Ad Placeholder Image

Ini Berbagai Gejala Sinkop Vasovagal yang Perlu Diwaspadai

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

“Sinkop vasovagal adalah kondisi yang menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran. Perlu ketahui gejala dari kondisi yang menyebabkan pingsan sebagai tindak pencegahan.”

Ini Berbagai Gejala Sinkop Vasovagal yang Perlu DiwaspadaiIni Berbagai Gejala Sinkop Vasovagal yang Perlu Diwaspadai

DAFTAR ISI


Melihat seseorang dengan kondisi mata terbuka tapi tidak sadar sering kali membingungkan dan menimbulkan kekhawatiran yang mendalam bagi pihak keluarga. Secara medis, fenomena ini menunjukkan adanya pemisahan antara dua fungsi dasar otak, yaitu kemampuan untuk bangun (keterjagaan) dan kemampuan untuk sadar (kesadaran terhadap diri sendiri dan lingkungan).

Kondisi ini umumnya terjadi ketika seseorang mengalami kerusakan otak yang sangat parah. Bagian otak yang mengatur siklus tidur dan bangun (batang otak) masih berfungsi normal, sehingga mata pasien bisa terbuka dan tertutup seperti biasa. Namun, bagian otak yang mengatur pikiran, ingatan, dan emosi (korteks serebral) mengalami kerusakan hebat, sehingga pasien tidak memiliki respons sama sekali terhadap sekitarnya.

Penanganan kondisi ini bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan intervensi medis jangka panjang yang sangat kompleks. Mengetahui penyebab yang mendasari, cara diagnosis yang tepat, dan rencana perawatan yang holistik sangatlah penting untuk menjaga kualitas hidup pasien serta memberikan informasi yang realistis bagi keluarga.

Lalu, apa sebenarnya yang memicu fenomena medis ini dan bagaimana cara medis menanganinya? Mari kita bahas secara mendalam melalui ulasan komprehensif berikut ini!

Memahami Kondisi Mata Terbuka tapi Tidak Sadar

Dalam dunia neurologi (ilmu saraf), kesadaran manusia dibentuk oleh dua elemen utama: keterjagaan (wakefulness) dan kesadaran (awareness). Keterjagaan diatur oleh struktur di dasar otak yang disebut Reticular Activating System (RAS) atau batang otak. Bagian ini bertanggung jawab atas refleks dasar seperti pernapasan, detak jantung, dan siklus tidur-bangun. Inilah alasan mengapa seseorang bisa membuka mata, menguap, atau bahkan tersenyum refleks tanpa harus memiliki kesadaran.

Di sisi lain, kesadaran atau awareness diatur oleh korteks serebral, yaitu lapisan luar otak yang penuh dengan lipatan. Korteks serebral memproses informasi sensorik, memungkinkan kita untuk berpikir, memahami kata-kata, merasakan sakit yang disadari, dan merespons perintah. Ketika koneksi antara batang otak dan korteks serebral terputus, atau jika korteks serebral hancur sementara batang otak tetap hidup, muncullah kondisi di mana mata bisa terbuka lebar, namun jiwa atau kesadaran seolah “kosong”.

Secara klinis, kondisi medis di mana seseorang bertahan dalam fase mata terbuka tanpa respons sadar dalam jangka waktu lama sering disebut sebagai Unresponsive Wakefulness Syndrome (UWS) atau yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Status Vegetatif (Vegetative State). Namun, dalam skala yang jauh lebih ringan dan sementara, fenomena mata terbuka dengan tatapan kosong juga bisa dijumpai pada kasus kejang absans (petit mal seizure), di mana anak-anak sering kali tampak seperti melamun atau menatap kosong selama beberapa detik tanpa merespons panggilan.

Penyebab Utama Terjadinya Kondisi Ini

Kerusakan otak yang mengakibatkan hilangnya kesadaran meskipun mata terbuka bisa dipicu oleh berbagai insiden medis. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:

1. Cedera Otak Traumatik (Traumatic Brain Injury)

Kecelakaan lalu lintas yang parah, benturan keras akibat jatuh dari ketinggian, atau cedera olahraga ekstrem dapat menyebabkan trauma fisik langsung pada otak. Benturan yang sangat keras dapat memicu Diffuse Axonal Injury (DAI), yaitu robeknya serabut saraf yang menghubungkan berbagai bagian otak. Akibatnya, komunikasi antar sel otak terputus total.

2. Hipoksia Otak (Kekurangan Oksigen)

Otak manusia sangat sensitif terhadap pasokan oksigen. Jika aliran oksigen ke otak terhenti selama lebih dari 4 hingga 6 menit, sel-sel otak akan mulai mati. Kondisi ini sering terjadi pada pasien yang mengalami henti jantung (cardiac arrest), kasus tenggelam, tersedak parah, atau keracunan karbon monoksida. Kerusakan akibat hipoksia sering kali menyebar luas di bagian korteks serebral.

3. Stroke dan Perdarahan Otak

Stroke iskemik (penyumbatan pembuluh darah otak) yang sangat masif, atau stroke hemoragik (pecahnya pembuluh darah di otak), dapat merusak area vital otak. Tekanan yang timbul akibat genangan darah di dalam tengkorak bisa menghancurkan jaringan otak yang mengatur kesadaran secara permanen.

4. Infeksi Sistem Saraf Pusat

Infeksi bakteri atau virus yang sangat agresif, seperti meningitis (radang selaput otak) atau ensefalitis (radang jaringan otak), dapat menyebabkan pembengkakan otak yang parah. Tekanan intrakranial yang tinggi akibat infeksi ini sering kali memicu kerusakan sel otak yang ireversibel (tidak dapat pulih).

5. Kejang Absans (Petit Mal Seizures)

Berbeda dengan penyebab sebelumnya yang bersifat permanen, kejang absans menyebabkan kondisi mata terbuka tapi tidak sadar hanya dalam waktu beberapa detik hingga puluhan detik. Kondisi ini sering dialami oleh anak-anak. Pasien akan tiba-tiba menghentikan aktivitasnya, menatap kosong ke depan, tidak merespons panggilan, dan setelah kejang selesai, mereka akan kembali sadar tanpa mengingat apa yang baru saja terjadi.

Langkah Pencegahan Cedera Otak Traumatis
  1. Selalu gunakan helm berstandar SNI saat mengendarai sepeda motor maupun sepeda.
  2. Gunakan sabuk pengaman (seatbelt) setiap kali bepergian menggunakan mobil.
  3. Pasang pegangan anti-slip di kamar mandi, terutama jika terdapat lansia di dalam rumah.
  4. Awasi anak-anak saat bermain di tempat yang tinggi atau di dekat kolam renang.

Perbedaan Koma, Status Vegetatif, dan Sindrom Terkunci

Banyak orang awam menyamakan semua ketidaksadaran dengan sebutan “koma”. Padahal, di dunia medis, terdapat perbedaan yang sangat jelas antara berbagai tingkat gangguan kesadaran ini:

1. Koma (Coma)

Pada kondisi koma, pasien benar-benar dalam keadaan tidak sadar dan mata tertutup secara terus-menerus. Pasien koma tidak memiliki siklus tidur dan bangun. Mereka tidak akan terbangun meskipun diberikan rangsangan rasa sakit yang kuat.

2. Status Vegetatif (Unresponsive Wakefulness Syndrome)

Jika pasien koma berhasil melewati fase kritis, mereka mungkin masuk ke status vegetatif. Pada fase inilah fenomena “mata terbuka tapi tidak sadar” terjadi. Pasien memiliki siklus tidur dan bangun (mata terbuka saat “bangun”, mata tertutup saat “tidur”). Mereka bisa mengerang, menguap, atau bergerak secara refleks, namun tidak memiliki kesadaran terhadap lingkungan. Jika kondisi ini berlangsung lebih dari 6 bulan (akibat penyebab non-trauma) atau 1 tahun (akibat trauma), kondisinya disebut sebagai status vegetatif permanen.

3. Minimally Conscious State (MCS)

Kondisi ini merupakan satu tingkat di atas status vegetatif. Pasien terkadang bisa menunjukkan tanda-tanda kesadaran yang tidak konsisten. Misalnya, sesekali mereka bisa mengikuti arah gerak jari dokter dengan matanya, atau meremas tangan anggota keluarga jika diminta, meskipun hal ini jarang dan sangat fluktuatif.

4. Locked-in Syndrome (Sindrom Terkunci)

Ini adalah kondisi yang sangat berbeda dan tragis. Kerusakan terjadi pada bagian spesifik di batang otak yang melumpuhkan semua otot sadar tubuh, kecuali otot penggerak mata. Pasien memiliki kesadaran penuh 100%, bisa mendengar, merasakan, dan berpikir secara normal, namun mereka lumpuh total dan tidak bisa bicara. Mereka berkomunikasi dengan cara mengedipkan mata atau menggerakkan bola mata ke atas dan ke bawah.

Diagnosis dan Pemeriksaan Medis

Menegakkan diagnosis yang akurat sangat krusial agar keluarga tidak mendapatkan harapan palsu atau sebaliknya, kehilangan harapan terlalu cepat. Dokter spesialis saraf (neurolog) akan melakukan serangkaian evaluasi yang mendalam dan berulang:

Pertama, dokter akan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS), sebuah metode standar untuk menilai tingkat kesadaran berdasarkan respons membuka mata, respons verbal, dan respons motorik. Seseorang dengan status vegetatif umumnya memiliki skor GCS yang rendah karena tidak adanya respons verbal dan motorik yang memiliki tujuan.

Kedua, pemeriksaan pencitraan otak seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau CT Scan digunakan untuk memetakan secara presisi seberapa luas kerusakan fisik pada struktur otak, menemukan adanya perdarahan, tumor, atau area otak yang mengalami infark (kematian jaringan akibat kurang darah).

Ketiga, Electroencephalogram (EEG) akan digunakan untuk merekam gelombang aktivitas listrik otak. EEG sangat penting untuk menyingkirkan kemungkinan pasien sedang mengalami kejang tersembunyi (non-convulsive status epilepticus) yang membuat mereka tampak tidak sadar padahal sebenarnya sedang mengalami badai listrik di otaknya.

Penanganan dan Perawatan Jangka Panjang

Hingga saat ini, belum ada obat yang secara ajaib dapat mengembalikan sel otak yang telah mati. Oleh karena itu, tujuan utama dari penanganan medis untuk pasien yang mata terbuka tapi tidak sadar difokuskan pada perawatan suportif dan pencegahan komplikasi sekunder.

1. Dukungan Nutrisi dan Hidrasi

Karena pasien tidak dapat menelan secara sadar, mereka tidak bisa makan lewat mulut. Pemberian nutrisi dilakukan melalui selang Nasogastric Tube (NGT) yang dimasukkan lewat hidung ke lambung, atau untuk jangka panjang, dipasang tabung Percutaneous Endoscopic Gastrostomy (PEG) langsung melalui perut ke lambung. Hal ini memastikan pasien tetap mendapat asupan kalori dan cairan yang memadai.

2. Pencegahan Luka Baring (Dekubitus)

Pasien yang hanya terbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan sangat rentan mengalami luka baring akibat tekanan konstan pada satu sisi tubuh. Perawat atau keluarga harus rutin mengubah posisi pasien, idealnya setiap 2 hingga 3 jam sekali, siang dan malam, serta menggunakan kasur anti-dekubitus khusus.

3. Fisioterapi Fisik dan Dada

Otot yang tidak pernah digunakan akan menyusut (atrofi) dan sendi akan menjadi kaku dan bengkok permanen (kontraktur). Sesi fisioterapi pasif harian diperlukan untuk meregangkan otot-otot pasien. Selain itu, fisioterapi dada (penepukan punggung dengan teknik khusus) diperlukan untuk membantu mengeluarkan dahak dari paru-paru dan mencegah pneumonia.

4. Stimulasi Sensorik

Meskipun tampak tidak merespons, tim medis sering kali menyarankan stimulasi sensorik. Anggota keluarga dianjurkan untuk terus mengajak pasien berbicara, memutarkan lagu kesukaan pasien, memberikan wewangian yang akrab, atau memegang tangan pasien. Stimulasi ini bertujuan untuk memberikan input sensorik ringan ke sistem saraf otak yang tersisa.

Studi Mengenai Aktivitas Otak Tersembunyi

Science Journal menerbitkan sebuah studi terobosan oleh Adrian Owen dan timnya pada tahun 2006 yang meneliti aktivitas saraf pasien dengan Unresponsive Wakefulness Syndrome. Studi ini menggunakan mesin fMRI (functional MRI) untuk melihat aliran darah di otak pasien.

Dalam penelitian ini, ketika pasien yang dinilai secara klinis berada dalam status vegetatif diminta untuk membayangkan dirinya sedang bermain tenis, mesin fMRI menunjukkan area motorik di otak pasien tersebut menyala secara identik dengan area otak orang sehat yang membayangkan hal yang sama. Studi ini membuktikan bahwa sebagian kecil pasien dengan mata terbuka tapi tidak sadar mungkin memiliki “kesadaran tersembunyi” (covert consciousness) yang tidak dapat mereka tunjukkan secara fisik akibat kerusakan motorik berat.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Coma – Symptoms and causes.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Unresponsive Wakefulness Syndrome.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Neurology and Traumatic Brain Injury.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Vegetative State: Definition, Causes, Symptoms & Diagnosis.
Science Journal. Diakses pada 2024. Detecting Awareness in the Vegetative State (Owen et al., 2006).

FAQ

1. Apakah orang dengan status mata terbuka tapi tidak sadar bisa bangun dan normal kembali?

Peluang pemulihan sangat bergantung pada penyebab utama kerusakan otak dan berapa lama pasien telah berada dalam kondisi tersebut. Pada cedera otak traumatik, sedikit peluang pemulihan parsial bisa terjadi di bulan-bulan awal, namun jika disebabkan oleh kekurangan oksigen parah dan sudah berlangsung lama, pemulihan menuju normal sangatlah kecil.

2. Apa bedanya koma dengan kondisi mata terbuka tapi tidak sadar (status vegetatif)?

Orang yang sedang koma sama sekali tidak memiliki siklus tidur dan bangun, mata mereka selalu tertutup, dan mereka tidak responsif. Sementara pada status vegetatif, siklus tidur-bangun sudah kembali sehingga mata mereka bisa terbuka saat “terbangun”, namun tetap tidak menyadari lingkungan sekitar sama sekali.

3. Mengapa anak saya sering tiba-tiba bengong, mata terbuka tapi tidak sadar jika dipanggil?

Jika kondisi bengong ini hanya terjadi beberapa detik (biasanya kurang dari 20 detik), anak tiba-tiba berhenti beraktivitas, menatap kosong, dan setelahnya kembali normal tanpa menyadari mereka baru saja melamun, ini bisa menjadi tanda kejang absans (petit mal). Segera konsultasikan dengan dokter anak spesialis saraf untuk pemeriksaan EEG.

4. Apakah pasien dalam status vegetatif bisa merasakan rasa sakit?

Secara medis klinis, pasien dalam status vegetatif dianggap tidak memiliki kesadaran untuk memproses persepsi rasa sakit secara emosional atau sadar seperti manusia sehat. Namun, tubuh mereka masih bisa menunjukkan refleks primitif seperti peningkatan detak jantung atau mengernyit sebagai refleks otomatis dari saraf tulang belakang atau batang otak saat terkena rangsangan fisik yang kuat.