Ad Placeholder Image

Helium: Sifat, Kegunaan, dan Fakta Menariknya

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Helium adalah unsur kimia dengan sifat-sifat unik dan beragam kegunaan penting dalam berbagai bidang, termasuk medis.

Helium: Sifat, Kegunaan, dan Fakta MenariknyaHelium: Sifat, Kegunaan, dan Fakta Menariknya

DAFTAR ISI


Ketika mendengar kata “helium”, sebagian besar dari kamu mungkin akan langsung teringat pada balon terbang yang berwarna-warni di acara pesta, atau pada trik lucu mengubah suara menjadi nyaring dan kecil mirip karakter kartun. Namun, tahukah kamu bahwa helium adalah jauh lebih dari sekadar gas pengisi balon? Dalam dunia medis dan ilmu pengetahuan, gas ini memiliki peran vital yang bahkan dapat menyelamatkan nyawa.

Meskipun sering dianggap sebagai gas yang tidak berbahaya karena sifatnya yang tidak beracun dan tidak mudah terbakar, penggunaan helium yang tidak tepat pada tubuh manusia dapat berakibat fatal. Praktik menghirup helium langsung dari balon atau tangki demi lelucon suara bisa mengundang bahaya serius seperti hipoksia (kekurangan oksigen di otak) hingga kerusakan paru-paru yang parah.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami sifat asli dari gas yang satu ini. Mengetahui batas antara pemanfaatan helium yang aman—terutama yang dikelola secara profesional di ranah klinis—dengan kebiasaan berbahaya yang kerap dilakukan masyarakat dapat mencegah terjadinya kondisi gawat darurat medis yang tidak diinginkan.

Nah, mau tahu lebih dalam tentang apa itu helium, perannya yang krusial di dunia kedokteran, hingga alasan medis mengapa kamu pantang menghirupnya sembarangan? Berikut ulasan selengkapnya yang wajib kamu ketahui!

Pengertian Helium

Dalam ilmu kimia, helium adalah unsur dengan simbol He dan nomor atom 2. Helium merupakan unsur teringan kedua di alam semesta setelah hidrogen, dan merupakan bagian dari golongan gas mulia pada tabel periodik. Sifat utamanya adalah tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak beracun. Selain itu, gas ini bersifat lembam atau inert, yang artinya sangat tidak reaktif dan jarang sekali membentuk senyawa kimia dengan unsur lain.

Karena massanya yang sangat ringan, helium memiliki daya angkat yang tinggi di udara. Inilah alasan utama mengapa gas ini banyak digunakan untuk mengisi balon udara, balon cuaca, hingga kapal udara (blimp). Berbeda dengan hidrogen yang juga ringan namun sangat mudah terbakar, helium memberikan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi karena tidak akan memicu ledakan atau kebakaran meskipun terpapar panas.

Di bumi, helium diekstraksi dari gas alam di bawah permukaan tanah yang terbentuk melalui proses peluruhan radioaktif elemen berat seperti uranium dan torium selama miliaran tahun. Karena sifatnya yang sangat unik, termasuk titik didihnya yang merupakan titik didih terendah dari semua unsur (yakni -268,9 derajat Celcius), helium menjadi elemen yang sangat berharga dan tidak tergantikan dalam berbagai teknologi tinggi modern.

Penggunaan Helium dalam Bidang Medis

Meskipun bukan merupakan obat yang bisa diminum atau disuntikkan, helium adalah salah satu gas medis paling penting dalam dunia kesehatan. Penggunaannya telah merevolusi cara dokter mendiagnosis penyakit dan merawat pasien dengan kondisi gawat darurat pernapasan. Berikut adalah beberapa kegunaan utama helium di ranah medis:

1. Pendingin Utama pada Mesin MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Mesin MRI adalah alat diagnostik canggih yang menggunakan medan magnet kuat dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar organ dan jaringan dalam tubuh dengan sangat detail. Untuk dapat menciptakan medan magnet yang sangat kuat ini, mesin MRI menggunakan kumparan kawat superkonduktor. Agar superkonduktor ini dapat bekerja optimal tanpa hambatan listrik, suhunya harus diturunkan hingga mendekati titik nol mutlak.

Di sinilah helium cair mengambil peran krusial. Helium cair digunakan sebagai zat pendingin (kriogenik) yang menyelimuti magnet MRI, menjaganya pada suhu sekitar -269 derajat Celcius. Tanpa keberadaan helium, teknologi MRI tidak akan mungkin beroperasi, dan dokter akan kehilangan salah satu alat diagnostik non-invasif paling ampuh untuk mendeteksi tumor, kerusakan otak, cedera tulang belakang, hingga penyakit saraf.

2. Terapi Heliox untuk Gangguan Pernapasan Berat

Heliox adalah gas medis yang merupakan campuran antara helium dan oksigen (biasanya terdiri dari 79% helium dan 21% oksigen, atau proporsi lain sesuai kebutuhan medis). Karena massa jenis helium jauh lebih rendah dibandingkan nitrogen (yang mendominasi udara biasa), campuran Heliox mengalir melalui saluran pernapasan dengan sangat mulus dan minim turbulensi.

Kondisi medis seperti asma berat, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau croup pada anak-anak sering kali menyebabkan penyempitan saluran napas yang parah. Saat pasien kesulitan menarik udara biasa, dokter akan memberikan Heliox. Gas ini lebih mudah melewati saluran napas yang menyempit, sehingga asupan oksigen ke paru-paru menjadi lebih efisien dan kerja otot-otot pernapasan yang kelelahan dapat sangat diringankan.

3. Gas Pencampur untuk Penyelaman Medis dan Laut Dalam

Bagi penyelam laut dalam, baik untuk tujuan komersial maupun medis militer, bernapas dengan udara biasa (campuran nitrogen dan oksigen) di tekanan tinggi dapat memicu “mabuk nitrogen” (nitrogen narcosis) yang membingungkan dan membahayakan nyawa. Untuk mencegah hal ini, penyelam menggunakan campuran gas pernapasan seperti Trimix atau Heliox, di mana sebagian besar nitrogen digantikan oleh helium.

Helium tidak memiliki efek narkotik pada tubuh manusia meskipun berada dalam tekanan tinggi. Hal ini memungkinkan penyelam untuk tetap memiliki kesadaran penuh dan fungsi kognitif yang jernih di kedalaman ekstrem, sekaligus menurunkan risiko penyakit dekompresi yang parah saat mereka kembali ke permukaan.

Tips Menjaga Kesehatan Saluran Pernapasan
  1. Hindari paparan debu, asap rokok, dan polusi udara yang dapat memicu iritasi saluran napas.
  2. Jangan pernah menggunakan gas apa pun, termasuk helium dari balon, untuk dihirup secara sengaja demi tujuan bersenang-senang.
  3. Lakukan latihan pernapasan dalam (deep breathing) secara rutin untuk mengoptimalkan kapasitas paru-paru.
  4. Penuhi asupan cairan tubuh setiap hari untuk menjaga lendir di saluran pernapasan tetap encer dan mudah dikeluarkan.

Bahaya Menghirup Helium bagi Kesehatan

Banyak orang menganggap menghirup helium untuk mengubah suara adalah permainan yang aman karena helium sendiri bersifat inert dan tidak beracun. Suara yang berubah menjadi melengking terjadi karena suara merambat tiga kali lebih cepat di dalam gas helium dibandingkan di udara biasa, sehingga mengubah frekuensi resonansi pita suara.

Meskipun terdengar lucu, praktik ini menyimpan bahaya tersembunyi yang sangat mematikan. Risiko ini tidak berasal dari toksisitas gas itu sendiri, melainkan dari mekanisme fisik yang terjadi pada paru-paru dan aliran darah kamu.

1. Asfiksia dan Hipoksia (Kekurangan Oksigen)

Setiap kali kamu menghirup helium murni dari balon, kamu sedang memompa gas tanpa oksigen ke dalam paru-paru. Hal ini langsung menggantikan (membilas) oksigen yang tersisa di paru-paru. Akibatnya, darah yang mengalir melewati paru-paru tidak mendapatkan pasokan oksigen, dan justru melepaskan sisa oksigen di dalam darah kembali ke paru-paru. Kondisi ini membuat kadar oksigen di otak menurun secara drastis dalam hitungan detik.

Yang membuat hal ini sangat berbahaya adalah tubuh manusia tidak memiliki sensor otomatis yang memadai untuk mendeteksi kekurangan oksigen. Rasa sesak napas yang kita alami biasanya dipicu oleh penumpukan karbon dioksida, bukan karena kurangnya oksigen. Karena kamu terus mengembuskan karbon dioksida saat menghirup helium, kamu tidak akan merasa tercekik atau sesak; kamu akan tiba-tiba pingsan tanpa peringatan apa pun. Jika pingsan terjadi, benturan kepala akibat jatuh dapat berakibat fatal, dan jika oksigen tidak segera diberikan, dapat terjadi kerusakan otak permanen hingga kematian.

2. Barotrauma dan Emboli Gas Paru

Bahaya yang jauh lebih besar mengintai jika seseorang nekat menghirup helium langsung dari tangki bertekanan tinggi. Tangki gas komersial menyimpan gas dalam tekanan yang sangat kuat. Saat klep dibuka langsung ke mulut, aliran gas bertekanan tinggi dapat masuk ke paru-paru dengan kecepatan kilat dan merobek jaringan alveolus (kantung udara kecil di paru-paru). Kondisi ini secara medis disebut barotrauma.

Robekan pada paru-paru ini memungkinkan gelembung gas masuk langsung ke dalam aliran darah (emboli gas arteri). Gelembung gas ini dapat mengalir menuju jantung dan menyebabkan serangan jantung mendadak, atau mengalir ke otak dan memicu stroke iskemik masif yang mematikan di tempat. Ini adalah keadaan darurat medis absolut yang tidak bisa ditangani tanpa bantuan profesional.

Pertolongan Pertama pada Keracunan Helium

Jika kamu melihat seseorang yang kolaps, pusing hebat, atau pingsan setelah menghirup helium dari balon atau tangki, penanganan yang cepat dan tepat adalah kunci keselamatan nyawanya. Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan:

Pertama, segera jauhkan sumber helium dari korban dan pindahkan ia ke area terbuka yang memiliki sirkulasi udara segar yang melimpah. Pastikan jalan napasnya tidak terhalang. Longgarkan pakaian di sekitar leher dan dada agar ia bisa bernapas dengan lebih lega. Jika korban sadar namun merasa pusing, minta ia untuk duduk perlahan dan bernapas dalam-dalam menggunakan udara biasa untuk mengembalikan kadar oksigen dalam darah.

Kedua, jika korban tidak sadarkan diri, segera periksa denyut nadi dan pernapasannya. Jika ia tidak bernapas, segera lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) jika kamu terlatih, dan minta orang lain untuk segera menghubungi layanan gawat darurat atau membawa korban ke instalasi gawat darurat terdekat. Jangan biarkan korban yang sudah sadar pulang sendiri atau langsung beraktivitas berat; observasi medis tetap diperlukan.

Apabila kamu atau orang terdekat mengalami gejala lanjutan seperti sesak napas, nyeri dada tajam, atau kebingungan setelah tidak sengaja terpapar dan menghirup gas dalam jumlah besar, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan panduan medis darurat sebelum penanganan lebih lanjut di rumah sakit.

Selain menjaga keselamatan dari paparan bahaya luar, penting juga untuk terus memperkuat sistem imunitas dan fungsi pernapasan. Pastikan asupan nutrisi harian tercukupi dengan baik. Untuk memenuhi kebutuhan ini, kamu bisa beli vitamin dan produk kesehatan 100% asli di Toko Kesehatan Halodoc secara online, praktis, dan pesananmu akan langsung diantar dengan aman ke rumah.

Studi Terkait Penggunaan Helium Medis

Cochrane Database of Systematic Reviews menerbitkan sebuah studi ekstensif yang meneliti penggunaan campuran helium-oksigen (Heliox) untuk pasien anak yang menderita croup (infeksi pernapasan akut yang memicu pembengkakan trakea). Studi ini menemukan bahwa pemberian Heliox mampu menurunkan skor tingkat keparahan croup secara signifikan dan mengembalikan pola pernapasan normal pada anak-anak di ruang gawat darurat.

Selain itu, jurnal kedokteran paru juga terus mempublikasikan temuan tentang efisiensi Heliox pada pasien asma eksaserbasi akut. Massa jenis helium yang rendah mengubah aliran udara dari turbulen (kacau) menjadi laminar (searah dan tenang) di dalam bronkus yang meradang. Terapi ini diakui sangat membantu membeli waktu kritis bagi pasien hingga obat antiinflamasi steroid yang diberikan mulai menunjukkan reaksi meredakan peradangan.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. MRI: Mayo Clinic Radio.
National Center for Biotechnology Information (NCBI) / StatPearls. Diakses pada 2026. Helium-Oxygen Therapy (Heliox).
Cochrane Database of Systematic Reviews. Diakses pada 2026. Heliox for croup in children.
The New England Journal of Medicine. Diakses pada 2026. The Dangers of Inhaling Helium.
Occupational Safety and Health Administration (OSHA). Diakses pada 2026. Compressed Gas Safety and Barotrauma Risks.

FAQ

1. Apakah menghirup helium sedikit dari balon aman?

Tidak ada batas aman mutlak saat menghirup gas ini secara sengaja. Meskipun satu tarikan napas pendek mungkin hanya menyebabkan pusing ringan pada orang sehat, hal itu tetap menyebabkan otak kekurangan oksigen sesaat. Pada orang dengan kondisi jantung atau asma yang tidak terdiagnosis, hal sekecil ini bisa memicu pingsan atau serangan asma.

2. Apa yang menyebabkan suara berubah lucu setelah menghirup helium?

Helium memiliki massa yang jauh lebih ringan daripada udara (nitrogen dan oksigen). Akibatnya, gelombang suara merambat hampir tiga kali lebih cepat saat melewati gas ini di pita suara. Peningkatan kecepatan inilah yang membuat frekuensi resonansi di saluran suara meningkat, sehingga suara terdengar melengking layaknya karakter kartun.

3. Bisakah helium digunakan untuk pengobatan di rumah?

Tidak. Helium adalah gas medis yang diklasifikasikan penggunaannya secara ketat dan hanya boleh dikelola oleh profesional medis terlatih di rumah sakit, seperti terapi Heliox. Penggunaan gas medis tanpa pengawasan alat pantau saturasi oksigen (oksimetri) dan pengaturan dosis yang tepat sangat berisiko memicu asfiksia yang fatal.

4. Bagaimana cara mengatasi anak yang tiba-tiba lemas setelah bermain balon terbang?

Jika anak lemas atau pingsan setelah dicurigai menghirup balon gas, segera bawa ia ke luar ruangan agar mendapat udara segar, baringkan tubuhnya, dan jangan berkerumun. Jika ia tidak segera sadar atau bibirnya mulai tampak kebiruan, segera larikan ke unit gawat darurat terdekat atau hubungi ambulans, karena ini menandakan terjadinya kekurangan oksigen parah.