Ad Placeholder Image

Hypermobility: Bukan Sekadar Sendi Ganda Biasa Lho!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   27 April 2026

Hypermobility: Sendi Luwes, Sebenarnya Apa?

Hypermobility: Bukan Sekadar Sendi Ganda Biasa Lho!Hypermobility: Bukan Sekadar Sendi Ganda Biasa Lho!

Hipermobilitas, yang sering disebut sebagai “sendi ganda”, adalah kondisi di mana sendi-sendi tertentu dalam tubuh memiliki rentang gerak yang lebih besar daripada rentang gerak normal. Kondisi ini disebabkan oleh ligamen, yaitu jaringan ikat yang menyambungkan tulang, menjadi lebih elastis atau longgar. Meskipun seringkali tidak menimbulkan masalah serius bagi sebagian orang, hipermobilitas dapat memicu gejala nyeri, cedera, hingga gangguan sistemik seperti kelelahan dan masalah pencernaan.

Apabila hipermobilitas disertai dengan gejala-gejala yang mengganggu kualitas hidup, kondisi ini dikenal sebagai Sindrom Hipermobilitas Sendi (JHS) atau Sindrom Hipermobilitas. Memahami perbedaan antara hipermobilitas dan sindrom hipermobilitas menjadi kunci untuk penanganan yang tepat.

Apa Itu Hipermobilitas Sendi?

Secara sederhana, hipermobilitas adalah fleksibilitas sendi yang melebihi batas rata-rata. Sendi-sendi seperti siku, lutut, jari, bahu, atau pinggul dapat ditekuk atau diregangkan melampaui posisi normal.

Kondisi ini umumnya merupakan variasi genetik yang diturunkan dalam keluarga. Banyak atlet, penari, atau seniman sirkus memiliki hipermobilitas yang justru menjadi keunggulan dalam aktivitas mereka.

Penyebab Hipermobilitas

Penyebab utama hipermobilitas adalah struktur ligamen yang lebih longgar dan elastis. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini meliputi:

  • Genetika: Hipermobilitas sering kali diturunkan dalam keluarga. Gen yang memengaruhi produksi kolagen, protein utama dalam jaringan ikat, berperan penting.
  • Struktur Kolagen: Beberapa individu memiliki kolagen dengan struktur yang lebih fleksibel, membuat ligamen dan jaringan ikat lainnya menjadi lebih elastis.
  • Bentuk Tulang: Bentuk ujung tulang yang membentuk sendi juga dapat memengaruhi rentang geraknya. Beberapa orang mungkin memiliki soket sendi yang lebih dangkal.
  • Tonus Otot: Kekuatan dan tonus otot di sekitar sendi juga bisa memengaruhi. Otot yang lemah dapat membuat sendi terasa lebih longgar.

Penting untuk dicatat bahwa hipermobilitas bukan penyakit, melainkan karakteristik fisik.

Gejala Sindrom Hipermobilitas Sendi (JHS)

Ketika hipermobilitas mulai menyebabkan masalah, ia berkembang menjadi Sindrom Hipermobilitas Sendi (JHS). Gejala JHS dapat bervariasi dan memengaruhi berbagai sistem tubuh:

  • Nyeri Sendi dan Otot: Nyeri dapat terjadi di satu atau beberapa sendi, seringkali memburuk setelah beraktivitas fisik atau berdiri lama.
  • Mudah Cedera: Sendi yang terlalu fleksibel lebih rentan terhadap terkilir, subluksasi (sendi bergeser sebagian), atau dislokasi (sendi lepas dari soketnya).
  • Kelelahan Kronis: Banyak penderita JHS mengalami kelelahan yang tidak dapat dijelaskan, bahkan setelah istirahat cukup.
  • Gangguan Pencernaan: Masalah seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) atau refluks asam sering dikaitkan dengan JHS.
  • Masalah Kulit: Kulit mungkin terasa sangat lembut, elastis, atau mudah memar.
  • Gangguan Keseimbangan: Sensasi pusing atau masalah keseimbangan dapat muncul.
  • Kecemasan dan Depresi: Masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi lebih umum pada individu dengan JHS.

Diagnosis Hipermobilitas Sendi

Diagnosis hipermobilitas dan JHS umumnya dilakukan melalui pemeriksaan fisik. Dokter akan mengevaluasi rentang gerak sendi menggunakan kriteria tertentu, seperti skala Beighton. Skala ini menilai fleksibilitas sembilan sendi.

Untuk mendiagnosis JHS, dokter tidak hanya melihat skor Beighton tetapi juga mempertimbangkan keberadaan gejala lain yang mengganggu, riwayat medis pasien, dan menyingkirkan kondisi lain yang mungkin memiliki gejala serupa.

Penanganan dan Manajemen Hipermobilitas

Penanganan hipermobilitas bertujuan untuk mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup, terutama bagi penderita JHS. Strategi penanganan meliputi:

  • Fisioterapi: Latihan yang fokus pada penguatan otot di sekitar sendi untuk memberikan stabilitas. Fisioterapi juga mengajarkan cara bergerak yang aman dan menghindari posisi sendi yang ekstrem.
  • Obat Pereda Nyeri: Dokter dapat meresepkan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau pereda nyeri lainnya untuk mengatasi nyeri sendi.
  • Terapi Okupasi: Membantu adaptasi aktivitas sehari-hari agar tidak memperparah sendi.
  • Perubahan Gaya Hidup: Hindari aktivitas yang membebani sendi secara berlebihan. Kenakan alas kaki yang mendukung dan gunakan alat bantu jika diperlukan.
  • Manajemen Kelelahan: Tidur yang cukup, pola makan seimbang, dan teknik relaksasi dapat membantu mengatasi kelelahan.
  • Dukungan Psikologis: Konseling atau terapi dapat membantu mengelola kecemasan atau depresi yang mungkin menyertai JHS.

Pencegahan Komplikasi Hipermobilitas

Meskipun hipermobilitas sendiri tidak dapat dicegah, komplikasi dari JHS dapat diminimalisir dengan manajemen yang tepat:

  • Pertahankan Berat Badan Ideal: Mengurangi beban pada sendi.
  • Latihan Rutin yang Tepat: Fokus pada penguatan otot tanpa membebani sendi. Hindari olahraga yang melibatkan gerakan ekstrim atau berisiko tinggi.
  • Perhatikan Postur Tubuh: Jaga postur tubuh yang baik saat duduk, berdiri, dan bergerak.
  • Hindari Peregangan Berlebihan: Meskipun sendi sangat fleksibel, hindari dorongan untuk meregangkan sendi hingga batas maksimal yang dapat memicu cedera.
  • Kenakan Perlindungan Sendi: Jika diperlukan, gunakan pelindung sendi saat berolahraga atau beraktivitas.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter Mengenai Hipermobilitas?

Jika mengalami nyeri sendi yang persisten, mudah terkilir, kelelahan yang tidak dapat dijelaskan, atau gejala lain yang mengganggu kualitas hidup, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu mengelola kondisi serta mencegah komplikasi lebih lanjut.

Dokter di Halodoc dapat memberikan diagnosis akurat dan rencana perawatan yang disesuaikan dengan kondisi. Platform ini menyediakan akses mudah untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis, mendapatkan resep, dan bahkan membeli obat.