Ad Placeholder Image

Ini Resep dan Cara Membuat Nata de Coco yang Segar dan Praktis

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

“Nata de coco adalah makanan kenyal dan segar yang terbuat dari fermentasi air kelapa. Umumnya dipakai sebagai tambahan dalam makanan penutup atau minuman untuk memberikan rasa yang menyegarkan.

Ini Resep dan Cara Membuat Nata de Coco yang Segar dan PraktisIni Resep dan Cara Membuat Nata de Coco yang Segar dan Praktis

DAFTAR ISI


Nata de coco adalah salah satu bahan campuran minuman dan makanan penutup yang sangat populer di Indonesia, terutama ketika cuaca sedang panas atau saat memasuki bulan puasa. Teksturnya yang kenyal, warnanya yang bening sedikit putih, serta sensasi segarnya membuat bahan yang satu ini selalu menjadi primadona dalam berbagai sajian, mulai dari es campur, es buah, puding, hingga yoghurt.

Meskipun hampir semua orang pernah mengonsumsinya, ternyata masih banyak yang belum mengetahui secara pasti proses pembuatannya. Pertanyaan mengenai nata de coco terbuat dari bahan apa sering kali muncul, terlebih karena teksturnya yang unik dan menyerupai jeli atau agar-agar, namun memiliki kekenyalan yang jauh lebih padat dan kokoh.

Mengetahui asal-usul serta bahan baku dari makanan yang kita konsumsi sangatlah penting, terutama bagi kamu yang sangat peduli terhadap kesehatan dan asupan gizi harian. Faktanya, nata de coco bukan sekadar camilan manis tanpa nilai gizi. Di balik teksturnya yang kenyal, terdapat proses bioteknologi alami yang menghasilkan serat tinggi, yang sangat bermanfaat bagi sistem pencernaan tubuh manusia.

Nah, mau tahu penjelasan lengkap mengenai nata de coco terbuat dari apa, bagaimana kandungan nutrisinya, serta apa saja manfaat kesehatannya? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu Nata de Coco?

Secara bahasa, kata “nata” berasal dari bahasa Spanyol yang memiliki arti “krim” atau sesuatu yang mengapung di permukaan cairan. Sementara “coco” merujuk pada kelapa. Jadi, secara harfiah, nata de coco dapat diterjemahkan sebagai “krim kelapa”. Makanan ini pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun 1949 oleh seorang ahli kimia bernama Teodula K. Kalaw. Pada saat itu, ia mencari alternatif untuk membuat *nata de piña* (krim nanas) karena pasokan nanas yang sedang menurun, dan akhirnya menemukan bahwa air kelapa dapat digunakan sebagai bahan dasar yang jauh lebih melimpah dan murah.

Dalam dunia sains dan industri pangan, nata de coco diklasifikasikan sebagai selulosa bakteri (bacterial cellulose). Berbeda dengan selulosa tanaman yang biasanya menyatu dengan lignin dan hemiselulosa (seperti pada batang pohon atau daun), selulosa yang dihasilkan oleh bakteri bersifat sangat murni, mampu mengikat air dalam jumlah besar, dan memiliki struktur jaring-jaring mikroskopis yang membuatnya sangat kenyal.

Nata de Coco Terbuat Dari Apa?

Jawaban utama dari pertanyaan nata de coco terbuat dari apa adalah: air kelapa yang difermentasi dengan bantuan bakteri spesifik bernama Acetobacter xylinum. Tanpa bakteri ini, air kelapa tidak akan pernah bisa berubah menjadi lembaran padat dan kenyal.

Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahapan ilmiah yang cukup ketat, di antaranya:

1. Persiapan Bahan Baku (Air Kelapa)

Air kelapa yang digunakan biasanya berasal dari kelapa tua. Air kelapa ini disaring terlebih dahulu untuk membuang kotoran yang tersisa. Air kelapa dipilih karena secara alami kaya akan nutrisi, mineral, dan gula alami yang merupakan media hidup yang sempurna bagi bakteri fermentasi.

2. Pemberian Nutrisi Tambahan

Meskipun air kelapa sudah mengandung nutrisi, bakteri Acetobacter xylinum membutuhkan asupan makanan ekstra agar dapat tumbuh maksimal dan menghasilkan selulosa yang tebal. Oleh karena itu, pada air kelapa biasanya ditambahkan gula (sebagai sumber karbon) dan sumber nitrogen (biasanya menggunakan ZA atau amonium sulfat khusus *food grade*). Selain itu, untuk mengatur tingkat keasaman (pH) agar ideal bagi bakteri, ditambahkan asam asetat (cuka) glasial.

3. Proses Inokulasi dan Fermentasi

Campuran air kelapa yang sudah direbus dan diberi nutrisi kemudian didinginkan. Setelah dingin, bakteri *Acetobacter xylinum* (yang sering disebut bibit nata) dimasukkan ke dalamnya. Cairan ini kemudian dituang ke dalam nampan-nampan datar dan ditutup rapat menggunakan kertas steril agar terhindar dari debu dan kontaminasi udara luar, namun tetap memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen.

4. Pemanenan

Nampan-nampan ini disimpan dalam ruangan bersuhu ruang selama 7 hingga 14 hari tanpa boleh digoyangkan. Selama proses ini, bakteri akan “memakan” gula dan menghasilkan benang-benang selulosa yang mengapung dan menebal di permukaan. Lapisan putih tebal inilah yang merupakan nata de coco mentah.

5. Pencucian dan Perebusan

Setelah dipanen, nata de coco mentah memiliki rasa yang sangat asam karena pengaruh cuka. Lembaran ini kemudian dipotong-potong berbentuk dadu, dicuci berkali-kali menggunakan air bersih, dan direbus berulang kali hingga rasa asamnya benar-benar hilang dan siap untuk direndam dalam larutan gula atau sirup sebelum dikonsumsi.

Tips Mengonsumsi Nata de Coco agar Lebih Sehat
  1. Tiriskan air sirupnya: Produk nata de coco kemasan sering kali direndam dalam sirup tinggi gula. Buang airnya dan bilas nata de coco dengan air hangat matang sebelum disajikan.
  2. Campurkan dengan buah segar: Daripada mencampurnya dengan sirup kental manis, lebih baik padukan nata de coco dengan potongan buah segar atau yoghurt plain.
  3. Perhatikan porsi: Meskipun tinggi serat, batasi konsumsinya agar tidak memicu asupan kalori berlebih jika masih menggunakan pemanis tambahan.

Kandungan Nutrisi Nata de Coco

Sebelum dicampur dengan sirup gula, nata de coco murni merupakan salah satu makanan yang sangat ramah diet. Sebagian besar volume dari makanan kenyal ini adalah air dan serat selulosa.

Dalam 100 gram nata de coco murni (tanpa sirup gula tambahan), umumnya mengandung nutrisi sebagai berikut:

  • Air: Sekitar 67 – 80%
  • Kalori: Sangat rendah (berkisar 0 – 15 kkal)
  • Karbohidrat/Serat Makanan: 2 – 20 gram (tergantung tingkat kelembaban)
  • Lemak: 0 gram
  • Protein: 0 gram

Karena tubuh manusia tidak memiliki enzim untuk mencerna selulosa (serat tidak larut), nata de coco akan melewati saluran pencernaan secara utuh, bertindak sebagai semacam “sapu” yang membersihkan usus.

Manfaat Nata de Coco untuk Kesehatan

Berkat kandungan serat selulosa dan airnya yang tinggi, mengonsumsi nata de coco dapat memberikan sejumlah manfaat positif bagi tubuh, asalkan tidak dikonsumsi bersamaan dengan gula dalam jumlah yang berlebihan.

1. Mencegah Sembelit dan Melancarkan Pencernaan

Serat tidak larut dalam nata de coco berfungsi untuk menambah massa pada feses (kotoran) dan merangsang pergerakan peristaltik usus. Hal ini membuat proses buang air besar menjadi lebih teratur dan mencegah terjadinya konstipasi atau sembelit. Jika kamu sering mengalami masalah lambung atau pencernaan, kamu bisa menambah asupan serat. Selain dari makanan, kamu juga bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan suplemen pencernaan dan vitamin dengan mudah dan cepat, langsung diantar ke rumah.

2. Membantu Menjaga Berat Badan

Makanan tinggi serat cenderung memberikan rasa kenyang yang lebih lama. Karena nata de coco murni sangat rendah kalori namun dapat mengisi volume di lambung, camilan ini sangat cocok bagi mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan. Rasa kenyang ini dapat mencegah kamu ngemil makanan tinggi lemak atau kalori di sela-sela waktu makan.

3. Membantu Menghidrasi Tubuh

Dengan kandungan air yang mencapai lebih dari 67 persen, nata de coco dapat berkontribusi dalam menjaga hidrasi tubuh, terutama di iklim tropis yang panas. Tentu saja, manfaat ini paling optimal dirasakan jika kamu mengonsumsinya tanpa tambahan gula berlebih.

4. Aman untuk Pasien Diabetes (Jika Tanpa Gula)

Banyak penderita diabetes yang ragu mengonsumsi camilan kenyal. Selama nata de coco dicuci bersih hingga bebas dari sirup rendamannya, ia memiliki indeks glikemik yang sangat rendah karena hanya terdiri dari selulosa murni yang tidak diubah menjadi glukosa dalam aliran darah. Jika kamu ragu akan pola makan yang aman untuk kondisi gula darahmu, konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis dan arahan diet medis yang sesuai dengan kondisi fisik kamu.

Mitos dan Fakta Seputar Nata de Coco

Seiring dengan popularitasnya, ada beberapa mitos yang sering beredar di masyarakat mengenai nata de coco, yang paling terkenal adalah isu bahwa nata de coco terbuat dari plastik.

1. Mitos: Nata de Coco Mengandung Plastik

Fakta: Ini adalah hoaks yang sama sekali tidak benar. Isu ini muncul karena tekstur nata de coco yang bisa sangat alot dan sulit dihancurkan, serta lembarannya yang tipis bisa menyerupai lembaran plastik. Hal ini wajar karena nata de coco adalah *selulosa*, bahan organik alami yang strukturnya kuat, mengikat serat-serat mikroskopis layaknya jaring. Selulosa ini sepenuhnya alami dan aman dikonsumsi manusia.

2. Mitos: Menggunakan Pupuk Urea yang Berbahaya

Fakta: Memang benar bahwa proses fermentasi membutuhkan sumber nitrogen, yang salah satunya bisa diperoleh dari pupuk ZA (Amonium Sulfat) atau urea. Namun, penting untuk dicatat bahwa industri yang memproduksi makanan ini menggunakan zat gizi (nitrogen) jenis *food grade* yang dirancang khusus untuk makanan, bukan pupuk pertanian. Bakteri mengonsumsi nitrogen tersebut untuk tumbuh. Pada hasil akhirnya, nata de coco yang sudah melalui proses pencucian, perebusan, dan perendaman sudah tidak lagi mengandung residu bahan-bahan awal tersebut.

Studi Mengenai Nata de Coco dan Pencernaan

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan berbagai studi terkait *bacterial cellulose* yang menjelaskan bahwa selulosa yang dihasilkan oleh bakteri *Acetobacter xylinum* memiliki kemurnian dan tingkat kristalinitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan selulosa tanaman.

Studi ini menyoroti bahwa serat pangan tingkat tinggi ini tidak hanya berguna untuk industri makanan sebagai pengental atau pembentuk tekstur, tetapi juga menjanjikan fungsi prebiotik mekanis. Serat yang tak tercerna ini membantu pergerakan usus, menekan risiko kanker usus besar, dan menjaga kesehatan saluran gastrointestinal dalam jangka panjang.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun nata de coco sangat menyehatkan, namun cara penyajiannya di pasaran (yang direndam dalam sirup fruktosa atau gula cair kental) bisa menjadi bumerang. Mengonsumsi terlalu banyak hidangan manis ini bisa menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis, memicu kenaikan berat badan, atau bahkan menyebabkan sakit perut kembung bagi sebagian orang yang perutnya sensitif terhadap asupan gula cair berlebih.

Jika kamu sering merasakan pusing, mudah haus, sering buang air kecil, atau lemas setelah mengonsumsi makanan dan minuman manis secara rutin, itu bisa menjadi tanda awal gangguan gula darah atau resistensi insulin. Jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut dan berkonsultasi mengenai asupan nutrisi harian kamu.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
NCBI. Diakses pada 2024. Bacterial Cellulose: Production, Properties and Applications with Different Biocompatibility.
WebMD. Diakses pada 2024. Health Benefits of Dietary Fiber.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Dietary fiber: Essential for a healthy diet.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Proses Pembuatan Nata De Coco yang Benar dan Sehat.

FAQ

1. Nata de coco terbuat dari apa sebenarnya?

Nata de coco terbuat dari air kelapa yang melalui proses fermentasi dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini akan memakan nutrisi dalam air kelapa dan mengubahnya menjadi lembaran serat selulosa murni yang kenyal dan padat.

2. Apakah benar nata de coco mengandung plastik?

Tidak benar. Isu nata de coco mengandung plastik adalah hoaks yang salah kaprah. Tekstur yang sangat alot dan kenyal menyerupai lembaran plastik disebabkan oleh struktur selulosa murni yang terbentuk selama proses fermentasi, yang 100% alami dan aman dikonsumsi.

3. Bolehkah penderita diabetes makan nata de coco?

Penderita diabetes diperbolehkan makan nata de coco, dengan syarat nata de coco tersebut dicuci bersih untuk menghilangkan air sirup atau gula tambahan, serta tidak dicampur dengan pemanis lainnya saat dikonsumsi. Nata de coco murni memiliki indeks glikemik yang sangat rendah.

4. Kenapa nata de coco baik untuk pencernaan?

Nata de coco mengandung serat pangan tidak larut (selulosa) dalam jumlah tinggi. Serat ini tidak dicerna oleh lambung, melainkan langsung menuju usus besar untuk membantu menambah kepadatan feses dan merangsang pergerakan usus, sehingga ampuh mencegah sembelit.