• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Bahayanya Jika Darah Kekurangan Oksigen

Ini Bahayanya Jika Darah Kekurangan Oksigen

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Ini Bahayanya Jika Darah Kekurangan Oksigen

Halodoc, Jakarta - Saat tubuh tidak memiliki cukup oksigen, maka kamu bisa mengalami hipoksemia atau hipoksia. Kedua kondisi ini termasuk dalam kondisi yang berbahaya. Tanpa adanya asupan oksigen, kerusakan bisa terjadi pada otak, hati, dan organ-organ lain beberapa menit setelah gejala terjadi. 

Hipoksemia (oksigen rendah dalam darah) dapat menyebabkan hipoksia (oksigen rendah dalam jaringan) ketika darah kamu tidak membawa cukup oksigen ke jaringan tubuh untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Perlu kamu ketahui bahwa istilah hipoksia terkadang digunakan untuk menggambarkan kedua masalah ini. 

Baca juga: Alami Hipoksia, Ini yang Terjadi pada Tubuh

Hal yang Menyebabkan Hipoksia

Munculnya asma yang parah atau sering dapat menyebabkan hipoksia pada orang dewasa dan anak-anak. Selama terjadinya serangan asma, saluran udara menyempit, sehingga sulit untuk mendapatkan udara ke paru-paru. Batuk yang biasanya berfungsi untuk membersihkan paru-paru bahkan menggunakan lebih banyak oksigen dan dapat memperburuk gejala. 

Hipoksia juga dapat terjadi akibat kerusakan paru-paru karena trauma. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan hipoksia meliputi:

  • Penyakit paru-paru seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), emfisema, bronkitis, pneumonia, dan edema paru (cairan di paru-paru).
  • Obat sakit yang kuat yang mampu menahan pernapasan. 
  • Masalah jantung.
  • Anemia (jumlah rendah sel darah merah, yang membawa oksigen).
  • Keracunan sianida (Sianida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik dan produk lainnya). 

Meskipun gejala pada setiap orang dapat bervariasi, gejala yang paling umum adalah:

  • Perubahan warna kulit, mulai dari biru menjadi merah ceri.
  • Kebingungan.
  • Batuk.
  • Detak jantung yang cepat.
  • Napas cepat.
  • Sesak napas.
  • Detak jantung melambat.
  • Berkeringat.
  • Napas berdesah.

Baca juga: Jangan Diabaikan, Inilah Komplikasi Akibat Hipoksia

Terapi Oksigen untuk Penanganan Pengidap Hipoksia

Untuk mengatasi hipoksia, maka perlu melibatkan peningkatan asupan oksigen. Metode umum untuk menyediakan oksigen ekstra atau terapi oksigen. Terapi oksigen juga disebut oksigen tambahan. Ini melibatkan penggunaan alat mekanis yang memasok oksigen ke paru-paru. 

Dengan oksigen tambahan, maka akan mengurangi sesak napas, meningkatkan oksigen dalam darah, serta mengurangi jumlah pekerjaan yang harus dilakukan jantung dan paru-paru. Ini juga dapat mengurangi hiperkapnia. Sebelum meresepkan oksigen, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengukur kadar oksigen darah. Setelah itu, oksigen tambahan akan disuplai dengan cara berikut:

  • Tangki Oksigen

Terapi ini menggunakan oksigen terkompresi. Gas oksigen terkompresi disimpan dalam tangki portabel. Tangki mengirimkan oksigen ke tubuh melalui tabung hidung, masker wajah, atau tabung yang dimasukkan ke tenggorokan.

  • Konsentrator Oksigen

Terapi oksigen juga tersedia dalam bentuk konsentrator. Alat ini mengambil udara dari lingkungan, menyaring gas-gas lain, dan menyimpan oksigen untuk digunakan. Tidak seperti oksigen terkompresi, kamu tidak harus menggunakan wadah oksigen yang sudah diisi sebelumnya.

  • Oksigen Cair

Pilihan lainnya adalah oksigen cair. Oksigen cair dapat berubah menjadi gas ketika meninggalkan wadahnya. Meskipun oksigen cair dapat mengambil ruang lebih sedikit daripada oksigen terkompresi, oksigen juga dapat menguap. 

Baca juga: Bayi Alami Hipoksia, Apa yang Harus Ibu Lakukan?

Perlu kamu ketahui juga bahwa cara terbaik untuk mencegah hipoksia adalah menjaga asma tetap terkendali. Tetaplah mengikuti rencana perawatan asma, seperti:

  • Rutin minum obat untuk membantu mencegah flare dan kebutuhan untuk menggunakan inhaler
  • Makan dengan benar dan tetap aktif.
  • Ketahui pemicu asma, dan temukan cara untuk menghindarinya. 

Bekerja sama dengan dokter melalui aplikasi Halodoc untuk membuat rencana tindakan untuk serangan asma, sehingga kamu tahu apa yang harus dilakukan ketika kamu kesulitan bernapas. Yuk, segera download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Understanding COPD Hypoxia
WebMD. Diakses pada 2020. Hypoxia and Hypoxemia