Ad Placeholder Image

Ini 2 Penyebab dan Gejala Agitasi yang Perlu Diwaspadai

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   25 Mei 2026

Penyebab agitasi dapat dibedakan menjadi dua aspek, yaitu aspek psikologis dan aspek medis.

Ini 2 Penyebab dan Gejala Agitasi yang Perlu DiwaspadaiIni 2 Penyebab dan Gejala Agitasi yang Perlu Diwaspadai

Ringkasan: Agitasi adalah kondisi kegelisahan ekstrem yang ditandai dengan ketegangan mental dan aktivitas motorik berlebihan tanpa tujuan yang jelas. Kondisi ini sering kali muncul sebagai gejala dari gangguan kejiwaan atau kondisi medis sistemik yang memerlukan penanganan profesional segera.

Apa Itu Agitasi?

Agitasi adalah perasaan resah dan gelisah yang disertai dengan ketegangan fisik yang tidak terkendali. Kondisi ini sering kali membuat seseorang merasa tertekan, mudah tersinggung, atau merasa sangat tidak nyaman di dalam tubuh sendiri.

Istilah medis agitasi sering disebut sebagai agitasi psikomotor karena melibatkan gangguan psikologis sekaligus aktivitas fisik yang meningkat secara impulsif. Seseorang yang mengalami agitasi mungkin melakukan gerakan berulang secara berlebihan karena dorongan internal yang kuat.

Agitasi bukan merupakan penyakit tunggal, melainkan manifestasi klinis dari berbagai kondisi medis atau gangguan kesehatan mental yang mendasarinya. Identifikasi penyebab awal sangat krusial untuk menentukan langkah penanganan yang tepat dan efektif.

“Agitasi psikomotor didefinisikan sebagai aktivitas motorik yang berlebihan yang berhubungan dengan perasaan ketegangan batin, sering kali bermanifestasi dalam gerakan yang tidak bertujuan.” — WHO (World Health Organization), 2022

Gejala Agitasi

Gejala agitasi dapat bervariasi mulai dari tingkat ringan hingga berat, tergantung pada penyebab dan kondisi kesehatan individu secara keseluruhan. Gejala ini sering muncul secara mendadak atau bertahap seiring memburuknya kondisi penyebabnya.

Manifestasi fisik yang paling umum meliputi gerakan mondar-mandir tanpa tujuan, remasan tangan yang terus-menerus, hingga ketidakmampuan untuk duduk diam (akatisia). Penderita juga mungkin menunjukkan ekspresi wajah yang tegang atau gerakan tubuh yang tidak beraturan.

Secara emosional dan kognitif, agitasi ditandai dengan iritabilitas tinggi, bicara yang sangat cepat atau tidak teratur, serta perasaan panik yang intens. Dalam kasus yang parah, kondisi ini dapat memicu perilaku agresif atau tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Apa Penyebab Agitasi?

Penyebab agitasi sangat beragam, mencakup faktor psikologis, neurologis, hingga gangguan keseimbangan kimiawi dalam tubuh. Gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, dan gangguan kecemasan umum merupakan pemicu yang paling sering ditemukan.

Kondisi neurologis juga berperan besar dalam munculnya gejala ini, terutama pada penderita demensia atau penyakit Alzheimer. Penurunan fungsi otak menyebabkan penderita sulit mengekspresikan kebutuhan mereka, yang kemudian bermanifestasi dalam bentuk kegelisahan fisik.

Selain itu, faktor medis non-psikiatri seperti hipertiroidisme (kelenjar tiroid yang terlalu aktif), kekurangan vitamin B12, atau reaksi putus obat (withdrawal) dapat menyebabkan agitasi. Penggunaan zat adiktif atau konsumsi kafein yang berlebihan juga diketahui meningkatkan risiko kegelisahan motorik.

Bagaimana Diagnosis Agitasi Dilakukan?

Diagnosis agitasi dimulai dengan pemeriksaan fisik menyeluruh dan wawancara klinis untuk memahami riwayat kesehatan serta pola munculnya gejala. Tenaga medis akan mengamati aktivitas motorik dan cara bicara pasien secara seksama selama sesi pemeriksaan.

Tes darah atau urine mungkin diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab organik, seperti ketidakseimbangan elektrolit, gangguan hormon, atau efek samping zat kimia tertentu. Pencitraan otak seperti CT scan atau MRI terkadang dilakukan jika terdapat kecurigaan adanya cedera kepala atau gangguan neurologis struktural.

Evaluasi psikologis dilakukan secara mendalam untuk mengidentifikasi apakah kegelisahan tersebut berkaitan dengan gangguan suasana hati atau gangguan psikotik. Penggunaan skala penilaian klinis standar membantu dokter dalam menentukan tingkat keparahan agitasi yang dialami pasien.

Bagaimana Cara Mengobati Agitasi?

Pengobatan agitasi berfokus pada menenangkan pasien secara cepat sekaligus mengatasi akar penyebab yang mendasarinya. Pendekatan non-farmakologis sering kali menjadi langkah pertama melalui teknik de-eskalasi verbal dan menciptakan lingkungan yang tenang serta minim rangsangan.

Terapi perilaku kognitif (CBT) efektif digunakan jika agitasi bersumber dari gangguan kecemasan atau stres kronis. Terapi ini membantu penderita mengenali pemicu kegelisahan dan mengembangkan strategi koping yang lebih sehat untuk mengelola tekanan emosional.

Dalam situasi darurat atau kondisi yang berat, pemberian obat-obatan seperti antipsikotik, benzodiazepin, atau penstabil suasana hati mungkin diperlukan di bawah pengawasan medis ketat. Penggunaan obat bertujuan untuk menurunkan aktivitas saraf yang berlebihan dan memberikan rasa tenang bagi pasien.

“Penanganan agitasi harus dilakukan secara komprehensif dengan memprioritaskan keamanan pasien dan lingkungan sekitarnya melalui pendekatan medis yang terukur.” — Kemenkes RI, 2023

Pencegahan Agitasi

Pencegahan agitasi dapat dilakukan dengan mengelola stres secara efektif dan menjaga pola hidup sehat untuk stabilitas sistem saraf. Olahraga rutin, meditasi, dan teknik pernapasan dalam dapat membantu menjaga keseimbangan emosional dan menurunkan tingkat kecemasan harian.

Bagi individu dengan riwayat gangguan mental, kepatuhan terhadap rencana pengobatan dan rutin kontrol ke tenaga medis adalah langkah pencegahan paling krusial. Menghindari konsumsi alkohol, obat-obatan terlarang, dan membatasi asupan kafein juga sangat disarankan untuk mencegah lonjakan adrenalin yang memicu kegelisahan.

Lingkungan rumah yang terorganisir dan rutinitas harian yang terjadwal sangat membantu, terutama bagi penderita demensia. Memberikan stimulasi kognitif yang cukup namun tidak berlebihan dapat mencegah kebingungan yang sering kali memicu perilaku agitasi pada lansia.

Kapan Harus ke Dokter?

Pemeriksaan medis segera diperlukan jika kegelisahan tidak kunjung mereda atau intensitasnya semakin meningkat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain adalah tanda peringatan serius yang memerlukan intervensi gawat darurat.

Jika agitasi disertai dengan demam tinggi, kebingungan mendadak (delirium), atau nyeri dada, segera hubungi layanan kesehatan darurat. Kondisi tersebut bisa mengindikasikan adanya masalah medis sistemik yang mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan segera.

Sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis awal yang akurat dan arahan medis yang tepat terkait gejala kegelisahan yang dialami.

Kesimpulan

Agitasi merupakan tanda klinis penting yang menunjukkan adanya tekanan fisik atau psikologis yang tidak terkompensasi dalam tubuh. Pemahaman mengenai gejala dan penyebabnya sangat membantu dalam menentukan langkah penanganan yang cepat dan efektif. Deteksi dini melalui pemeriksaan medis profesional dapat mencegah komplikasi yang lebih serius di masa depan. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.