Ad Placeholder Image

Hipospadia: Kenali dan Atasi Saluran Kencing Si Kecil

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   28 April 2026

Hipospedia: Jangan Cemas, Kenali Gejala dan Atasi Tepat

Hipospadia: Kenali dan Atasi Saluran Kencing Si KecilHipospadia: Kenali dan Atasi Saluran Kencing Si Kecil

Hipospadia adalah kondisi bawaan lahir pada bayi laki-laki di mana lubang saluran kencing atau uretra tidak terletak di ujung penis. Sebaliknya, lubang tersebut berada di bagian bawah penis, mulai dari area di bawah kepala penis hingga skrotum atau perineum (area antara skrotum dan anus). Kondisi ini dapat memengaruhi aliran urine, menyebabkan kesulitan buang air kecil, dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serta fungsional di kemudian hari jika tidak ditangani dengan tepat melalui operasi rekonstruksi.

Apa Itu Hipospadia?

Hipospadia merupakan kelainan perkembangan yang terjadi saat pembentukan organ reproduksi laki-laki di dalam kandungan. Pada kondisi normal, uretra (saluran yang membawa urine keluar dari tubuh) berakhir di ujung kepala penis. Namun, pada penderita hipospadia, pembukaan uretra justru terbentuk di lokasi yang tidak semestinya, yaitu di sepanjang bagian bawah penis, bahkan bisa sampai ke kantung zakar atau area di belakangnya. Tingkat keparahan hipospadia bervariasi tergantung pada lokasi lubang uretra.

Gejala dan Tanda Hipospadia yang Perlu Diketahui

Kelainan hipospadia umumnya sudah dapat terdeteksi saat lahir atau dalam beberapa hari pertama kehidupan bayi. Beberapa gejala dan tanda utama yang mengindikasikan hipospadia meliputi:

  • Lubang uretra tidak terletak di ujung penis, melainkan di bagian bawah batang penis, skrotum, atau perineum.
  • Pancaran urine tidak lurus ke depan, seringkali mengarah ke bawah atau samping, yang bisa menyebabkan bayi kesulitan buang air kecil dan membasahi area sekitar.
  • Kulit kulup (preputium) tidak terbentuk sempurna di bagian bawah penis, sehingga tampak seperti “bertopi” atau “berkerudung” di bagian atas penis saja.
  • Penis terlihat melengkung ke bawah, terutama saat ereksi. Kondisi ini disebut chordee dan disebabkan oleh jaringan fibrosa yang menarik penis ke bawah.
  • Bentuk kepala penis mungkin terlihat lebih pipih atau memiliki tampilan yang tidak biasa.

Penyebab Hipospadia

Penyebab pasti hipospadia belum sepenuhnya dipahami, namun diperkirakan melibatkan kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Perkembangan uretra yang tidak sempurna terjadi pada trimester pertama kehamilan, biasanya antara minggu ke-8 dan ke-14. Beberapa faktor yang diduga berperan dalam peningkatan risiko hipospadia meliputi:

  • Genetik: Adanya riwayat keluarga dengan hipospadia dapat meningkatkan risiko pada bayi laki-laki.
  • Hormonal: Gangguan pada hormon androgen (hormon laki-laki) selama kehamilan dapat memengaruhi pembentukan uretra. Paparan terhadap zat-zat tertentu yang mengganggu hormon juga diduga memiliki peran.
  • Usia Ibu: Ibu yang hamil di usia lebih tua atau lebih muda dari rentang usia ideal.
  • Paparan Lingkungan: Beberapa penelitian mengindikasikan hubungan dengan paparan pestisida atau bahan kimia tertentu selama kehamilan, meskipun bukti masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Diagnosis Hipospadia

Diagnosis hipospadia biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik saat lahir atau tak lama setelahnya. Dokter akan mengamati lokasi lubang uretra, bentuk penis, dan ada tidaknya chordee. Dalam kebanyakan kasus, tidak diperlukan pemeriksaan tambahan seperti tes pencitraan. Namun, jika ada kekhawatiran tentang kelainan lain atau jika testis tidak turun (kriptorkismus), pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan kondisi lain yang berhubungan dengan kelainan kromosom atau hormonal.

Pengobatan Hipospadia

Penanganan utama hipospadia adalah melalui operasi rekonstruksi. Tujuan operasi adalah untuk memindahkan lubang uretra ke posisi yang benar di ujung penis, meluruskan penis jika ada kelengkungan (chordee), dan memperbaiki penampilan kosmetik penis. Operasi ini biasanya direkomendasikan saat bayi berusia antara 6 hingga 24 bulan, karena pada usia ini risiko anestesi lebih rendah dan anak belum memiliki memori traumatis terkait prosedur. Penundaan operasi hingga anak lebih besar dapat menyebabkan masalah psikologis dan fungsional yang lebih kompleks. Setelah operasi, sebagian besar anak dapat buang air kecil secara normal dan memiliki fungsi reproduksi yang baik di kemudian hari.

Komplikasi Hipospadia Jika Tidak Diobati

Jika hipospadia tidak diobati, dapat timbul berbagai komplikasi yang memengaruhi kualitas hidup penderita, antara lain:

  • Kesulitan Buang Air Kecil: Pancaran urine yang tidak normal dapat menyebabkan urine menyebar atau membasahi celana, menimbulkan masalah kebersihan dan ketidaknyamanan.
  • Infeksi Saluran Kemih: Urine yang tidak mengalir lancar dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih berulang.
  • Masalah Seksual dan Reproduksi: Pada usia dewasa, penis yang melengkung atau lubang uretra yang tidak normal dapat menyebabkan kesulitan saat berhubungan seksual. Dalam kasus yang parah, dapat memengaruhi kesuburan.
  • Masalah Psikologis: Bentuk penis yang tidak normal dapat menyebabkan rasa malu, rendah diri, dan masalah psikologis lainnya.

Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?

Segera konsultasikan dengan dokter anak atau urolog pediatrik jika terdeteksi adanya tanda-tanda hipospadia pada bayi laki-laki. Diagnosis dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang dan memastikan perkembangan normal anak. Dokter akan memberikan penjelasan mengenai kondisi, pilihan pengobatan, dan jadwal operasi yang direkomendasikan.

Jika memiliki kekhawatiran mengenai hipospadia atau kondisi kesehatan lainnya pada anak, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Melalui aplikasi Halodoc, dapat membuat janji dengan dokter spesialis anak atau urolog pediatrik untuk mendapatkan informasi dan penanganan yang akurat.