
Ini Berbagai Gejala Flu Tulang yang Masih Jarang Diketahui
“Flu tulang dianggap mirip dengan chikungunya maupun osteomielitis. Demam tinggi disertai nyeri sendi dan otot menjadi ciri utama dari flu tulang. ”

Ringkasan: Flu tulang atau chikungunya adalah infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kondisi ini ditandai dengan serangan demam tinggi mendadak dan nyeri sendi hebat yang dapat berlangsung selama beberapa hari hingga berminggu-minggu. Penanganan utama fokus pada pereda gejala dan hidrasi karena belum tersedia obat antivirus spesifik untuk penyakit ini.
Daftar Isi:
Apa Itu Flu Tulang?
Flu tulang adalah istilah populer di masyarakat Indonesia untuk menggambarkan penyakit chikungunya (ICD-10: A92.0). Penyakit ini merupakan infeksi virus yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang membawa virus chikungunya (CHIKV). Istilah flu tulang muncul karena penderita sering merasakan nyeri sendi yang sangat hebat seolah-olah tulang terasa sakit atau patah.
Infeksi ini pertama kali diidentifikasi di Tanzania pada tahun 1952. Nama chikungunya berasal dari bahasa Kimakonde yang berarti “menjadi tertekuk”, merujuk pada postur penderita yang membungkuk akibat menahan nyeri sendi (arthralgia) yang luar biasa. Meskipun jarang menyebabkan kematian, gejala yang ditimbulkan dapat bersifat melumpuhkan sementara dan mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan.
Virus chikungunya termasuk dalam genus Alphavirus dari keluarga Togaviridae. Setelah masuk ke aliran darah manusia, virus ini bereplikasi dan menyerang berbagai jaringan tubuh, terutama fibroblas pada sendi dan otot. Reaksi inflamasi (peradangan) yang terjadi inilah yang memicu rasa sakit kronis pada area persendian penderita.
“Chikungunya adalah penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk yang ditandai dengan nyeri sendi yang parah, yang sering kali bersifat melemahkan dan dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.” — World Health Organization (WHO), 2024
Gejala Flu Tulang
Gejala flu tulang biasanya muncul dalam rentang waktu 3 hingga 7 hari setelah seseorang digigit oleh nyamuk yang terinfeksi. Ciri utama penyakit ini adalah munculnya demam tinggi yang terjadi secara mendadak, sering kali mencapai suhu di atas 39 derajat Celsius. Demam ini biasanya berlangsung selama beberapa hari sebelum akhirnya menurun secara bertahap.
Selain demam, penderita akan mengalami nyeri sendi (arthralgia) yang sangat hebat dan sering kali bersifat simetris pada kedua sisi tubuh. Nyeri ini paling sering menyerang sendi kecil di tangan, pergelangan tangan, kaki, dan pergelangan kaki. Sendi yang terdampak mungkin akan mengalami pembengkakan, kaku, dan kemerahan yang membatasi pergerakan fisik.
Beberapa tanda klinis lain yang menyertai meliputi:
- Nyeri otot (myalgia) di seluruh tubuh.
- Sakit kepala yang berdenyut kencang.
- Ruam makulopapular (bintik merah datar atau menonjol) pada batang tubuh dan anggota gerak.
- Kelelahan ekstrem (fatigue) yang menetap.
- Mual dan muntah ringan.
Penyebab Flu Tulang
Penyebab utama flu tulang adalah infeksi virus chikungunya (CHIKV) yang berpindah ke tubuh manusia melalui perantara (vektor) nyamuk. Dua jenis nyamuk yang menjadi vektor utama adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini terinfeksi saat mereka menghisap darah orang yang sedang berada dalam masa viremia (adanya virus dalam darah).
Aedes aegypti biasanya hidup di lingkungan perkotaan dan berkembang biak di tempat penampungan air bersih di dalam rumah. Sementara itu, Aedes albopictus lebih banyak ditemukan di area yang memiliki banyak vegetasi seperti kebun atau hutan pinggiran kota. Kedua jenis nyamuk ini aktif menggigit manusia pada pagi hari segera setelah matahari terbit dan sore hari sebelum matahari terbenam.
Penularan dari manusia ke manusia secara langsung tidak dapat terjadi melalui kontak fisik, cairan pernapasan, atau makanan. Namun, dalam kasus yang sangat jarang, penularan dapat terjadi melalui transfusi darah atau dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya (penularan vertikal) saat proses persalinan. Setelah terinfeksi, tubuh biasanya membangun kekebalan jangka panjang terhadap serangan virus yang sama di masa depan.
Faktor Risiko Flu Tulang
Faktor risiko utama terkena flu tulang adalah tinggal atau bepergian ke daerah endemik di mana virus chikungunya dan nyamuk Aedes berkembang biak dengan pesat. Wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, merupakan daerah dengan risiko penularan yang tinggi sepanjang tahun, terutama saat musim penghujan ketika populasi nyamuk meningkat drastis.
Meskipun semua kelompok umur dapat terinfeksi, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi yang lebih berat. Lansia di atas usia 65 tahun dan individu dengan kondisi medis penyerta (komorbid) seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung memiliki risiko morbiditas yang lebih tinggi. Bayi yang baru lahir juga rentan mengalami manifestasi klinis yang lebih serius jika terinfeksi saat lahir.
Lingkungan dengan sanitasi buruk dan banyak genangan air meningkatkan risiko populasi nyamuk di sekitar tempat tinggal. Kebiasaan menampung air tanpa menutup wadah secara rapat menyediakan tempat bagi nyamuk untuk meletakkan telur. Minimnya perlindungan diri, seperti tidak menggunakan kelambu atau cairan penolak nyamuk (repellent), juga mempermudah terjadinya gigitan nyamuk terinfeksi.
Diagnosis Flu Tulang
Diagnosis flu tulang ditegakkan berdasarkan evaluasi klinis gejala yang dialami penderita dan riwayat perjalanan ke daerah endemik. Tenaga medis akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai derajat nyeri sendi dan adanya ruam. Karena gejala chikungunya menyerupai demam berdarah dengue (DBD) dan zika, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk konfirmasi yang akurat.
Metode diagnosis laboratorium utama meliputi tes serologi untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG terhadap virus chikungunya. Antibodi IgM biasanya dapat terdeteksi setelah 5 hari hingga beberapa minggu sejak timbulnya gejala. Pada fase awal penyakit (minggu pertama), tes RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction) dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan materi genetik virus secara langsung dalam darah.
Pemeriksaan penunjang lain seperti hitung darah lengkap mungkin menunjukkan penurunan kadar sel darah putih (leukopenia) dan penurunan kadar trombosit (trombositopenia), meskipun penurunan trombosit pada flu tulang biasanya tidak separah pada penderita DBD. Tes fungsi hati juga dapat dilakukan jika terdapat kecurigaan adanya peradangan pada organ hati akibat komplikasi sistemik.
Pengobatan Flu Tulang
Sampai saat ini, belum ada obat antivirus khusus untuk menyembuhkan flu tulang atau chikungunya secara instan. Fokus pengobatan bersifat simptomatik, yaitu bertujuan untuk meredakan gejala yang muncul dan mencegah terjadinya dehidrasi. Sebagian besar penderita dapat melakukan pemulihan secara mandiri di rumah dengan pengawasan medis yang tepat.
Langkah-langkah penanganan yang direkomendasikan meliputi:
- Istirahat total (bed rest) untuk membantu tubuh melawan infeksi dan mencegah kelelahan sendi.
- Peningkatan asupan cairan (air putih, jus, atau sup) untuk mencegah dehidrasi akibat demam tinggi.
- Konsumsi obat pereda nyeri dan penurun demam seperti paracetamol untuk mengontrol suhu tubuh dan mengurangi rasa sakit.
- Penggunaan kompres hangat pada persendian yang terasa kaku untuk melancarkan sirkulasi darah.
Penggunaan obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) seperti aspirin atau ibuprofen harus dihindari sampai diagnosis DBD disingkirkan oleh dokter. Hal ini penting untuk mencegah risiko perdarahan hebat jika ternyata penyakit yang diderita adalah demam berdarah. Konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja sangat disarankan untuk mendapatkan arahan medikasi yang aman.
“Penatalaksanaan chikungunya saat ini terbatas pada terapi suportif untuk meredakan nyeri dan demam, serta memastikan kecukupan hidrasi pada pasien.” — Kementerian Kesehatan RI, 2023
Pencegahan Flu Tulang
Pencegahan flu tulang yang paling efektif adalah dengan memutus rantai penularan melalui pengendalian populasi nyamuk dan perlindungan diri dari gigitan nyamuk. Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus tetap menjadi pilar utama pencegahan di Indonesia. Hal ini meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Langkah pencegahan tambahan (Plus) meliputi:
- Menggunakan cairan penolak nyamuk (repellent) yang mengandung DEET, picaridin, atau minyak eucalyptus pada kulit yang terbuka.
- Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi rumah untuk mencegah nyamuk masuk ke dalam ruangan.
- Menggunakan kelambu saat tidur, terutama pada siang hari bagi bayi dan lansia.
- Mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang berwarna terang untuk menutupi permukaan kulit.
- Menaburkan bubuk larvasida (abate) pada tempat penampungan air yang sulit dikuras.
Masyarakat juga diimbau untuk mendukung upaya pengasapan (fogging) yang dilakukan oleh instansi kesehatan setempat saat terjadi wabah. Namun, perlu diingat bahwa fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak mematikan jentik nyamuk. Oleh karena itu, kebersihan lingkungan secara mandiri tetap menjadi faktor penentu keberhasilan pencegahan penularan virus.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun flu tulang umumnya bisa sembuh dengan sendirinya, bantuan medis diperlukan jika gejala yang muncul bersifat berat atau tidak kunjung membaik. Segera hubungi dokter jika penderita mengalami demam tinggi yang menetap lebih dari tiga hari meskipun sudah diberikan obat penurun panas. Kelemahan sendi yang mengakibatkan penderita tidak bisa berjalan juga memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Tanda-tanda bahaya yang memerlukan penanganan darurat meliputi sesak napas, nyeri dada, muntah terus-menerus, atau adanya tanda perdarahan seperti gusi berdarah dan bintik merah di kulit. Penurunan kesadaran atau kebingungan mental juga menjadi indikasi adanya komplikasi langka pada sistem saraf pusat (ensefalitis). Ibu hamil dan lansia dengan komorbiditas sebaiknya segera memeriksakan diri sejak gejala pertama muncul untuk mencegah perburukan kondisi.
Kesimpulan
Flu tulang atau chikungunya merupakan infeksi virus yang menyebabkan demam dan nyeri sendi hebat namun umumnya bersifat self-limiting (sembuh sendiri). Pencegahan melalui pemberantasan sarang nyamuk dan perlindungan dari gigitan nyamuk adalah cara terbaik untuk menghindari penyakit ini. Penanganan dini dengan istirahat dan hidrasi yang cukup akan mempercepat proses pemulihan fisik. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat melalui layanan chat dokter dengan klik link berikut: https://halodoc.onelink.me/cQvV/8x1v8wkv


