“Mr. P (penis) patah bisa terjadi saat ada trauma pada penis yang ereksi. Trauma pada penis paling sering disebabkan oleh hubungan intim. Kondisi ini adalah cedera menyakitkan yang biasanya terjadi pada dua pertiga bagian bawah penis.”
DAFTAR ISI
- Bagaimana Penis Bisa Patah Padahal Tidak Ada Tulang?
- Penyebab Utama Penis Patah
- Tanda dan Gejala Fraktur Penis
- Diagnosis dan Pemeriksaan Medis
- Penanganan Medis: Mengapa Operasi Wajib Dilakukan?
- Masa Pemulihan Pasca Operasi
- Komplikasi Jika Terlambat Ditangani
- Studi Terkait Fraktur Penis
- Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pertanyaan mengenai “apakah penis bisa patah” sering kali memicu rasa ngeri sekaligus penasaran di kalangan pria. Jawaban singkatnya adalah: Ya, penis memang bisa patah. Secara medis, kondisi ini dikenal dengan istilah fraktur penis (penile fracture). Ini adalah kondisi gawat darurat urologi yang sangat menyakitkan dan membutuhkan penanganan medis secepat mungkin.
Banyak orang bingung dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin sebuah organ yang sama sekali tidak memiliki tulang di dalamnya bisa mengalami patah? Pada manusia, alat vital pria memang murni terdiri dari jaringan spons, pembuluh darah, dan selaput jaringan ikat, tanpa ada tulang penyokong (baculum) seperti yang dimiliki oleh beberapa mamalia lain. Namun, saat sedang ereksi penuh, penis menjadi sangat kaku karena tekanan darah yang tinggi di dalamnya. Kekakuan inilah yang membuatnya rentan terhadap cedera trauma tumpul atau bengkokan paksa.
Penting untuk dipahami bahwa fraktur penis bukanlah cedera ringan yang bisa diabaikan atau diobati sendiri di rumah. Terlambat mendapatkan penanganan medis dapat berakibat fatal bagi fungsi seksual dan saluran kemih pria di masa depan. Kerusakan permanen seperti disfungsi ereksi (impotensi) hingga kelainan bentuk penis yang parah bisa terjadi jika robekan jaringan tidak segera diperbaiki oleh dokter spesialis urologi.
Nah, mau tahu lebih dalam mengenai anatomi, penyebab, gejala, hingga cara penanganan medis dari kondisi medis darurat ini? Berikut adalah ulasan lengkap mengenai fraktur penis yang wajib kamu ketahui!
Bagaimana Penis Bisa Patah Padahal Tidak Ada Tulang?
Untuk memahami bagaimana penis bisa patah, kita harus melihat terlebih dahulu ke dalam anatomi organ reproduksi pria ini. Di dalam penis, terdapat dua tabung silinder besar yang disebut corpus cavernosum (korpus kavernosum) dan satu tabung yang lebih kecil di bagian bawah bernama corpus spongiosum yang mengelilingi uretra (saluran kencing).
Korpus kavernosum berbentuk seperti spons. Ketika seorang pria terangsang secara seksual, darah akan mengalir deras memenuhi ruang-ruang spons ini. Darah yang masuk akan terjebak di sana, menciptakan tekanan hidrolik yang membuat penis membesar, mengeras, dan menjadi tegak (ereksi).
Masing-masing korpus kavernosum dibungkus oleh sebuah selaput pelindung yang sangat kuat dan elastis bernama tunica albuginea (tunika albuginea). Saat penis sedang lemas (flaksid), tunika albuginea ini sangat tebal (sekitar 2-3 milimeter). Namun, ketika ereksi maksimal, tunika albuginea meregang hingga menjadi sangat tipis, hanya sekitar 0,25 hingga 0,5 milimeter. Karena sangat tipis dan menahan tekanan darah yang sangat tinggi, selaput inilah yang bisa “pecah” atau robek jika penis yang sedang ereksi keras secara tiba-tiba dipaksa bengkok dengan kekuatan besar. Robeknya selaput tunika albuginea inilah yang secara medis didefinisikan sebagai penis patah.
Penyebab Utama Penis Patah
Fraktur penis hampir selalu terjadi ketika penis sedang dalam keadaan ereksi penuh. Sangat jarang cedera ini terjadi saat penis sedang dalam keadaan lemas. Berdasarkan berbagai laporan medis dan kasus di ruang gawat darurat, berikut adalah beberapa penyebab paling umum terjadinya fraktur penis:
1. Hubungan Seksual yang Terlalu Kasar
Ini adalah penyebab nomor satu dari kasus penis patah di seluruh dunia. Posisi hubungan intim tertentu memiliki risiko yang lebih tinggi, terutama posisi “woman on top” (wanita di atas). Dalam posisi ini, jika penis terlepas dari vagina dan secara tidak sengaja membentur tulang panggul (simfisis pubis) pasangan dengan dorongan beban tubuh penuh, penis akan tertekuk secara paksa dan memicu robeknya tunika albuginea. Posisi gaya dorong dari belakang (doggy style) yang terlalu agresif juga memiliki risiko serupa jika terjadi benturan yang salah arah.
2. Masturbasi yang Terlalu Agresif
Masturbasi dengan teknik yang tidak wajar atau terlalu kasar juga bisa memicu tekanan berlebihan pada tunika albuginea. Beberapa pria mungkin secara tidak sadar membengkokkan penis mereka dengan kuat saat mendekati klimaks, yang jika melewati batas elastisitas selaput, akan menyebabkannya robek.
3. Berputar atau Berguling Saat Tidur
Meski jarang, beberapa kasus penis patah dilaporkan terjadi saat seorang pria mengalami ereksi di malam hari (nocturnal penile tumescence) dan tanpa sadar berguling tengkurap di atas kasur dengan posisi penis terlipat atau terjepit di bawah beban tubuhnya sendiri.
4. Kebiasaan “Taqaqa”
Di beberapa budaya Timur Tengah, ada sebuah praktik yang disebut “taqaqa”, di mana pria dengan sengaja membengkokkan penis mereka yang sedang ereksi sampai terdengar bunyi “klik” atau “pop”, mirip dengan membunyikan ruas jari, untuk menghilangkan ereksi dengan cepat. Kebiasaan buruk ini sangat berbahaya dan sering menjadi pemicu fraktur penis.
Tanda Bahaya Medis (Red Flag) Fraktur Penis
- Terdengar bunyi “pop”, “krek”, atau retakan keras dari arah selangkangan.
- Rasa nyeri yang luar biasa dan seketika.
- Ereksi hilang secara tiba-tiba (detumesensi cepat).
- Pembengkakan membesar dengan cepat disertai memar ungu kehitaman (menyerupai terong).
- Kesulitan atau tidak bisa buang air kecil (indikasi saluran kemih ikut robek).
Tanda dan Gejala Fraktur Penis
Gejala penis patah sangat khas dan biasanya tidak mungkin diabaikan karena sifatnya yang sangat dramatis. Gejala klasik yang dialami pasien sesaat setelah kejadian meliputi:
Suara Patahan: Banyak pasien melaporkan mendengar suara patahan, retakan, atau letupan yang jelas terdengar dari arah penis saat insiden terjadi.
Kehilangan Ereksi Seketika: Segera setelah robekan terjadi, tekanan darah di dalam korpus kavernosum hilang. Akibatnya, penis yang tadinya keras akan langsung melemas seketika.
Nyeri Hebat: Robeknya jaringan dan tekanan darah yang tumpah ke jaringan sekitar memicu respons nyeri yang sangat tajam dan melumpuhkan.
Kelainan Bentuk “Terung” (Eggplant Deformity): Karena darah bocor keluar dari tunika albuginea tetapi masih tertahan di bawah lapisan kulit luar penis (fasia Buck), darah akan menumpuk dan membentuk hematoma (kumpulan darah abnormal). Penis akan membengkak hebat, melengkung ke satu sisi yang berlawanan dengan arah robekan, dan warnanya berubah menjadi ungu kehitaman. Kondisi fisik ini sangat mirip dengan sayuran terung.
Pendarahan Uretra: Pada sekitar 10-20% kasus, cedera tidak hanya merobek tunika albuginea tetapi juga merobek uretra (saluran tempat keluarnya urine dan air mani). Jika ini terjadi, akan terlihat darah menetes dari lubang kencing, atau pria tersebut akan merasa sangat kesakitan dan tidak bisa buang air kecil.
Diagnosis dan Pemeriksaan Medis
Jika kamu atau pasangan mengalami tanda-tanda di atas, jangan menunda, segera pergi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat. Fraktur penis adalah keadaan darurat medis.
Di rumah sakit, diagnosis biasanya dapat langsung ditegakkan oleh dokter bedah urologi hanya melalui pemeriksaan fisik dasar dan mendengarkan riwayat kejadian pasien. Pembengkakan ungu yang khas (eggplant sign) sudah sangat cukup bagi dokter untuk mencurigai adanya fraktur penis.
Namun, dalam beberapa kasus di mana pembengkakan sangat luas atau dokter mencurigai adanya kerusakan tambahan pada uretra, pemeriksaan penunjang mungkin diperlukan, seperti:
- USG (Ultrasonografi) Penis: Ini adalah metode pencitraan lini pertama yang cepat, tidak invasif, dan cukup akurat untuk mengidentifikasi lokasi pasti robekan pada tunika albuginea.
- MRI (Magnetic Resonance Imaging): MRI adalah standar emas (gold standard) karena memberikan gambaran jaringan lunak yang sangat detail. Namun, karena membutuhkan waktu lama dan biaya mahal, jarang digunakan di situasi IGD darurat kecuali kasusnya benar-benar meragukan.
- Uretrografi Retrograd: Jika ada darah di ujung lubang kencing, dokter akan menyuntikkan cairan kontras ke dalam uretra dan melakukan rontgen untuk melihat apakah saluran kemih bocor dan ikut robek.
Sebagai langkah awal pencegahan kepanikan, jika kamu memiliki pertanyaan seputar kesehatan reproduksi atau keluhan organ intim lainnya yang belum masuk kategori darurat, kamu bisa langsung konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapat arahan yang akurat dari spesialis.
Penanganan Medis: Mengapa Operasi Wajib Dilakukan?
Di masa lalu, beberapa dokter mencoba melakukan perawatan konservatif untuk kasus ini (seperti kompres es, perban tekan, obat pereda nyeri, dan kateterisasi) tanpa operasi pembedahan. Namun, studi modern membuktikan bahwa perawatan tanpa operasi sangat sering berakhir buruk. Pasien berisiko tinggi mengalami disfungsi ereksi permanen, penis bengkok parah akibat jaringan parut, dan nyeri kronis saat mencoba ereksi.
Oleh karena itu, standar penanganan emas saat ini adalah operasi eksplorasi pembedahan segera, idealnya dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kejadian cedera.
Tujuan dari operasi ini adalah untuk:
- Mengevakuasi dan membersihkan tumpukan darah (hematoma) agar tekanan pada jaringan berkurang.
- Mencari titik robekan pada tunika albuginea.
- Menjahit kembali jaringan tunika albuginea yang robek menggunakan benang bedah khusus yang dapat diserap tubuh.
- Memperbaiki saluran uretra jika ternyata ikut terputus.
Tingkat keberhasilan operasi sangat tinggi jika dilakukan secepat mungkin. Lebih dari 90% pria yang langsung dioperasi dapat kembali mendapatkan fungsi ereksi normal tanpa komplikasi berarti.
Masa Pemulihan Pasca Operasi
Masa pemulihan dari operasi fraktur penis membutuhkan kesabaran. Pria akan diminta untuk menjalani rawat inap selama beberapa hari. Selama masa ini, dokter biasanya akan memasang kateter urine untuk mengistirahatkan uretra dan mencegah urine mengenai area jahitan internal.
Setelah diizinkan pulang, ada aturan ketat yang tidak boleh dilanggar oleh pasien: Dilarang keras melakukan aktivitas seksual (termasuk masturbasi) setidaknya selama 4 hingga 6 minggu. Jaringan tunika albuginea membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyatu kembali dan menjadi kuat. Memaksa penis ereksi atau melakukan aktivitas seksual terlalu cepat dapat membuat jahitan jebol dan operasi harus diulang kembali.
Ereksi spontan di malam atau pagi hari selama masa pemulihan mungkin akan terasa nyeri. Dokter biasanya akan meresepkan obat-obatan penekan ereksi sementara (seperti diazepam atau obat penenang ringan) atau menyarankan pasien untuk menempelkan kompres dingin ke area paha dalam untuk meredakan ereksi secara refleks.
Setelah masa rawat inap, biasanya dokter membekali resep obat pereda nyeri dan antibiotik untuk mencegah infeksi luka operasi. Untuk menebus resep tersebut secara praktis, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.
Komplikasi Jika Terlambat Ditangani
Mengabaikan penis patah karena rasa malu untuk pergi ke rumah sakit adalah kesalahan terbesar. Keterlambatan diagnosis dan operasi meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang yang sangat menurunkan kualitas hidup pria, antara lain:
1. Disfungsi Ereksi (Impotensi)
Jika robekan dibiarkan menyembuh sendiri, pembuluh darah di dalam penis mungkin kehilangan kemampuannya untuk menjebak darah. Akibatnya, pria tidak akan bisa mempertahankan ereksi yang cukup keras untuk melakukan penetrasi seksual (kebocoran vena okklusif).
2. Penyakit Peyronie (Peyronie’s Disease)
Tubuh akan membentuk jaringan parut yang tebal dan kaku di lokasi robekan saat mencoba menyembuhkan dirinya sendiri. Jaringan parut ini tidak elastis. Saat pria ereksi, bagian yang terdapat jaringan parut tidak bisa memanjang, menyebabkan penis melengkung tajam ke satu arah. Lengkungan ini bisa sangat ekstrem hingga membuat hubungan seksual mustahil dilakukan tanpa rasa sakit yang menyiksa.
3. Fistula Uretra
Jika kerusakan saluran kemih tidak dijahit, urine bisa bocor ke jaringan sekitar atau membentuk terowongan abnormal ke kulit luar, menyebabkan infeksi saluran kemih kronis hingga kerusakan jaringan penis luar.
Studi Terkait Fraktur Penis
Sejumlah literatur urologi modern telah meneliti hasil jangka panjang dari pasien yang mengalami penis patah. Sebuah studi komprehensif yang diterbitkan dalam International Journal of Impotence Research pada tahun 2020 menganalisis dampak waktu pembedahan terhadap fungsi ereksi pria.
Studi tersebut dengan tegas menyatakan bahwa pasien yang menjalani operasi perbaikan (surgical repair) dalam jendela waktu 24 jam pertama paska trauma memiliki tingkat pemulihan fungsi ereksi penuh hingga 92%. Sebaliknya, kelompok pasien yang menunda ke rumah sakit hingga lebih dari 48 jam atau hanya menjalani perawatan konservatif, menunjukkan angka komplikasi penyakit Peyronie dan disfungsi ereksi organik yang mencapai lebih dari 50%. Hal ini menekankan bahwa edukasi masyarakat mengenai urgensi kondisi ini sangat diperlukan guna meminimalisir rasa malu yang sering menghalangi pria mencari bantuan darurat.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Urological Association. Diakses pada 2024. Penile Trauma.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Is it possible to fracture your penis?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Penile Fracture: Symptoms, Causes & Treatment.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Penile Fracture: Diagnosis and Management.
International Journal of Impotence Research. Diakses pada 2024. Long-term outcomes of surgical repair for penile fracture.
FAQ
1. Apakah penis bisa patah meskipun tidak ada tulang di dalamnya?
Ya, bisa. Istilah “patah” di sini merujuk pada robeknya selaput tunika albuginea, yaitu lapisan jaringan ikat tebal yang membungkus ruang silinder spons (korpus kavernosum) di dalam penis. Robekan ini terjadi saat penis sedang ereksi penuh dan mendapat tekanan atau bengkokan yang sangat kuat.
2. Apa yang harus saya lakukan jika curiga mengalami penis patah saat berhubungan intim?
Hentikan aktivitas seksual seketika. Jangan mencoba meluruskan penis, memijatnya, atau menahannya. Segera kenakan pakaian longgar dan langsung berangkat ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat. Kamu juga bisa menggunakan kompres es batu yang dibalut handuk secara perlahan selama perjalanan untuk mengurangi bengkak, tetapi operasi medis adalah hal yang mutlak diperlukan.
3. Apakah fungsi seksual dan ereksi saya bisa kembali normal setelah dioperasi?
Sebagian besar pria bisa kembali mendapatkan fungsi ereksi yang normal seperti sedia kala jika operasi perbaikan dilakukan secepat mungkin, idealnya di bawah 24 jam. Namun, jika penanganan medis ditunda berhari-hari, risiko terjadinya impotensi permanen dan penis melengkung (penyakit Peyronie) akan semakin besar.
4. Berapa lama saya harus puasa berhubungan seks setelah operasi fraktur penis?
Dokter urologi umumnya akan mewajibkan puasa aktivitas seksual, termasuk masturbasi, selama 4 hingga 6 minggu penuh paska operasi. Hal ini sangat krusial agar jahitan di selaput bagian dalam penis benar-benar menyatu dan kuat menahan tekanan darah ereksi di kemudian hari.



