Ad Placeholder Image

Ini 4 Gejala Hernia pada Pria yang Perlu Diwaspadai

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   22 Juni 2026

“Hernia merupakan gangguan kesehatan yang bisa dialami oleh pria dan wanita di segala usia. Namun pada pria, gejala hernia umumnya berbeda, ditandai dengan rasa sakit pada benjolan, pembengkakan testis, hingga pembesaran benjolan.”

Ini 4 Gejala Hernia pada Pria yang Perlu DiwaspadaiIni 4 Gejala Hernia pada Pria yang Perlu Diwaspadai

DAFTAR ISI


Penyakit hernia pada pria, atau yang sering dikenal oleh masyarakat awam di Indonesia dengan istilah “turun berok”, adalah suatu kondisi medis yang terjadi ketika organ dalam tubuh—biasanya usus—menekan dan mencuat keluar melalui titik lemah di dinding otot atau jaringan ikat yang menahannya. Kondisi ini sering kali menimbulkan benjolan yang terlihat jelas di bawah permukaan kulit, terutama di area sekitar perut, pusar, atau selangkangan.

Kasus hernia sebenarnya dapat dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita dari berbagai kelompok usia. Namun, pria memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami jenis hernia tertentu, terutama hernia inguinalis. Hal ini sangat berkaitan erat dengan proses perkembangan anatomi pria sejak masih di dalam kandungan. Saat janin laki-laki berkembang, testis (buah zakar) turun dari dalam perut menuju skrotum melalui saluran kecil yang disebut kanalis inguinalis. Meskipun saluran ini seharusnya menutup rapat setelah bayi lahir, terkadang ada area yang tidak tertutup dengan sempurna dan meninggalkan titik lemah yang rentan robek di kemudian hari.

Memahami penyakit hernia sangatlah penting, karena jika diabaikan, kondisi ini tidak akan bisa sembuh dengan sendirinya dan berpotensi memicu komplikasi yang mengancam nyawa, seperti hernia inkarserata (terjepit) atau strangulata (suplai darah terputus). Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan medis yang tepat adalah kunci utama untuk mengatasi masalah kesehatan ini sebelum bertambah parah.

Lantas, apa saja tanda-tanda yang harus diperhatikan dan bagaimana cara penanganan yang paling aman? Berikut adalah ulasan lengkap mengenai penyakit hernia pada pria yang perlu kamu ketahui!

Apa Itu Penyakit Hernia pada Pria?

Secara anatomis, rongga perut (abdomen) dilapisi oleh dinding otot yang kuat yang berfungsi untuk menahan organ-organ pencernaan tetap pada posisinya. Namun, karena berbagai faktor seperti penuaan, bawaan lahir, atau tekanan yang terjadi secara terus-menerus, bagian dari dinding otot ini bisa melemah atau bahkan robek. Ketika organ usus atau jaringan lemak di dalam perut mendorong keluar melalui celah atau titik lemah inilah, terjadilah apa yang disebut sebagai hernia.

Bagi pria, tonjolan akibat hernia ini sering kali muncul di sekitar area selangkangan atau bahkan turun hingga ke dalam skrotum (kantung zakar). Ukuran tonjolan ini bisa bervariasi, dari yang sangat kecil dan hanya terasa saat diraba, hingga berukuran besar yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Tonjolan ini umumnya akan semakin jelas terlihat ketika pria tersebut berdiri, mengejan, tertawa, atau batuk, dan bisa kembali masuk atau menghilang ketika berbaring santai.

Jenis-jenis Penyakit Hernia yang Sering Menyerang Pria

Meski masyarakat umumnya menyebut semua kondisi ini sebagai “turun berok”, secara medis hernia terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan lokasi anatomi tempat benjolan tersebut muncul. Berikut ini adalah jenis-jenis hernia yang paling sering dialami oleh pria:

1. Hernia Inguinalis

Ini adalah jenis hernia yang paling umum terjadi, terhitung sekitar 70% hingga 80% dari seluruh kasus hernia secara global. Hernia inguinalis terjadi ketika jaringan usus atau lemak mencuat melalui kanalis inguinalis di pangkal paha atau selangkangan. Pria memiliki risiko hingga 10 kali lipat lebih besar terkena hernia inguinalis dibandingkan wanita. Hernia jenis ini dibagi lagi menjadi dua: hernia inguinalis direk (akibat kelemahan otot seiring bertambahnya usia) dan indirek (bawaan lahir akibat tidak tertutupnya saluran inguinalis dengan sempurna).

2. Hernia Umbilikalis

Hernia umbilikalis terjadi ketika sebagian usus atau jaringan lemak perut menonjol melalui dinding perut di sekitar area pusar (umbilikus). Meskipun sangat umum terjadi pada bayi yang baru lahir, pria dewasa juga bisa mengalaminya. Penyebab utamanya pada pria dewasa sering kali adalah kelebihan berat badan (obesitas), sering mengangkat benda yang sangat berat, atau menderita asites (penumpukan cairan di rongga perut).

3. Hernia Insisional

Sesuai dengan namanya, hernia insisional adalah komplikasi yang muncul di area bekas sayatan operasi pada perut. Apabila kamu pernah menjalani operasi di area perut, jaringan parut yang terbentuk pada sayatan tersebut biasanya tidak sekuat dinding otot asli. Jika area tersebut menerima tekanan yang terlalu besar secara konstan, usus dapat menekan keluar melalui jaringan parut yang rentan ini. Pria yang kurang beristirahat pasca operasi bedah sangat berisiko mengalami kondisi ini.

4. Hernia Hiatal

Berbeda dengan jenis hernia lainnya yang terlihat menonjol ke luar kulit, hernia hiatal terjadi di bagian dalam tubuh. Kondisi ini muncul ketika bagian atas lambung mendorong naik ke rongga dada melalui celah kecil di diafragma (otot pemisah dada dan perut). Meskipun tidak menimbulkan benjolan fisik yang bisa dilihat mata, pria yang mengalami hernia hiatal kerap kali merasakan gejala seperti penyakit asam lambung (GERD), rasa perih di dada (heartburn), hingga kesulitan menelan makanan.

Gejala Penyakit Hernia pada Pria yang Perlu Diwaspadai

Sebagian pria mungkin memiliki hernia namun tidak menyadarinya karena ukuran celah yang masih kecil sehingga belum memunculkan benjolan atau rasa tidak nyaman. Kendati demikian, seiring dengan berjalannya waktu dan aktivitas fisik yang terus dilakukan, gejala biasanya akan mulai muncul. Sangat penting bagi kamu untuk tidak mengabaikan gejala hernia yang muncul di tubuh, di antaranya:

  • Benjolan di Selangkangan atau Perut: Gejala yang paling khas adalah kemunculan benjolan lunak di area lipatan paha, selangkangan, atau skrotum. Benjolan ini bisa membesar saat kamu berdiri dan mengempis dengan sendirinya saat kamu berbaring.
  • Sensasi Nyeri atau Tarikan: Timbul rasa sakit atau sensasi seperti tertarik (pegal dan linu) di area benjolan, terutama ketika kamu melakukan aktivitas yang meningkatkan tekanan di dalam perut, seperti mengangkat benda berat, batuk berdahak, bersin, atau saat mengejan ketika buang air besar.
  • Rasa Berat atau Penuh: Pada kasus hernia inguinalis di mana benjolan turun hingga ke kantung zakar, skrotum akan terasa membengkak, terasa sangat berat, dan tidak nyaman saat berjalan atau berolahraga.
  • Rasa Terbakar dan Mengganjal: Adanya sensasi panas seperti terbakar (burning sensation), gatal, dan rasa mengganjal di lokasi benjolan akibat gesekan atau saraf di sekitarnya yang ikut tertekan.
Faktor Pemicu dan Risiko Penyakit Hernia pada Pria
  1. Pekerjaan Berat: Sering mengangkat benda berat atau melakukan kerja fisik yang menguras tenaga tanpa menggunakan postur tubuh yang benar, yang menyebabkan dinding perut dipaksa menahan beban ekstra.
  2. Batuk Kronis: Memiliki riwayat batuk berdahak dalam waktu yang lama, yang biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok berat, asma, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Batuk terus-menerus memberikan tekanan pada rongga perut.
  3. Mengejan: Sering mengejan kuat saat buang air besar akibat sembelit menahun atau mengejan saat buang air kecil karena gangguan pembengkakan prostat.
  4. Obesitas: Memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang berlebih. Tumpukan lemak viseral akan memberikan tekanan statis yang kuat ke arah luar dinding otot perut.
  5. Pertambahan Usia: Otot-otot tubuh manusia secara alami akan mengalami penurunan massa dan elastisitas seiring bertambahnya usia, membuat pria yang sudah tua lebih rentan mengalami hernia.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Hernia?

Diagnosis penyakit hernia umumnya tergolong cukup sederhana dan tidak selalu membutuhkan serangkaian tes yang rumit. Proses diagnosis umumnya dimulai dengan pemeriksaan fisik secara langsung oleh dokter.

1. Pemeriksaan Fisik (Physical Examination)

Dokter akan meminta kamu untuk berdiri, lalu memintamu untuk batuk atau mengejan kuat layaknya sedang membuang air besar. Tujuannya adalah untuk meningkatkan tekanan intrabdomen sehingga benjolan hernia akan terdorong keluar dan bisa diraba oleh tangan dokter. Dokter juga akan mencoba mendorong benjolan tersebut kembali ke dalam secara perlahan (hernia yang dapat direduksi) untuk memastikan sifat dan seberapa luas celahnya.

2. Tes Pemindaian Medis (Imaging Tests)

Jika benjolan tidak tampak jelas di permukaan kulit, namun pasien terus mengeluhkan rasa nyeri yang menetap (seperti pada kasus “sports hernia” atau hernia hiatal), dokter mungkin akan merekomendasikan tes pencitraan. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) rongga perut dan inguinal biasanya menjadi pilihan pertama karena aman dan sangat efektif dalam melihat adanya kelemahan otot serta jaringan yang keluar masuk. Selain USG, CT Scan atau pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) juga dapat digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dan memetakan letak hernia yang lebih kompleks sebelum prosedur pembedahan direncanakan.

Cara Penanganan dan Pengobatan Hernia

Penting untuk ditegaskan bahwa tidak ada metode alami, ramuan herbal, maupun obat-obatan apa pun yang dapat menyembuhkan dan menutup lubang otot penyusun hernia. Hernia adalah sebuah masalah mekanis dalam anatomi tubuh, sehingga satu-satunya cara yang secara definitif dan medis terbukti mampu menuntaskan kondisi ini adalah dengan tindakan pembedahan (operasi). Namun, metode penanganannya akan disesuaikan dengan keparahan benjolan.

1. Observasi (Watchful Waiting)

Jika benjolan hernia pria tersebut ukurannya masih sangat kecil, tidak menimbulkan rasa sakit sedikit pun, dan tidak mengganggu aktivitas sama sekali, dokter spesialis bedah mungkin akan menyarankan tindakan observasi ketat saja. Pasien akan diminta memantau perkembangan ukuran benjolan secara rutin di rumah dan dilarang keras melakukan olahraga atau pekerjaan mengangkat beban berat.

2. Penggunaan Penyangga (Hernia Truss)

Sebagai solusi sementara saat pasien belum bisa menjalani operasi (misalnya karena alasan kesehatan lain yang tidak memungkinkan bius total), dokter bisa menyarankan penggunaan korset atau sabuk penyangga hernia (truss). Sabuk ini dirancang khusus untuk memberikan tekanan lembut dari arah luar pada celah hernia, menjaga benjolan tetap berada di posisinya, dan mencegahnya semakin turun. Ini bukan langkah penyembuhan, melainkan perawatan komplementer untuk mencegah komplikasi sebelum operasi.

3. Operasi Bedah Terbuka (Hernioraphy)

Pada operasi konvensional ini, dokter spesialis bedah akan membuat sayatan panjang di pangkal paha atau lokasi dinding perut yang mengalami hernia. Dokter kemudian akan mendorong perlahan usus yang menyembul kembali ke posisinya semula di dalam perut. Setelah itu, otot-otot yang sobek dan melemah akan dijahit dengan sangat kuat untuk menutup celah. Sering kali, sepotong “mesh” berbahan sintetis yang menyerupai jaring elastis akan dipasang pada titik yang lemah guna memperkuat area tersebut dan mencegah hernia robek dan kambuh di masa mendatang (tindakan hernioplasty).

4. Operasi Bedah Laparoskopi

Laparoskopi merupakan teknik bedah modern minim sayatan yang paling diminati saat ini. Pada prosedur ini, dokter bedah hanya akan membuat tiga hingga empat sayatan kecil seukuran lubang kunci di perut, kemudian memasukkan selang tipis berkamera dan alat-alat bedah mikro. Karena sayatannya sangat kecil, teknik bedah ini menyebabkan luka yang minimal, meminimalisir pendarahan, serta masa pemulihan dan masa rawat inap yang jauh lebih cepat dibandingkan bedah terbuka.

Perawatan pasca-operasi juga merupakan hal yang penting. Selama masa pemulihan di rumah, kamu mungkin akan merasakan nyeri pada luka sayatan operasi. Oleh sebab itu, dokter akan menyarankan kamu untuk banyak beristirahat dan biasanya akan meresepkan obat pereda nyeri yang aman dikonsumsi untuk mengurangi rasa sakit dan meredakan peradangan.

Langkah Pencegahan agar Hernia Tidak Kambuh

Meskipun operasi memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, penyakit hernia bisa saja kambuh di masa depan pada titik perut yang lain jika gaya hidup tidak diubah. Untuk melindungi otot inti perut (core muscle), terapkan tips berikut:

  • Kuasai Teknik Mengangkat Beban: Saat akan mengambil benda berat dari lantai, jangan membungkukkan punggungmu. Gunakan lutut untuk berjongkok secara perlahan, letakkan beban dekat dengan dada, dan gunakan tenaga otot paha untuk berdiri kembali. Jika beban terlalu berat, jangan segan untuk meminta bantuan orang lain.
  • Konsumsi Diet Tinggi Serat: Makanlah lebih banyak asupan sayuran berdaun hijau gelap, buah-buahan berserat tinggi, kacang-kacangan, dan gandum utuh. Kebutuhan serat yang terpenuhi sangat krusial untuk membuat feses menjadi lunak, sehingga kamu tidak perlu lagi mengejan sampai urat leher tegang setiap kali buang air besar.
  • Kelola Berat Badan: Usahakan untuk menurunkan berat badan ke angka ideal melalui kardio ringan (jalan kaki atau berenang). Ini akan secara signifikan mengurangi tekanan viseral konstan di area abdominal.
  • Hentikan Kebiasaan Merokok: Zat berbahaya dalam rokok memicu iritasi di tenggorokan yang membuat perokok batuk bertahun-tahun. Batuk yang meledak-ledak dan keras adalah musuh terbesar bagi otot selangkangan yang baru saja dioperasi.

Studi Terkait Mengenai Hernia Inguinalis

Berbagai literatur medis telah membuktikan secara nyata kerentanan anatomi pria terhadap penyakit yang satu ini. International Journal of Surgery menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2021 yang menjelaskan bahwa insiden seumur hidup (lifetime risk) terjadinya hernia inguinalis adalah sekitar 27% pada populasi pria, dibandingkan hanya sekitar 3% pada populasi wanita secara global.

Tingginya angka persentase pada pria ini membuktikan bahwa risiko bawaan dari anatomi reproduksi pria sangat berpengaruh besar, dan perlunya ada edukasi tentang modifikasi gaya hidup untuk menekan angka kejadian di usia dewasa.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, seperti benjolan di selangkangan dan rasa nyeri, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Inguinal hernia – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Hernia: Types, Treatments, Symptoms, Causes & Prevention.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Inguinal Hernia.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Health topics: Men’s health issues and prevention.
International Journal of Surgery. Diakses pada 2024. Global incidence and risk factors of inguinal hernia: A systematic review.

FAQ

1. Apakah penyakit hernia pada pria bisa sembuh tanpa dioperasi?

Secara medis, hernia pada pria dewasa tidak bisa pulih atau tertutup secara alami dan tidak ada obat-obatan yang mampu menyembuhkannya. Satu-satunya metode penanganan medis yang paling diakui untuk memperbaiki jaringan otot yang robek akibat hernia adalah pembedahan atau operasi.

2. Apa tanda bahaya dari hernia yang terjepit?

Apabila aliran darah pada usus yang menyembul terpotong (strangulasi), ini adalah keadaan darurat medis yang membahayakan nyawa. Gejala utamanya meliputi rasa sakit selangkangan yang tajam dan meledak-ledak secara mendadak, warna benjolan berubah menjadi merah tua hingga keunguan, tidak bisa buang angin, mual, serta muntah-muntah.

3. Kapan saya bisa berolahraga kembali setelah operasi hernia?

Secara umum, setelah operasi dengan metode laparoskopi, pasien boleh berjalan ringan dalam hitungan hari. Akan tetapi, untuk kembali melakukan rutinitas olahraga yang cukup berat atau angkat beban, dokter bedah biasanya mengharuskan pasien untuk menunggu setidaknya 4 hingga 6 minggu untuk memastikan jahitan telah menyatu sempurna.

4. Apakah hernia inguinalis memengaruhi kesuburan atau fungsi seksual pada pria?

Meski letaknya berdekatan dengan alat reproduksi pria dan kantung testis, hernia inguinalis yang tertangani secara benar, baik sebelum maupun pasca-operasi, umumnya tidak memengaruhi tingkat kesuburan (kualitas sperma), produksi hormon testosteron, maupun performa dan kemampuan ereksi alat vital pria secara permanen.