Ad Placeholder Image

Ini Berbagai Gangguan di Area Kelamin Anak yang Perlu Diketahui

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

“Gangguan pada area kelamin anak seringkali disebabkan oleh kurangnya kebersihan. Orang tua perlu waspada dan memerhatikan gejala serta perilaku anak untuk segera mengatasi gangguan penyakit tersebut.“

Ini Berbagai Gangguan di Area Kelamin Anak yang Perlu DiketahuiIni Berbagai Gangguan di Area Kelamin Anak yang Perlu Diketahui

DAFTAR ISI


Kesehatan area genital atau kelamin anak sering kali menjadi salah satu hal yang luput dari perhatian detail orang tua, padahal area ini sangat sensitif dan rentan terhadap berbagai masalah medis. Berbicara mengenai penyakit kelamin pada anak, penting untuk dipahami bahwa konteksnya sangat berbeda dengan penyakit menular seksual pada orang dewasa. Pada anak-anak, terutama anak laki-laki, masalah di area kelamin umumnya berkaitan dengan kelainan bawaan lahir (kongenital), infeksi bakteri, masalah kebersihan, hingga trauma fisik di area genital.

Mengetahui ciri ciri penyakit kelamin pada anak laki-laki sangatlah krusial bagi orang tua. Karena anak-anak, terutama bayi dan balita, belum bisa mengomunikasikan rasa sakit atau ketidaknyamanan yang mereka rasakan dengan jelas, orang tua dituntut untuk lebih jeli dan peka. Gejala awal sering kali hanya ditandai dengan anak yang terus-menerus menangis saat buang air kecil, sering menarik-narik popoknya, atau adanya perubahan warna dan bentuk pada area penis maupun skrotum (kantung pelir).

Kondisi medis yang memengaruhi alat kelamin anak laki-laki sangat beragam. Beberapa di antaranya merupakan kondisi ringan yang dapat sembuh dengan perawatan kebersihan di rumah, namun tidak sedikit pula yang tergolong sebagai kondisi gawat darurat medis yang memerlukan tindakan pembedahan secepatnya. Jika dibiarkan berlarut-larut, beberapa gangguan pada alat kelamin ini dapat memengaruhi fungsi reproduksi anak di masa depan, menghambat pertumbuhan testis, hingga menyebabkan kerusakan jaringan yang permanen.

Oleh karena itu, sangat penting bagi ibu dan ayah untuk membekali diri dengan informasi yang akurat mengenai berbagai gangguan urologi dan genital pada anak. Langkah deteksi dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Pemeriksaan rutin secara mandiri saat memandikan anak atau saat mengganti popok bisa menjadi langkah pencegahan yang sangat efektif.

Mengingat topik ini sangat spesifik dan penanganannya mutlak membutuhkan diagnosis serta resep dari dokter spesialis (sehingga tidak ada obat bebas yang bisa direkomendasikan secara sembarangan), artikel ini akan fokus membahas secara mendalam mengenai berbagai jenis gangguan, gejala, serta langkah awal yang harus orang tua lakukan. Nah, mau tahu apa saja masalah medis dan ciri ciri penyakit kelamin pada anak laki-laki yang paling sering terjadi? Berikut ulasan selengkapnya!

Jenis dan Ciri Penyakit Kelamin pada Anak Laki-Laki

Masalah pada area kelamin anak laki-laki sangat bervariasi, mulai dari kulup yang meradang hingga posisi testis yang tidak normal. Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai gangguan yang kerap ditemui beserta ciri-cirinya:

1. Balanitis (Peradangan pada Kepala Penis)

Balanitis adalah suatu kondisi peradangan yang terjadi pada glans (kepala penis) dan juga sering menyertai kulup penis (disebut balanopostitis). Kondisi ini paling sering dialami oleh anak laki-laki yang belum disunat (sirkumsisi). Penyebab utamanya biasanya adalah kebersihan yang kurang terjaga, di mana kotoran, keringat, sel kulit mati, dan sisa urine menumpuk di bawah kulup (smegma), sehingga menjadi tempat yang ideal bagi bakteri atau jamur untuk berkembang biak. Selain itu, penggunaan sabun yang terlalu keras atau alergi terhadap bahan popok juga bisa memicu iritasi yang berujung pada balanitis.

Ciri-ciri balanitis pada anak laki-laki antara lain terlihatnya kemerahan yang mencolok pada kepala penis atau kulup. Area tersebut juga akan tampak bengkak dan terasa hangat saat disentuh. Anak biasanya akan mengeluh nyeri, terutama saat bergesekan dengan pakaian dalam atau saat buang air kecil (disuria). Pada beberapa kasus infeksi yang lebih parah, orang tua mungkin akan menemukan adanya cairan kental berwarna kekuningan atau putih (nanah) yang keluar dari balik kulup, disertai bau yang tidak sedap. Anak bayi biasanya akan menjadi sangat rewel saat popoknya diganti.

2. Fimosis (Phimosis)

Fimosis adalah suatu kondisi di mana kulup penis (kulit yang menutupi kepala penis) sangat ketat sehingga tidak dapat ditarik ke belakang untuk membuka kepala penis secara keseluruhan. Perlu orang tua ketahui bahwa pada bayi dan anak laki-laki berusia di bawah 3 hingga 5 tahun, fimosis adalah kondisi fisiologis yang sangat normal. Seiring bertambahnya usia, perlengketan alami antara kulup dan kepala penis akan merenggang dengan sendirinya.

Namun, fimosis menjadi masalah medis (fimosis patologis) jika kondisi ini menetap hingga anak berusia lebih besar, atau jika menyebabkan gangguan dalam berkemih. Ciri ciri penyakit kelamin pada anak laki-laki yang mengalami fimosis bermasalah adalah kulup akan menggelembung seperti balon (ballooning) saat anak buang air kecil. Hal ini terjadi karena urine terjebak di dalam kulup sebelum akhirnya menetes keluar. Kondisi ini juga rentan memicu infeksi berulang (balanitis) karena area di bawah kulup sangat sulit dibersihkan dari smegma. Jika fimosis menyebabkan infeksi berulang atau kesulitan buang air kecil yang parah, dokter biasanya akan merekomendasikan tindakan sirkumsisi (sunat).

3. Parafimosis

Berbeda dengan fimosis, parafimosis adalah kondisi gawat darurat medis yang membutuhkan penanganan segera. Parafimosis terjadi ketika kulup penis ditarik ke belakang (melewati kepala penis), namun kemudian terjebak dan tidak bisa dikembalikan lagi ke posisi semula, menutupi kepala penis. Hal ini biasanya terjadi akibat tindakan menarik kulup secara paksa saat membersihkan penis, atau lupa mengembalikan kulup setelah melakukan pemeriksaan.

Ciri-ciri utamanya adalah kulup yang terjebak tersebut akan membentuk seperti cincin ketat (cincin pencekik) di bagian leher penis. Akibatnya, aliran darah menuju kepala penis menjadi terhambat. Kepala penis akan terlihat sangat bengkak, berwarna merah gelap hingga kebiruan karena kekurangan oksigen, dan anak akan merasakan nyeri yang sangat hebat dan mendadak. Jika kamu melihat tanda ini, jangan mencoba menariknya sendiri dengan paksa, segera bawa anak ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit untuk mencegah kerusakan jaringan atau nekrosis (kematian jaringan) pada penis.

4. Kriptorkismus (Testis Tidak Turun/Undescended Testicle)

Kriptorkismus adalah kelainan bawaan di mana satu atau kedua testis (buah zakar) anak tidak turun ke dalam skrotum (kantung pelir) sebelum ia lahir. Normalnya, testis berkembang di dalam perut janin dan akan turun ke dalam skrotum pada bulan-bulan terakhir kehamilan. Namun, pada sekitar 3-4% bayi laki-laki yang lahir cukup bulan (dan lebih tinggi pada bayi prematur), proses penurunan ini tidak terjadi secara sempurna.

Ciri ciri penyakit kelamin pada anak laki-laki dalam kasus ini sangat jelas terlihat dari anatomi fisiknya. Orang tua atau dokter akan meraba skrotum anak dan menyadari bahwa kantung tersebut terasa kosong, baik di satu sisi maupun di kedua sisinya. Terkadang testis bisa diraba di area pangkal paha (saluran inguinal). Kondisi ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit. Sebagian besar kasus kriptorkismus akan sembuh dengan sendirinya, di mana testis akan turun pada 6 bulan pertama kehidupan anak. Namun, jika hingga usia 1 tahun testis belum juga turun, tindakan operasi (orkiopeksi) perlu dilakukan untuk memindahkan testis ke skrotum. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kemandulan dan kanker testis di masa dewasa karena suhu di dalam rongga tubuh terlalu panas untuk perkembangan testis yang sehat.

5. Hidrokel (Hydrocele)

Hidrokel adalah pembengkakan yang terjadi pada skrotum (kantung pelir) yang disebabkan oleh penumpukan cairan di sekitar testis. Kondisi ini sangat umum terjadi pada bayi baru lahir. Selama perkembangan janin, testis turun dari perut melalui sebuah saluran ke dalam skrotum. Normalnya, saluran ini akan menutup dan cairan di dalamnya akan diserap tubuh. Namun, jika saluran ini tetap terbuka (hidrokel komunikans) atau cairan tidak terserap dengan baik (hidrokel non-komunikans), maka cairan akan menumpuk dan menyebabkan skrotum membengkak.

Ciri-ciri hidrokel yang paling mudah dikenali adalah membesarnya salah satu atau kedua sisi skrotum anak, sehingga terlihat seperti balon berisi air. Ukuran pembengkakan ini terkadang bisa berubah-ubah; membesar saat anak menangis atau mengejan, dan mengecil saat anak berbaring istirahat. Umumnya, hidrokel tidak terasa sakit saat ditekan dan pembengkakannya terasa lunak. Dokter biasanya mendiagnosis kondisi ini dengan menyinari skrotum menggunakan senter kecil (transiluminasi). Jika area tersebut menyala terang, itu menandakan isinya adalah cairan bening. Sebagian besar hidrokel pada bayi akan hilang dengan sendirinya sebelum anak berusia 1 hingga 2 tahun tanpa memerlukan pengobatan khusus.

6. Hernia Inguinalis

Hernia inguinalis memiliki mekanisme penyebab yang mirip dengan hidrokel komunikans, namun jauh lebih berbahaya. Kondisi ini terjadi ketika sebagian dari organ dalam perut (biasanya sebagian dari usus atau jaringan lemak) menonjol keluar melalui celah yang melemah pada otot dinding perut bawah (kanalis inguinalis) dan masuk ke dalam skrotum atau area selangkangan anak.

Ciri-ciri hernia inguinalis adalah munculnya benjolan yang cukup jelas di area selangkangan (pangkal paha) atau skrotum. Benjolan ini mungkin membesar dan terlihat sangat jelas ketika anak menangis, batuk, atau mengejan saat buang air besar, lalu mengempis kembali saat anak tidur atau rileks. Berbeda dengan hidrokel yang merupakan kumpulan cairan, benjolan hernia terasa lebih padat. Hernia inguinalis harus segera ditangani secara medis karena usus yang turun dapat terjepit (inkarserata) atau terpelintir (strangulata), yang akan memutus aliran darah ke usus tersebut. Jika usus terjepit, anak akan mengalami nyeri hebat, benjolan mengeras dan kemerahan, mual, hingga muntah berulang.

7. Torsio Testis (Testis Terpelintir)

Ini adalah salah satu kondisi paling kritis yang bisa terjadi pada alat kelamin anak laki-laki. Torsio testis terjadi ketika testis berputar dan memelintir korda spermatika, yaitu saluran yang membawa aliran darah menuju ke skrotum. Akibat pelintiran ini, suplai darah menuju testis terhenti total. Walaupun lebih sering terjadi pada masa pubertas (usia 12-18 tahun), torsio testis juga dapat terjadi pada bayi baru lahir maupun anak-anak di bawah umur.

Ciri-ciri utama dari torsio testis adalah timbulnya rasa nyeri yang luar biasa hebat dan sangat mendadak pada salah satu testis. Nyeri ini bisa sangat menyiksa hingga membuat anak menangis histeris, berkeringat dingin, mual, pusing, hingga muntah. Skrotum akan terlihat bengkak seketika, berwarna kemerahan atau keunguan, dan satu testis mungkin posisinya terlihat lebih tinggi atau menyudut secara tidak wajar dibandingkan sisi lainnya. Torsio testis adalah gawat darurat bedah. Jendela waktu untuk menyelamatkan testis dari kematian jaringan (nekrosis) sangatlah sempit, biasanya hanya sekitar 6 jam sejak rasa sakit pertama kali muncul. Oleh karena itu, jika anak tiba-tiba menjerit kesakitan memegangi area kelaminnya, segera bawa ke rumah sakit tanpa menunda sedetik pun.

8. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Meskipun secara anatomi infeksi saluran kemih (ISK) lebih sering terjadi pada anak perempuan karena saluran uretra mereka lebih pendek, anak laki-laki—terutama bayi yang belum disunat dengan usia di bawah 1 tahun—juga memiliki risiko yang cukup tinggi terkena ISK. Infeksi ini terjadi ketika bakteri dari luar (sering kali dari tinja di popok) masuk ke dalam saluran uretra dan berkembang biak di dalam kandung kemih atau bahkan naik ke ginjal.

Ciri-ciri ISK pada bayi sering kali bersifat umum dan tidak spesifik pada area kelamin saja, seperti demam tinggi tanpa penyebab yang jelas, rewel yang tidak biasa, nafsu makan/minum susu menurun drastis, hingga muntah. Pada anak yang sudah lebih besar dan bisa berbicara, mereka biasanya akan mengeluhkan rasa perih, panas, atau terbakar saat buang air kecil (anyang-anyangan). Orang tua juga perlu memperhatikan jika anak tiba-tiba sering mengompol padahal sudah lulus toilet training, frekuensi buang air kecil meningkat drastis, urine berwarna keruh, berdarah, atau memiliki bau yang sangat menyengat dan tidak wajar.

Faktor Pemicu Umum Gangguan Kelamin pada Anak Laki-Laki
  1. Kebersihan yang Kurang: Penumpukan keringat, urine, dan kotoran (smegma) di area genital, terutama di bawah kulup penis anak yang belum disunat.
  2. Kelainan Kongenital (Bawaan Lahir): Perkembangan anatomi saluran kemih atau reproduksi yang tidak sempurna saat anak masih berada di dalam kandungan.
  3. Iritasi Bahan Kimia: Penggunaan sabun mandi yang mengandung parfum kuat, deterjen pakaian, atau gesekan dari popok sekali pakai yang ukurannya terlalu ketat.
  4. Trauma atau Cedera: Benturan saat bermain, terjatuh, atau kecelakaan saat berolahraga yang mengenai area selangkangan dan skrotum.

Tips Merawat Kebersihan Kelamin Anak Laki-Laki

Mencegah tentu jauh lebih baik daripada mengobati. Karena banyak dari ciri ciri penyakit kelamin pada anak laki-laki disebabkan oleh faktor kebersihan, orang tua harus menerapkan rutinitas hygiene yang tepat. Pendekatan perawatan akan sedikit berbeda tergantung pada apakah anak laki-laki tersebut sudah disunat (sirkumsisi) atau belum.

1. Perawatan Anak Laki-Laki yang Belum Disunat

Pada anak laki-laki yang belum disunat, pastikan untuk membersihkan area luar penis dan skrotum setiap kali mandi dengan air mengalir dan sabun yang lembut (hypoallergenic). Satu aturan emas yang tidak boleh dilanggar: Jangan pernah menarik paksa (retraksi) kulup penis pada bayi dan balita. Kulup bayi menempel pada kepala penis secara alami dan menariknya dengan paksa dapat menyebabkan robekan, pendarahan, jaringan parut, hingga risiko fimosis patologis dan parafimosis. Cukup bersihkan bagian luar yang terlihat. Untuk mendukung kebersihannya, kamu juga bisa beli sabun mandi khusus anak yang lembut dan aman secara online di Halodoc, produk 100% asli dan langsung diantar ke rumah tanpa repot.

2. Perawatan Anak Laki-Laki yang Sudah Disunat

Untuk anak yang sudah disunat, perawatan rutinnya relatif lebih mudah karena kepala penis (glans) sudah terbuka sepenuhnya. Cukup cuci secara lembut menggunakan air hangat dan sabun tanpa pewangi setiap kali mandi. Pastikan area tersebut dikeringkan dengan tepukan lembut menggunakan handuk bersih sebelum memakaikan popok atau celana dalam, untuk mencegah area menjadi lembap dan memicu pertumbuhan jamur.

3. Mengganti Popok Tepat Waktu

Bagi anak yang masih menggunakan popok, usahakan untuk tidak membiarkan popok kotor atau basah terlalu lama. Segera ganti popok begitu anak buang air besar, karena bakteri dari feses sangat mudah bermigrasi ke saluran kemih dan menyebabkan ISK. Saat membersihkan sisa feses, usap dari arah depan (kelamin) ke belakang (anus), bukan sebaliknya.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?

Tidak semua masalah kelamin memerlukan penanganan darurat, seperti halnya fimosis fisiologis atau hidrokel kecil. Namun, orang tua harus waspada dan menjadikan kondisi berikut sebagai “Red Flags” atau tanda bahaya yang mengharuskan anak segera dibawa ke dokter:

  • Anak tiba-tiba menjerit kesakitan dan memegangi area selangkangannya (indikasi torsio testis).
  • Adanya pembengkakan yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat membesar pada skrotum atau selangkangan.
  • Skrotum terlihat berwarna sangat merah, keunguan, hingga menghitam.
  • Anak sama sekali tidak bisa buang air kecil atau urine hanya menetes perlahan disertai rasa nyeri hebat.
  • Terlihat nanah, darah, atau cairan tidak wajar yang keluar dari penis.
  • Adanya benjolan di lipat paha yang mengeras, berwarna merah, dan anak mengalami muntah-muntah (indikasi hernia strangulata).
  • Gejala di atas disertai dengan demam tinggi, menggigil, dan lemas.

Jika anak mengalami salah satu atau beberapa dari demam tinggi dan nyeri hebat pada area kelaminnya secara mendadak, jangan tunda lagi, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendapatkan panduan langkah pertolongan pertama dan diagnosis awal sebelum membawanya ke rumah sakit.

Studi Mengenai Gangguan Urologi Anak

Journal of Pediatric Urology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa fimosis adalah fenomena fisiologis yang umum terjadi pada sebagian besar anak laki-laki di bawah usia 3 tahun, dan intervensi bedah (seperti sirkumsisi) pada kasus yang tidak bergejala sering kali tidak diperlukan secara medis. Studi tersebut menekankan pentingnya edukasi bagi orang tua terkait kebersihan area genital untuk mencegah balanitis.

Selain itu, temuan lain menunjukkan bahwa diagnosis hidrokel pada bayi baru lahir sangat tinggi, namun tingkat resolusi spontan (sembuh sendiri) mencapai lebih dari 80% pada tahun pertama kehidupan. Hal ini menegaskan bahwa orang tua tidak perlu panik, namun evaluasi klinis berkala oleh dokter spesialis anak tetap diperlukan untuk memastikan kondisi tidak berkembang menjadi komplikasi seperti hernia inguinalis.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Menjaga kesehatan organ reproduksi anak adalah investasi panjang untuk kehidupannya kelak. Kamu tidak perlu panik jika menemukan kelainan, namun kewaspadaan ekstra sangat diperlukan. Konsultasikan dengan praktisi medis terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc. Yuk, kelola kesehatan keluarga dengan lebih mudah dan tepercaya!

Referensi:
American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org). Diakses pada 2024. Care of the Uncircumcised Penis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Hydrocele.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Phimosis.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Male Circumcision and Urological Issues in Children.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Pediatric Testicular Torsion.

FAQ

1. Apa saja ciri ciri penyakit kelamin pada anak laki-laki yang paling berbahaya?

Ciri yang paling berbahaya dan merupakan tanda gawat darurat adalah nyeri skrotum yang sangat ekstrem dan datang tiba-tiba, bengkak yang mengeras secara mendadak, perubahan warna penis/skrotum menjadi kebiruan atau hitam, serta ketidakmampuan untuk buang air kecil sama sekali. Gejala ini mengarah pada torsio testis atau parafimosis yang membutuhkan operasi segera.

2. Apakah wajar jika penis balita laki-laki belum bisa ditarik kulupnya?

Sangat wajar. Kondisi ini disebut fimosis fisiologis. Sebagian besar anak laki-laki dilahirkan dengan kulup yang menempel pada glans penis. Kondisi ini akan melonggar dengan sendirinya seiring pertumbuhan anak, umumnya tuntas pada usia 3 hingga 5 tahun. Orang tua dilarang keras menarik kulup secara paksa.

3. Mengapa buah zakar anak laki-laki saya besar sebelah?

Kondisi buah zakar (skrotum) besar sebelah pada bayi atau anak laki-laki sering kali disebabkan oleh hidrokel (penumpukan cairan) atau hernia inguinalis (turunnya sebagian usus). Jika ukurannya membesar saat anak menangis lalu mengecil saat tidur, kemungkinan besar itu adalah hernia yang perlu segera dievaluasi oleh dokter bedah anak.

4. Bagaimana cara membersihkan area kelamin anak laki-laki yang benar agar terhindar dari penyakit?

Gunakan air mengalir dan sabun bayi yang lembut. Bersihkan hanya bagian luar tanpa menggosoknya terlalu keras. Jika anak belum disunat, jangan paksa menarik kulup ke belakang. Pastikan area kelamin dikeringkan dengan handuk yang bersih sebelum mengenakan popok atau celana dalam untuk menjaga area tersebut tetap kering dan bebas jamur.