ICD 10 Hiperurisemia: Kode & Gejala Asam Urat Tinggi

Ringkasan: ICD 10 hiperurisemia adalah kode medis internasional E79.0 yang merujuk pada kondisi kadar asam urat tinggi dalam darah tanpa gejala arthritis inflamasi atau penyakit tofi. Diagnosis ini didasarkan pada hasil laboratorium yang menunjukkan kadar asam urat melebihi batas normal akibat gangguan metabolisme purin.
Daftar Isi:
Apa Itu ICD 10 Hiperurisemia?
ICD 10 hiperurisemia adalah sistem klasifikasi penyakit internasional yang menggunakan kode E79.0 untuk mengidentifikasi kondisi hiperurisemia tanpa tanda-tanda arthritis inflamasi atau penyakit tofi. Kode ini digunakan oleh tenaga medis di seluruh dunia untuk standarisasi diagnosis, pengolahan data statistik kesehatan, dan keperluan administrasi medis atau asuransi.
Hiperurisemia merupakan kondisi medis yang ditandai dengan peningkatan kadar asam urat (uric acid) di dalam darah. Asam urat adalah zat sisa hasil pemecahan purin, yaitu senyawa alami yang ditemukan dalam sel tubuh serta beberapa jenis makanan. Dalam kondisi normal, asam urat larut dalam darah, melewati ginjal, dan dikeluarkan melalui urine.
Peningkatan kadar ini terjadi ketika tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat atau ketika ginjal tidak mampu membuangnya secara efisien. Secara medis, seseorang dinyatakan mengalami hiperurisemia jika kadar asam urat dalam darah berada di atas 7,0 mg/dL untuk laki-laki dan di atas 6,0 mg/dL untuk perempuan.
Gejala Hiperurisemia
Gejala hiperurisemia sering kali tidak muncul secara nyata pada tahap awal, sehingga kondisi ini kerap disebut sebagai asimtomatik atau tanpa gejala. Pasien mungkin memiliki kadar asam urat tinggi selama bertahun-tahun tanpa merasakan keluhan fisik apa pun hingga terjadi penumpukan kristal urat pada jaringan tubuh.
Meskipun sering tanpa gejala, akumulasi asam urat yang berkepanjangan dapat memicu manifestasi klinis yang signifikan. Berikut adalah beberapa kondisi yang muncul akibat hiperurisemia yang tidak terkontrol:
- Nyeri sendi hebat yang muncul secara tiba-tiba (serangan gout).
- Pembengkakan, kemerahan, dan rasa panas pada area sendi, terutama ibu jari kaki.
- Terbentuknya benjolan keras di bawah kulit yang disebut tofi (tophus).
- Terbentuknya batu ginjal yang ditandai dengan nyeri pinggang atau darah pada urine.
- Kekakuan sendi yang membatasi ruang gerak.
“Hiperurisemia asimtomatik sering kali mendahului timbulnya arthritis gout akut dan berkaitan erat dengan komponen sindrom metabolik lainnya.” — World Health Organization, 2023
Penyebab Kadar Asam Urat Tinggi
Penyebab kadar asam urat tinggi dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu faktor primer dan sekunder. Faktor primer berkaitan dengan kelainan genetik dalam metabolisme purin, sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh gaya hidup, kondisi kesehatan tertentu, atau penggunaan obat-obatan yang memengaruhi fungsi ginjal.
Ginjal memegang peranan krusial dalam ekskresi asam urat. Sekitar dua pertiga asam urat dibuang melalui ginjal, sementara sisanya melalui saluran pencernaan. Jika mekanisme pembuangan ini terganggu, kadar asam urat dalam sirkulasi darah akan meningkat secara drastis.
Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya hiperurisemia meliputi:
- Konsumsi makanan tinggi purin seperti jeroan, daging merah, dan makanan laut.
- Konsumsi minuman beralkohol atau minuman tinggi pemanis fruktosa.
- Kondisi medis seperti obesitas, diabetes melitus, dan hipertensi.
- Gangguan fungsi ginjal kronis yang menghambat filtrasi asam urat.
- Penggunaan obat-obatan diuretik tertentu dalam jangka panjang.
- Paparan zat toksin seperti timbal.
Bagaimana Diagnosis Hiperurisemia?
Diagnosis hiperurisemia ditegakkan melalui prosedur pemeriksaan laboratorium darah untuk mengukur konsentrasi asam urat secara akurat. Tenaga medis menggunakan kode ICD 10 E79.0 jika hasil tes menunjukkan kadar tinggi namun pasien belum menunjukkan tanda-tanda peradangan sendi atau pembentukan tofi pada pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk mengevaluasi dampak hiperurisemia pada organ tubuh lainnya. Dokter dapat melakukan urinalisis atau tes urine 24 jam untuk memantau seberapa banyak asam urat yang dikeluarkan oleh ginjal setiap harinya.
Dalam kasus di mana terdapat pembengkakan sendi, dokter mungkin melakukan aspirasi cairan sendi. Prosedur ini bertujuan untuk mencari adanya kristal monosodium urat di bawah mikroskop. Jika terdapat kecurigaan batu ginjal, pemeriksaan radiologi seperti USG ginjal atau CT scan dapat dilakukan untuk mengonfirmasi keberadaan kristal urat di saluran kemih.
Pengobatan dan Penanganan Medis
Pengobatan hiperurisemia berfokus pada penurunan kadar asam urat darah untuk mencegah komplikasi seperti arthritis gout dan kerusakan ginjal. Penanganan medis mencakup modifikasi gaya hidup secara agresif serta pemberian obat-obatan penurun asam urat sesuai dengan indikasi klinis dan kondisi kesehatan penyerta.
Pada tahap asimtomatik, dokter biasanya lebih mengutamakan intervensi non-farmakologis. Namun, jika pasien memiliki risiko tinggi terkena penyakit ginjal kronis atau sudah mengalami serangan nyeri sendi berulang, terapi obat akan dimulai untuk menjaga kadar asam urat di bawah ambang batas target.
Metode pengobatan yang umum dilakukan meliputi:
- Pemberian obat penghambat xanthine oxidase seperti allopurinol untuk menekan produksi asam urat.
- Pemberian obat urikosurik untuk meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urine.
- Konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) untuk meredakan nyeri jika terjadi serangan akut.
- Peningkatan asupan cairan untuk membantu proses filtrasi oleh ginjal.
- Penurunan berat badan secara bertahap bagi penderita obesitas.
Pencegahan Hiperurisemia
Pencegahan hiperurisemia dapat dilakukan dengan mengelola asupan makanan dan menjaga metabolisme tubuh tetap optimal. Langkah utama adalah membatasi makanan yang mengandung purin tinggi dan menghindari zat-zat yang dapat menghambat ekskresi asam urat oleh ginjal dalam kehidupan sehari-hari.
Aktivitas fisik secara rutin juga berperan penting dalam mengontrol berat badan dan meningkatkan sensitivitas insulin. Kondisi resistensi insulin diketahui berhubungan erat dengan penurunan pembuangan asam urat di ginjal, sehingga olahraga teratur secara tidak langsung membantu menjaga kadar asam urat tetap stabil.
“Penerapan pola makan rendah purin dan hidrasi yang cukup merupakan pilar utama dalam pencegahan primer kenaikan kadar asam urat pada populasi berisiko.” — Kementerian Kesehatan RI, 2024
Langkah preventif yang disarankan meliputi konsumsi air putih minimal 2 liter per hari dan meningkatkan asupan sayuran rendah purin. Menghindari minuman manis yang mengandung sirup jagung tinggi fruktosa juga sangat direkomendasikan karena fruktosa dapat memicu percepatan metabolisme purin dalam tubuh.
Kapan Harus ke Dokter?
Seseorang disarankan untuk segera menemui dokter jika hasil pemeriksaan rutin menunjukkan kadar asam urat di atas normal, meskipun belum merasakan keluhan fisik. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kerusakan permanen pada sendi dan gangguan fungsi filtrasi ginjal yang lebih serius.
Gejala darurat yang memerlukan penanganan medis segera meliputi nyeri sendi yang sangat hebat hingga tidak dapat berjalan, demam yang menyertai pembengkakan sendi, serta nyeri pinggang yang tajam dan hilang timbul (kolik renal). Konsultasi medis memungkinkan pasien mendapatkan rencana terapi yang tepat sesuai dengan kode diagnosis ICD 10 hiperurisemia.
Kesimpulan
ICD 10 hiperurisemia dengan kode E79.0 menggambarkan kondisi medis serius yang memerlukan perhatian meskipun sering kali tidak menunjukkan gejala awal. Penumpukan asam urat yang tidak terkendali dapat menyebabkan komplikasi berat seperti arthritis gout, tofi, hingga gagal ginjal kronis. Pengelolaan mandiri melalui diet rendah purin dan pemeriksaan laboratorium berkala sangat diperlukan untuk menjaga kualitas hidup penderita. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.



