Ad Placeholder Image

Imunoterapi: Cara Kerja, Jenis, dan Efek Sampingnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

Imunoterapi: Cara Kerja, Jenis, & Efek Sampingnya

Imunoterapi: Cara Kerja, Jenis, dan Efek SampingnyaImunoterapi: Cara Kerja, Jenis, dan Efek Sampingnya

DAFTAR ISI


Kanker dan penyakit autoimun tetap menjadi tantangan besar dalam dunia medis global, termasuk di Indonesia. Selama beberapa dekade, operasi, radioterapi, dan kemoterapi menjadi pilar utama pengobatan. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi medis, muncul sebuah metode revolusioner yang memanfaatkan sistem pertahanan alami tubuh kita sendiri, yaitu imunoterapi.

Imunoterapi bukan sekadar tren medis, melainkan harapan baru bagi banyak pasien dengan berbagai jenis kanker stadium lanjut. Berbeda dengan pengobatan konvensional yang menyerang sel kanker secara langsung (dan seringkali merusak sel sehat), imunoterapi bekerja dengan melatih atau memperkuat sistem imun untuk mengenali dan menghancurkan sel-sel abnormal dengan lebih presisi.

Memahami prosedur ini sangat penting bagi pasien maupun keluarga pendamping agar dapat mengambil keputusan medis yang tepat. Mengingat kompleksitasnya, penanganan ini memerlukan pengawasan ketat dari tenaga ahli. Jika kamu memiliki keluhan kesehatan yang mengarah pada kebutuhan tindakan medis khusus, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan arahan awal.

Selain tindakan medis utama, menjaga kondisi fisik tetap optimal selama menjalani terapi adalah kunci. Kamu juga bisa memenuhi kebutuhan vitamin harian dengan beli obat online di Halodoc, agar sistem imun tetap terjaga selama masa pemulihan. Nah, mau tahu apa saja rincian mengenai imunoterapi? Berikut ulasannya!

Apa itu Imunoterapi?

Imunoterapi adalah jenis pengobatan biologis yang menggunakan zat-zat yang dibuat dari organisme hidup untuk melawan penyakit. Fokus utamanya adalah sistem kekebalan tubuh, yang terdiri dari sel darah putih, organ, dan jaringan limfatik. Dalam kondisi normal, sistem imun dapat mendeteksi dan menghancurkan sel abnormal. Namun, sel kanker seringkali memiliki “mekanisme penyamaran” yang membuat mereka tidak terdeteksi oleh radar sistem imun.

Imunoterapi dirancang untuk merobek “penyamaran” tersebut. Melalui bantuan medis, sistem imun kembali diaktifkan untuk melakukan tugasnya. Terapi ini dapat diberikan secara lokal (ke area tubuh tertentu) atau sistemik (melalui aliran darah).

Bagaimana Imunoterapi Bekerja?

Secara garis besar, imunoterapi bekerja melalui dua mekanisme utama. Pertama, dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bekerja lebih keras atau lebih pintar dalam menyerang sel kanker. Kedua, dengan memberikan zat tambahan, seperti protein sistem kekebalan buatan, untuk meningkatkan respons imun alami tubuh.

Beberapa sel kanker memiliki protein tertentu di permukaannya yang mengirimkan sinyal “jangan serang saya” ke sel T (sel imun). Imunoterapi jenis checkpoint inhibitors bekerja dengan memblokir sinyal tersebut, sehingga sel T dapat mengenali sel kanker sebagai ancaman dan segera menghancurkannya.

Kelebihan Utama Imunoterapi
  1. Target lebih spesifik pada sel abnormal sehingga meminimalkan kerusakan pada sel sehat.
  2. Memiliki efek memori, di mana sistem imun “belajar” mengenali kanker jika ia kembali lagi di masa depan.
  3. Dapat dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti operasi atau kemoterapi.

Jenis-Jenis Imunoterapi yang Perlu Diketahui

1. Monoclonal Antibodies (Antibodi Monoklonal)

Ini adalah protein sistem kekebalan yang dirancang di laboratorium untuk menempel pada target spesifik pada sel kanker. Beberapa antibodi monoklonal menandai sel kanker sehingga sistem kekebalan dapat melihat dan menghancurkannya dengan lebih mudah.

2. Checkpoint Inhibitors

Obat-obatan ini pada dasarnya melepaskan “rem” pada sistem kekebalan tubuh. Tubuh memiliki titik pemeriksaan (checkpoints) untuk mencegah sistem imun menyerang sel sehat. Sel kanker sering memanfaatkan titik ini. Obat ini memblokir titik tersebut agar sistem imun tetap dalam mode menyerang sel kanker.

3. Transfer Sel T (CAR T-cell Therapy)

Dalam metode ini, sel T pasien diambil dari darah, kemudian dimodifikasi secara genetik di laboratorium agar memiliki reseptor khusus yang disebut CAR (Chimeric Antigen Receptor). Sel-sel yang sudah “diperkuat” ini kemudian dimasukkan kembali ke tubuh pasien untuk memburu sel kanker.

4. Vaksin Kanker

Berbeda dengan vaksin pencegah penyakit (seperti vaksin flu), vaksin kanker adalah jenis imunoterapi yang diberikan untuk membantu tubuh melawan kanker yang sudah ada atau mencegahnya muncul kembali setelah pengobatan.

Perbedaan Imunoterapi dan Kemoterapi

Seringkali masyarakat bingung membedakan keduanya. Kemoterapi menggunakan bahan kimia kuat untuk membunuh sel yang membelah dengan cepat. Karena sel kanker membelah dengan cepat, mereka menjadi target utama, tetapi sel rambut dan sel dinding lambung yang juga cepat membelah ikut terkena dampaknya. Itulah sebabnya kemoterapi sering menyebabkan rambut rontok dan mual hebat.

Imunoterapi cenderung memiliki pendekatan yang lebih halus namun cerdas. Ia tidak menyerang semua sel yang membelah cepat, melainkan hanya mengaktifkan pertahanan tubuh. Meski begitu, bukan berarti imunoterapi bebas dari efek samping. Karena sistem imun dibuat menjadi sangat aktif, terkadang ia bisa menyerang jaringan tubuh yang sehat secara tidak sengaja.

Efek Samping yang Mungkin Muncul

Efek samping imunoterapi bervariasi tergantung pada jenis obat yang digunakan dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Beberapa keluhan yang sering dilaporkan antara lain:

  • Reaksi kulit seperti gatal, kemerahan, atau lepuh kecil.
  • Gejala mirip flu: demam, kedinginan, kelelahan, dan sakit kepala.
  • Gangguan pencernaan seperti diare atau radang usus.
  • Sesak napas akibat peradangan pada paru-paru (pneumonitis).

Sangat penting untuk segera melaporkan setiap perubahan kondisi fisik kepada tim medis. Jangan mencoba mengobati efek samping sendiri tanpa konsultasi ahli.

Studi Mengenai Imunoterapi

Journal of Clinical Medicine menerbitkan studi di tahun 2023 yang menjelaskan bahwa imunoterapi telah meningkatkan angka harapan hidup pada pasien kanker paru sel non-kecil (NSCLC) secara signifikan dibandingkan dengan kemoterapi standar saja.

Studi tersebut menegaskan bahwa identifikasi biomarker yang tepat sebelum terapi dimulai sangat krusial. Relevansinya dengan pengobatan saat ini adalah perlunya tes genetik atau tes PD-L1 bagi pasien sebelum menentukan jenis imunoterapi yang akan digunakan agar hasilnya maksimal.

FAQ

1. Apakah semua jenis kanker bisa diobati dengan imunoterapi?

Tidak semua. Saat ini, imunoterapi sangat efektif untuk melanoma, kanker paru-paru, kanker ginjal, dan beberapa jenis limfoma. Namun, penelitian terus berkembang untuk mencakup lebih banyak jenis kanker lainnya.

2. Berapa lama durasi pengobatan imunoterapi?

Durasinya sangat bergantung pada respons tubuh pasien dan jenis kanker. Beberapa pasien menjalani terapi setiap 2-3 minggu selama satu hingga dua tahun jika kanker tidak menunjukkan progresi.

3. Apakah imunoterapi ditanggung oleh asuransi atau BPJS?

Di Indonesia, beberapa jenis imunoterapi sudah mulai masuk dalam skema penanggungan, namun syarat dan ketentuannya sangat ketat. Pastikan untuk menanyakan hal ini langsung kepada pihak rumah sakit atau penyedia layanan kesehatan kamu.

4. Bisakah imunoterapi dilakukan bersamaan dengan diet tertentu?

Pola makan bergizi seimbang sangat disarankan untuk mendukung daya tahan tubuh. Namun, hindari konsumsi suplemen herbal tanpa seizin dokter karena dikhawatirkan dapat menginterferensi kerja obat imunoterapi.


Jika kamu atau orang terdekat sedang mempertimbangkan prosedur ini, pastikan untuk mendapatkan informasi yang akurat dari sumber terpercaya. Kondisi setiap pasien sangat unik, sehingga penanganannya pun bersifat personal (personalized medicine).

Selain berkonsultasi mengenai prosedur medis besar, kamu tetap perlu menjaga kesehatan dasar sehari-hari. Dapatkan perlindungan tambahan dengan vitamin dan suplemen yang bisa kamu temukan saat beli obat online di Halodoc. Selain itu, jika muncul gejala yang mencemaskan, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter Halodoc agar mendapatkan penanganan sedini mungkin.

Referensi:
American Cancer Society. Diakses pada 2026. How Immunotherapy Is Used to Treat Cancer.
National Cancer Institute (NCI). Diakses pada 2026. Immunotherapy to Treat Cancer.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Cancer Immunotherapy: Types and Side Effects.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Mengenal Imunoterapi sebagai Salah Satu Pengobatan Kanker Terkini.

## Bingung Menentukan Perawatan Imunoterapi yang Tepat? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan atau bingung mengenai prosedur imunoterapi, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant)](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.