia.

4. Bisakah pemilik rhesus negatif mendonorkan darah ke rhesus positif?

Bisa. Darah rhesus negatif aman diberikan kepada pemilik rhesus positif karena tidak mengandung antigen D yang dapat memicu reaksi imun pada penerima.

## Punya Keluhan Terkait Kehamilan atau Ingin Cek Golongan Darah? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu merasa khawatir tentang status rhesusmu atau sedang merencanakan kehamilan dan butuh panduan awal? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant)](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.