Ad Placeholder Image

Ini Gejala DBD pada Anak yang Perlu Diwaspadai

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

Ruam kulit merupakan salah satu gejala DBD pada anak yang perlu diwaspadai.

Ini Gejala DBD pada Anak yang Perlu DiwaspadaiIni Gejala DBD pada Anak yang Perlu Diwaspadai

DAFTAR ISI


Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang paling diwaspadai di Indonesia, terutama saat memasuki musim penghujan. Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini bisa menyerang siapa saja, termasuk bayi. Namun, tantangan terbesar bagi orang tua adalah mengenali ciri dbd pada bayi, karena bayi belum bisa mengomunikasikan rasa sakit atau keluhan yang mereka rasakan secara verbal.

Pada bayi, gejala DBD sering kali terlihat mirip dengan infeksi virus lainnya, seperti flu atau tifus. Ketidaktahuan akan gejala awal dapat menyebabkan keterlambatan penanganan, yang berisiko fatal karena kondisi fisik bayi yang jauh lebih rentan dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itu, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan untuk memantau setiap perubahan perilaku dan fisik si kecil saat ia mengalami demam.

Penting bagi orang tua untuk tidak meremehkan demam tinggi yang muncul secara mendadak. Jika si kecil mulai menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis yang tepat sejak dini. Penanganan yang cepat adalah kunci utama keselamatan penderita DBD, terutama pada kelompok usia bayi.

Nah, mau tahu apa saja ciri dbd pada bayi dan bagaimana langkah penanganannya? Berikut ulasan lengkapnya!

Ciri DBD pada Bayi secara Umum

Gejala DBD pada bayi sering kali bersifat non-spesifik pada hari-hari pertama. Ayah dan Bunda perlu memperhatikan detail-detail kecil berikut ini yang biasanya menjadi indikator kuat adanya infeksi virus dengue:

1. Demam Tinggi Mendadak

Ciri yang paling khas adalah demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba, sering kali mencapai 39 hingga 40 derajat Celcius. Berbeda dengan demam karena tumbuh gigi yang biasanya ringan, demam DBD cenderung sulit turun meskipun sudah diberikan obat penurun panas. Demam ini biasanya berlangsung selama 2 hingga 7 hari.

2. Perubahan Perilaku (Sangat Rewel atau Sangat Lemas)

Bayi yang terkena DBD akan merasa sangat tidak nyaman. Mereka mungkin menjadi jauh lebih rewel dari biasanya, terus menangis tanpa sebab yang jelas, atau justru sebaliknya: menjadi sangat lemas, mengantuk terus-menerus, dan tidak responsif terhadap stimulasi.

3. Bintik Merah pada Kulit (Petechiae)

Salah satu ciri dbd pada bayi yang paling dikenal adalah munculnya bintik-bintik merah kecil di permukaan kulit. Cara membedakannya dengan ruam biasa adalah dengan menekan bintik tersebut. Jika ditekan bintik tersebut tidak memudar atau menghilang, maka itu kemungkinan besar adalah perdarahan di bawah kulit yang menjadi tanda khas DBD.

4. Gangguan Pencernaan

Bayi mungkin akan mengalami muntah-muntah, diare, atau justru sembelit. Penolakan terhadap ASI atau susu formula juga sering terjadi karena rasa mual yang hebat. Jika bayi tidak mau menyusu, risiko dehidrasi akan meningkat sangat cepat.

5. Pembengkakan dan Nyeri

Meskipun bayi tidak bisa mengatakannya, mereka mungkin merasakan nyeri otot dan sendi. Kamu bisa melihatnya dari reaksi bayi yang menangis kesakitan saat tubuhnya disentuh atau digerakkan. Terkadang, terjadi juga pembengkakan ringan pada wajah atau kelopak mata.

Tips Memantau Gejala di Rumah
  1. Gunakan termometer digital untuk mencatat suhu tubuh si kecil setiap 4 jam.
  2. Perhatikan frekuensi buang air kecil; jika bayi tidak kencing dalam 6 jam, segera hubungi dokter.
  3. Pastikan asupan cairan (ASI/Formula) tetap terjaga semaksimal mungkin untuk mencegah dehidrasi.

Memahami Fase DBD pada Bayi

DBD memiliki pola yang unik yang sering menipu orang tua. Pola ini sering disebut sebagai “Siklus Pelana Kuda”. Memahami fase-fase ini sangat krusial agar orang tua tidak lengah saat suhu tubuh bayi mulai turun.

1. Fase Demam (Febrile Phase)

Berlangsung selama 1-3 hari pertama. Suhu tubuh sangat tinggi dan bayi tampak sangat sakit. Pada tahap ini, fokus utama adalah menjaga hidrasi dan memberikan kenyamanan pada bayi.

2. Fase Kritis (Critical Phase)

Terjadi pada hari ke-4 hingga ke-6. Di sinilah letak bahayanya; suhu tubuh bayi biasanya turun ke angka normal (sekitar 37 derajat Celcius). Orang tua sering menganggap bayi sudah sembuh, padahal di fase inilah risiko kebocoran plasma dan penurunan trombosit mencapai puncaknya. Jika bayi tampak semakin lemas saat demam turun, itu adalah alarm bahaya.

3. Fase Penyembuhan (Recovery Phase)

Jika fase kritis terlewati dengan baik, bayi akan memasuki fase penyembuhan. Tanda-tandanya adalah nafsu makan kembali muncul, bayi mulai aktif kembali, dan mungkin muncul ruam kemerahan yang terasa gatal di area kaki atau tangan yang menandakan kadar trombosit mulai stabil kembali.

Tanda Bahaya yang Harus Segera Dibawa ke IGD

Jangan menunggu hingga besok jika bayi menunjukkan tanda-tanda Dengue Shock Syndrome (DSS). Segera bawa ke rumah sakit jika ditemukan gejala berikut:

  • Perdarahan aktif, seperti mimisan atau gusi berdarah.
  • Muntah terus-menerus (tidak ada cairan yang bisa masuk).
  • Nyeri perut yang tampak hebat (bayi melipat kaki ke arah perut sambil menangis kencang).
  • Tangan dan kaki terasa dingin dan lembap (akral dingin).
  • Bayi sangat gelisah atau justru kesadaran menurun.

Untuk mendukung pemulihan dan menjaga daya tahan tubuh selama masa penyembuhan, Bunda bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah. Menyediakan stok produk kesehatan dasar di rumah sangat membantu dalam situasi darurat.

Cara Mencegah DBD pada Bayi

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena bayi memiliki kulit yang sensitif, pencegahan harus dilakukan secara aman:

  • Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN): Terapkan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) secara rutin di area rumah.
  • Kelambu: Gunakan kelambu pada tempat tidur bayi, terutama saat jam-jam aktif nyamuk Aedes aegypti (pagi dan sore hari).
  • Pakaian Tertutup: Pakaikan baju lengan panjang dan celana panjang berbahan katun yang nyaman jika berada di area terbuka.
  • Lotion Anti Nyamuk Khusus Bayi: Gunakan produk yang aman untuk usia bayi (biasanya berbahan dasar minyak telon atau bahan alami lainnya) sesuai anjuran dokter.

Studi Mengenai DBD pada Bayi

The Journal of Infectious Diseases menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa bayi di bawah usia satu tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami kebocoran plasma yang berat selama infeksi dengue primer. Hal ini disebabkan oleh transfer antibodi ibu yang sudah ada sebelumnya, yang justru memfasilitasi masuknya virus ke dalam sel imun bayi (fenomena Antibody-Dependent Enhancement).

Penelitian ini menekankan bahwa pemantauan kadar hematokrit dan trombosit pada bayi harus dilakukan lebih ketat dibandingkan anak yang lebih tua. Selain itu, manajemen cairan intravena harus dilakukan secara sangat presisi untuk menghindari kelebihan cairan yang dapat membebani jantung dan paru-paru bayi yang masih kecil.

Punya Keluhan Kesehatan pada Si Kecil tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya kekhawatiran tentang kondisi kesehatan bayi, tetapi bingung apakah harus segera ke dokter atau bisa dirawat di rumah? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika kondisi bayi tidak membaik atau demam terus berlanjut, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak. Kamu bisa mendapatkan kemudahan layanan kesehatan melalui aplikasi Halodoc, mulai dari konsultasi hingga pembelian produk kesehatan tanpa harus keluar rumah.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Dengue and Severe Dengue.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Profil Kesehatan Indonesia: Waspada Demam Berdarah Dengue.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Dengue Fever – Symptoms and Causes.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2026. Dengue: Symptoms and Treatment in Infants.

FAQ

1. Apakah ciri dbd pada bayi selalu disertai bintik merah?

Tidak selalu. Banyak kasus DBD pada bayi yang tidak memunculkan bintik merah di awal atau bahkan sama sekali tidak muncul. Demam tinggi mendadak dan bayi yang menjadi sangat lemas justru sering kali menjadi indikator yang lebih akurat.

2. Berapa suhu normal demam DBD pada bayi?

Pada fase awal (demam), suhu biasanya melonjak hingga di atas 38.5 – 40 derajat Celcius. Namun, pada fase kritis, suhu bisa turun drastis ke 36-37 derajat Celcius, yang justru merupakan periode paling berbahaya bagi bayi.

3. Apakah DBD pada bayi bisa sembuh sendiri tanpa rawat inap?

Pada kasus DBD ringan, bayi mungkin bisa dirawat di rumah dengan pengawasan ketat dokter. Namun, karena risiko dehidrasi dan syok pada bayi sangat cepat, sebagian besar dokter menyarankan rawat inap untuk memantau asupan cairan lewat infus.

4. Kapan waktu yang tepat melakukan cek darah untuk bayi yang demam?

Pemeriksaan NS1 biasanya paling akurat dilakukan pada hari ke-1 hingga ke-3 demam. Sementara pemeriksaan trombosit dan hematokrit biasanya mulai menunjukkan perubahan signifikan setelah hari ke-3 demam.