Ad Placeholder Image

Hati-Hati, 8 Penyakit Ini Bisa Menimbulkan Gejala Keringat Dingin

10 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Keringat dingin umumnya bisa menjadi tanda penyakit dalam tubuh.

Hati-Hati, 8 Penyakit Ini Bisa Menimbulkan Gejala Keringat DinginHati-Hati, 8 Penyakit Ini Bisa Menimbulkan Gejala Keringat Dingin

DAFTAR ISI


Mengalami demam tentu membuat tubuh terasa tidak nyaman. Suhu tubuh yang meningkat sering kali disertai dengan sakit kepala, nyeri sendi, hingga badan yang terasa menggigil. Namun, hal yang kerap membingungkan banyak orang adalah fase setelahnya. Saat suhu tubuh mulai turun dan kembali normal, kamu mungkin tiba-tiba merasakan keringat dingin setelah demam yang membasahi dahi, leher, punggung, bahkan seluruh tubuh.

Kondisi ini sebenarnya adalah respons fisiologis yang sangat wajar. Ketika kamu terinfeksi virus atau bakteri, sistem imun akan memproduksi zat kimia bernama pirogen. Zat ini memberi sinyal kepada hipotalamus, yaitu bagian otak yang berfungsi sebagai termostat tubuh, untuk menaikkan suhu inti badan demi membunuh kuman. Begitu infeksi mulai mereda atau obat penurun panas mulai bekerja, hipotalamus akan kembali menurunkan “pengaturan” suhu tersebut ke titik normal.

Nah, karena suhu tubuh kamu masih tinggi namun hipotalamus sudah meminta suhu diturunkan, tubuh harus segera membuang kelebihan panas tersebut. Cara paling efektif yang dilakukan tubuh adalah dengan melebarkan pembuluh darah di bawah kulit (vasodilatasi) dan mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak. Proses penguapan keringat inilah yang kemudian memberikan sensasi dingin yang menusuk pada kulit.

Meskipun sebagian besar merupakan tanda yang baik bahwa demam mulai “pecah”, ada kalanya keringat dingin menjadi sinyal peringatan dari tubuh akan kondisi lain yang lebih serius, seperti penurunan kadar gula darah secara drastis atau dehidrasi akut. Lalu, apa saja sebenarnya penyebab dan bagaimana cara terbaik menanganinya? Berikut ulasannya!

Penyebab Keringat Dingin Setelah Demam

Memahami penyebab di balik munculnya keringat dingin setelah suhu tubuh turun sangat penting agar kamu tidak panik dan bisa memberikan penanganan awal yang tepat. Berikut adalah beberapa faktor utama pemicunya:

1. Fase Penurunan Suhu (Defervescence)

Ini adalah penyebab paling umum dan alami. Setelah masa krisis demam terlewati, tubuh harus membuang kalori panas secara cepat. Proses tubuh mengeluarkan panas melalui pori-pori kulit (diaforesis) membuat produksi keringat meningkat drastis. Begitu keringat bersentuhan dengan udara luar, penguapannya membuat kulit terasa dingin dan basah.

2. Efek Samping Obat Penurun Panas

Konsumsi obat antipiretik seperti paracetamol, ibuprofen, atau aspirin bekerja dengan sangat cepat mengintervensi sinyal peradangan di otak. Perubahan suhu yang terjadi secara mendadak akibat reaksi obat sering kali memicu kelenjar keringat bekerja lebih keras dari biasanya, menyebabkan keringat dingin yang membasahi pakaian hanya dalam hitungan jam setelah minum obat.

3. Hipoglikemia (Gula Darah Rendah)

Saat sakit, nafsu makan biasanya menurun drastis. Di sisi lain, demam membuat metabolisme tubuh meningkat sehingga pembakaran kalori berlangsung lebih cepat. Ketidakseimbangan antara asupan energi yang masuk dan energi yang dibakar dapat menyebabkan gula darah turun atau hipoglikemia. Salah satu gejala klasik dari gula darah rendah adalah kulit pucat, gemetar, dan keringat dingin yang berlebihan.

4. Dehidrasi Akibat Demam

Suhu tubuh yang tinggi membuat cairan tubuh menguap lebih cepat. Jika kamu kurang minum air selama fase demam, volume darah akan menurun. Sebagai kompensasinya, aliran darah akan difokuskan pada organ-organ vital seperti otak dan jantung, sementara pembuluh darah di kulit akan menyempit sesaat, memicu rasa dingin dan lembap pada kulit secara bersamaan.

5. Fase Pemulihan Infeksi Spesifik

Di Indonesia, penyakit endemik seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, atau tifus sering menunjukkan pola demam yang khas. Pada penyakit DBD, misalnya, turunnya suhu tubuh pada hari ke-3 hingga ke-5 sering kali disertai keringat dingin dan justru menjadi masa kritis (fase syok) di mana kebocoran plasma darah berisiko tinggi terjadi. Oleh karena itu, observasi gejala sangat dibutuhkan.

Waspadai Gejala Kritis Demam Berdarah (DBD)
  1. Suhu tubuh turun namun penderita justru tampak semakin lemas (tidak aktif).
  2. Keringat dingin berlebih disertai detak jantung berdebar cepat namun nadi terasa lemah.
  3. Nyeri perut hebat, mual, dan muntah terus-menerus.
  4. Jika mengalami ini, segera cari pertolongan medis karena ini bukan sekadar tanda demam sembuh!

Cara Mengatasi Keringat Dingin Setelah Demam

Bila keringat dingin disebabkan oleh proses fisiologis tubuh yang sedang membuang panas, kondisi ini dapat diatasi secara mandiri di rumah. Berikut adalah beberapa langkah perawatan suportif yang bisa kamu lakukan:

1. Segera Ganti Pakaian Basah

Keringat yang menempel pada pakaian akan terus menyerap panas dari tubuh dan memperburuk sensasi dingin. Segera ganti baju basah dengan pakaian kering berbahan katun yang ringan dan menyerap keringat. Hindari menggunakan selimut berlapis-lapis karena justru akan menjebak panas dan membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat. Cukup gunakan selimut tipis jika merasa menggigil.

2. Penuhi Kebutuhan Cairan (Rehidrasi)

Keluarnya banyak keringat berarti hilangnya cairan dan elektrolit penting seperti natrium dan kalium. Gantikan cairan tubuh dengan minum banyak air putih hangat, kuah kaldu ayam, teh manis hangat, atau cairan oralit. Jika kamu butuh suplemen vitamin atau cairan hidrasi, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.

3. Lap Tubuh dengan Air Hangat (Seka)

Untuk memberikan kenyamanan dan mempercepat proses penurunan panas sisa, basuh kulit tubuh dengan handuk yang dibasahi air hangat. Fokuskan pada area lipatan tubuh seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Jangan pernah menyeka tubuh dengan air dingin atau air es karena hal ini justru akan membuat pembuluh darah menyempit dan panas terjebak di dalam tubuh.

4. Perhatikan Asupan Nutrisi

Untuk mencegah keringat dingin yang dipicu oleh hipoglikemia, cobalah makan dalam porsi kecil namun sering. Pilihlah makanan yang mudah dicerna seperti bubur hangat, sup, atau buah-buahan lunak. Asupan kalori ini sangat penting untuk mengembalikan energi yang terkuras selama tubuh melawan infeksi.

5. Atur Suhu Ruangan agar Nyaman

Pastikan sirkulasi udara di dalam kamar tidur berjalan baik. Jangan arahkan kipas angin atau pendingin ruangan (AC) langsung ke tubuh penderita. Atur suhu ruangan pada tingkat yang sejuk dan nyaman (sekitar 24-25 derajat Celcius). Udara segar akan membantu proses penguapan keringat berlangsung dengan lebih baik tanpa membuat penderita merasa menggigil.

Kapan Harus ke Dokter?

Walaupun sering kali tidak berbahaya, keringat basah yang menyertai berlalunya demam tidak boleh disepelekan jika diikuti oleh tanda-tanda bahaya (red flags). Segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila kamu atau anggota keluarga mengalami gejala berikut:

  • Keringat dingin berlebih yang tidak kunjung berhenti hingga pakaian harus diganti lebih dari 3 kali dalam semalam.
  • Disertai kesulitan bernapas, napas pendek, atau dada terasa berat dan nyeri.
  • Kulit, bibir, atau kuku terlihat membiru (sianosis).
  • Penderita mengalami penurunan kesadaran, tampak sangat bingung, linglung, meracau, atau sangat sulit dibangunkan dari tidur.
  • Gejala muntah hebat, ketidakmampuan menelan cairan apa pun, atau tidak buang air kecil lebih dari 8 jam.
  • Demam kembali naik dan lebih tinggi setelah sempat mereda.

Studi Terkait Termoregulasi Tubuh

Journal of Temperature (Austin) menerbitkan sebuah ulasan ilmiah di tahun 2015 mengenai fisiologi demam dan respons termoregulasi manusia. Studi tersebut menjelaskan bahwa ketika agen antipiretik atau sistem imun berhasil menghilangkan pirogen, “titik setel” di hipotalamus kembali normal.

Selisih antara suhu tubuh riil yang saat itu masih panas dengan “titik setel” yang baru membuat tubuh mendeteksi kondisi “kepanasan ekstrem”. Hal inilah yang memicu respons otonom masif berupa pelebaran pembuluh darah perifer dan kelenjar keringat ekrin (eccrine sweat glands) yang memproduksi cairan dalam jumlah besar. Studi ini menegaskan bahwa fenomena ini adalah mekanisme pertahanan esensial tubuh untuk melindungi sel-sel saraf otak dari kerusakan akibat paparan panas berlebih (hipertermia).

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

FAQ

1. Apakah keringat dingin pertanda penyakit sudah sembuh?

Umumnya, ya. Keringat dingin menunjukkan bahwa suhu tubuh (demam) sudah mulai “pecah” dan kembali turun menuju suhu normal. Ini adalah tanda sistem kekebalan tubuh mulai memenangkan perlawanan terhadap infeksi.

2. Berapa lama fase keringat ini akan berlangsung?

Fase pengeluaran keringat ini biasanya berlangsung dari beberapa jam hingga satu hari penuh, tergantung dari seberapa tinggi demam sebelumnya dan jenis infeksi yang mendasarinya. Asupan cairan yang cukup akan membantu fase ini berlalu lebih cepat.

3. Apakah boleh langsung mandi air dingin saat berkeringat banyak?

Sangat tidak disarankan. Mandi dengan air dingin saat tubuh sedang menurunkan suhu justru akan membuat pembuluh darah kulit menyempit secara tiba-tiba (vasokonstriksi). Ini menjebak panas di organ dalam tubuh. Sebaiknya mandi atau seka tubuh dengan air hangat suam-suam kuku.

4. Kenapa anak balita sering mengalami hal ini saat tidur malam?

Anak-anak dan balita belum memiliki sistem pengaturan suhu (termoregulasi) yang matang seperti orang dewasa. Mereka cenderung mengeluarkan keringat dalam jumlah jauh lebih banyak di malam hari saat obat penurun panas (seperti paracetamol) yang diminum sebelum tidur mulai bekerja maksimal mengusir demam.


Keringat yang muncul usai demam sebagian besar merupakan cara cerdas tubuh menyembuhkan diri. Tetaplah memantau asupan nutrisi dan cairan agar tubuh bisa segera kembali bugar. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc kapan saja dan di mana saja.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Fever: Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Cold Sweats: Causes & Treatments.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Physiology of Fever and Thermoregulation.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Tatalaksana Demam Berdarah Dengue.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Management of Fever in Children.