Ad Placeholder Image

Ini Perbedaan Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   08 Juni 2026

Susu UHT dan pasteurisasi berbeda dari segi proses pemanasan dan daya simpan, namun sama-sama bergizi dan bisa dipilih sesuai kebutuhan.

Ini Perbedaan Susu UHT dengan Susu PasteurisasiIni Perbedaan Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi

Ringkasan: Susu pasteurisasi adalah produk susu yang telah menjalani proses pemanasan suhu tinggi untuk membunuh bakteri patogen berbahaya tanpa menghilangkan nutrisi penting. Konsumsi produk ini bertujuan mencegah penyakit bawaan makanan seperti salmonellosis dan listeriosis yang sering ditemukan pada susu mentah. Proses ini memastikan keamanan pangan sekaligus memperpanjang masa simpan produk susu dalam kondisi dingin.

Apa Itu Susu Pasteurisasi?

Susu pasteurisasi adalah susu sapi segar yang diproses melalui pemanasan pada suhu tertentu dalam durasi waktu singkat untuk mengeleminasi mikroorganisme patogen. Metode ini ditemukan oleh Louis Pasteur untuk memastikan keamanan produk pangan cair dari risiko bakteri berbahaya. Berbeda dengan susu sterilisasi atau UHT, suhu yang digunakan lebih rendah sehingga kualitas rasa dan kandungan vitamin tetap terjaga optimal.

Proses ini umumnya menggunakan metode High Temperature Short Time (HTST) dengan suhu sekitar 72 derajat Celsius selama 15 detik. Pemanasan ini cukup kuat untuk membunuh bakteri seperti Mycobacterium tuberculosis dan Coxiella burnetii yang bersifat tahan panas. Setelah proses pemanasan, susu segera didinginkan hingga suhu di bawah 4 derajat Celsius untuk mencegah pertumbuhan kembali spora bakteri.

Karakteristik utama produk ini adalah masa simpannya yang terbatas dan kewajiban penyimpanan dalam lemari pendingin (refrigerator). Susu yang sudah dipasteurisasi biasanya bertahan selama 7 hingga 14 hari sebelum kemasan dibuka. Keamanan konsumsi menjadi prioritas utama karena susu mentah berisiko tinggi mengandung kontaminan dari lingkungan peternakan maupun hewan ternak itu sendiri.

Gejala Infeksi Akibat Konsumsi Susu Mentah

Gejala infeksi akibat konsumsi susu yang tidak dipasteurisasi sering kali menyerupai keracunan makanan akut dengan intensitas yang bervariasi. Manifestasi klinis biasanya muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari setelah terpapar bakteri patogen dalam susu mentah. Gangguan sistem pencernaan merupakan indikasi utama yang sering dilaporkan oleh penderita infeksi bakteri bawaan susu.

Kram perut hebat dan diare merupakan gejala paling umum yang dirasakan oleh individu yang terinfeksi bakteri Salmonella atau Campylobacter. Diare dapat berbentuk cair atau mengandung darah (disentri) tergantung pada tingkat keparahan infeksi pada dinding usus. Selain itu, mual dan muntah secara berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dalam waktu singkat.

Gejala sistemik lain yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Demam tinggi yang disertai menggigil secara tiba-tiba.
  • Sakit kepala dan nyeri otot di seluruh bagian tubuh.
  • Kelelahan ekstrem akibat dehidrasi dan hilangnya elektrolit.
  • Kehilangan nafsu makan secara drastis dalam beberapa hari.
  • Kekakuan pada leher jika infeksi menyebar ke sistem saraf (khusus pada kasus Listeriosis).

Penyebab Kontaminasi pada Susu

Penyebab utama kontaminasi pada susu adalah keberadaan bakteri patogen yang berasal dari kotoran hewan, infeksi pada ambing sapi, atau lingkungan pemerahan yang tidak higienis. Susu mentah secara alami merupakan media pertumbuhan yang sangat baik bagi mikroba karena kandungan nutrisinya yang lengkap. Tanpa proses pemanasan, bakteri akan berkembang biak secara eksponensial dalam suhu ruang.

Bakteri Escherichia coli (E. coli) sering ditemukan dalam susu mentah akibat kontak dengan tinja hewan selama proses pemerahan manual. Selain itu, bakteri Listeria monocytogenes dapat bertahan hidup di lingkungan pabrik pengolahan yang lembap dan mengontaminasi susu yang tidak diolah dengan benar. Kontaminasi silang juga bisa terjadi jika peralatan pemerahan tidak disterilisasi secara rutin menggunakan bahan sanitasi yang tepat.

Faktor risiko lain yang meningkatkan probabilitas kontaminasi meliputi kesehatan hewan ternak yang tidak terpantau oleh dokter hewan. Sapi yang menderita mastitis atau infeksi ambing akan mengeluarkan bakteri langsung ke dalam aliran susu yang diperah. Keberadaan lalat dan debu di area peternakan juga berkontribusi pada masuknya mikroba ke dalam wadah penampungan susu sebelum proses distribusi dilakukan.

“Konsumsi susu mentah secara signifikan meningkatkan risiko infeksi bakteri enterik yang dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang pada populasi rentan.” — World Health Organization (WHO), 2023

Diagnosis Penyakit Terkait Konsumsi Susu

Diagnosis penyakit terkait konsumsi susu non-pasteurisasi dimulai dengan pengambilan riwayat medis lengkap mengenai jenis makanan yang dikonsumsi dalam 48 jam terakhir. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit yang menurun atau mulut kering. Evaluasi terhadap pola buang air besar dan karakteristik feses juga menjadi bagian penting dalam proses diagnostik awal.

Pemeriksaan laboratorium dilakukan melalui analisis sampel feses (kultur tinja) untuk mengidentifikasi jenis bakteri spesifik yang menyebabkan infeksi. Tes ini sangat krusial untuk membedakan antara infeksi bakteri, virus, atau parasit yang mungkin memiliki gejala serupa. Jika terdapat kecurigaan infeksi sistemik atau sepsis, dokter akan menyarankan pemeriksaan kultur darah untuk mendeteksi keberadaan mikroba dalam aliran darah.

Tes diagnostik tambahan yang mungkin diperlukan antara lain:

  • Tes elektrolit darah untuk memantau keseimbangan natrium dan kalium akibat diare.
  • Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) jika dicurigai terjadi komplikasi Hemolytic Uremic Syndrome (HUS).
  • Uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri tertentu seperti Brucella.
  • Pemeriksaan mikroskopis untuk mencari adanya sel darah merah atau putih dalam sampel tinja.

Pengobatan Gangguan Pencernaan Akibat Bakteri

Pengobatan utama untuk gangguan pencernaan akibat bakteri dari susu mentah adalah penggantian cairan dan elektrolit secara agresif. Rehidrasi bertujuan untuk mencegah kegagalan organ yang disebabkan oleh kekurangan volume cairan tubuh akibat diare dan muntah. Pemberian larutan oralit sangat dianjurkan untuk menggantikan garam-garam esensial yang hilang melalui saluran pencernaan.

Antibiotik hanya diberikan oleh tenaga medis jika infeksi terbukti disebabkan oleh bakteri tertentu dan kondisi pasien menunjukkan risiko komplikasi tinggi. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada infeksi E. coli jenis tertentu justru dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal. Oleh karena itu, medikasi harus selalu didasarkan pada hasil kultur laboratorium dan instruksi dokter yang menangani kasus tersebut.

Manajemen pendukung lainnya mencakup pemberian diet hambar (bland diet) yang mudah dicerna seperti bubur atau pisang untuk mengistirahatkan saluran pencernaan. Obat anti-diare sering kali dihindari pada kasus infeksi bakteri tertentu karena dapat menghambat pengeluaran toksin dari dalam usus. Istirahat total diperlukan agar sistem imun tubuh dapat bekerja secara maksimal melawan patogen yang masuk.

Pencegahan Penyakit Melalui Susu Pasteurisasi

Pencegahan penyakit bawaan susu yang paling efektif adalah dengan memilih susu pasteurisasi sebagai standar konsumsi harian keluarga. Memastikan label kemasan mencantumkan keterangan proses pasteurisasi atau sterilisasi adalah langkah pertama dalam menjaga keamanan pangan. Masyarakat disarankan untuk tidak mengonsumsi susu segar langsung dari peternakan tanpa melalui proses pendidihan yang cukup di rumah.

Penyimpanan produk harus dilakukan pada suhu di bawah 4 derajat Celsius untuk menghambat aktivitas enzim dan pertumbuhan sisa mikroba. Jangan membiarkan susu berada pada suhu ruang lebih dari dua jam karena bakteri dapat membelah diri dengan sangat cepat pada suhu hangat. Kebersihan tangan saat menangani produk susu dan menjaga sterilitas wadah penyimpanan juga berperan penting dalam mencegah kontaminasi silang.

“Pasteurisasi adalah satu-satunya metode yang terbukti secara ilmiah mampu mengeliminasi bakteri patogen dalam susu tanpa mengubah profil nutrisi secara signifikan.” — CDC, 2024

Kapan Harus ke Dokter?

Konsultasi medis segera diperlukan jika gejala keracunan makanan menetap lebih dari tiga hari atau menunjukkan tanda perburukan. Demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius yang tidak kunjung turun dengan obat penurun panas merupakan tanda infeksi serius. Kehadiran darah dalam tinja atau muntah terus-menerus yang menyebabkan ketidakmampuan untuk menelan cairan harus segera ditangani di fasilitas kesehatan.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan gangguan sistem imun memerlukan perhatian medis lebih cepat. Pada ibu hamil, infeksi Listeria dapat membahayakan janin meskipun gejala pada ibu terlihat ringan. Jika muncul tanda dehidrasi berat seperti frekuensi buang air kecil berkurang drastis atau kesadaran menurun, segera bawa pasien ke unit gawat darurat.

Untuk mendapatkan penanganan awal yang tepat, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendiskusikan gejala yang dialami.

Kesimpulan

Susu pasteurisasi merupakan solusi keamanan pangan yang krusial untuk mencegah berbagai penyakit infeksi pencernaan berbahaya. Melalui proses pemanasan yang terkontrol, risiko paparan bakteri patogen dapat diminimalisir tanpa mengorbankan manfaat kesehatan dari kalsium dan protein susu. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat jika mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi produk susu.