Ad Placeholder Image

Ikan Hiu Boleh Dimakan? Pikirkan Lagi Bahayanya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Ikan Hiu Boleh Dimakan? Ketahui Dulu Risikonya!

Ikan Hiu Boleh Dimakan? Pikirkan Lagi Bahayanya!Ikan Hiu Boleh Dimakan? Pikirkan Lagi Bahayanya!

DAFTAR ISI


Ikan hiu telah lama menjadi bagian dari kuliner di berbagai belahan dunia, termasuk di beberapa daerah di Indonesia. Mulai dari sirip hiu yang dianggap sebagai makanan mewah hingga daging hiu yang diolah menjadi sate atau gulai. Namun, di balik popularitasnya, muncul sebuah pertanyaan besar dari sisi kesehatan: apakah ikan hiu benar-benar aman untuk dikonsumsi manusia secara rutin?

Sebagai predator puncak di lautan, ikan hiu memiliki karakteristik biologis yang unik. Sayangnya, posisi mereka di rantai makanan paling atas justru membawa risiko kesehatan bagi manusia yang memakannya. Isu mengenai kontaminasi logam berat, terutama merkuri, menjadi perhatian utama para ahli gizi dan profesional medis di seluruh dunia. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi logam berat dapat memicu berbagai gangguan kesehatan jangka panjang yang serius.

Penting bagi kamu untuk memahami risiko di balik sepiring hidangan ikan hiu sebelum memutuskan untuk mencobanya. Meskipun mengandung protein, kadar racun di dalamnya seringkali melampaui batas aman yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan internasional. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa sebaiknya kamu berpikir ulang sebelum mengonsumsi daging hiu demi menjaga kesehatan tubuhmu dan keluarga.

Jika kamu merasa mengalami gejala tidak biasa setelah mengonsumsi jenis boga bahari tertentu, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis awal yang tepat.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai alasan medis mengapa ikan hiu sebaiknya dihindari? Berikut ulasannya!

Kandungan dan Karakteristik Daging Ikan Hiu

Daging ikan hiu memang mengandung nutrisi layaknya ikan pada umumnya, seperti protein tinggi, asam lemak omega-3, dan beberapa vitamin serta mineral. Namun, struktur metabolisme ikan hiu sangat berbeda dengan ikan bertulang sejati (teleostei) seperti salmon atau kembung. Hiu adalah ikan bertulang rawan yang menyimpan urea di dalam jaringan tubuhnya untuk menjaga keseimbangan osmotik dengan air laut.

Selain masalah urea, hiu memiliki umur yang panjang dan tumbuh dengan lambat. Hal ini membuat mereka mengumpulkan berbagai zat dari lingkungan mereka selama bertahun-tahun melalui proses yang disebut bioakumulasi. Apa pun yang dimakan oleh mangsa-mangsa hiu, pada akhirnya akan terkonsentrasi di dalam tubuh hiu dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Bahaya Kandungan Merkuri yang Tinggi

Salah satu alasan utama mengapa pakar kesehatan melarang atau sangat membatasi konsumsi ikan hiu adalah kandungan metilmerkuri. Metilmerkuri adalah bentuk merkuri organik yang sangat beracun bagi sistem saraf manusia. Sebagai predator puncak, hiu mengalami proses biomagnifikasi, di mana konsentrasi merkuri meningkat drastis setiap kali naik satu tingkat di rantai makanan.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kadar merkuri dalam daging hiu seringkali melebihi batas aman yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) dan Food and Drug Administration (FDA). Paparan merkuri kronis dari makanan dapat menyebabkan:

  • Kerusakan sistem saraf pusat (otak).
  • Gangguan kognitif dan penurunan daya ingat.
  • Masalah pada sistem penglihatan dan pendengaran.
  • Gangguan koordinasi motorik.
  • Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada orang dewasa.
Gejala Awal Paparan Merkuri
  1. Rasa kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki.
  2. Sering merasa lemas dan sulit berkonsentrasi.
  3. Gemetar (tremor) pada bagian tubuh tertentu.

Masalah Urea dan Amonia pada Daging Hiu

Pernahkah kamu mencium aroma menyengat seperti amonia dari daging hiu mentah? Itu bukan tanda daging membusuk, melainkan kandungan urea yang sangat tinggi. Ikan hiu mengeluarkan limbah sisa metabolisme melalui kulit dan menyimpannya di daging untuk mencegah dehidrasi di air asin. Begitu hiu mati, urea ini dengan cepat berubah menjadi amonia.

Mengonsumsi urea dalam jumlah tinggi dapat membebani kerja ginjal kamu. Ginjal harus bekerja ekstra keras untuk menyaring dan membuang zat sisa tersebut dari aliran darah. Bagi individu yang sudah memiliki gangguan fungsi ginjal, mengonsumsi daging hiu bisa sangat berbahaya dan memperburuk kondisi kesehatan mereka.

Kelompok Orang yang Wajib Menghindari Ikan Hiu

Meskipun bagi orang dewasa sehat konsumsi sesekali mungkin tidak langsung menimbulkan efek fatal, ada kelompok tertentu yang sama sekali tidak boleh menyentuh hidangan ikan hiu:

1. Ibu Hamil dan Menyusui

Metilmerkuri dapat menembus plasenta dan masuk ke dalam ASI. Paparan merkuri pada janin dapat menyebabkan cacat lahir, gangguan perkembangan otak, dan masalah keterlambatan bicara atau motorik di masa depan. Kerusakan yang terjadi pada saraf janin akibat merkuri bersifat permanen.

2. Anak-anak dan Balita

Sistem saraf anak-anak masih dalam tahap perkembangan yang sangat pesat. Sedikit saja paparan logam berat dapat mengganggu pertumbuhan otak mereka, menyebabkan penurunan IQ, dan gangguan perilaku seperti ADHD.

3. Penderita Gangguan Ginjal

Kadar urea yang tinggi dalam daging hiu merupakan beban berat bagi ginjal yang sudah tidak berfungsi optimal. Mengonsumsi hiu dapat memicu peningkatan kadar ureum dalam darah secara mendadak.

Alternatif Ikan yang Lebih Aman dan Sehat

Jika tujuan kamu mengonsumsi ikan adalah untuk mendapatkan protein dan omega-3, ada banyak pilihan lain yang jauh lebih aman dan memiliki kadar merkuri sangat rendah. Untuk mendukung kesehatan optimal, kamu juga bisa beli suplemen kesehatan di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah sebagai tambahan nutrisi harian.

Berikut adalah beberapa jenis ikan rendah merkuri yang direkomendasikan:

  • Ikan Kembung: Kaya omega-3 dan harganya terjangkau.
  • Ikan Salmon: Sangat baik untuk kesehatan jantung dan otak.
  • Ikan Sarden: Mengandung kalsium tinggi dan merkuri sangat rendah.
  • Ikan Lele dan Nila: Sumber protein yang aman untuk konsumsi harian.
  • Ikan Teri: Meskipun kecil, kandungan nutrisinya sangat besar dan aman dari logam berat.

Studi Mengenai Keamanan Konsumsi Ikan Hiu

Marine Pollution Bulletin menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa hiu dari berbagai spesies di lautan tropis mengandung metilmerkuri yang secara signifikan melampaui standar keamanan pangan internasional.

Studi ini menekankan bahwa konsumsi sirip dan daging hiu secara rutin berkontribusi besar pada akumulasi logam berat dalam tubuh manusia. Para peneliti menyarankan agar otoritas kesehatan masyarakat memberikan edukasi lebih luas mengenai bahaya mengonsumsi predator laut besar demi menekan angka kasus keracunan logam berat jangka panjang.

Sebagai kesimpulan, meskipun ikan hiu boleh dimakan secara legal di beberapa wilayah, secara medis tindakan ini sangat tidak disarankan. Risiko kontaminasi merkuri dan urea yang tinggi jauh lebih besar daripada manfaat nutrisi yang bisa didapatkan. Masih banyak alternatif boga bahari lain yang lebih lezat, murah, dan yang paling penting, aman bagi kesehatan jangka panjang kamu.

Selalu prioritaskan keamanan pangan untuk diri sendiri dan keluarga. Jika kamu memiliki kekhawatiran mengenai asupan nutrisi atau ingin mengetahui apakah tubuhmu terpapar logam berat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli medis.

Kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan atau khawatir setelah mengonsumsi makanan tertentu, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal otot yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. Mercury and health.
U.S. Food and Drug Administration. Diakses pada 2026. Advice about Eating Fish.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2026. Mercury levels in shark meat and consumer risk.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Nutrition and healthy eating: Fish and mercury.
Environmental Health Perspectives. Diakses pada 2026. Methylmercury Exposure and Health Effects.

FAQ

1. Apakah sekali makan ikan hiu langsung menyebabkan keracunan?

Biasanya tidak secara akut, kecuali jika kadar merkurinya sangat ekstrem. Bahaya utama ikan hiu adalah akumulasi merkuri yang tertimbun di tubuh sedikit demi sedikit hingga mencapai level beracun di kemudian hari.

2. Apakah memasak ikan hiu dengan suhu tinggi bisa menghilangkan merkurinya?

Tidak. Merkuri terikat pada protein di dalam jaringan otot ikan. Proses memasak seperti merebus, menggoreng, atau membakar tidak akan mengurangi kadar merkuri dalam daging tersebut.

3. Mengapa sirip hiu tetap mahal jika berbahaya?

Harga mahal sirip hiu lebih dipengaruhi oleh faktor budaya, prestise, dan kelangkaannya, bukan karena nilai gizinya. Secara medis, sirip hiu justru mengandung neurotoksin BMAA yang terkait dengan penyakit degeneratif saraf.

4. Apa yang harus dilakukan jika terlanjur mengonsumsi ikan hiu?

Jika hanya sekali, jangan terlalu khawatir, namun jangan menjadikannya kebiasaan. Perbanyak konsumsi air putih dan makanan kaya serat serta antioksidan, dan segera hubungi dokter jika muncul gejala gangguan saraf.