“Workaholic atau gila kerja mirip dengan penyakit kecanduan. Hal ini bisa berdampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental.”

DAFTAR ISI
- Tanda-Tanda Kamu Seorang Workaholic
- Penyebab Seseorang Menjadi Workaholic
- Dampak Buruk Workaholic bagi Kesehatan
- Cara Mengatasi Perilaku Workaholic
- Studi Terkait Kecanduan Kerja
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Di era modern dengan budaya hustle culture yang semakin menjamur, istilah “apa itu workaholic” sering kali dilontarkan sebagai sebuah pujian atau lencana kehormatan. Banyak orang dengan bangga melabeli diri mereka sebagai workaholic untuk menunjukkan dedikasi, ambisi, dan etos kerja yang tinggi. Namun, secara medis dan psikologis, makna sebenarnya dari workaholic jauh dari sekadar pekerja keras yang berdedikasi.
Workaholic, atau kecanduan kerja, adalah suatu kondisi kejiwaan dan perilaku di mana seseorang memiliki dorongan batin yang tidak terkendali untuk terus-menerus bekerja. Dorongan ini sering kali muncul bukan karena tuntutan pekerjaan itu sendiri atau kebutuhan finansial, melainkan karena kompulsi psikologis. Orang dengan kondisi ini merasa hampa, cemas, atau bersalah jika mereka tidak sedang bekerja, sehingga mereka mengorbankan kesejahteraan fisik, mental, serta kehidupan sosial dan keluarga mereka.
Memahami apa itu workaholic sangat penting karena kondisi ini dapat berujung pada masalah kesehatan yang serius, mulai dari kelelahan ekstrem (burnout), depresi, hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Sayangnya, karena masyarakat cenderung menghargai kerja keras, batas antara dedikasi profesional dan kecanduan kerja sering kali menjadi kabur, membuat kondisi ini jarang terdeteksi sejak dini.
Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda awal dan memahami dampak negatifnya sangatlah krusial. Jika kamu atau orang terdekatmu sering merasa tidak bisa lepas dari bayang-bayang pekerjaan, mari kita bahas lebih dalam mengenai apa itu workaholic, tanda-tandanya, serta langkah-langkah medis dan psikologis yang bisa diambil untuk mengatasinya.
Tanda-Tanda Kamu Seorang Workaholic
Membedakan antara pekerja keras dan workaholic terkadang sulit. Pekerja keras bekerja dengan tujuan yang jelas dan tahu kapan harus berhenti untuk beristirahat. Sebaliknya, seorang workaholic bekerja secara kompulsif dan merasa tidak nyaman saat tidak bekerja. Berikut adalah beberapa tanda dan gejala utama dari perilaku workaholic:
1. Terus-Menerus Memikirkan Pekerjaan
Bahkan ketika sedang berlibur, berkumpul dengan keluarga, atau bersiap untuk tidur, pikiran seorang workaholic akan selalu kembali ke urusan kantor. Mereka secara konstan memikirkan bagaimana cara meluangkan lebih banyak waktu untuk bekerja dan sering kali merasa cemas jika berada jauh dari perangkat kerja mereka.
2. Bekerja untuk Menghindari Perasaan Negatif
Banyak workaholic menggunakan pekerjaan sebagai mekanisme koping (coping mechanism). Mereka menenggelamkan diri dalam tugas-tugas kantor untuk menghindari perasaan cemas, depresi, rasa bersalah, atau masalah pribadi yang sedang terjadi di rumah. Pekerjaan menjadi tempat pelarian dari realitas kehidupan emosional mereka.
3. Mengorbankan Waktu Tidur dan Kesehatan Fisik
Seseorang yang kecanduan kerja sering kali mengurangi jam tidur, menunda makan, atau mengabaikan olahraga demi menyelesaikan “satu tugas lagi”. Seiring waktu, pengabaian terhadap kebutuhan dasar fisik ini akan menurunkan sistem kekebalan tubuh dan memicu berbagai penyakit.
4. Hubungan Sosial dan Keluarga yang Memburuk
Karena waktu dan energi mereka habis terkuras untuk pekerjaan, kehidupan sosial dan keluarga menjadi terbengkalai. Workaholic sering kali membatalkan janji, melewatkan momen penting keluarga, dan mengisolasi diri dari teman-teman, yang berujung pada konflik interpersonal.
Perbedaan Pekerja Keras vs Workaholic
- Pekerja Keras: Bekerja untuk mencapai tujuan tertentu, masih memiliki hobi, dan tahu batasan waktu istirahat.
- Workaholic: Bekerja untuk memuaskan dorongan kompulsif, kehilangan minat pada hobi, dan merasa bersalah jika mengambil waktu libur.
- Pekerja Keras: Melihat pekerjaan sebagai bagian dari hidup.
- Workaholic: Menjadikan pekerjaan sebagai seluruh hidupnya.
Penyebab Seseorang Menjadi Workaholic
Sama seperti bentuk kecanduan lainnya, workaholism tidak muncul dalam semalam. Ada berbagai faktor psikologis, lingkungan, dan biologis yang berkontribusi terhadap perkembangan kondisi ini:
1. Perfeksionisme Tinggi
Individu dengan standar perfeksionisme yang tidak realistis sering kali terjebak dalam siklus kerja berlebih. Mereka tidak pernah merasa puas dengan hasil kerja mereka sendiri, sehingga mereka terus memperbaiki dan menambah jam kerja demi mencapai hasil yang “sempurna”.
2. Trauma Masa Lalu dan Kebutuhan akan Validasi
Beberapa orang mengembangkan kecanduan kerja sebagai respons terhadap trauma masa lalu atau pola asuh yang mengaitkan nilai diri seseorang semata-mata dengan prestasi. Mereka merasa bahwa mereka hanya akan dicintai atau dihargai jika mereka sukses secara profesional.
3. Budaya Tempat Kerja yang Toksik
Lingkungan kerja yang selalu menuntut ketersediaan 24/7, memberikan beban kerja yang tidak masuk akal, dan memberi penghargaan hanya kepada karyawan yang bersedia lembur setiap hari sangat berpotensi mencetak para workaholic. Budaya organisasi ini memaksa individu untuk terus bekerja demi keamanan posisi mereka.
Dampak Buruk Workaholic bagi Kesehatan
Bekerja terlalu keras tanpa henti akan menempatkan tubuh dan pikiran dalam kondisi stres kronis. Jika dibiarkan, kondisi ini akan memicu berbagai komplikasi kesehatan yang serius.
1. Gangguan Kesehatan Mental
Secara psikologis, workaholic sangat rentan mengalami burnout, sindrom kelelahan emosional yang ekstrem. Jika kamu mulai mengalami tanda-tanda depresi, anxiety, gangguan tidur yang parah, atau stres berkepanjangan akibat tekanan pekerjaan, ini adalah sinyal bahwa tubuh sedang membutuhkan pertolongan profesional sesegera mungkin.
2. Penyakit Kardiovaskular
Kadar hormon stres (kortisol dan adrenalin) yang terus-menerus tinggi akibat kerja berlebih dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung. Hal ini secara signifikan meningkatkan risiko hipertensi, serangan jantung, dan stroke, bahkan pada individu yang usianya masih relatif muda.
3. Penurunan Sistem Imun dan Kelelahan Kronis
Kurangnya istirahat membuat kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak menjadi terhambat. Orang yang kecanduan kerja akan lebih sering terkena flu, sakit kepala, dan infeksi. Terkadang, sebagai langkah pintas, mereka mengandalkan asupan suplemen multivitamin dan minuman berenergi untuk menutupi rasa lelah. Padahal, tanpa istirahat yang cukup, suplemen apa pun tidak akan bisa menggantikan fungsi pemulihan dari tidur yang berkualitas.
Cara Mengatasi Perilaku Workaholic
Berhenti menjadi workaholic membutuhkan komitmen dan kesadaran diri. Sama seperti pemulihan dari kecanduan lainnya, proses ini harus dilakukan secara bertahap:
1. Menetapkan Batasan yang Tegas (Boundary Setting)
Langkah pertama adalah membuat batasan yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Tentukan jam berapa kamu harus berhenti bekerja setiap harinya. Matikan notifikasi email atau aplikasi komunikasi kantor setelah jam kerja selesai untuk mencegah godaan memeriksa pekerjaan.
2. Menjadwalkan Waktu Istirahat Secara Sengaja
Workaholic sering kali merasa aneh saat tidak melakukan apa-apa. Oleh karena itu, mulailah dengan menjadwalkan “waktu luang” di kalendermu sama seperti kamu menjadwalkan meeting. Gunakan waktu ini untuk hobi, berolahraga ringan, atau sekadar bersantai tanpa gangguan gadget.
3. Mengubah Pola Pikir Melalui Terapi Kognitif Perilaku (CBT)
Mencari bantuan dari psikolog atau psikiater sangat disarankan. Melalui Terapi Kognitif Perilaku (CBT), kamu dapat mengidentifikasi akar penyebab mengapa kamu menggunakan pekerjaan sebagai pelarian. Terapis akan membantumu membangun rasa harga diri yang tidak hanya bergantung pada produktivitas dan pencapaian karier.
Studi Terkait Kecanduan Kerja dan Risiko Kesehatan
World Health Organization (WHO) dan International Labour Organization (ILO) menerbitkan studi global komprehensif pada tahun 2021 yang menjelaskan bahwa bekerja dengan jam kerja yang panjang (lebih dari 55 jam per minggu) berkontribusi secara langsung terhadap ratusan ribu kematian akibat penyakit jantung iskemik dan stroke setiap tahunnya.
Studi tersebut menegaskan bahwa tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan risiko stroke atau serangan jantung. Tren peningkatan jam kerja dan budaya workaholic di berbagai negara secara signifikan mendorong peningkatan beban penyakit kardiovaskular secara global. Hal ini membuktikan bahwa batas waktu kerja yang sehat adalah keharusan medis, bukan sekadar gaya hidup.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Long working hours increasing deaths from heart disease and stroke.
American Psychological Association (APA). Diakses pada 2024. The Psychology of Workaholism.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Job burnout: How to spot it and take action.
Harvard Business Review. Diakses pada 2024. How to Overcome Your Workaholism.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Bahaya Stres Akibat Beban Kerja Berlebih.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan workaholic?
Workaholic adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki dorongan kompulsif dan tidak terkendali untuk terus bekerja, melebihi tuntutan pekerjaan itu sendiri. Mereka cenderung merasa cemas atau bersalah jika tidak sedang bekerja, hingga mengabaikan kesehatan, keluarga, dan kehidupan sosialnya.
2. Apakah workaholic termasuk gangguan kesehatan mental?
Meskipun belum diklasifikasikan secara resmi sebagai gangguan mental tunggal dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), para ahli psikologi mengkategorikan workaholism sebagai bentuk kecanduan perilaku (behavioral addiction) yang memiliki gejala penarikan, toleransi, dan dampak negatif yang mirip dengan kecanduan zat.
3. Bagaimana cara berhenti menjadi workaholic?
Cara berhenti menjadi workaholic meliputi penetapan batasan jam kerja yang ketat (digital detox setelah jam kantor), menjadwalkan waktu istirahat dan hobi secara rutin, belajar mendelegasikan tugas, serta berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental untuk terapi perubahan perilaku.
4. Apa bedanya pekerja keras dengan workaholic?
Pekerja keras bekerja dengan efisien untuk mencapai suatu target dan tahu kapan harus beristirahat untuk menikmati hidup di luar pekerjaan. Sementara itu, workaholic bekerja karena dorongan obsesif dari dalam diri (sering kali untuk menutupi kecemasan) dan merasa kehilangan identitas atau merasa bersalah jika mereka berhenti bekerja.



