Ad Placeholder Image

Ini 5 Penyebab Timbulnya Bisul pada Kulit yang Perlu Diwaspadai

7 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   21 Mei 2026

Bisul yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus dapat muncul salah satunya karena kebersihan tubuh yang tidak terjaga dengan baik.

Ini 5 Penyebab Timbulnya Bisul pada Kulit yang Perlu DiwaspadaiIni 5 Penyebab Timbulnya Bisul pada Kulit yang Perlu Diwaspadai

Ringkasan: Penyebab bisul yang paling utama adalah infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada folikel rambut atau kelenjar minyak. Kondisi ini ditandai dengan munculnya benjolan merah yang terasa nyeri, berisi nanah, dan dapat pecah secara alami setelah beberapa hari masa peradangan.

Apa Itu Bisul?

Bisul atau furunkel adalah benjolan berisi nanah yang menyakitkan di bawah kulit akibat infeksi pada folikel rambut. Kondisi ini merupakan jenis abses kulit yang sering muncul di area tubuh yang memiliki banyak rambut atau sering mengalami gesekan. Area yang paling umum terdampak meliputi wajah, bagian belakang leher, ketiak, paha, dan bokong.

Kondisi ini sering kali dimulai sebagai benjolan merah kecil yang terasa lunak saat disentuh. Seiring berjalannya waktu, benjolan tersebut akan terisi dengan sel darah putih dan bakteri (nanah), sehingga ukurannya semakin membesar. Jika beberapa bisul berkumpul menjadi satu kesatuan di bawah kulit, kondisi ini disebut sebagai karbunkel yang memerlukan penanganan lebih intensif.

“Furuncle (boil) adalah infeksi kulit dalam yang berawal dari folikel rambut dan menyebar ke jaringan subkutan di sekitarnya.” — Kemenkes RI, 2022

Gejala Bisul

Gejala bisul biasanya muncul secara bertahap dimulai dengan rasa gatal atau nyeri ringan pada area kulit tertentu. Benjolan tersebut akan berubah menjadi keras, merah, dan sangat sensitif terhadap sentuhan dalam waktu singkat. Setelah beberapa hari, titik putih atau kekuningan akan muncul di puncak benjolan yang menandakan akumulasi nanah di dalamnya.

Beberapa tanda klinis yang sering terjadi antara lain:

  • Benjolan merah yang membesar secara progresif (bisa mencapai ukuran bola pingpong).
  • Kulit di sekitar benjolan tampak bengkak, merah, dan terasa hangat.
  • Rasa nyeri yang berdenyut, terutama saat bisul sudah matang atau penuh nanah.
  • Munculnya mata bisul atau titik kuning di tengah benjolan yang kemudian dapat pecah.
  • Demam atau rasa tidak enak badan jika infeksi mulai menyebar ke jaringan yang lebih dalam.

Perbedaan Bisul dan Jerawat

Penting untuk membedakan antara bisul dan jerawat agar tidak terjadi kesalahan penanganan. Jerawat biasanya lebih kecil dan tidak disertai rasa nyeri berdenyut yang hebat seperti pada kasus furunkel. Bisul cenderung berada lebih dalam di lapisan kulit dan melibatkan area peradangan yang jauh lebih luas dibandingkan jerawat biasa.

Apa Penyebab Bisul?

Penyebab bisul secara biologis adalah bakteri Staphylococcus aureus yang masuk melalui pori-pori atau luka kecil di kulit. Bakteri ini sebenarnya sering ditemukan secara alami pada permukaan kulit atau di dalam lubang hidung tanpa menyebabkan masalah. Namun, ketika bakteri masuk ke folikel rambut melalui lecet, infeksi lokal yang memicu pembentukan nanah dapat terjadi.

Selain bakteri utama tersebut, mikroorganisme lain seperti Streptococcus juga bisa menjadi agen penyebab pada beberapa kasus. Infeksi ini memicu respons sistem kekebalan tubuh untuk mengirimkan sel darah putih ke lokasi tersebut guna melawan bakteri. Akumulasi sel darah putih yang mati, jaringan kulit yang rusak, dan bakteri inilah yang membentuk cairan nanah di dalam benjolan.

“Sebagian besar infeksi kulit dan jaringan lunak disebabkan oleh Staphylococcus aureus, termasuk strain yang resisten terhadap antibiotik seperti MRSA.” — World Health Organization (WHO), 2023

Faktor Risiko Bisul

Setiap individu dapat mengalami kondisi ini, namun terdapat faktor risiko tertentu yang meningkatkan peluang terjadinya infeksi bakteri pada folikel. Faktor kesehatan mendasar yang memengaruhi sistem imun sangat berperan dalam frekuensi munculnya bisul berulang. Selain itu, kebersihan pribadi menjadi parameter utama dalam mengontrol populasi bakteri di permukaan kulit.

Beberapa faktor risiko utama meliputi:

  • Memiliki kontak erat dengan penderita infeksi Staphylococcus sebelumnya.
  • Menderita penyakit kronis seperti diabetes yang menghambat kemampuan tubuh melawan infeksi.
  • Mengalami kondisi kulit lain yang merusak penghalang kulit, seperti eksim atau jerawat kronis.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat pengobatan tertentu atau penyakit imunodefisiensi.
  • Higienitas yang buruk atau sering berbagi barang pribadi seperti handuk dan alat cukur.

Diagnosis Bisul

Diagnosis bisul umumnya dilakukan oleh tenaga medis melalui pemeriksaan fisik secara langsung pada area yang terdampak. Dokter akan memperhatikan ukuran, konsistensi benjolan, dan tanda-tanda penyebaran infeksi ke jaringan sekitarnya. Riwayat medis pasien juga akan dievaluasi untuk mengetahui apakah kondisi ini sering kambuh dalam waktu singkat.

Jika bisul tidak merespons pengobatan standar atau terus muncul berulang kali, dokter mungkin akan menyarankan pengambilan sampel nanah. Sampel tersebut akan dibawa ke laboratorium untuk prosedur kultur bakteri dan uji sensitivitas antibiotik. Hal ini bertujuan untuk memastikan jenis bakteri penyebab dan menentukan jenis antibiotik yang paling efektif untuk membasminya.

Bagaimana Cara Mengobati Bisul?

Cara mengobati bisul pada stadium awal dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan menjaga kebersihan area tersebut. Langkah paling efektif adalah memberikan kompres hangat selama 10 hingga 15 menit sebanyak tiga kali sehari. Suhu hangat membantu meningkatkan sirkulasi darah ke area infeksi, sehingga mempercepat proses pematangan dan drainase nanah secara alami.

Beberapa aturan penting dalam pengobatan bisul meliputi:

  • Dilarang keras memencet atau menusuk bisul dengan jarum karena dapat mendorong infeksi masuk lebih dalam ke aliran darah.
  • Gunakan sabun antibakteri saat membersihkan area di sekitar bisul yang telah pecah.
  • Tutup bisul yang terbuka dengan perban steril agar bakteri tidak menyebar ke bagian tubuh lain.
  • Gunakan salep antibiotik topikal jika diresepkan oleh dokter untuk membunuh bakteri di permukaan kulit.
  • Konsumsi antibiotik oral sesuai instruksi medis jika infeksi tergolong berat atau disertai demam.

Pencegahan Bisul

Pencegahan bisul berfokus pada meminimalkan paparan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan menjaga integritas kulit. Mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir adalah cara paling sederhana namun efektif untuk memutus rantai penularan bakteri. Selain itu, menjaga tubuh tetap bersih dan kering setelah beraktivitas fisik sangat disarankan untuk mencegah penyumbatan pori-pori.

Langkah pencegahan tambahan yang dapat diterapkan:

  • Tidak berbagi barang pribadi seperti handuk, pakaian, sprei, atau pisau cukur dengan orang lain.
  • Membersihkan dan menutup luka gores atau lecet kecil segera setelah terjadi.
  • Mencuci handuk dan pakaian yang terkontaminasi dengan air panas dan deterjen kuat.
  • Menjaga asupan nutrisi untuk memastikan sistem kekebalan tubuh tetap optimal dalam melawan patogen.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun sebagian besar bisul dapat sembuh dengan perawatan rumahan, terdapat beberapa kondisi yang memerlukan intervensi medis segera. Intervensi dokter diperlukan jika benjolan tidak menunjukkan tanda-tanda membaik setelah dua minggu perawatan mandiri. Selain itu, munculnya garis-garis merah dari lokasi bisul menandakan bahwa infeksi telah mulai menyebar ke sistem limfatik.

Segera hubungi tenaga medis jika ditemukan kondisi berikut:

  • Bisul muncul di area wajah atau dekat dengan mata.
  • Timbul rasa nyeri yang luar biasa hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Disertai demam tinggi, menggigil, atau rasa lemas yang hebat.
  • Bisul muncul dalam jumlah banyak (karbunkel) dalam satu lokasi.
  • Pasien memiliki kondisi medis penyerta seperti penyakit jantung atau diabetes yang tidak terkontrol.

Kesimpulan

Penyebab bisul utama adalah infeksi bakteri yang menyerang folikel rambut, namun dapat dicegah dengan menjaga higienitas diri secara konsisten. Penanganan yang tepat melibatkan kompres hangat dan menghindari tindakan memencet benjolan secara paksa untuk mencegah komplikasi sistemik. Segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc jika mengalami gejala yang memberat atau infeksi yang terus berulang. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.