
Infeksi Virus Corona Tembus 90 Juta, Variannya Sebabkan Negatif Palsu

Halodoc, Jakarta – Menurut data live dari worldometers, terhitung hari ini (12/1) tercatat sudah ada 91.319.654 orang yang mengidap virus corona di seluruh dunia. Salah satu pemicunya disinyalir adalah varian baru virus corona yang bisa menunjukkan hasil negatif yang palsu.
Food and Drug Administration (FDA) sendiri membenarkan kalau mutasi kode genetik virus corona baru dapat menyebar lebih cepat, sulit diidentifikasi dan memicu hasil negatif yang palsu. Keakuratan hasil tes dapat terganggu jika perubahan terjadi dalam wilayah spesifik RNA virus yang digunakan oleh diagnostik molekuler untuk mendapatkan hasil positif. Informasi selengkapnya mengenai varian baru virus corona yang memicu hasil negatif palsu bisa dibaca di sini!
Baca juga: Mitos dan Fakta Terkait Coronavirus
Virus Dapat Bermutasi Seiring Berjalannya Waktu
Semua virus dapat bermutasi seiring berjalannya waktu. Sebagaimana seleksi alam telah membentuk evolusi manusia, tumbuhan, dan semua makhluk hidup di planet ini, seleksi alam juga membentuk virus. Nah, virus membutuhkan organisme inang untuk berkembang biak.
Sistem kekebalan manusia menggunakan sejumlah strategi untuk melawan patogen. Tugas patogen adalah menghindari sistem kekebalan, membuat lebih banyak salinan dirinya sendiri, dan menyebar ke inang lain.
Karakteristik yang membantu virus melakukan tugasnya akan dipertahankan dari satu generasi ke generasi lainnya. Sedangkan karakteristik yang mempersulit penyebaran virus ke inang lain akan hilang.
Virus membutuhkan inang baru yang sehat agar keturunannya dapat bertahan hidup. Jika ia membunuh inangnya sebelum inangnya menginfeksi orang lain, mutasi itu akan hilang. Salah satu cara agar inang (dalam hal ini manusia) melindungi diri dari virus adalah dengan mengembangkan antibodi terhadapnya.
Baca juga: Perhatikan Ini Jika Serumah dengan Pasien Corona
Antibodi mengunci protein permukaan luar virus dan mencegahnya memasuki sel inang. Virus yang tampak berbeda dari virus lain yang sebelumnya telah menginfeksi inang memiliki keuntungan di mana inang tidak memiliki kekebalan yang sudah ada sebelumnya, dalam bentuk antibodi, terhadap virus tersebut.
Meski begitu, sebenarnya mutasi virus tidak selamanya buruk karena ada juga mutasi yang membuat virus tidak terlalu cepat menular. Lantas, bagaimana dengan virus corona?
Mutasi Virus Corona Perlu Dikhawatirkan?
Menurut Muge Cevik, pakar penyakit menular dari Universitas St. Andrews di Skotlandia, varian virus corona memang dapat menular lebih cepat, karena sekitar 20 varian virus baru yang bermutasi tersebut punya cara baru mengunci sel manusia dan menginfeksinya.
Beberapa varian tidak memberikan perubahan signifikan karena sebagian patogen sulit bertahan hidup karena vaksinasi dan kekebalan yang meningkat pada populasi manusia. Salah satu faktor yang diduga membuat virus dapat bertahan atau justru malah tidak bisa menginfeksi inangnya adalah perilaku manusia. Terkait hal ini, butuh penelitian lebih detail dan butuh data eksperimental.
Baca juga: Ini Masker yang Tepat untuk Cegah Virus Corona
Ada kemungkinan, varian baru ini justru kebal terhadap vaksin yang baru saja diluncurkan. Beberapa ahli berpendapat lain, kalau butuh bertahun-tahun untuk virus berevolusi menjadi kebal terhadap vaksin. Di sisi lain, ada juga ahli yang mengatakan walaupun varian baru ini lebih cepat menyebar, tapi tidak akan begitu mematikan seperti virus sebelumnya.
Informasi seputar corona memang kerap membingungkan. Dapatkan informasi valid mengenai corona hanya di Halodoc. Nah, kalau kamu butuh ke rumah sakit dan tidak mau antre, bikin janji saja via Halodoc. Gimana caranya? Download saja aplikasinya di App Store atau Google Play!



