• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Hubungan Adopsi dan Kesehatan Mental Anak

Inilah Hubungan Adopsi dan Kesehatan Mental Anak

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Pengalaman masa kecil setiap orang berbeda-beda. Tidak selalu mulus dan bahagia, sudah pasti. Namun, ada juga beberapa yang masa kanak-kanaknya dihiasi kesedihan dan trauma yang mendalam. Misalnya, kehilangan atau ditinggal orangtua, lalu menjalani kehidupan di panti asuhan, hingga ada yang mengadopsi. 

Jika beruntung, anak yang diadopsi mungkin akan bertemu orangtua angkat yang mencintai dan membesarkannya dengan baik. Namun, ada kalanya juga kenyataan tak semanis itu, atau mungkin trauma yang dimiliki anak terlalu dalam, hingga terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, kesehatan mental menjadi isu yang tak terelakkan.

Baca juga: Seberapa Besar Pengaruh Pola Pikir Ibu Terhadap Anak?

Kesehatan Mental Anak Diadopsi

Isu tentang kesehatan mental remaja memang selalu mengundang banyak perhatian. Mengingat tren kecemasan dan depresi yang lebih rentan terjadi pada usia remaja. Salah satu kelompok remaja yang baru-baru ini diteliti adalah remaja “pasca-institusional”, yaitu remaja yang dibesarkan sejak bayi atau anak-anak, di panti asuhan, sebelum akhirnya diadopsi. 

Penelitian yang dilakukan oleh Gunnar, M.R., dan rekan, yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences ini mengungkapkan bahwa, tumbuh di panti asuhan dapat menghambat tumbuh kembang anak, karena lembaga tersebut seringkali kekurangan sumber daya, sehingga anak-anak kurang terawat dengan baik. 

Dalam studinya, para peneliti juga mempelajari efek adopsi dan pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, terhadap kesehatan mentalnya di kemudian hari. Hasilnya, ditemukan bahwa anak-anak yang tumbuh di institusi atau panti asuhan, memiliki kecenderungan untuk mengalami kesulitan fisik dan emosional, seperti ADHD, perilaku agresif, dan gangguan kecemasan. 

Baca juga: Hubungan Ayah dan Anak Renggang, Ibu Lakukan Ini

Temuan Baru yang Jadi Angin Segar

Dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan pada 2019, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Megan Gunnar dari University of Minnesota menyelidiki apakah remaja pasca-institusionalisasi mengalami perubahan dalam fungsi HPA Axis (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal) dan tingkat kortisol, ketika mereka memasuki masa pubertas. 

Dalam studinya, para peneliti mempelajari 218 anak antara usia 7 dan 15 tahun yang diadopsi sebelum usia 5 tahun, dari perawatan yang dilembagakan atau tidak memiliki riwayat adopsi. Karena tertarik memantau perubahan kortisol dari waktu ke waktu, para peneliti menilai tahap pubertas dan respons stres anak-anak selama dua tahun. 

Hasilnya, reaktivitas HPA di masa kecil tidak selalu menunjukkan risiko gangguan kesehatan mental pada anak di kemudian hari. Pada remaja pasca-institusional yang saat ini tinggal di lingkungan rumah yang positif, kadar kortisol umumnya meningkat secara nyata ketika mereka memasuki dan menjadi dewasa melalui masa pubertas. 

Baca juga: Usia yang Tepat untuk Mulai Pendidikan Seks pada Anak

Jadi, remaja yang diberikan lingkungan hidup yang positif dan stabil oleh keluarga angkat mereka, seperti pengasuhan yang penuh kasih sayang dan sumber daya yang memadai, menjalani proses "pembaruan" alami dalam HPA Axis mereka. Dengan begitu, keluarga angkat dapat memainkan peran transformatif yang luar biasa, dalam memberikan kesempatan terbaik bagi anak-anak pasca-institusional, untuk masa depan mereka yang positif. 

Dukungan orangtua dan lingkungan rumah yang mendukung sangat penting bagi kesehatan mental remaja, sepanjang masa muda mereka. Meski pubertas memang dapat menjadi masa ketidakpastian dan tekanan yang luar biasa bagi mereka, penelitian baru ini menunjukkan bahwa itu juga bisa menjadi periode transformasi yang dapat memberikan masa depan yang lebih sehat bagi remaja yang memiliki masa lalu traumatis. 

Namun, jika memang ada indikasi gangguan kesehatan mental dan perilaku pada remaja, meminta bantuan pada ahli bisa jadi solusi. Agar lebih mudah dan cepat, kamu bisa download dan gunakan aplikasi Halodoc, kapan pun kamu butuh berbicara dengan psikolog

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. Our Past May Not Be Our Future: Adoption and Mental Health.