
Ini Manfaat Babat dan Trik Membersihkan agar Tidak Bau
Babat menawarkan manfaat untuk kesehatan, tapi perlu diolah dengan cermat agar tidak bau saat dihidangkan.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Babat dan Jenis-jenisnya?
- Kandungan Nutrisi pada Babat
- Manfaat Mengonsumsi Babat bagi Kesehatan
- Risiko dan Efek Samping Mengonsumsi Babat
- Cara Membersihkan dan Mengolah Babat yang Benar
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Bagi para pencinta kuliner Nusantara, olahan jeroan seperti soto, gulai, hingga nasi goreng babat mungkin sudah tidak asing lagi di lidah. Teksturnya yang kenyal dengan rasa yang gurih membuat bagian dari perut sapi ini memiliki banyak penggemar setia. Namun, tahukah kamu apa itu babat secara medis dan nutrisi?
Meskipun sering dianggap sebagai hidangan yang lezat, konsumsi jeroan kerap menjadi perdebatan dalam dunia kesehatan. Sebagian orang menganggapnya sebagai sumber penyakit karena diyakini dapat memicu lonjakan kolesterol dan asam urat. Di sisi lain, bahan makanan ini sebenarnya menyimpan berbagai zat gizi esensial yang diperlukan oleh tubuh, asalkan diolah dan dikonsumsi dengan porsi yang tepat.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kamu untuk mengetahui secara mendalam mengenai kandungan nutrisi, manfaat, serta risiko dari mengonsumsi jeroan ini. Pemahaman yang baik tidak hanya akan membantumu menikmati hidangan favorit tanpa rasa bersalah, tetapi juga menghindarkan diri dari potensi bahaya kesehatan akibat konsumsi yang berlebihan atau cara pengolahan yang keliru.
Nah, mau tahu apa saja fakta kesehatan, manfaat, serta cara aman mengonsumsinya? Berikut ulasan lengkapnya!
Apa Itu Babat dan Jenis-jenisnya?
Secara anatomis, babat adalah jaringan otot atau lapisan dinding lambung dari hewan memamah biak (ruminansia), seperti sapi, domba, kambing, hingga kerbau. Hewan ruminansia memiliki sistem pencernaan yang unik dengan lambung yang terbagi menjadi empat ruang berbeda untuk memproses makanan berserat tinggi seperti rumput. Keempat ruang inilah yang kemudian kita kenal dan konsumsi sebagai babat.
Berdasarkan letaknya di dalam lambung hewan, babat terbagi menjadi beberapa jenis dengan tekstur dan fungsi kuliner yang berbeda-beda:
- Babat Rumen (Blanket Tripe): Ini adalah bagian terbesar dari lambung sapi. Teksturnya relatif datar dan halus. Biasanya digunakan dalam olahan makanan yang membutuhkan waktu rebus yang lama.
- Babat Retikulum (Honeycomb Tripe): Bagian ini memiliki bentuk pola seperti sarang lebah. Ini adalah jenis yang paling populer karena teksturnya yang sangat kenyal dan kemampuannya menyerap bumbu dengan sangat baik. Sangat cocok dijadikan isian soto atau sup.
- Babat Omasum (Book/Bible Tripe): Dikenal juga dengan sebutan babat jarit atau babat buku karena bentuknya yang berlapis-lapis mirip lembaran buku. Bagian ini sedikit lebih tipis dan cocok untuk ditumis atau digoreng.
- Babat Abomasum (Reed Tripe): Ini merupakan “lambung sejati” dari sapi tempat proses pencernaan enzimatik terjadi. Bagian ini jarang dijual terpisah di pasar tradisional karena lebih banyak mengandung jaringan kelenjar.
Kandungan Nutrisi pada Babat
Banyak orang tidak menyadari bahwa di balik reputasinya sebagai makanan yang perlu dihindari, jeroan ini sebenarnya cukup padat nutrisi. Jika dikonsumsi tanpa tambahan lemak dari santan atau minyak berlebih, ia relatif rendah kalori dan bisa menjadi sumber energi yang baik.
Dalam 100 gram babat sapi mentah, rata-rata terkandung nutrisi sebagai berikut:
- Kalori: 85 – 90 kkal
- Protein: 12 gram
- Lemak total: 4 gram
- Kolesterol: 138 mg
- Vitamin B12: Sekitar 60% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian
- Selenium: Sekitar 15-20% dari AKG harian
- Zinc (Seng): Sekitar 10-15% dari AKG harian
Selain zat gizi di atas, bahan makanan ini juga mengandung sejumlah kecil mineral lain seperti zat besi, kalsium, dan fosfor. Protein yang dimilikinya merupakan protein hewani berkualitas tinggi yang menyediakan asam amino esensial lengkap bagi tubuh.
Manfaat Mengonsumsi Babat bagi Kesehatan
Jika dikonsumsi dalam batas wajar, bahan pangan ini dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan bagi fungsi organ tubuh. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:
1. Mendukung Pertumbuhan dan Perbaikan Otot
Kandungan protein di dalamnya berperan krusial dalam memperbaiki jaringan sel yang rusak dan memelihara massa otot. Dibandingkan dengan daging sapi berlemak tinggi, kalori dari babat lebih rendah namun dengan asupan protein yang cukup menjanjikan, sehingga baik untuk pemulihan setelah beraktivitas fisik.
2. Mencegah Penyakit Anemia
Salah satu keunggulan utama dari mengonsumsi jeroan adalah tingginya kandungan Vitamin B12 (kobalamin). Vitamin ini tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh dan harus didapatkan dari makanan. Vitamin B12 sangat penting untuk proses pembentukan sel darah merah yang sehat. Kekurangan B12 dapat menyebabkan anemia megaloblastik, di mana sel darah merah menjadi terlalu besar dan tidak dapat berfungsi dengan baik mengikat oksigen.
3. Menjaga Fungsi Sistem Imunitas
Kandungan mineral zinc atau seng di dalamnya membantu sistem kekebalan tubuh melawan virus dan bakteri penyebab penyakit. Zinc juga memegang peranan penting dalam proses penyembuhan luka, pemecahan karbohidrat, serta menjaga indra perasa dan penciuman agar tetap berfungsi optimal.
4. Mendukung Fungsi Tiroid
Babat sapi mengandung selenium, sebuah mineral antioksidan yang esensial. Selenium bertugas melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas dan stres oksidatif. Terlebih lagi, selenium sangat penting untuk menjaga fungsi kelenjar tiroid, memproduksi DNA, serta melindungi tubuh dari risiko infeksi.
Penting untuk Diperhatikan: Batasan Konsumsi
- Walaupun bergizi, batasi konsumsi jeroan maksimal 1-2 kali saja dalam sebulan.
- Porsikan secara wajar, sekitar 50 hingga 100 gram per sajian.
- Seimbangkan dengan asupan sayuran tinggi serat untuk membantu memperlambat penyerapan kolesterol di dalam usus.
Risiko dan Efek Samping Mengonsumsi Babat
Di balik manfaat nutrisinya, ada alasan medis mengapa jeroan ini tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi setiap hari. Ada beberapa risiko kesehatan yang mengintai, khususnya bagi individu yang sudah memiliki riwayat penyakit tertentu.
1. Meningkatkan Kadar Kolesterol Jahat
Risiko paling menonjol dari jeroan sapi adalah kandungan kolesterolnya yang sangat tinggi. Hanya dengan makan 100 gram, kamu sudah menyumbang 138 mg kolesterol ke dalam tubuh. Asupan kolesterol yang berlebihan, apalagi jika dimasak dengan santan kental seperti dalam gulai, dapat meningkatkan kadar LDL (kolesterol jahat) dalam darah. Penumpukan LDL ini memicu pembentukan plak di pembuluh darah (aterosklerosis) yang bisa berujung pada serangan jantung atau stroke.
Jika kamu sering mengonsumsi jeroan dan mulai merasakan keluhan seperti sakit kepala, tengkuk terasa berat, atau kelelahan yang tidak wajar, segera konsultasi ke dokter Halodoc agar bisa didiagnosis dan ditangani sejak dini melalui pemeriksaan medis yang tepat.
2. Memicu Serangan Asam Urat (Gout)
Seperti jenis jeroan lainnya (hati, ginjal, usus), dinding lambung sapi mengandung kadar purin yang cukup tinggi. Saat tubuh mencerna purin, zat sisa yang dihasilkan adalah asam urat. Pada kondisi normal, ginjal akan membuang asam urat melalui urine. Namun, asupan purin yang berlebihan menyebabkan asam urat menumpuk dan membentuk kristal tajam di persendian. Hal inilah yang memicu rasa nyeri, bengkak, dan panas pada penderita asam urat.
3. Bahaya Infeksi Bakteri (Foodborne Illness)
Mengingat asalnya dari organ pencernaan hewan, babat mentah sangat rentan terpapar sisa-sisa kotoran dan bakteri berbahaya seperti Escherichia coli (E. coli), Salmonella, dan Campylobacter. Jika tidak dibersihkan dengan standar higienitas yang ketat dan tidak dimasak hingga benar-benar matang, bakteri ini dapat tertelan dan memicu keracunan makanan akut dengan gejala diare parah, kram perut, dan muntah.
Untuk menyeimbangkan pola makan agar terhindar dari berbagai penyakit akibat kolesterol atau bakteri, jangan lupa untuk selalu melengkapi kebutuhan nutrisi harianmu. Kamu dapat menemukan dan beli vitamin, suplemen pencernaan, atau produk kesehatan lainnya di Halodoc yang dijamin 100% asli dan praktis langsung diantar ke rumah.
Cara Membersihkan dan Mengolah Babat yang Benar
Bau khas jeroan (prengus) sering kali menjadi penghalang bagi banyak orang. Bau ini berasal dari enzim pencernaan sapi dan bakteri yang tersisa. Untuk mendapatkan hidangan yang aman, lezat, dan tidak bau, ikuti langkah-langkah pembersihan berikut ini:
1. Pencucian Tahap Awal
Bilas babat segar di bawah air mengalir. Gunakan pisau untuk mengerok lapisan kotoran berwarna gelap atau selaput tipis di permukaannya. Pastikan untuk membersihkan setiap lipatan, terutama pada jenis babat omasum dan retikulum yang memiliki banyak rongga.
2. Gunakan Garam Kasar dan Asam
Balurkan garam kasar secara merata sambil digosok-gosok agar kotoran yang menempel bisa luruh. Setelah itu, rendam dengan air perasan jeruk nipis atau cuka putih selama 15-20 menit. Zat asam ini berfungsi menetralkan bau amonia alami dan membunuh sebagian bakteri di permukaan otot.
3. Proses Pemanasan (Blanching)
Rebus babat dalam air mendidih selama 10 hingga 15 menit. Kamu akan melihat kotoran dan lemak mengapung di permukaan air. Buang air rebusan pertama ini sepenuhnya, lalu bilas kembali jeroan dengan air bersih.
4. Perebusan dengan Rempah Aromatik
Rebus kembali dengan air yang baru. Kali ini, masukkan rempah-rempah yang memiliki sifat aromatik tinggi seperti daun salam, serai yang dimemarkan, lengkuas, jahe, dan sedikit ketumbar. Rebus menggunakan metode slow cook atau panci presto (pressure cooker) agar teksturnya cepat empuk dan bumbu meresap sempurna untuk menghilangkan sisa bau prengus.
Studi Terkait
Sebuah literatur medis dari Journal of Agricultural and Food Chemistry mencatat bahwa meskipun organ dalam hewan ruminansia seperti lapisan lambungnya tinggi akan zat mikro seperti vitamin B12 dan seng, kadar lemak jenuh dan kolesterol di dalamnya tidak bisa diabaikan. Studi menunjukkan bahwa konsumsi jeroan secara berlebihan berbanding lurus dengan peningkatan penanda inflamasi kardiovaskular pada pasien dengan riwayat dislipidemia (gangguan profil lemak darah).
Penelitian lain juga menegaskan perlunya memasak jeroan pada suhu di atas 75 derajat Celcius (165 derajat Fahrenheit) untuk memastikan spora bakteri dari organ pencernaan hewan ruminansia hancur secara keseluruhan, sehingga risiko gastrointestinal dapat diminimalisir secara efektif.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apa bedanya daging sapi biasa dengan babat?
Daging sapi biasa berasal dari jaringan otot skeletal (seperti paha atau punggung) yang berfungsi untuk pergerakan. Sementara itu, babat adalah bagian dari otot polos yang melapisi lambung sapi yang bertugas mencerna makanan berserat. Dari segi tekstur, lambung sapi jauh lebih kenyal dan memerlukan waktu masak yang lebih lama agar empuk.
2. Apakah penderita kolesterol tinggi sama sekali tidak boleh makan babat?
Sebaiknya penderita kolesterol tinggi sangat membatasi atau bahkan menghindari konsumsi jeroan ini. Jika sangat ingin, batasi porsinya menjadi sangat kecil (kurang dari 50 gram) dan pastikan diolah dengan cara direbus atau ditumis sehat, bukan digulai dengan santan pekat yang memicu penumpukan lemak ganda.
3. Mengapa babat mentah berbau sangat menyengat?
Bau menyengat tersebut berasal dari sisa cairan pencernaan, bakteri alami lambung sapi, serta proses fermentasi rumput yang terjadi di dalam perut hewan ruminansia. Oleh karena itu, penggunaan asam seperti jeruk nipis dan rempah-rempah sangat penting untuk menetralkan molekul penyebab bau tersebut.
4. Berapa lama waktu ideal untuk merebus babat agar empuk?
Jika menggunakan panci biasa dengan api sedang, dibutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam perebusan agar tekstur jeroan benar-benar empuk. Namun, jika menggunakan panci bertekanan (presto), waktu merebus bisa dipangkas menjadi sekitar 45 menit hingga 1 jam saja.
Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.


