Ad Placeholder Image

ICD Colic Abdomen: Kode, Penyebab dan Cara Mengatasi

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   10 Juni 2026

ICD Colic Abdomen: Kode, Penyebab, & Cara Mengatasi

ICD Colic Abdomen: Kode, Penyebab dan Cara MengatasiICD Colic Abdomen: Kode, Penyebab dan Cara Mengatasi

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu atau orang terdekat mengalami nyeri hebat yang muncul tiba-tiba di area pinggang hingga menjalar ke selangkangan? Kondisi ini sering kali digambarkan sebagai salah satu nyeri paling intens yang bisa dialami manusia. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai colic renal atau kolik renal. Gejala ini merupakan tanda adanya sumbatan pada saluran kemih, biasanya akibat batu ginjal.

Bagi tenaga medis dan sistem administrasi kesehatan, kondisi ini diklasifikasikan menggunakan kode tertentu yang disebut ICD 10. Memahami klasifikasi ini penting untuk memastikan diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat. Karena nyeri kolik renal sering kali bersifat darurat dan memerlukan penanganan medis segera, deteksi dini sangat krusial untuk mencegah kerusakan ginjal yang lebih serius.

Nyeri kolik renal tidak boleh dianggap remeh. Tanpa penanganan yang tepat, penyumbatan saluran kemih dapat menyebabkan infeksi hingga gagal ginjal. Oleh karena itu, jika kamu mengalami gejala yang mengarah pada kondisi ini, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja.

Nah, mau tahu apa saja informasi lengkap mengenai ICD 10 colic renal, penyebab, hingga cara mengatasinya? Berikut ulasannya!

Apa Itu ICD 10 Colic Renal?

ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision) adalah sistem klasifikasi kode diagnosis yang digunakan secara internasional oleh WHO. Untuk kondisi kolik renal, kode yang umum digunakan adalah N23.

Kode N23 secara spesifik merujuk pada “Unspecified renal colic”. Artinya, kode ini digunakan ketika seorang pasien datang dengan keluhan nyeri kolik pada ginjal atau ureter, namun penyebab spesifiknya (seperti jenis batu tertentu) belum dikonfirmasi secara detail melalui pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Jika batu tersebut sudah teridentifikasi lokasinya, kodenya bisa berubah menjadi N20 (batu ginjal dan ureter).

Penting bagi kita untuk mengetahui kode ini karena biasanya akan tercantum dalam surat rujukan, resume medis, atau klaim asuransi kesehatan. Dengan mengetahui kode ICD 10 colic renal, koordinasi antar tenaga medis dalam menangani pasien menjadi lebih efisien.

Gejala Khas Nyeri Kolik Renal

Kolik renal memiliki karakteristik nyeri yang sangat khas. Nyeri ini terjadi akibat adanya gelombang peristaltik (gerakan meremas) dari saluran ureter yang berusaha mendorong sumbatan, biasanya berupa batu, keluar menuju kandung kemih.

Beberapa gejala yang sering dilaporkan meliputi:

  • Nyeri Tajam yang Hilang Timbul: Nyeri biasanya terasa sangat intens selama 20 hingga 60 menit, kemudian mereda perlahan sebelum akhirnya muncul kembali.
  • Lokasi Nyeri: Nyeri dimulai dari pinggang belakang (area flank) di bawah tulang rusuk, menjalar ke perut bagian bawah, hingga ke area kemaluan atau selangkangan.
  • Hematuria: Adanya darah dalam urine, yang bisa terlihat secara kasat mata (urine berwarna kemerahan) atau hanya terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium.
  • Gejala Gastrointestinal: Mual dan muntah sering menyertai nyeri karena adanya hubungan saraf antara ginjal dan saluran pencernaan.
  • Gangguan Berkemih: Merasa ingin buang air kecil terus-menerus (urgensi) atau merasa nyeri saat berkemih (disuria).

Penyebab Utama Colic Renal

Penyebab paling umum dari kolik renal adalah adanya batu saluran kemih (urolitiasis). Namun, secara medis, kolik renal bisa dipicu oleh beberapa kondisi berikut:

1. Batu Ginjal (Nefrolitiasis)

Kristal mineral yang mengeras di dalam ginjal dapat berpindah ke ureter (saluran sempit yang menghubungkan ginjal dan kandung kemih). Jika ukuran batu lebih besar dari diameter ureter, ia akan tersangkut dan menyebabkan tekanan balik cairan ke ginjal, memicu nyeri hebat.

2. Gumpalan Darah

Adanya perdarahan di saluran kemih bagian atas dapat membentuk gumpalan darah yang cukup besar untuk menyumbat ureter, memicu sensasi nyeri yang sama dengan batu ginjal.

3. Penyempitan Ureter (Struktur)

Jaringan parut akibat operasi sebelumnya atau infeksi kronis dapat menyebabkan saluran ureter menyempit, sehingga menghambat aliran urine dan memicu kolik.

4. Tumor atau Massa

Meskipun lebih jarang, adanya massa atau tumor di dalam atau di sekitar saluran kemih dapat menekan ureter dan menyebabkan gejala kolik.

Pemicu Pembentukan Batu Ginjal
  1. Kurang asupan cairan harian (dehidrasi kronis).
  2. Konsumsi tinggi garam, protein hewani, atau oksalat (seperti bayam, kacang-kacangan).
  3. Riwayat keluarga dengan kondisi batu ginjal.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Siapa saja bisa mengalami kolik renal, namun ada kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi:

  • Jenis Kelamin: Pria cenderung lebih sering mengalami batu ginjal dibandingkan wanita.
  • Usia: Umumnya terjadi pada usia produktif antara 20 hingga 50 tahun.
  • Obesitas: Indeks massa tubuh yang tinggi sering dikaitkan dengan perubahan kimiawi dalam urine yang memicu pembentukan kristal.
  • Kondisi Medis Tertentu: Penyakit seperti hiperparatiroidisme, infeksi saluran kemih (ISK) berulang, dan asam urat tinggi (gout) meningkatkan risiko kolik renal.

Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Ketika seseorang datang dengan kode ICD 10 colic renal (N23), dokter akan melakukan serangkaian evaluasi untuk memastikan penyebab pastinya:

  • Anamnesis: Menanyakan riwayat nyeri, pola berkemih, dan riwayat kesehatan keluarga.
  • Pemeriksaan Fisik: Melakukan ketok ginjal (nyeri ketok CVA) untuk melihat respon nyeri di area pinggang.
  • Urinalisis: Memeriksa adanya darah, sel darah putih (tanda infeksi), atau kristal dalam urine.
  • Pencitraan (Imaging): Ini adalah langkah paling krusial. CT Scan Non-Kontras (CT-KUB) adalah standar emas untuk mendeteksi lokasi dan ukuran batu. Alternatif lain adalah USG ginjal bagi ibu hamil atau mereka yang harus menghindari radiasi.

Penanganan dan Pengobatan

Penanganan kolik renal difokuskan pada dua hal utama: meredakan nyeri dan menghilangkan sumbatan.

1. Manajemen Nyeri

Nyeri kolik renal sangat sulit diredakan dengan istirahat saja. Dokter biasanya akan memberikan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) melalui suntikan atau obat minum yang kuat untuk mengurangi peradangan dan nyeri. Jika nyeri sangat parah, obat golongan opioid mungkin diperlukan di bawah pengawasan ketat.

2. Hidrasi dan Terapi Ekspulsif Medikamentosa

Jika ukuran batu kecil (biasanya di bawah 5 mm), dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk minum banyak air putih dan memberikan obat yang membantu merelaksasi otot ureter agar batu bisa keluar sendiri melalui urine. Kamu juga bisa beli obat online di Halodoc untuk membantu proses pemulihan sesuai anjuran dokter.

3. Prosedur Medis (Jika Batu Besar)

Jika batu terlalu besar untuk keluar sendiri atau terjadi infeksi, tindakan medis diperlukan:

  • ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy): Menggunakan gelombang kejut untuk menghancurkan batu menjadi pecahan kecil.
  • URS (Ureteroscopy): Memasukkan alat tipis melalui saluran kemih untuk mengambil atau menghancurkan batu.
  • PCNL (Percutaneous Nephrolithotomy): Operasi kecil melalui sayatan di punggung untuk mengambil batu ginjal yang besar.
Tips Mencegah Kekambuhan Colic Renal
  1. Minum minimal 2,5 – 3 liter air setiap hari agar urine tidak pekat.
  2. Batasi asupan garam dan makanan tinggi purin (seperti jeroan).
  3. Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan ginjal jika memiliki riwayat batu.

Studi Mengenai Colic Renal

Journal of Emergency Medicine menerbitkan studi di tahun 2020 yang menjelaskan bahwa penggunaan OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid) menunjukkan efektivitas yang lebih baik dalam meredakan nyeri kolik renal dibandingkan dengan obat golongan opioid, dengan efek samping yang lebih minimal pada saluran pernapasan.

Penelitian ini juga menekankan pentingnya penggunaan pencitraan CT scan dosis rendah sebagai langkah awal diagnosis yang akurat di unit gawat darurat guna menentukan apakah pasien memerlukan tindakan bedah segera atau bisa menjalani rawat jalan dengan pemantauan ketat.

Jika kamu merasakan gejala nyeri pinggang yang sangat hebat dan menjalar, jangan tunda untuk mencari bantuan medis. Penanganan yang cepat dapat menyelamatkan fungsi ginjal kamu dari kerusakan permanen.

Kamu bisa mendapatkan obat-obatan di atas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Punya Gejala Nyeri Pinggang Hebat? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan nyeri di area ginjal atau saluran kemih yang mengkhawatirkan, tapi bingung harus konsultasi ke mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
WHO. Diakses pada 2026. International Classification of Diseases (ICD-10) – N23 Renal Colic.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Kidney Stones: Symptoms and Causes.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2026. Management of Renal Colic.
Healthline. Diakses pada 2026. Understanding Renal Colic: Symptoms, Diagnosis, and Treatment.

FAQ

1. Apa bedanya kode ICD 10 N23 dengan N20?

Kode N23 digunakan untuk kolik renal yang belum ditentukan penyebab spesifiknya (unspecified). Sedangkan N20 digunakan jika diagnosis sudah jelas menunjukkan adanya batu di ginjal atau ureter.

2. Apakah kolik renal bisa sembuh sendiri tanpa operasi?

Bisa, terutama jika penyebabnya adalah batu kecil (diameter kurang dari 5 mm). Pasien biasanya disarankan banyak minum air dan diberikan obat pereda nyeri serta obat pelancar saluran kemih.

3. Apakah kolik renal merupakan kondisi gawat darurat?

Ya, jika disertai dengan demam tinggi, mual-muntah hebat, atau ketidakmampuan untuk buang air kecil. Ini bisa menandakan adanya infeksi berat (sepsis) atau gagal ginjal akut.

4. Makanan apa yang harus dihindari penderita kolik renal?

Hindari makanan tinggi oksalat seperti bayam, teh kental, dan cokelat, serta kurangi asupan garam dan protein hewani yang berlebihan karena dapat memicu pembentukan kristal batu.